Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Memilih Calon Pendamping


__ADS_3

Pangeran Adrian tampak berjalan dengan langkah cepat menuju ke tempat kerja raja. Ezra dan beberapa pengawal mengikutinya di belakang dengan langkah yang tak kalah cepat. Sepanjang jalan yang dilalui, setiap orang yang berpapasan dengan pangeran akan berhenti dan menundukkan badan sebagai bentuk penghormatan.


Setibanya di ruangan yang dijaga banyak prajurit, pangeran melangkah masuk sendirian meninggalkan pengawalnya yang menunggu di halaman. Dua prajurit membukakan pintu masuk lalu menutupnya kembali.


Pangeran melihat raja yang tengah duduk di balik meja kerjanya sembari memperatikan peta wilayah kerajaan elf yang mereka kuasai.


"Ada masalah apa sampai Pangeran masuk ke ruang kerja raja?" Yang Mulia Raja Argaron mengulaskan senyum melihat kehadiran putra yang pemikirannya paling bersebrangan dengannya. Meskipun sering menentang ucapan raja, tapi dia merupakan anak semata wayang kesayangan Raja Argaron dan Ratu Zerua.


"Ayah, aku sungguh tidak ingin menikah dengan salah satu putri bangsawan yang kalian pilihkan!" tegas Adrian. Ia selalu berani mengungkapkan hal-hal yang tidak sesuai dengan isi hatinya meskipun harus menentang raja atau ayahnya sendiri.


"Tidak mau menikah? Tapi syarat diangkat menjadi putra mahkota haruslah sudah menikah."


"Aku tidak ingin menjadi putra mahkota!"


"Hahaha ...." Raja menertawakan ucapan pangeran. "Di istana ini ada banyak pangeran yang ingin diangkat menjadi putra mahkota dan kelak menjadi raja untuk menggantikan ayah. Putraku sendiri tidak ingin meneruskan tahta? Apa kamu sungguh-sungguh mengatakannya?"


Raja selalu tidak habis pikir dengan jalan pikiran pangeran. Dukungan yang diberikan agar Pangeran Adrian bisa menjadi raja sangat besar meskipun ada sebagian lainnya yang tidak menginginkannya menjadi raja. Banyak bangsawan yang mengeluhkan sikap keras pangeran ketika bersikap kepada mereka. Sebagai pangeran perlu belajar menghormati kaum bangsawan agar rakyat tetap segan kepada mereka.


"Aku sungguh-sungguh, Ayah ... aku ingin hidup sebagai orang biasa."


"Bisa-bisanya putra raja berbicara seperti ini?"


"Terlahir sebagai anak raja adalah takdir. Tapi, bagaimana aku memilih menjalani kehidupan ini adalah pilihanku. Aku harap ayah bisa menghormatinya."


Raja sebenarnya ingin meluapkan kemarahannya. Namun, ia tahu bahwa memarahi Adrian tidak akan ada gunanya. Putranya seorang yang keras kepala, tidak bisa dinasihati hanya dengan kata-kata.


"Lalu bagaimana dengan cita-citamu menghapuskan perbedaan kasta di antara kaum elf?"


Pangeran langsung terdiam. Ia memang tidak menyukai kehidupannya karena adanya perbedaan kasta.


"Jika kamu berhasil menjadi raja, kamu bisa membuat kebijakan apapun yang kamu mau. Termasuk merubah tatanan kehidupan di negeri ini."

__ADS_1


"Jika bukan kamu yang berniat menjadi raja, maka posisi itu akan diperebutkan orang lain yang mungkin kebijakannya jauh membuat rakyat lebih menderita. Bisa jadi raja selanjutnya lebih buruk dari ayahmu ini. Apa kamu sudah siap menerimanya?"


Perkataan Raja yang bijaksana tak bisa dibantah oleh pangeran. Ia memang sangat ingin pergi dari istana, hidup menyepi di tempat yang sunyi dalam ketenangan. Tapi, itu artinya dia hanya akan menjadi seorang yang egois, mementingkan kebahagiaan sendiri tanpa memikirkan rakyat.


"Seorang raja selalu diberi pilihan untuk melepaskan keinginannya demi rakyat banyak."


Sebelum menjadi raja, Argaron pernah muda dan pernah memiliki sifat egois seperti putranya. Ia pernah mencintai seorang wanita yang tidak menginginkan dirinya menjadi seorang ratu. Elf bangsawan sekaligus elf prajurit wanita yang tangguh itu memilih hidup sebagai rakyat biasa. Bahkan hal yang lebih tidak masuk akal untuknya, wanita itu memilih untuk menikah dengan seorang midget dan melepaskan kebangsawanannya. Pada akhirnya dia turut meninggal dalam sebuah peperangan besar melawan ogre. Namanya Aire Raseye, wanita yang namanya terpahat abadi di dalam hati raja.


"Pikirkanlah lagi, sebenarnya hidupmu ingin membahagiakan dirimu sendiri atau membahagiakan rakyatmu?"


"Aku tidak ingin menjadi seperti Ayah yang harus memilih satu dari dua pilihan. Aku pastikan hidupku akan bahagia dan rakyatku kelak juga akan bahagia." Pangeran memberikan tatapan tajam ke arah raja.


Pemikiran pangeran selalu membuat raja takjub. Ia sudah tidak sabar melihat putranya memimpin kerajaan ini. Sebagai seorang raja, ia menyadari bahwa selama kepemimpinannya, ia belum sepenuhnya bisa mengusahakan yang terbaik untuk rakyatnya. Makanya pangeran terkadang mengkritik dan menentang kebijakan yang dibuatnya.


