Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Penerus Raja


__ADS_3

Hari ini Putri Hilda mendapat kunjungan dari Ratu Zerua. Tidak biasanya, ratu mengadakan kunjungan dadakan ke kediaman Putri Hilda tanpa agenda resmi. Mereka duduk bersama sembari menikmati teh dan camilan sederhana untuk menemani perbincangan siang mereka.


Seluruh pelayan dan penjaga disuruh keluar, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Sepertinya Ratu Zerua ingin membahas sesuatu yang penting dengan Putri Hilda.


"Bagaimana kabarmu, Putri Hilda?" tanya Ratu Zerua.


"Baik, Ibunda Ratu. Maafkan saya tidak bisa memberikan jamuan terbaik karena Anda begitu mendadak berkunjung ke tempat saya." Hilda tersenyum canggung. Meskipun sudah sering bertemu dengan ratu, namun bicara berdua dengan ibu mertua rasanya sangat menegangkan.


"Apa kamu sudah mendengar kabar kalau di luar sana ada kedai minuman yang sedang terkenal? Aku dengar beberapa pejabat juga sudah mencobanya."


"Ah, iya, Ibunda Ratu. Saya juga mendengarnya dari pelayan. Mereka mengatakan kedai tersebut memiliki minuman yang enak, terbuat dari buah batu. Namanya Teh Lemonia." Putri Hilda belum pernah pergi ke luar istana setelah menikah. Ia hanya mendengar kabar dari para pelayannya. Mereka sering menceritakan kepada Putri Hilda tentang hal-hal baru yang ada di luar sana.


"Aku baru tahu kalau buah batu bisa dimakan. Orang yang membuatnya pasti seseorang yang unik. Padahal buah itu tidak pernah dimakan kaum kita sebelumnya."


"Benar, Ibunda Ratu. Buahnya sangat sulit dipecahkan. Isi di dalamnya juga menyeramkan untuk dimakan."


Ratu Zerua mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Tempat tinggal putri dan putra mahkota tampak sederhana. "Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan?"


Pertanyaan Ratu Zerua membuat Yuri terdiam. Sebenarnya ia juga mengharapkan seorang bayi di dalam perutnya tanpa harus dipertanyakan oleh ratu. Akan tetapi, sampai saat ini memang belum ada tanda-tanda kehamilan dalam dirinya.


"Sebenarnya, apa putra mahkota sudah pernah menyentuhmu?"


Pertanyaan Ratu sangat memalukan untuk ia jawab. Namun, Putri Hilda tetap harus menjawabnya. "Kami sudah tidur bersama, Ibunda Ratu. Setiap malam kami tidur bersama," jawab Hilda. Kenyataannya, setelah hampir satu tahun menikah, mereka hanya beberapa kali melakukan hubungan suami istri. Pangeran memang berkunjung ke tempatnya, namun tengah malam akan pergi meninggalkannya entah kemana. Hilda tak berani mengatakan yang sejujurnya kepada ratu. Jika ratu tahu pangeran memperlakukannya secara dingin, kemungkinan ia akan disuruh untuk diceraikan dan pangeran akan menikah dengan wanita lain. Alasannya, Hilda tak bisa menarik hati putra mahkota.


"Ini sangat aneh. Jika kalian sudah tidur bersama, seharusnya kamu telah hamil. Aku yang hanya satu bula menimah dengan Yang Mulia Raja langsung hamil putra mahkota saat itu."


Hilda menunduk. Masalah keturunan mau tidak mau pihak yang dipertanyakan selalu pihak perempuan. Bukan keinginnanya untuk lambat memiliki anak. Ia juga sudah berusaha bahkan memohon kepada pangeran untuk menidurinya. Segala ramuan yang mampu meningkatkan kesuburan juga sudah dicoba. Akan tetapi, hingga saat ini ia belum berhasil untuk hamil.


"Maafkan saya, Ibunda Ratu."

__ADS_1


"Kamu tidak boleh meminta maaf. Hal yang harus kamu lakukan adalah berusaha supaya bisa hamil. Mungkin perlu intensitas berhubungan yang lebih baik dengan Putra Mahkota agar kamu bica cepat hamil."


"Iya."


"Putra Mahkota memerlukan penerus, Putri. Kalau tidak, nanti posisimu bisa digantikan oleh wanita bangsawan lain. Apa kamu mengerti?"


"Saya mengerti."


Perkataan Ratu sangat menyakitkan hatinya. Meskipun demikian, ia juga sudah paham bahwa salah satu fungsi ratu adalah menghasilkan keturunan. Jika ia tidak bisa melakukan kewajiban krusial itu, maka posisinya akan digantikan seperti yang Ratu katakan.


Kehadiran Ratu juga seakan menegaskan bahwa kedudukan Hilda sebagai putri mahkota juga terancam. Sepertinya Rwtu tengah menyiapkan pengganti jika ia tidak segera bisa hamil. Ingin rasanya Hilda menangis memikirkan tentang kehamilan yang tak juga singgah di rahimnya.


Ratu mengeluarkan sebuah bungkusan kantung kecil dari sakunya. Ia meletakkannya di meja depan Hilda. "Ini adalah ramuan obat kesuburan. Bukan diminum olehmu, tapi oleh Putra Mahkota. Berikan sedikit saja dicampurkan pada minuman teh miliknya," ucapnya.


