Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Larangan Grafin


__ADS_3

"Yuri!"


Grafin segera berlari menghampiri Yuri yang baru pulang menunggangi kudanya. Lelaki itu memeluk erat putrinya. Perasaan was-was yang semalam membuatnya tak bisa tidur akhirnya bisa hilang dengan kepulangan putri semata wayangnya.


Andez dan Zenzen yang ikut cemas dengan kabar Yuri sudah ikut menunggu di sana sejak pagi. Mereka juga merasa senang melihat kepulangan Yuri dengan selamat.


"Kemana saja semalam, kenapa kamu tidak pulang?"


Yuri bisa menemukan raut kecemasan di wajah sang ayah. "Maaf, Ayah. Aku telah membuatmu khawatir. Kemarin aku mencari beberapa bahan makanan di hutan sampai kemalaman dan turun hujan. Jadi, aku bermalam di dalam goa."


"Hah ... lain waktu jangan pernah pergi sendiri lagi ke hutan!" Grafin geleng-geleng kepala.


"Makanya kalau mau pergi bilang padaku, nanti aku temani," sahut Andez.


"Aku juga tidak keberatan untuk menemanimu, Yuri. Bukankah kita sudah biasa pergi berdua?" Zenzen tidak mau kalah.


Yuri hanya tersenyum melihat kedua lelaki itu menawarkan bantuan padanya. "Terima kasih atas niat baik kalian. Aku tidak akan sungkan meminta bantuan. Setelah ini, ayo temani aku masuk hutan!"


Grafin menatap keheranan kepada putrinya. "Kamu baru saja pulang sudah mau pergi lagi?" tanyanya.


"Iya, Ayah. Ada beberapa barang yang tertinggal di hutan. Aku ingin mengambilnya," kilahnya. Yuri belum berani menceritakan bahwa dirinya telah menolong Pangeran Adrian. Ia telah menyembunyikan pangeran itu di dalam hutan. Ia harus segera kembali ke sana membawa beberapa makanan yang bisa Yuri berika kepada pangeran.


"Biar mereka berdua saja yang mengambil! Kamu tinggal bilang di mana kira-kira tempatnya, mereka pasti tahu!" saran Grafin.


Andez dan Zenzen hanya mematung dengan ucapan Grafin. Tujuan mereka di sana untuk bisa bertemu dengan Yuri. Jika mereka tidak bisa berdekatan dengan Yuri, ia juga tidak mau datang ke sana.

__ADS_1


"Tidak bisa, Ayah. Aku menyembunyikannya di tempat rahasia yang aku temukan. Mereka tidak akan tahu. Ayah tenang saja, sore kami juga pasti akan kembali pulang."


"Kamu bisa bicara seperti itu karena tidak pernah merasa khawatir dengan dirimu sendiri. Aku yang tidak bisa apa-apa kalau kamu pergi."


"Kali ini aku akan pergi dengan dua jagoan ini. Ayah tidak perlu khawatir."


Yuri masuk ke dalam rumah. Ia membawa beberapa bahan makanan yang tersedia di rumahnya untuk di bawa ke tempat pangeran. Tidak lupa ia membawa obat hasil racikan ayahnya yang dijamin sangat manjur mengobati luka. Tak lupa ia memperbaiki penampilannya dengan alat rias yang dimilikinya. Entah mengapa bertemu pangeran membuatnya jadi sedikut centil dan ingin terlihat cantik.


Grafin merasa heran melihat kelakuan putrinya sendiri. Yuri seperti anak yang akan minggat dari rumahnya. Ada banyak barang yang ingin dibawa padahal katanya hanya akan mengambil barang yang ketinggalan.


"Untuk apa semua barang-barang itu?" tanyanya.


"Untuk persiapan di perjalanan, Ayah. Siapa tahu kami akan kelaparan atau terluka. Persiapan itu selalu perlu. Seperti untuk menghadapi musuh kita juga memerlukan senjata." Yuri masih sibuk memoles wajahnya dengan peralatan make up.


"Adakah orang yang hendak berperang tapi masih sempat memperhatikan penampilannya?" ledek Grafin.