Setelah Adrian menjadi raja, ia yakin putranya akan tahu bahwa berada di posisi yang tinggi tidak menjamin bisa melakukan segalanya dengan mudah.


Pintu utama kembali terbuka. Kali ini Ratu Zerua yang masuk ke dalam dengan raut wajah cemas. "Pangeran, kenapa Anda berada di sini? Seleksi calon Putri sudah berlangsung sejak tadi. Semua orang mencari Anda," ucap Ratu dengan perasaan harap-harap cemas.


"Putramu baru saja mengatakan kepadaku tidak ingin menjadi putra mahkota, Ratu," sahut Raja.


Pangeran menunduk. Hal lain yang tidak ia sukai sebagai anak raja, ia tidak bisa memiliki hubungan yang dekat dengan kedua orang tuanya. Apalagi ibunya selalu berbicara dengan bahasa yang formal seakan menganggapnya lebih mulia dari dirinya sendiri.


"Semua calon putri tengah menunggu kehadiran Anda, apakah Pangeran akan mengecewakan mereka? Apa yang akan orang-orang katakan tentang diriku yang tidak bisa membesarkan calon Putra Mahkota dengan baik." Ratu Zerua memasang ekspresi wajah sendu, membuat pangeran tak tega melihatnya.


"Hentikan, Ibu. Aku akan menemui mereka sekarang juga!" ucapnya. Pangeran langsung keluar dari ruang kerja raja. Ratu bisa tersenyum lega melihat putranya menurut padanya.


Pangeran kembali berjalan dengan langkah cepat menuju ke aula istana keputrian, tempat tinggal para putri dan istri-istri pangeran.


Saat pangeran tiba, kelima kandidat calon putri berlutut sebagai tanda penghormatan. Mereka baru berhenti setelah pangeran memberikan isyarat. Kelima calon putri begitu terpana melihat ketampanan sang pangeran dari jarak dekat. Mereka merasa tersanjung bisa terpilih dari seluruh penjuru negeri sebagai calon pendamping Pangeran Adrian.


Pangeran menoleh ke arah Ezra. Pengawal setianya itu menunduk seakan tahu jika pangeran akan marah dengannya. Salah satu kandidat dari lima calon putri adalah Ivone, adik angkat Ezra, putra Azof.

__ADS_1


"Yang Mulia Pangeran, saya akan memperkenalkan satu persatu putri cantik dari berbagai penjuru negeri yang telah diseleksi menurut kriteria sebagai calon putri kerajaan," ucap pelayan senior yang menjadi pengurus di istana keputrian. Namanya Olive.


"Yang pertama ada Nona Myria, putri bangsawan Edora. Dia sangat pandai menyulam dan memasak."


Myria memberikan salamnya kepada pangeran. Dari paras dan gestur tubuhnya, wanita itu terlihat keibuan dan lemah lembut serta penyayang.


"Yang kedua ada Nona Asteria, putri bangsawan Jansen, pemilik kebun anggur terbaik di negeri ini."


"Salam Yang Mulia Pangeran, senang sekali bisa kembali berjumpa dengan Anda."


Asteria berdandan dengan penampilan yang paling baik. Kalau saja pangeran belum pernah bertemu dengan wanita itu, mungkin Asteria akan menjadi pilihannya. Namun, pangeran telah mengetahui seperti apa perangai wanita tersebut. Ia tidak akan memilihnya sebagai calon pendamping.


"Yang ketiga, Nona Izzara, putri kesayangan bangsawan Gargaf. Dia sangat pandai berkuda dan memanah."


Pangeran cukup tertarik dengan wanita seperti Izzara. Tipe wanita seperti itu terlihat tangguh dan tidak mudah dipengaruhi.


"Yang keempat, Nona Ivone, putri dari panglima perang kita yang tangguh, Bangsawan Azof."


Pangeran sudah lama mengenal Ivone. Sejak kecil mereka sering bermain bersama termasuk Ezra. Ivone anak yang manja, namun sifatnya baik. Hanya saja wanita seperti itu bukan tipe pangeran.


"Yang terakhir, Nona Hilda, putri Bangsawan Morzil. Dia mahir bermain alat musik terutama harpa. Musik yang dimainkan terkenal sebagai musik surga."


Pangeran pernah mendengar nama Hilda. Ia dikenal sebagai dewinya elf karena kecantikannya yang tiada tara. Tapi, bukan hal itu yang membuat seorang pangeran terpaku memandangi Hilda. Tanpa sadar pangeran berjalan mendekat ke arah Hilda, membuat semua yang ada di sana terheran-heran.


Hilda merasa kebingungan melihat pangeran yang mendekat ke arahnya. Ia merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Pangeran memegang kepalanya, mengambil hiasan rambut yang dikenakannya.


"Apa ini milikmu?" tanya pangeran sembari memandangi ornamen hiasan rambut tersebut.


"Benar, Yang Mulia Pangeran," jawab Hilda dengan nada sedikit bergetar.


"Aku memilihmu sebagai calon istriku," ucapnya.

__ADS_1


Semua tercengang dengan keputusan yang dibuat pangeran, termasuk Hilda. Ia tak menyangka dirinya yang terpilih dari keempat kandidat lain yang sama-sama kuat.


Adrian mengembalikan lagi ornamen hiasan rambut berbentuk burung merak itu kepada Hilda. Ornamen tersebut mengingatkannya pada wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya di hutan. Ia ingin bertemu kembali dengan wanita itu. Namun, setiap kali ia memerintahkan prajurit untuk mencari wanita sesuai dengan gambarannya, tidak ada yang berhasil menemukannya. Pangeran pernah kembali ke hutan itu, ia juga tidak berjumpa dengan wanita itu.


__ADS_2