Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Pasar Kota


__ADS_3

"Yuri ... apa kamu sudah siap?" seru Grafin dari luar rumah.


Yuri masih sibuk di depan cermin berusaha mengepang rambutnya agar sedikit tampil beda dari biasanya. Beberapa hari tinggal di desa persama sang ayah membuatnya bahagia. Meskipun sesekali masih terdengar suara nyinyiran dari tetangga, ia tak peduli. Asalkan ada sang ayah yang masih mendukungnya, ia rasa sudah cukup baginya untuk menjalani kehidupannya.


Hari ini sang ayah akan mengajaknya ke pasar kota yang terdapat di dekat wilayah istana. Yuri ingin menyaksikan sendiri keindahan istana elf yang diceritakan dalam novelnya. Kata sang ayah, jarak dari desa ke sana sekitar satu hari perjalanan.


Yuri sengaja mengenakan pakaian indah miliknya yang waktu itu diberikan oleh Ezra. Ia juga memasang hiasan rambut pemberian dari Hilda. Wajahnya terlihat lebih bersih setelah beberapa hari rajin ia tempeli masker buatannya. Ia juga memulaskan make up sederhana avar wajahnya tidak terlalu kusam.


Di sana, tidak ada alat make up. Yuri juga kesusahan untuk membuat alat make up-nya sendiri karena keterbatasan bahan. Niatnya di kota nanti ia akan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat perlengkapan make up. Meskipun ia bukan kaum bangsawan, Yuri ingin menjadi elf yang bahagia dari kalangan mixtus. Ia akan membuktikan bahwa setiap elf wanita bisa tampil cantik sekalipun hanya elf biasa.


"Yuri ...."


Sekali lagi terdengar seruan dari sang ayah.


"Iya, ayah. Aku sudah selesai!" sahutnya.


Yuri membawa sekantong uang miliknya hasil bekerja di tempat bangsawan Jansen. Ia akan membayar pakaian indah itu jika bertemu Ezra.


Grafin terkesima melihat penampilan putrinya. Yuri terlihat begitu cantik di matanya. Ia tak menyangka putrinya akan banyak berubah, dari segi sifat maupun penampilannya. Seakan ia tak mengenal putrinya sendiri. Akan tetapi, ia sangat menyukai perubahan putrinya yang sekarang.


Yuri duduk di sebelah sang ayah yang akan mengendalikan kereta kudanya.


"Kenapa kamu tidak duduk di belakang?" tanya Grafin.


"Aku ingin melihat pemandangan secara jelas dari depan, Ayah. Kalau di dalam kereta aku tidak bisa melihat apapun."


"Kamu terlalu cantik untuk menemani ayah di bangku depan. Ayah seakan sedang membawa seorang putri menuju kerajaan."


Yuri tersenyum. "Aku memang putri ayah, kan?"

__ADS_1


Grafin ikut tersenyum. Ia menarik kendali agar kedua kuda mulai berjalan menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi hutan.


Grafin biasanya pergi ke pasar kota dua kali dalam satu bulan untuk membeli bahan ramuan untuk minumannya sekaligus menjual pedang buatannya. Minuman buatan Grafin di desa terkenal sangat tidak enak, namun memiliki khasiat yang bagus untuk tubuh. Pedang buatannya biasanya menjadi favorit para prajurit karena dibuat secara presisi, ringan, dan mudah digenggam.


*


*


*


Keesokan harinya, mereka telah tiba di pasar kota. Yuri mengenakan penutup kepalanya agar terlindung dari sengatan matahari yang mulai bersinar. Ia merasa takjub melihat keramaian pasar kaum elf dengan segala barang yang diperjual belikan di sana.


Kaum elf yang ada di sana memiliki penampilan lebih bersih dari pada elf pedesaan atau elf pekerja di kediaman bangsawan Jansen. Banyak juga ia lihat elf bangsawan yang sangat mencolok karena bersinar terang di antara yang lainnya.


"Yuri, tetap bersama ayah dan jangan sampai terpisah!" seru Grafin.


"Iya, Ayah." Yuri memegang tangan ayahnya, mengikuti arah jalan dengan sesekali harus menembus kerumunan. Tinggi sang ayah yang lebih pendek darinya, membuat Yuri seakan sedang menuntun ayahnya sendiri. Ia ingin tertawa karena merasa ayahnya itu lucu.


