
Angin berhembus menerpa wajah Yuri ketika Griphos terbang mengitari langit sekeliling istana. Ia takjub melihat pemandangan negeri elf dari atas. Apalagi bangunan istana yang megah dan begitu bersinar bagaikan rembulan. Danau luas yang ada di bawahnya berkilauan membiaskan cahaya suci yang dipancarkan para elf penghuni istana.
Kumpulan titik-titik kecil cahaya yang berderet rapi sepanjang jalan menjadi penerangan di pemukiman sepanjang pemikiman. Ia bisa melihat lokasi kedai minumannya yang tampak begitu kecil di bawah sana. Sesaat ia memikirkan kedua temannya yang masih terlelap, mungkinkah mereka akan terbangun dan mencari keberadaannya.
Yuri merasakan pelukan di bagian pinggangnya. Pangeran menyandarkan kepalanya pada sebelah pundaknya. Pelukan itu terasa hangat namun membuatnya canggung. Entah mengapa jantungnya berdebar kencang serta di dalam tubuhnya serasa ada puluhan kupu-kupu yang terbang.
Yuri bingung harus melakukan tindakan apa kepada pangeran. Ia yang awalnya tak memiliki rasa apapun selain kekaguman, mendapat sentuhan lembut lelaki agung negeri elf itu mulai membuat hatinya bergetar. Sangat salah jika dia membiarkan perasaan itu terus berkembang. Ia sadar bukan porsinya mendapatkan cinta dari pangeran maupun mencintainya. Pangeran hanya untuk Putri Hilda.
Hidup yang awalnya cukup mudah dijalani kini kembali membuatnya dilema. Ia berusaha keras bertahan hidup, mengasah kemampuan bertempur serta pengobatannya sebagai bekal menghadapi hal terburuk yang bisa terjadi di sana. Ia ingin kembali ke dunianya.
Jika musuhnya adalah ogre atau penjahat, ia akan siap menghadapi dengan pedangnya. Namun, musuhnya saat ini adalah perasaan pangeran kepadanya, yang entah bagaimana bisa tumbuh terhadap elf biasa seperti dirinya.
Pangeran Adrian memiliki watak keras kepala dan teguh pendirian. Ia tak akan menyerah untuk mencapai ambisi dan keinginannya. Jika Yuri menolaknya dengan keras, pangeran bisa saja langsung memberikan hukuman mati kepadanya.
"Aku menyukai aroma tubuhmu," ucap pangeran.
Yuri semakin canggung dengan perlakuan pangeran yang semakin erat memeluknya. Hembusan napas hangat di area tengkuknya membuat ia merinding.
"Baru kali ini aku mencium aroma elf yang sangat enak. Membuatku merasa tenang dan ingin terus merengkuhmu seperti ini."
Yuri hanya menggunakan rempah-rempah beraroma untuk mandi agar bau badannya hilang. Ia juga membuat sabun ciptaannya sendiri. Karena kebiasaannya tambil bersih dan wangi sebagai seorang artis, kebiasaan itu terbawa saat ia masuk ke dunia elf. Di sana memang belum ada yang namanya minyak wangi atau sabun mandi. Mungkin itu yang membuat Yuri terlihat menarik dan berbeda dengan elf biasa. Yuri yang sekarang terlihat cerah, cantik, hanya saja tubuhnya tak mengeluarkan aura layaknya elf bangsawan.
__ADS_1
"Kenapa sejak tadi kamu diam saja?" tanya pangeran. Sementara Griphos terus terbang dengan kecepatan sedang mengelilingi kawasan seputar kota.
"Yang Mulia, apakah Anda tidak merasa bersalah dengan Putri Hilda?" Yuri memberanikan diri bertanya. Rasanya ia ingin cepat-cepat menemui Putri Hilda untuk berlutut dan meminta maaf. Meskipun bukan kemauannya berada dalam rengkuhan pangeran, namun ia tetap merasa berdosa. Putri Hilda merupakan karakter yang sangat ia sukai dalam cerita selain pangeran dan Ezra. Putri Hilda bukan tokoh jahat, tidak adil jika kisahnya harus berakhir sedih karena tokoh figuran seperti Yuri.
"Apakah jatuh cinta itu sebuah dosa?"
Yuri merasa sentuhan bibir pangeran di area lehernya menjalar ke area telinganya. Ia semakin merasa jika pangeran memang benar-benar menginginkannya. Pangeran seakan menjadi sangat terobsesi kepada dirinya. Hal semacam ini lebih mengerikan dari pada menghadapi penjahat.
