
Dalam kondisi basah kuyup karena air danau, Yuri dan Pangeran masih terduduk di tepian danau. Griphos turut berada di sana mengamati keadaan sekitar. Sebagai hewan terlatih, insting serta pendengarannya sangat tajam. Gerakan asing yang ada di sekitar bisa ia ketahui. Tugasnya melindungi pangeran dari ancaman kejahatan.
"Yang Mulia, Anda akan dikutuk oleh seluruh keluarga kerajaan, kaum bangsawan, rakyat, bahkan dewa akan mengutuk jika berani melanggar peraturan yang sudah berlaku sejak awal negeri ini terbentuk. Ketahuilah posisi Anda sebagai seorang Putra Mahkota, Yang Mulia ... saya hanya seorang elf biasa."
"Aku akan menjadi elf biasa bersamamu."
"Yang Mulia!" Yuri masih memohon-mohon kepada pangeran untuk menyerah pada perasaannya. Seorang putra mahkota yang rela melepaskan posisinya demi seorang elf biasa akan menjadi sebuah guncangan besar bagi kerajaan. Yuri tidak menyangka pangeran akan berpikiran sampai sejauh itu.
"Anda adalah seorang calon raja yang bijaksana. Banyak rakyat berharap dengan cara kepemimpinan Anda yang baik. Bukankah tujuan hidup Yang Mulia untuk membahagiakan rakyat?"
"Jangan karena seorang wanita seperti saya, Anda mengabaikan tujuan mulia demi kebaikan kaum ini, Yang Mulia."
Yurika mengingat kembali isi novel yang pernah dibacanya. Pangeran akan menjadi seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyat. Ia hidup bahagia bersama Putri Hilda meskipun tidak dikaruniai penerus. Kisah cinta mereka begitu romantis, penuh perjuangan untuk bersama. Putri Hilda sebagai sosok pendamping yang penyabar serta tenang, mampu menghadapi kejahatan Asteria yang diberikan kepadanya.
Ia heran dengan posisinya saat ini. Jika di dunia nyata, maka dia menjadi seorang antagonis yang hadir dalam keharmonisan rumah tangga pangeran dan Putri Hilda. Bahasa kerennya, Yuri menjadi seorang pelakor.
"Bagiku, tidak ada satu pilihan dan mengorbankan pilihan yang lain. Aku akan berusaha melakukan semua hal yang aku inginkan. Akan aku perjuangkan semuanya. Tapi, tanpamu ... untuk apa aku melakukan semuanya?" Bukan Pangeran Adrian kalau tidak ambisius. Ia akan meraih kebahagiaan untuk rakyatnya, kerajaan, juga dirinya sendiri dan orang-orang yang ia cintai.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?" Yuri pasrah. Ia tak tahu lagi cara menolak perasaan pangeran kepadanya.
"Tinggallah di istana bersamaku, menjadi pendampingku."
__ADS_1
Yuri membulatkan mata mendengar keinginan pangeran. Putra Mahkota benar-benar sudah digilakan oleh cinta. Ia tidak takut kepada keluarga kerajaan dan bangsawan yang berada di sana. Bahkan menginginkan dirinya sebagai pendamping. Artinya, pangeran siap diturunkan jabatannya sebagai putra mahkota dan calon raja.
Mungkin dengan pengaruh raja yang besar dia akan tetap bisa tinggal di istana bersama pangeran. Akan tetapi, gunjingan pasti akan selalu datang. Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kerajaan dan kaum bangsawan yang berani menikah dengan elf biasa, maka akan diusir dan diasingkan agar tidak memalukan anggota keluarga lainnya.
Yuri kembali mengingat kisah tentang orang tua Ezra yang pernah diceritakan kepadanya. Juga tentang Aire, ibu yang telah melahirkan Yuri. Mereka rela meninggalkan istana demi ketentraman berbagai pihak.
Tapi, untuk menolak keinginan pangeran yang ingin memasukkannya ke dalam istana merupakan hal yang sangat bodoh. Ia jauh-jauh datang ke pusat kota untuk bisa masuk ke dalam istana. Apapun yang terjadi, ia harus masuk istana untuk menemukan kitab yang pernah Aire sebutkan. Dengan kitab itu, ia akan kembali ke dunianya.
"Saya tidak bisa tinggal di istana bersama Yang Mulia. Saya tidak bisa menyakiti hati Putri Hilda," kilah Yuri.
"Kalau begitu, ayo kita hidup di luar istana. Mereka akan tetap bahagia di sana dan kita juga akan bahagia di luar istana."