"Hugo, hari ini aku membawa sebuah pedang hasil buatanku. Aku menjualnya kepadamu siapa tahu kamu berminat."


"Kemarikan pedangmu, biar aku melihatnya."


Grafin memperlihatkan sebuah kotak kayu panjang yang terbungkus kain lalu membukanya. Hugo mengangkat pedang panjang hasil tempaan Grafin. Sebuah pedang yang berkilqu ketika tertimpa cahaya matahari dengan ukiran naga pada gagang dan sarung pedangnya. Seperti biasa, Hugo selalu takjub dengan has karya Grafin.


Sejak dulu kaum midget memang termenal dengan keahliannya membuat pedang. Meskioun tubuhnya tergomong pendek, namun kecerdasannya tidak bisa diragukan. Ketekunan dan keuletan menjadi prinsip wajib yang dimiliki oleh kaum midget.


Tidak semua kaum midget mau berbaur dengan kaum elf. Sebagian dari mereka memilih tinggal di sekitar wilayah kaki gunung maupun pegunungan. Sebagian lain yang terpaksa berbaur dengan kaum elf, karena kaum mereka selalu diserang oleh kaum ogre. Kaum ogre tidak akan berani turun ke wilayah kekuasaan elf karena sejatinya mereka merupakan elf yang terkutuk. Mereka takut menginjakkan kaki di negeri suci kaum elf.


"Bagaimana? Apa kamu tertarik?" tanya Grafin.

__ADS_1


Hugo masih menimbang-nimbang benda tersebut. Ia sedang memperkirakan harga yang sesuai. Ia membeli dari Grafin untuk dijual kembali, jadi setidaknya ia harus mendapatkan untung.


"Aku hanya bisa menghargainya senilai tiga kantong koin. Apa kamu bersedia melepasnya?" Hugo telah menetapkan harganya.


"Apa? Hanya tiga kantong koin? Bukankah itu harga untuk pedang-pedang biasa? Butuh waktu lebih lama untuk membuat senjata ini, Hugo. Apakah kamu tega menghargai usahaku serendah itu?" Grafin masih tidak setuju dengan harga yang ditawarkan.


"Aku juga belum bisa mengira-ira berapa nanti aku jual kembali benda ini dan apakah akan ada yang mau membelinya." Hugo masih mengajukan negosiasi.


"Aku jamin jika kaum bangsawan melihatnya, mereka akan langsung tertarik untuk membelinya," ujar Grafin.


Hugo memperhatikan detil pedang itu kembali untuk memberikan harga yang pantas untuknya."Baiklah, aku hanya bisa memberimu empat kantong koin kalau kamu setuju. Jika tidak, tawarkanlah kepada orang lain." Hugo mengembalikan pedang itu ke tempatnya. Ia mengambil empat kantong koin untuk diserahkan kepada Grafin.


"Karena kamu pelanggan setiaku, aku lepaskan pedang ini untukmu," ucap Grafin seraya menerima empat kantong uang dari Hugo.


Hugo tersenyum lebar memegang kotak pedang koleksi dagangannya yang baru. "Oh, siapa yang kamu bawa hari ini?" tanya Hugo saat menyadari ada seseorang yang ikut bersama Grafin.


Yuri langsung merapatkan penutup kepalanya agar tidak bisa dikenali. Entah mengapa rasanya ia trauma dengan warna rambutnya. Ia memang seorang mixtus, warna rambut semacam itu bisa menjadi alat mengejek dirinya.


"Dia putriku, namanya Yuri," jawab Grafin.


"Wah, aku baru tahu kalau kamu memiliki seorang putri. Dilihat dari tinggi badannya, apakah dia seorang elf? Kamu memiliki anak dengan elf, Grafin?" Hugo tampak sedikit terkejut.


"Memangnya kenapa?" tanya Grafin.


"Kamu tidak kasihan dengan putrimu? Kenapa memaksakan diri menikahi seorang elf? Bukankah kamu sudah tahu kalau mixtus antara elf dan midget akan menghasilkan keturunan yang buruk rupa?"


Grafin hanya tersenyum. "Aku tidak tahu ada aturan seperti itu. Tapi, anakku adalah putri tercantik di negeri ini," ucapnya bangga.


"Hahaha ... setiap ayah pasti akan memuji putrinya."

__ADS_1


*****


__ADS_2