"Perasaan Anda kepada saya akan menyakiti hati Putri Hilda, Yang Mulia. Tolong, pikirkan kembali perbuatan Anda. Putri Hilda seorang wanita yang baik, Anda tidak boleh menyakitinya."
Pangeran terlihat tak senang dengan sikap yang Yuri berikan. "Apa kamu sadar kalau penolakanmu juga membuat hatiku sakit? Bahkan berbulan-bulan mencarimu tanpa hasil membuatku seperti elf tanpa nyawa."
"Yang Mulia!" teriak Yuri.
Ia menyuruh Griphos terbang rendah ke titik pangeran menjatuhkan diri. Dengan segera ia ikut melompat ke dalam air. Biasanya dia yang selalu ingin mati bunuh diri, namun kali ini pangeran yang sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam danau.
'Apa dia sudah gila? Dia mau menjadi seorang ogre?' gerutu Yuri di dalam hati. Ia berenang menyelam ke dalam danau yang dalam berusaha meraih tubuh pangeran yang semakin lama semakin tenggelam.
'Ayo Yuri ... cepat!' ucapnya untuk menyemangati diri sendiri.
Setelah menyelam cukup dalam, akhirnya ia berhasil meraih tangan pangeran. Dengan segenap tenaga yang dimiliki, ia mengangkat tubuh pangeran ke atas. Entah apa yang akan terjadi nanti jika seorang pangeran calon penerus kerajaan elf memilih mengakhiri hidupnya. Mungkin kaum ogre akan mengadakan pesta besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam.
__ADS_1
Susah payah Yuri menarik tubuh pangeran ke tepian danau. Dengan bantuan Griphos, tubuh pangeran dinaikkan ke tempat yang datar. Yuri segera memberikan pertolongan pertama untuk orang tenggelam. Ia menekan dada pangeran dengan kuat sebanyak beberapa gerakan dengab hitungan yang teratur. Pikirannya agak panik karena pangeran tetap memejamkan matanya.
"Pangeran ... ayo bangun! Aku mohon!" Ia terus berusaha membuat air yang mungkin tertelan oleh pangeran keluar. Merasa usahanya kurang berhasil, ia memberikan napas buatan beberapa kali dipadukan dengan gerakan menekan dada pangeran hingga akhirnya tersedak dan airnya. keluar.
"Uhuk! Uhuk!" Pangeran terbatuk-batuk mengeluarkan air yang ditelannya.
Yuri bernapas lega, pangeran bisa terselamatkan. Untung saja mereka berada di sisi danau yang jauh dari istana. Ia berharap tidak ada yang mengetahui niatan pangeran untuk bunuh diri. Pangeran akan mendapatkan hukuman yang berat.
"Kenapa kamu menolongku? Biarkan aku mati kalau kamu tidak ingin bersamaku." Pangeran memalingkan wajahnya, terlihat kesal dengan Yuri.
"Yang Mulia ... jangan berkata seperti itu." Yuri sangat bingung. Keterlibatannya dalam kehidupan pangeran bisa memberikan pengaruh yang sangat besar kepada kehidupan negeri elf. Apapun keputusan dan tindakannya akan ikut menentukan keberlangsungan kerajaan elf. Ia tak menyangka akan jadi sejauh ini keterlibatannya.
"Sudah aku katakan selama ini aku seperti hidup tanpa jiwa karena dirimu. Aku tidak ada bedanya dengan ogre. Aku hidup, sama saja dengan aku mati."
Seperti yang Yuri perkirakan, menghadapi cinta seorang pangeran adalah sesuatu yang sangat sulit. Apalagi pangeran yang memiliki watak seperti Pangeran Adrian.
Yuri bersujud di hadapan pangeran, merendahkan dirinya berharap pangeran bisa luluh hatinya. "Yang Mulia, hamba mohon pertimbangkan perasaan Putri Hilda. Anda pasti bisa mencintainya asalkan mau mencoba. Putri Hilda wanita yang baik, lembut, dan penyayang."
"Aku sudah berusaha mencintainya. Tapi, bayangan wanita hutan pemilik ornamen rambut bermotif merak itu selalu muncul dalam pikiranku."
Yuri membulatkan mata. Ornamen yang pernah Putri Hilda berikan kepadanya ternyata menjadi penyebab pangeran bisa menyukainya. Ia kembali berpikir, apakah Yuri telah mencuri kesempatan Putri Hilda sebagai cinta pertama pangeran. Ia masih meneliti letak kesalahannya ikut dalam konflik keluarga kerajaan.
__ADS_1