Yuri membali berpikir. Ia menimbang banyak hal tentang tujuan dan keinginannya serta nasib orang-orang yang berada di sekitarnya. Juga tentang keberlangsungan kerajaan elf. "Yang Mulia ... saya bersedia menemani Anda di dalam istana. Tapi, ada syarat yang harus Anda penuhi," ucap Yuri.
"Jadikan saya seorang pelayan."
Permintaan Yuri sangat mengada-ada di pikiran pangeran. Wanita itu memiliki tempat yang spesial di hatinya, ingin dijadikan sebagai pasangan, bukan sebagai seorang pelayan. "Apa maksudmu?"
"Sembunyikan rasa cinta Anda kepada saya, Yang Mulia. Saya tidak ingin ada seorangpun yang tahu bahwa seorang Putra Mahkota mencintai elf biasa. Jadikan saya sebagai pelayan pribadi Yang Mulia. Saya siapa menemani Yang Mulia di dalam istana, tapi jangan sakiti perasaan Putri Hilda."
Yuri sedang menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Ia baru saja memohon-mohon sebagai seorang simpanan kepada Putra Mahkota. Sungguh, ia sadar perbuatannya sangat tidak pantas. Namun, itu cara termudah agar ia bisa masuk ke dalam istana dan segera mendapatkan kitab itu. Setelah mendapatkannya, ia akan kembali ke dunianya dan membiarkan pangeran bahagia dengan Putri Hilda.
__ADS_1
"Kamu ... tidak ingin keberadaanmu diketahui orang lain? Kamu tidak ingin dikenal sebagai wanita yang dicintai Putra Mahkota?" Pangeran Adrian keheranan mendengar permintaan Yuri. Ada banyak wanita bangsawan yang ingin menjadi pendampingnya, bangga jika dekat dengan pangeran, namun hanya Yuri yang tidak ingin diketahui orang lain.
"Benar, Yang Mulia," ucap Yuri. "Beberapa hari lagi akan ada kompetisi menjadi pelayan istana. Saya telah mendaftar sebagai pelayan. Yang Mulia bisa memberikan sedikit bantuan agar saya bisa diterima dan ditempatkan pada istana Yang Mulia."
Awalnya Yuri sangat frustasi mempersiapkan diri masuk istana sebagai pelayan. Ada banyak bentuk tes yang harus dilewati agar ia lolos sebagai salah satu elf biasa yang beruntung bisa tinggal di istana. Salah satunya ujian wawasan tentang wilayah kekuasaaan kerajaan elf serta silsilah keluarga kerajaan serta bangsawan. Tentu saja sebagai orang baru di dunia itu, Yuri tidak mengetahui dengan jelas dan pasti. Melalui tangan pangeran, langkahnya masuk ke istana akan terasa mudah. Hanya saja, ia akan mendapatkan keposesifan cinta dari seorang Putra Mahkota.
"Baiklah kalau itu maumu, akan aku kabulkan keinginanmu,"ucap Pangeran.
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia," Yuri kembari bersujud kepada pangeran.
"Angkat kepalamu!" Pangeran meminta Yuri bangkit dari sujudnya. "Kemari ... duduk di pangkuanku!" pintanya lagi.
Yuri menuruti permintaan pangeran. Ia berjalan menghampiri pangeran. Tangannya ditarik hingga terjatuh dalam pangkuan pangeran. Ia dipeluk dengan begitu lembut.
"Apa kamu merasa lebih hangat?" tanya Pangeran. "Sejak tadi aku merasa kedinginan. Memelukmu seperti ini rasanya lebih hangat." Ia mengeratkan pelukannya.
"Anda harus segera kembali ke istana, Yang Mulia. Anda harus mandi air hangat dan mengganti pakaian yang nyaman." Yuri merasa risih setiap kali pangeran memeluknya. Ia rasa tidak akan bisa mengatur perasaannya sendiri jika terus mendapatkan kasih sayang dari pangeran. Bisa-bisa ia jatuh hati kepada pangeran.
"Apa pelayan kesayanganku ini mau melakukannya untukku? Aku ingin kamu yang membantuku mandi dan menggantikan pakaianku," goda pangeran.
Yuri hanya terdiam. Matanya memandangi langit berbintang yang luas sembari merenungi bahwa tidak ada kehidupan yang mudah. Entah di dunianya yang dahulu maupun di dunianya yang sekarang.
__ADS_1
Jika ia bisa memutar waktu, ia tak akan memilih jalur bunuh diri. Ia akan menjadi sosok yang tegas meskipun harus kehilangan karirnya sebagai seorang artis.