Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Berubah Cantik


__ADS_3

"Grafin, apa putrimu akan hadir di acara perjodohan desa nanti malam?" tanya Edbar seorang elf yang terkenal sebagai tukang kayu di desa.


Grafin menggandeng tangan putrinya. Baru saja mereka pulang dari hutan membawa bahan-bahan makanan untuk persediaan. Kebiasaan warga di sana memang saling menyapa jika bertemu dengan warga lain. Akan tetapi, Grafin tahu kalau tujuan Edbar bertanya hanya untuk menyindir putrinya.


"Aku rasa Yuri tidak perlu datang. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri," sambung Suna istri Edbar.


"Ya, tidak akan ada yang mau dengan putrimu, Grafin. Bagaimana nasibnya nanti?" Hobbo si pemahat batu ikut-ikutan mengejek.


"Putriku tidak cocok dengan pemuda desa ini. Dia akan mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik nanti," ucap Grafin dengan menahan kemarahannya.


"Wah lihat pembuat minuman di desa kita bisa menyombongkan putrinya yang seorang mixtus. Kita lihat saja nanti Yuri akan berjodoh dengan siapa."


"Dia pantasnya menikah dengan kaum ogre. Hahaha."


Yuri mengeratkan genggaman sang ayah, memberi isyarat agar ayahnya tak perlu meladeni ucapan orang-orang itu. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan mereka. Di kehidupannya dulu, meskipun ia cantik dsn seorang artis berbakat, banyak juga orang-orang yang menghujatnya. Menurut Yuri, hujatan datang bukan karena ada yang salah dengan diri sendiri, tetapi pada orang-orang yang mudah mengolok-olok dan berusaha menjatuhkan orang lain.


"Ayah, acara perjodohan itu apa?" tanya Yuri.


"Itu acara setahun sekali yang biasa dilakukan warga desa. Biasanya yang datang anak-anak muda agar bisa saling mengenal. Jika ada yang saling tertarik, mereka akan dinikahkan. Kamu tidak perlu datang kalau memang tidak suka."


"Aku akan datang, ayah," ucapnya.


Grafin menatap putrinya dengan tatapan serius. "Kamu yakin?" tanyanya. Ia tidak bisa membiarkan putrinya mendapatkan lebih banyak hinaan dari orang-orang.


Yuri tersenyum. "Ayah tenang saja, aku tidak akan terluka dengan ucapan mereka. Aku akan berdiri dengan kuat di atas kakiku sendiri. Akan aku buktikan jika mereka tidak bisa memandang remeh putrimu, Tuan Grafin."


Grafin begitu terkesima dengan sikap percaya diri yang kini tumbuh dalam diri Yuri. Ia merangkul putri kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang. "Ayah bangga padamu," ucapnya.


"Apa aku sudah mirip dengan ibuku?" tanya Yuri.


"Ya. Kamu sama beraninya dengan ibumu."

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Yuri segera melakukan rencananya untuk menciptakan make up di negeri elf. Ia menyiapkan berbagai bahan yang sebelumnya dibeli dari pasar kota. Meskipun kuliahnya sempat terhenti di jurusan farmasi, ilmu yang diperolehnya saat kuliah masih ia ingat. Yuri juga pernah praktik membuat sabun dan lipstik. Memang, ada beberapa bahan yang tidak bisa ia temukan di sana, seperti pewarna instan. Ia mengakalinya dengan memakai bahan-bahan alami yang terdapat di hutan seperti bunga, dedaunan, atau akar-akaran.


Grafin melirik ke arah putrinya yang tampak serius. Ia sedang memasak untuk makan siang. Yuri bilang belum terlalu bisa memasak sehingga sang ayah yang menggantikan tugas memasak. Masakan yang Yuri buat menurut Grafin rasanya juga aneh, bukan kebiasaan makanan di desa tersebut.


"Yuri, kamu harus makan dulu. Lanjutkan pekerjaanmu nanti."


"Sebentar lagi, Ayah," jawab Yuri.


