Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Hari Pernikahan


__ADS_3

Ezra berjalan menuju ke arah danau. Dilihatnya Ivone sedang duduk termenung di sana sembari melemparkan batu kerikil ke dalam danau. Wajahnya tampak sendu, tingkahnya tak seceria biasanya. Ia merasa hal tersebut ada kaitanya dengan prosesi pemilihan Putri Mahkota.


Meskipun Ivone bukan adik kandungnya, Ezra sangat menyayanginya. Gadis itu selalu bertingkah manja dan suka merajuk padanya. Jika keinginannya tidak tercapai, ia akan marah dan tidak mau bicara selama beberapa hari.


Ezra duduk di sebelah Ivone. Wanita itu bergeser sedikit seraya membuang muka. Ia masih ingin sendiri dan merasa terganggu dengan kehadiran Ezra.


"Ada banyak pangeran di istana ini, kenapa kamu bermuram durja seperti ini?" tanya Ezra.


"Siapa yang muram," bantahnya. Ivone kesal karena Ezra seakan tidak peka terhadap perasaannya.


"Kamu kecewa karena Yang Mulia Pangeran tidak memilihmu?"


Ivone kembali melemparkan kerikil sejauh mungkin ke arah danau buatan yang ada di area taman istana tersebut. "Apa aku begitu tidak menarik? Kenapa Pangeran tidak memilihku? Aku kira hubungan kami selama ini spesial."


Ivone kembali mengingat kenangan-kenangan yang masih tersimpan dalam memori otaknya. Dulu, Ivone, Ezra, dan pangeran sering bermain bersama. Mereka sudah sangat dekat hingga terkesan seperti saudara.


Pangeran banyak membantu Ivone mengerjakan sesuatu. Sampai beranjak dewasa, perhatian yang diberikan pangeran masih tetap sama. Ivonr kira pangeran menyukainya. Itu yang membuatnya memiliki keberanian untuk mendaftarkan diri sebagai calon pendamping pangeran.


"Yang Mulia selalu menganggapmu sebagai orang yang spesial. Bukankah kamu juga sering diberi hadiah?"


"Hadiah spesial apa! Sepertinya aku diberi hadiah karena Kak Ezra juga mendapatkan hadiah. Itu supaya aku tidak iri!" Ivone memanyunkan bibirnya.


"Sungguh memalukan anak seorang jendral bersusah hati hanya karena gagal menjadi pendamping pangeran. Ayah pasti akan tertawa jika melihatmu."


"Ah! Kak Ezra memang tidak pernah membelaku!" Ivone pergi meninggalkan Ezra dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


Ezra merasa adik angkatnya sangat kekanak-kanakkan. Ia tahu kalau pangeran hanya menganggap Ivone seperti seorang adik, sama seperti dirinya.


***


Pesta pernikahan antara Pangeran Adrian dan Putri Hilda akhirnya akan dilaksanakan. Seluruh penghuni istana menyambutnya dengan penuh suka cita. Pesta besar-besaran diadakan bahkan pada hari itu pajak harian pasar dibebaskan bagis seluruh penduduk.


Rembulan malam itu bersinar terang seolah ikut bergembira dengan pernikahan yang akan berlangsung di istana. Para bangsawan memenuhi undangan raja turut serta menjadi saksi hari bahagia menyambut calon raja selanjutnya.


Hilda berdiri di depan cermin ditemani para pelayan untuk mempersiapkan diri menuju tempat acara. Ia mengenakan gaun berwarna putih dengan hiasan benang emas yang berkilau. Hilda kebingungan memilih aksesoris yang cocok dikenakan pada kepalanya. Semua yang dipersiapkan sangat indah dan mewah.


"Nona, Yang Mulia Pangeran menghendaki Anda memakai ornamen ini." Seorang pelayan membawa nampan yang diatasnya terdapat hiasan rambut miliknya, ornamen berbentuk burung merak.


Hilda sangat heran kenapa pangeran begitu menyukai ornamen miliknya. Padahal, apa yang telah disiapkan untuknya lebih bagus daripada kepunyaannya.


"Yang Mulia mengatakan ornamen ini sangat cocok untuk Nona Hilda. Sesuai dengan karakter wanita yang cantik, lembut, dan penyayang."


"Kalau begitu, tolong pasangkan di rambutku!" Pinta Hilda.