Hilda menerima benda itu. Dibukanya penutup kantong untuk melihat isinya. Ternyata bentuknya serbuk seperti dari dedaunan kering yang dihaluskan. Ratu cukup perhatian padanya. Ia seperti pengganti sosok ibu di istana. Akan tetapi, sepertinya untuk memenuhi keinginan itu saat ini terasa sulit untuknya. Tabib mengatakan bahwa kondisi rahimnya memang kurang subur.


"Bersikaplah lebih menarik di depan Putra Mahkota, Putri. Jadikan dia tergila-gila kepadamu."


"Salah seorang pengawal Putra Mahkota memberitahukan kepadaku kalau pangeran lebih sering berburu sendiri ke hutan setelah menikah. Ia juga kerap pergi tengah malam bersama Griphos miliknya. Kamu sering ditinggalkan oleh pangaran, kan?" tanya Ratu.


"Tidak, Ibunda Ratu. Putra Mahkota tidak seperti itu. Dia sering menghabiskan waktu berdua dengan saya." Hilda tetap berkilah. Ratu sedang memancing kejujurannya. Ia akan tetap bertahan seolah rumah tangga mereka baik-baik saja. Hilda juga akan berusaha lebih baik lagi agar pangeran betah bersamanya.


Ratu tampak menghela napas. Ia sangat tidak sabar menantikan kelahiran cucunya. Sebagai seorang ratu, sebelum turun tahta, ia perlu memastikan posisi putra kesayangannya aman. Dengan memiliki penerus, maka posisi putra mahkota lebih aman dan semakin tak tergoyahkan.


Ratu tahu di luaran sana ada yang bersiap melakukan protes agar mengganti posisi putra mahkota. Alasan yang akan digunakan sudah pasti tentang keturunan. Raja harus memiliki keturunan. Beruntung dirinya dulu bisa melahirkan putra mahkota.


Ratu menyetujui pilihan pangeran yaitu Hilda salah satunya karena riwayat keluarga Hilda yang subur. Hilda memiliki lima saudara sehingga ia mengharapkan benih penerus putranya akan lahir melalui Hilda. Kenyataannya, harapan tinggal harapan. Hilda tak kunjung memiliki keturunan.


Beberapa wanita bangsawan sudah mulai membahas tentang Hilda. Mereka menyindir putri mahkota yang belum hamil juga. Mereka bahkan menyarankan agar mengganti Hilda dengan salah satu putri mereka.

__ADS_1


"Baiklah, Putri. Sepertinya kunjungan hari ini cukup sampai di sini. Aku akan kembali ke istana utama."


"Iya, Ibunda Ratu. Terima kasih atas kunjungannya."


"Jaga kesehatanmu, makanlah yang bergizi. Karena dalam tubuhmu merupakan tempat bagi benih putra mahkota untuk tumbuh. Jadilah wanita yang mampu melahirkan raja selanjutnya."


"Baik."


Hilda sekedar menjawab ucapan ratu. Ia mengantar ratu sampai halaman depan. Rasanya lega setelah ratu pergi. Rasa sesak di dada berangsur menghilang. Waktu terasa berjalan lambat untuk mendengarkan nasihat yang terasa menyesakkan.


Hilda pergi ke belakang istananya menuju taman belakang untuk menenangkan diri. Menghirup udara di sana terasa sangat menyegarkan. Apalagi mendengarkan suara gemericik air serta ikan-ikan yang berenang di kolam. Ia ingin terus hidup dalam ketenangan seperti itu.


"Tuan Putri!"


Heiji kembali muncul di sana. Hilda mengembangkan senyuman melihat kehadiran Heiji. Lelaki itu satu-satunya orang dalam istana yang membuatnya nyaman untuk bicara dan berkeluh kesah. Lelaki itu juga pandai menyimpan rahasia.


Heiji duduk di sebelah Hilda yang sibuk melemparkan satu per satu kerikil ke dalam air kolam. Setiap kerikil yang menyentuh air, akan menghasilakn gelombang indah berbentuk lingkaran.


"Aku sekilas melihat Ratu menemuimu, Tuan Putri." Bahasa yang Heiji gunakan lebih santai seperti kemauan Hilda. Ia tak ingin merasa asing jika Heiji begitu formal bicara dengannya.


"Ya, ada yang ratu inginkan dariku," ucap Hilda dengan nada lemas.


"Apa aku boleh tahu, apa itu?" tanya Heiji penasaran.


"Ratu menginginkan kehamilanku." Wajah Hilda tampak muram.


"Kamu belum lama menikah. Wajar mungkin masih butuh waktu untuk memiliki penerus," ucap Heiji.


"Ya. Menurutku juga begitu. Tapi, Ratu ingin cepat-cepat aku hamil."

__ADS_1


"Itu permintaan yang berlebihan. Kehamilan meruoakan rencanamu dan putra mahkota. Tidak seharusnya Ratu ikut campir akan hal itu."


Hilda merasa semakin terpuruk. Sikap pangeran yang dingin sudah membuatnya merasa kesepian di istana. Kini, permintaan ratu turut menjadi beban berat baginya.


__ADS_2