Yuri tampak serius membuat pewarna bibir yang cocok di bibirnya. Ia meletakkan wadah logam di atas air mendidih untuk melelehkan campuran lilin lebah, minyak nabati, dan butter shea. Setelah meleleh, ia memasukkan pewarna yang diambilnya dari sari bunga merah dan ditambahkan sedikit bibit pewangi. Hasil adonan lipstik ia masukkan ke dalam wadah kecil dan akan disimpan hingga dingin sehingga siap digunakan.


Yuri meregangkan tangannya yang pegal. Akhirnya, alat-alat make up yang ia inginkan telah selesai dibuatnya. Ia menghampiri ayahnya yang sudah menyiapkan makanan di area makan. Seperti biasa, menu makan mereka berupa roti dan daging. Yuri hampir bosan karena sudah lama ia tidak merasakan yang namanya nasi.


*****


Yuri memulaskan perlengkapan make up yang baru ia buat ke wajahnya sendiri. Dati mulai bedak, lipstik, blush on, eye shadow, sampai pewarna alis bisa ia ciptakan dengan sempurna. Ia tersenyum puas dengan karyanya sendiri. Dalam situasi penuh keterbatasan, otaknya bisa dipaksa untuk lebih kreatif menciptakan sesuatu yang diperlukannya.


Tampilan wajahnya benar-benar berubah, jauh lebih cantik dari pertama ia menggunakan make up seadanya. "Yuri memang seharusnya seperti ini," gumamnya.


"Yuri ...."


Grafin terdiam saat putrinya membalikkan badan. Apa yang ia lihat sekarang begitu mencengangkan. "Aire ...," lirihnya. Ia benar-benar seperti melihat Aire hidup kembali di hadapannya.


Sungguh suatu keajaiban putrinya bisa menjadi cantik dengan benda-benda yang dibuatnya sendiri. Yuri berdandan begitu mirip dengan ibunya, Aire.


"Bagaimana Ayah, apa aku cantik?" tanya Yuri.


Grafin meneteskan air mata. Ia begitu terharu melihat putrinya tampil dalam versi terbaiknya. "Kamu sangat cantik, putrinya Aire," ucapnya.


Yuri tertawa kecil melihat ayahnya justru menangis karena penampilannya. "Kenapa Ayah, sekarang sudah bisa mengakui kalau putrimu ini cantik, kan?" tanyanya sembari mengusap air mata yang menetes di pipi sang ayah.


Grafin mengangguk. "Putriku memang sejak dulu selalu cantik. Kamu putri terbaik yang pernah kami miliki," ujarnya.

__ADS_1


"Bagaimana, apa sekarang Ayah bisa mengantarku pergi ke pesta itu?" tanya Yuri.


"Kamu yakin ingin pergi? Kamu ingin bertemu dengan pemuda-pemuda desa ini?"


Yuri tersenyum. "Ya, tentu saja. Siapa tahu ada di antara mereka yang cocok menjadi calon menantu ayah."


"Ah, mereka semua jelek-jelek, putri ayah harus mendapatkan lelaki yang lebih baik dari mereka."


Grafin tidak menyukai orang-orang desa. Ia tidak berharap putrinya berjodoh dengan salah satu dari mereka. Kaum elf yang tidak henti-hentinya menghina keluarganya. Ia satu-satunya midget yang bisa bertahan dengan olok-olokan warga yang merendahkannya. Semua ia lakukan demi tetap dekat dengan Aire. Jasad istrinya dikuburkan di tempat itu. Sekeras apapun kehidupan yang dijalani, sampai mati Grafin akan tetap bertahan.


Catatan:




Mixtus : keturunan campuran antara elf bangsawan dengan elf biasa atau kaum midget.




Midget : kaum kurcaci yang memiliki ukuran tubuh lebih pendek dari elf




Ogre : kaum terkutuk yang suka membuat kerusakan dan kerusuhan. Elf yang memilih jalan bunuh diri bisa berubah menjadi ogre, sejenis manusia dengan tubuh berlumpur dan bau. Mereka pemangsa elf demi hidup yang panjang.


__ADS_1



__ADS_2