Yuri merapikan rambutnya. Saat hendak menggunakan hiasan rambut kesayangannya, tiba-tiba benda itu tidak ada. Ornamen berbentuk burung merak pemberian Hilda yang ia simpan dengan sangat hati-hati tidak ada dimanapun. Menepuk dahinya sendiri karena lupa jika benda itu ketinggalan di tempat pangeran.


"Ayah, aku berangkat sekarang!" ucapnya.


"Tunggu sebentar!" Grafin menahan putrinya yang hendak pergi.


Yuri heran kenapa ayahnya menahan dirinya. Grafin memperhatikan busur panah serta quiver yang digendongnya. Ia punya firasat jika sang ayah akan menyadari hal tersebut merupakan milik Aire.


"Darimana kamu mendapatkan benda ini?" tanya Grafin dengan tatapan serius.

__ADS_1


Yuri yakin ayahnya sudah tahu. "Aku mendapatkannya di pasar, Ayah. Ada yang menawarkannya dengan harga murah, " kilahnya. Ia tak ingin menceritakan tentang mimpinya bertemu Aire, perjalanannya mencari goa, sampai melibatkannya dalam bahaya untk menolong pangeran. Berani berurusan dengan orang-orang atas, berarti sudah siap untuk mati dan menjadi target musuh.


"Lebih baik kamu tidak memakainya," ujar Grafin.


"Kenapa, Ayah?" tanya Yuri penasaran.


"Setahu ayah, barang-barang peninggalan orang mati akan membawa mala petaka," ucapnya dengan nada sendu.


"Dari mana Ayah tahu pemilik benda ini sudah mati? Bisa saja orangnya hanya bosan dan ingin mrngganti senjatanya dengan yang lebih bagus."


"Peralatan memanah bagi seorang elf merupakan identitasnya seumur hidup. Mereka akan menyimpannya sampai ia mati. Bahkan, ada cerita yang menyebutkan bahwa elf ajan tidur bersama busur panahnya. Sekalipun mereka membeli yang baru, barang lama pasti akan disimpan, menunggu sepuluh tahun sebelum dibuang."


Yuri semakin takut menceritakan mimpinya. Memang, apa yang dikatakan Grafin bisa saja terjadi. Yuri juga mengalami kesulitan terbesar untuk mengambil barang sesuai dengan yang ada dalam mimpinya. Ia kemalaman, kedinginan, serta melibatkan diri dengan menolong pangeran.


Grafin mungkin akan murka jika tahu Yuri bertekad sebagai seorang pelayan di istana. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang Aire ceritakan padanya agar ia bisa kembali ke dunianya. Yuri tahu jalan yang harus dihadapinya tidak akan mudah, namun ia sudah bertekad apapun yang terjadi, ia padti bisa melewatinya.


"Apa Ayah tahu siapa pemilik busur panah ini?" tanya Yuri sembari mengacungkan busur panahnya.


Grafin terpaku beberapa saat memandangi busur panah tersebut. Rasanya ia kembali bisa melihat sosok Aire hidup kembali. Yuri semakin hari semakin mirip dengan Aire.


"Ayah juga tidak tahu," ucap Grafin. Dari nada bicaranya jelas sekali jika saat ini Grafin tengah bersedih hati menyadari kekasihnya telah pergi untuk selamanya.


"Mungkin saja itu hanya kebetulan semata, Ayah. Aku juga akan berhati-hati menjalani kehidupanku. Aku yakin pemilik benda ini merupakan orang yang paling bahagia. Semoga aku juga bisa mendapatkan kebahagiaan sepertinya," ucap Yuri. Sebelum pergi, ia memeluk kembali ayahnya.


"Aku harap nanti sore kamu sudah benar-benar tiba di rumah. Kamu juga jangan terlalu percaya dengan kedua lelaki itu," kata Grafin.

__ADS_1


"Tuan Grafin, jangan berprasangka buruk. Kami pasti akan menjaga Yuri dengan baik," sahut Zenzen yang sudah bersiap di atas kudanya.


Yuri kembali tersenyum dengan perdebatan yang dilakukan ayahnya dan teman-temannya.


__ADS_2