
Yuri secara mengendap-endap mencari sesuatu di antara susunan buku pada rak yang terdapat di ruang pribadi pangeran. Saat menunggu pangeran, ia mengelilingi tempat mandi dan tanpa sengaja menemukan pintu rahasia. Saat pintu itu bergeser, ia telah tiba di dalam ruang penyimpanan buku-buku yang cukup banyak.
Ruangan itu bukanlah ruang perpustakaan istana. Seperti ruangan khusus yang hanya bisa diakses orang-orang tertentu. Yuri curiga buku yang dicarinya ada di sana.
Yuri terus mengecek satu per satu buku yang ada di sana. Ia berharap pangeran akan lama kembali sehingga ia memiliki lebih banyak waktu untuk menemukan benda yang ia cari.
"Sejarah terciptanya negeri elf." Yuri membaca salah satu judul buku yang cukup tebal itu.
Sebenarnya, ia sangat ingin sekali mengetahui banyak hal di sana. Namun, ia tahu jika kali ini ketahuan, pangeran pasti akan membunuhnya. Maka, ia tidak bisa memenuhi janjinya pada Aire untuk menghindarkan Yuri dari kematian.
Tempat penyimpanan buku-buku itu tampak kotor dan berdebu. Pertanda ruangan itu jarang dimasuki apalagi dibersihkan. Yuri terus mencari dari satu per satu buku di sana. Hingga akhirnya ia tiba pada rak paling ujung, di tumpukan terbelakang, ia akhirnya menemukan kitab berwarna kuning dengan gambar tiga bunga lotus di depannya.
Yuri tersenyum senang. Akhirnya apa yang dicari bisa ditemukan. "Persis seperti yang Aire katakan di mimpiku," gumamnya senang.
Saat ia hendak membuka lembaran buku tersebut, anehnya tidak mau terbuka. Seakan setiap lembaran yang ada di dalamnya saling menempel seperti magnet. Yuri sama sekali tidak bisa membukanya. "Benar-benar aneh!" gerutunya kecewa.
Yuri menyerah untuk membuka buku tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk membungkus buku yang baru saja ditemukannya dengan selembar kain lalu mengikatnya di gendongan belakang punggung.
Malam ini juga, Yuri akan menyelinap keluar dari istana. Ia berharap bisa pergi sebelum pangeran memergokinya.
Dipasangnya kain cadar untuk menutupi wajahnya. Ia juga membawa pedang untuk berjaga-jaga. Ia keluar secara hati-hati dari tempat penyimpanan tersebut.
Sejenak ia memandangi bak mandi penuh bunga yang telah dipersiapkan untuk dirinya dan pangeran. Ia bimbang, antara bertahan di sana atau pergi demi bisa kembali ke kehidupan sebelumnya. Ia memang sudah mulai ada rasa dengan pangeran, namun tidak tega jika harus menyakiti Putri Hilda.
"Mungkin lebih baik aku pergi!" Yuri meyakinkan dirinya sendiri akan keputusannya.
Dengan langkah hati-hati, ia mengendap-endam keluar dari tempat mandi pangeran. Ia melihat ke sekeliling, situasi cukup aman untuk kabur.
Srang!
__ADS_1
Sebilah pedang tiba-tiba diacungkang ke arahnya. Yuri terkejut bahwa orang tersebut adalah Ezra, pengawal setia pangeran. Sudah lama ia tidak bertemu dengannya. Sekalinya bertemu, mereka berhadapan sebagai musuh.
"Apa yang sudah kamu lakukan di ruangan milik Pangeran?" tanyanya dengan sorot mata tajam.
Yuri tidak punya pilihan selain melawan. Ia turut mengeluarkan sebilah pedang yang ada di punggungnya.
Srang! Srang! Srang!
Suara gesekan pedang terdengar keras. Keduanya saling beradu kemahiran bermain pedang. Ezra yang ahli pedang, bukan lawan sebanding untuk Yuri. Cadar yang Yuri kenakan tersingkap oleh pedang milik Ezra.
"Yuri!" Seru Ezra kaget. Ia tidak menyangka orang yang baru saja ia hadapi adalah seorang wanita. Ia langsung menurunkan pedangnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan di dalam sana, Yuri?" tanya Ezra.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya. Tolong biarkan aku pergi dari sini, aku tidak punya banyak waktu." Yuri harus segera pergi sebelum pangeran kembali.
"Aku tidak bisa membiarkan orang asing pergi begitu saja dari wilayah istana," ucap Ezra.
Yuri kembali mengangkat pedangnya. Ezra tidak menyangka wanita itu begitu berani menentangnya padahal kemampuan mereka jauh berbeda.
Adu pedang kembali terjadi. Yuri mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menghadapi Ezra. Meskipun terseok-seok, ia tetap tidak menyerah. Ezra tampak tidak menggunakan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi Yuri.
Sampai akhirnya pedang Yuri terjatuh. Ezra siap menghunuskan pedang ke dadanya.
"Tusuk kalau memang kamu menginginkan kematianku!" Yuri menggenggam pedang tersebut dengan tangan kosongnya. Ada tetesan darah yang keluar akibat tangannya tergores oleh sisi pedang yang tajam.
Ezra syok, ia mematung. Seharusnya ia tidak perlu pikir panjang untuk menghabisi penyusup di istana. Namun, melihat Yuri yang senasib dengannya, Ezra merasa tidak tega.
Srang!
__ADS_1
Sebilah pedang mengarah ke leher Yuri. "Lepaskan wanita itu atau aku potong lehermu!" bentaknya.
Ezra terpaksa melepaskan pedangnya. Ia juga tidak tega untuk melukai Yuri.
Lelaki itu dengan sigap menarik tangan Yuri bersamanya. Mereka berlari sebentar, lalu menaiki kuda yang telah disiapkan sebelumnya.
"Kenapa kamu bisa ada di sana?" tanya Yuri setelah mereka berhasil melarikan diri dengan seekor kuda.
"Apa kamu sudah gila ingin menghadapinya sendiri?" kesal Andez.
Lelaki itu sebenarnya hendak mencari catatan resmi sejarah keluarganya. Namun, ia justru mendapati Yuri dalam kesulitan. Terpaksa ia menggagalkan misi demi membantu Yuri.
Sebagai seorang prajurit, ia sudah paham akses pintu gerbang dengan penjagaan terlemah. Sebelumnya ia telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman para penjaga hingga mereka tertidur.
Yuri menoleh ke belakang. Sepertinya Ezra tidak mengikutinya.
"Apa kamu sudah mendapatkan kitab itu?" tanya Ezra memastikan. Ia tetap menjaga fokus ke arah depan dengan pencahayaan seadanya dari lentera yang ia pasang pada kudanya.
"Aku sudah menemukannya dan bersiap membawanya kepada sang pendeta suci Yahzen," ucap Yuri.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sana!" tegas Ezra.
Yuri sampai ternganga ada lelaki yang justru ingin mendampinginya.
Kuda terus melaju memecah kesunyian hutan. Mereka sudah mantap menyatukan
misi mencari Petapa suci bernama Yahzen.
Season 1
__ADS_1
--- end ---