
Yurika sudah mengganti pakaiannya yang basah, begitu pula dengan Hilda. Elf cantik itu mengajak Yuri bicara berdua sebelum pulang. Asteria sudah meminta maaf atas kejadian yang menimpa Hilda.
"Siapa namamu? Kita belum berkenalan." tanya Hilda.
Yurika merasa senang bisa berkesempatan melihat langsung tokoh utama wanita yang sangat dikaguminya. Parasnya yang cantik dan hatinya yang lembut serta baik hati membuatnya pantas untuk disukai siapa saja.
"Nama saya Yuri, Nona."
"Yuri ... nama yang indah, seindah rambutmu," puji Hilda.
Tidak disangka Yuri akan mendapatkan pujian dari elf tercantik itu. Seingat Yurika, tokoh Yuri tidak pernah bertemu secara langsung dengan Hilda. Mereka berkaitan karena Yuri dituduh telah meracuni Hilda sehingga ia dihukum gantung di depan masyarakat.
"Apa kamu seorang mixtus?" tanya Hilda.
Yuri hanya mengangguk. Ternyata Hilda juga tahu tentang hal itu.
"Kalau boleh tahu, siapa ayah dan ibumu?"
Yuri terdiam mendengar pertanyaan itu. Tentu saja ia tidak tahu makanya tidak mau menjawab. Ia sendiri ingin tahu seperti apa kisah yang dialami oleh tokoh figuran di dalam novel itu.
"Oh, baiklah. Kalau tidak mau dijawab juga tidak apa-apa. Setahuku itu memang privasi." Hilda sangat pengertian. Ia tak memaksakan seseorang memenuhi kemauannya. "Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Jika kamu membutuhkan bantuanku, datanglah kapan saja ke kediaman keluarga Morzil."
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Nona."
Hilda menyunggingkan senyum. "Ini untukmu," ucapnya seraya menyodorkan sebuah hiasan rambut yang sangat cantik berbentuk seperti burung merak.
"Nona ...." Yurika berusaha menolak. Benda seperti itu pasti sangat berharga mahal dan berharga. Kalau ada yang mengetahuinya, akan banyak yang iri dengannya.
"Kamu tidak boleh menolaknya. Aku berharap kita bisa bertemu lagi." Hilda menyerahkan ornamen itu mepada Yuri seraya beranjak pergi dari duduknya.
Buru-buru Yurika menyembunyikan benda itu di dalam lipatan bajunya sebelum ada yang mengetahui. Ia mengiring kepulangan Hilda ya g akan menaiki kereta kudanya. Elf cantik itu tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Yurika jadi semakin takjub dengan sosok Hilda.
__ADS_1
"Apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Asteria yang berani mendekat setelah Hilda pulang.
Yurika tampak malas berurusan dengan nona muda itu. Asteria terlalu kepo dengan kehidupan orang lain. "Kami tidak membahas apapun, Nona. Hanya sebatas ucapan terima kasih untuk saya."
"Hah! Ucapan terima kasih?" Asteria ingin menertawakannya. "Sudah bangga kamu diberi ucapan terima kasih oleh seorang bangsawan? Merasa di atas sekarang?" Asteria melotot hingga syaraf-syaraf di wajahnya tertarik.
Yuri memilik diam. Akan tetapi, Asteria justru menyiramkan minuman ke kepala Yuri sebagai pelampiasan kekesalannya. Tidak cukup sampai di situ, Asteria juga menumpahkan makanan hingga mengotori pakaian Yuti.
"Akan aku tunjukkan posisimu di sini. Kamu hanyalah seorang pelayan, bukan seseorang yang penting." Asteria berkata dengan nada sinisnya. "Bersihkan ruangan ini sendiri! Tidak boleh ada yang membantumu sama sekali. Elf bodoh!"
Setelah mengeluarkan hinaannya, Asteria pergi meninggalkan Yuri dengan perasaan bahagia. Yuri berdiri di sana dengan kemarahannya yang tertahan. Ia semakin bertekad bulat untuk menjadi elf yang tidak bisa diremehkan oleh siapapun.
