Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Sisi Egois Pangeran


__ADS_3

Pangeran Adrian membawa Yuri ke dalam sebuah gubuk kosong di tengah ladang. Lelaki itu seakan tak ingin tersadar dari kenyataan. Ia kembali membawa Yuri ke dalam pelukannya. Wanita itu terus terbengong-bengong dengan kelakuan pangeran dengan imej cool dari negeri elf yang tiba-tiba berubah jadi mode bucin tapi bukan kepada istrinya sendiri.


"Yang Mulia, kenapa Anda terus memeluk saya?" Yuri memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya pangeran. Lelaki itu membelai lembut rwmbut indah Yuri.


"Bukan seperti itu, Yang Mulia. Tapi, kenapa Anda melakukan ini kepada saya?" Yuri takut sendiri berurusan dengan seorang pangeran. Ia berusaha menjalani kehidupannya dengan baik dan hati-hati untuk menghindari kematian. Setelah usaha keras yang ia lakukan, Yuri justru terjebak dalam perasaan sang pangeran yang rumit.


"Aku melakukan ini karena aku menyukainya," ucap pangeran.


"Tapi kenapa? Bukankah Anda seorang putra mahkota yang harus menjaga kehormatan diri sendiri serta kerajaan? Apalagi Anda telah mrnikah dengan Putri Hilda."


Ucapan Yuri sedikit menyadarkan pangeran. Namun, tetap saja ia tak ingin melepaskan wanita itu dari rengkuhannya. Sekian lama ia mencari wanita yang selalu membuat hatinya resah setiap malam. Setelah ia menemukannya, pangeran tidak berniat untuk melepaskannya kembali.


"Yang Mulia, saya harus kembali. Orang-orang pasti akan khawatir mencari keberadaan saya."


"Aku tidak ingin melepaskanmu," ucap sang pangeran.


Yuri membulatkan mata. Cerita novel sungguh telah menjadi sangat aneh. Mungkin karena dia terlalu banyak melibatkan diri di dalamnya. Atau memang seharusnya ia mati agar semua berjalan sesuai dengan alur.


"Dimana kamu selama ini bersembunyi?"


Yuri merasa aneh dengan pertanyaan pangeran. "Saya tidak pernah bersembunyi, Yang Mulia."


"Berbulan-bulan aku mencarimu. Aku terus kembali ke tempat pertama kita bertemu. Di gua tempat kita menghabiskan malam bersama dan tidur bersama."


Yuri tersenyum canggung. Pernyataan pangeran memang sesuai kenyataan, tapi terdengar aneh saat mendengarnya. Mereka memang pernah tidur bersama tapi bukan sesuatu yang perlu dibahas.


'Apa pangeran jatuh cinta padaku sejak saat itu? Bagaimana mungkin?' Yuri bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia tidak percaya karena menolong sang pangeran, ia telah membuat seorang pangeran jatuh cinta kepadanya.


Pangeran mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung paakaiannya. Sebuah ornamen rambut berbentuk burung merak, milik Yuri yang telah lama hilang.


"Yang Mulia, ini milik saya," ucap Yuri.


"Akhirnya dia menemukan pemiliknya." Pangeran memasangkan hiasan rambut di kepala Yuri.

__ADS_1


"Dimana kamu tinggal?" tanya Pangeran.


"Saya tinggal di toko sewaan pasar kota, Yang Mulia. Kalau ada yang membahas tentang kedai penjual minuman buah batu, maka itu adalah milik saya."


Pangeran sepertinya pernah mendengar jenis minuman aneh yang sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Ia tidak menyangka jika pemiliknya merupakan wanita yang telah lama dicarinya. Ia jauh-jauh mencarinya ke hutan selama berbulan-bulan, wanita itu justru berada di dekatnya.


"Maukah kamu tinggal bersamaku di istana?" tanya Pangeran.


Reflek Yuri mendorong tubuh pangeran menjauh darinya. Ia rasa lelaki itu telah gila. "Sepertinya Anda tidak sedang berpikir jernih. Saya akan pergi sekarang."


Yuri hendak meninggalkan tempatnya, namun pangeran menahan lengannya. "Kamu berani melawan perintah seorang putra mahkota?"