Ornamen rambut yang telah terpasang mengakhiri masa persiapannya sebagai mempelai wanita. Ia berjalan diiringi para pelayan menuju aula pernikahan. Gaun putih yang menjuntai menyapu jalan terlihat bersinar. Kehadirannya bak dewi di tengah-tengah acara yang dinanti-nantikan semua orang.


Hilda mengulaskan senyum. Bisa berdiri di samping pangeran merupakan kenyataan yang seakan seperti mimpi.


Pangeran memandangi calon pengantinnya. Wanita itu tampil begitu cantik dengan mengenakan ornamen yang seperti ia inginkan. Akan tetapi, entah mengapa hatinya terasa hamla meskipun telah berhasil mendapatkan wanita secantik dewi yang ada di hadapannya.


Upacara pernikahan segera dimulai. Mereka berdiri di hadapan seorang pendeta yang merapalkan doa kepada Sang Pencipta agar memberkahi pernikahan keduanya. Air suci diberikan untuk diminum kedua mempelai.

__ADS_1


Raja dan Ratu terlihat bahagia, akhirnya putra mereka mau melepas masa lajangnya. Pernikahan pangeran berarti sebagai tanda bahwa Pangeran Adrian telah siap menjadi seorang putra mahkota terpilih yang kelak akan meneruskan tahta sebagai raja.


Setelah acara selesai, kedua mempelai masuk ke dalam bilik kamar untuk beristirahat. Hilda tampak malu-malu duduk di tepi ranjang menantikan suaminya yang masih berada di dalam kamar mandi.


Saat pangeran keluar, Hilda menundukkan pandangan. Meskipun pernah bertemu sebelumnya, namun menjadi sedekat malam ini merupakan pengalaman pertamanya. Apalagi pangeran mengambil duduk tepat di sampingnya. Jantungnya serasa ingin melompat keluar dari tempatnya.


"Apa kamu gugup?" tanya pangeran.


"Iya, Yang Mulia," jawab Hilda malu-malu.


"Kalau kamu belum siap melewati malam ini bersamaku, kamu tidak perlu memaksakan diri. Katakan jika kamu butuh beradaptasi. Utamakan kamu merasa nyaman."


Hilda tersipu malu. Ia tidak menyangka pangeran begitu mementingkan perasaannya.


"Aku akan tidur di sana. Beristirahatlah, kamu pasti sangat lelah hari ini."


Pangeran beranjak dari duduknya. Namun, sebelum ia melangkah pergi, Hilda meraih tangannya.


"Yang Mulia, mari kita tidur bersama malam ini. Saya telah siap menjadi seorang istri," ucap Hilda sembari menatap wajah pangeran dengan sungguh-sungguh.


Pangeran tidak menyangka Hilda akan berubah menjadi wanita yang berani. Bahkan, wanita itu mulai melepaskan ikatan yang melilit di badannya. Satu demi satu lapis pakaian yang dikenakan ia lepaskan tepat di hadapan pangeran tanpa sungkan.


Sementara, pangeran masih terpaku memandangi keberanian Hilda. Hingga akhirnya tak ada sehelai kain lagi yang melekat pada tubuh indah itu.


Hilda membantu melepaskan pakaian yang pada tubuh pangeran satu per satu. Sebenarnya ia gugup, namu berusaha tetap tenang di hadapan pangeran. Sebagai elf wanita yang telah menikah, bermesraan dengan pasangan bukanlah sesuatu hal yang tabu dan tak patut untuk merasa malu.

__ADS_1


Pangeran mengangkat tubuh Hilda, membaringkan secara perlahan di atas ranjang. Ia pagutkan bibirnya dengan lembut sembari menautkan jemari mereka menjadi satu. Tak ada perbincangan di antara mereka. Hanya sesekali tersengar suara lengkuhan yang merdu, membuat malam yang mereka lewati semakin romantis.


Hilda merasa menjadi elf paling bahagia di seluruh negeri. Pangeran menyentuhnya dengan penuh kelembutan. Tubuhnya seakan bergetar setiap kali jemari pangeran menyentuhnya. Hal yang paling membahagiakan saat mereka melakukan penyatuan, di mana wanita dan pria berpadu dalam cinta. Suatu kehormatan bagi wanita menerima benih dari keturunan raja untuk melanggengkan keturunan mereka.


__ADS_2