Yuri berdiri sendirian di ruangan pesta. Seperti yang Asteria katakan, tidak ada seorangpun yang berani membantu Yuri. Ia mulai membersihkan sisa-sisa pesta yang cukup berantakan di tempat yang seluas itu.
Yuri berusaha untuk tidak mengeluh. Ia yakin dengan kemampuannya bisa merubah takdir yang sudah digariskan untuk Yuri. Bahkan dari seorang figuran mungkin juga bisa menjadi pemeran utama.
Beberapa jam berlalu hingga akhirnya pekerjaan Yuri bisa selesai. Ia kembali ke dalam kamarnya setelah membersihkan diri. Ternyata, Remi juga belum tidur meskipun sudah menjelang dini hari.
Tubuh Yuri terasa sangat pegal dan rasa kantuk telah menguasainya. Padahal ia ingin langsung memejamkan mata, namun Remi malah mengajaknya bicara.
"Aku tahu kalau kamu tidak bersalah. Tapi, terkadang kita lebih baik tidak perlu ikut terlibat dengan masalah orang lain. Karena itu bisa menyulitkan diri kita sendiri."
"Tapi aku tidak bisa seperti itu," ucap Yuri. Akal sehatnya selalu mengatakan agar dirinya tidak perlu ikut campur. Namun, hati nuraninya tak bisa mengabaikan kepeduliannya kepada orang lain.
Remi menghela napas. "Kamu memang terlalu baik. Itu menjadi sisi yang aku suka darimu sekaligus membuatku terus merasa khawatir."
Remi merupakan teman yang senasib dengan Yuri. Mereka sama-sama terpaksa harus bekerja sejak masih kecil demi menyokong kehidupan keluarga. Keluarga Remi merupakan elf biasa yang sehari-hari hanya bercocok tanam dan menggembala ternak. Kehidupan yang sulit membuat mereka terpaksa merelakan Remi bekerja pada bangsawan elf.
"Yuri ...," panggil Remi lagi.
"Hm?"
__ADS_1
"Bagaimana, minggu ini kamu akan pulang, kan?" tanya Remi. Mereka memang pernah membahas tentang hal ini, namun Yuri belum memberikan keputusannya.
"Apa kamu tahu dimana rumahku?" tanya Yuri.
Remi terpaku sejenak mendengar pertanyaan itu. "Kamu benar-benar lupa dimana rumahmu?" tanya Remi.
Yuri hanya mengangguk. "Jangan katakan kepada siapapun. Memoriku sangat terbatas, aku tak bisa mengingat banyak hal yang terjadi di masa lalu."
"Aku jadi khawatir padamu." Remi menatap iba kepada Yuri, menganggap penyakitnya sangat serius.
"Aku tidak sakit, Remi. Aku hanya lupa ... entahlah, mungkin aku sudah pikun!" Yuri menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Sebenarnya desa kita juga berdekatan, namun sedikit lebih jauh desamu. Namanya Desa Eluigwe, desa yang sangat indah dengan air terjunnya. Dari desaku, kamu masih harus menempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan jalan kaki atau 1 jam naik kereta."
Yuri membulatkan mata. "Sejauh itu?" Ia tidak bisa membayangkan lelahnya menempuh jarak sejauh itu. 'Mungkinkah Yuri malas pulang karena tempatnya yang jauh?' gumamnya.
"Jauh? Itu sangat dekat. Bahkan untuk pulang ke rumah dari tempat ini kita bisa menghabiskan waktu sehari semalam dengan kereta kuda."
Yuri hampir lupa kalau di dunia itu tidak ada alat transportasi modern. Seandainya ada pesawat, mungkin 1 jam sudah sampai. Sayangnya, dunia ini hanya dipenuhi oleh hutan, pegunungan, dan sungai.
Remi terus bercerita tentang desa Yuri dan desanya sendiri. Temannya itu sangat pandai bercerita sampai membuat Yuri perlahan memejamkan mata. Cerita yang didengarnya layaknya sebuah cerita pengantar tidur yang sangat mudah membuatnya mengantuk. Ia tak sabar melihat sendiri kampung halaman Yuri.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author 😘
Judul: Senja di Ujung Jalan
Author: Samy Noer
__ADS_1