Yuri semakin tidak habis pikir dengan isi pikiran pangeran yang biasanya tegas dan realistis itu. "Apakah seorang putra mahkota yang mulia sedang menggunakan kekuasaannya untuk memaksa seseorang?" tanya Yuri. "Anda bukan seperti Pangeran yang saya kenal, Yang Mulia."


"Tidak bolehkah seorang sepertiku memiliki kehidupan pribadinya sendiri? Apa salah aku menyukaimu?"


"Anda salah, Yang Mulia. Ingatkah Anda kepada Putri Hilda, wanita yang telah Anda pilih dengan sebuah janji suci kepada Sang Pencipta?"


"Pernikahan kami hanyalah formalitas saja untuk kepentingan kerajaan, bukan atas dasar cinta."


"Sekalipun Yang Mulia belum menikah, jatuh cinta kepada seorang elf biasa adalah sebuah kesalahan. Mohon jangan melakukan tindakan bodoh seperti orang-orang sebelumnya, Yang Mulia. Menjadi seorang mixtus itu tidak semudah yang Anda bayangkan."


Yuri melepaskan cekalan tangan pangeran. Ia keluar dari gubuk sepi itu. Ternyata, tak jauh dari sana ada Andez dan Zenzen yang tampak kebingungan mencarinya.


"Yuri!"


Seru kedua lelaki itu kompak saat melihat Yuri dalam kondisi selamat. Mereka saling berpelukan saking bahagianya. Andez dan Zenzen sudah takut terjadi hal buruk kepada wanita yang mereka sukai.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Andez seraya memperhatikan tubuh Yuri takut ada yang terluka.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Yuri tertawa dengan kekhawatiran yang ditunjukkan oleh temannya itu.


"Kenapa pergi sendirian, dasar bodoh! Kalau mau mengejar penjahat, ajak-ajak kami," gerutu Zenzen sembari menjitak lembut kepala Yuri.


"Kalau kita semua pergi, siapa yang akan jaga kedai? Bagaimana kita bisa untung kalau tidak kerja?"

__ADS_1


"Halah! Wanita ini yang dipikirkan uang terus. Dasar mata duitan!" ejek Zenzen.


"Memangnya kenapa? Kita memang butuh banyak uang supaya bisa melakukan banyak hal, kan?"


Ketiganya kembali bercanda membahas hal-hal random yang lucu. Tanpa mereka sadari, Pangeran memperhatikan kedekatan mereka dari dalam gubuk itu dengan perasaan iri. Wanita yang disukainya bisa tertawa lepas dengan lelaki lain.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ajak Andez.


"Baiklah," ucap Yuri.


"Biar Yuri ikut dengan kudaku!" Zenzen menarik tangan Yuri agar menaiki kudanya. Saat berangkat, Zenzen dan Andez membawa kuda sendiri-sendiri.


"Yuri biar ikut denganku saja. Kamu kalau bawa kuda kurang hati-hati. Aku kasihan dengan Yuri."


Andez tidak mau kalah. Ia ikut menarik tangan Yuri agar ikut dengannya.


"Tidak! Yuri harus ikut aku!" Zenzen tak mau mengalah.


"Kamu keras kepala, ya! Biar Yuri bersamaku!"


Yuri pusing sendiri melihat kedua temannya bertengkar. Antara Andez dan Zenzen tak ada yang mau mengalah. Tangan Yuri jadi korban ditarik kesana kemari.


"Stop!" Seru Yuri.


Kedua lelaki itu akhirnya berhenti dan melepaskan lengan Yuri. "Agar adil, kalian saja yang naik kuda berdua. Biar aku naik kuda sendirian," pintanya.


Andez dan Zenzen saling berpandangan. "Tidak, tidak! Kamu gila, apa?" Mereka tentu saja menolak.


"Ya sudah, kalau begitu aku ikut salah satu dari kalian. Harus ada yang mengalah."


Andez dan Zenzen tampak berpikir. Keduanya tidak rela jika salah satu dari mereka naik kuda berdua dengan Yuri.


"Biar kami saja yang naik kuda berdua," ucap Andez dengan nada pasrah.


"Ya, kamu naik kudaku sendiri, Yuri," ucap Zenzen dengan nada lemas pula.

__ADS_1


Yuri sebenarnya ingin tertawa dengan tingkah mereka. Akhirnya, keduanya mengalah untuk mempersilahkan Yuri naik kuda sendiri.


__ADS_2