Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Perasaan Putri Hilda


__ADS_3

Putri Hilda terbangun dari tidurnya di tengah malam. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia ingin kembali tidur namun hatinya merasa gelisah dan tak bisa memejamkan mata lagi. Pangeran tak berada di sisinya. Lelaki itu sangat jarang menemaninya tidur. Untuk bisa didatangi oleh pangeran, ia bahkan harus memintanya terlebih dahulu.


Semenjak pernikahan mereka dilaksanakan, Putri Hilda tak merasakan kehangatan sebuah rumah tangga. Pangeran memang tidak jahat padanya, namun juga tak terlihat peduli padanya. Sikap yang pangeran tujukan padanya hanya sikap datar dan dingin. Hubungan suami istri yang mereka lakukan jarang terjadi dan akan berlangsung dengan singkat. Tatapan pangeran seakan kosong setiap kali bersamanya.


Putri Hilda sudah mencoba untuk berhias diri secantik mungkin, bersikap selembut mungkin demi menarik perharian pangeran. Akan tetapi, usaha yang dilakukannya sia-sia. Pangeran tak terlihat tertarik padanya meskipun pangeran sendiri yang memilihnya saat itu.


Ia kira dirinya akan menjadi wanita paling bahagia setelah menikah dengan pangeran. Berkebalikan dengan bayangannya, ia justru menjadi wanita paling kesepian di istana. Tempat tinggalnya yang sangat luas itu terasa sangat sepi hanya dihuni oleh dirinya sendiri.


Putri Hilda menarik jubahnya kemudian mengenakannya. Saat malam para pelayan telah tertidur. Hanya ada beberapa penjaga yang berjaga di sekitar istana tempat tinggal putri.


Malam ini, ia ingin keluar menghirup udara segar di taman. Ia keluar secara mengendap-endap melalui pintu belakang agar para penjaga tidak menyadarinya.


Malam itu bulan tidak bersinar. Akan tetapi, jutaan bintang berkilau yang ada di atas sana cukup membuat pemandangan malam menjadi indah. Sesaat ia mencermati yang melayang-layang di atas sana. Seekor Griphos terbang mengelilingi istana malam itu. Ia menduga pangeran yang menungganginya.


Pangeran tidak menghabiskan malam di kamarnya, lebih memilih berputwr-putar di atas istana bersama Griphon. Putri Hilda jadi iri dengan hewan spesial itu. Selama di dalam istana, ia belum pernah menaikinya. Pangeran juga tidak pernah mengajaknya.


Putri Hilda terkadang bingung kepada dirinya sendiri. Sejak kecil ia selalu kagum kepada pangeran. Cita-ciranya ingin menikah dengan pangeran. Akan tetapi, setelah apa yang diimpikannya terwujud, ia tidak bahagia. Lebih indah kehidupannya saat tinggal bersama keluarganya di kediaman Morzil. Tanpa terasa air matanya meleleh membasahi pipi. Ia terhanyut dalam pikirannya sendiri sampai merasa sakit di hatinya.


"Tuan Putri ...."


Sebuah sapaan mengagetkan Hilda. Ia buru-buru mengusap air matanya menyadari kehadiran Heiji, putra panglima perang Azof.


"Anda menangis?" lelaki itu tampak khawatir memperhatikan Putri Hilda yang sendirian berada di tengah taman istana tanpa siapapun yang menjaga.

__ADS_1


"Apa, menangis? Hahaha ... aku hanya kelilipan," kilah Hilda sembari menetralkan perasaan yang menyesakkan di dada.


Heiji sudah lama memerhatikan Hilda. Wanita itu merupakan elf tercantik di seluruh negeri. Setiap orang pasti akan mengakui dan mengagumi kecantikannya, begitu pula dengan Heiji. Jauh sebelum pernikahan Hilda dan Pangeran digelar, Heiji lebih dulu mengenal Hilda. Menurutnya, Hilda tipe istri yang diinginkan oleh setiap lelaki. Wanita itu murah senyum, ramah, penyayang, dan ceria.


Semua berubah saat Hilda pindah ke dalam istana. Sifatnya yang dulu lambat laun semakin berubah. Hilda tak lagi seceria dulu. Heiji yang suka memperhatikannya, sangat sering melihat sang putri melamun dan termenung dengan raut wajah yang muram. Seakan wajahnya memperlihatkan ketidakbahagiaannya selama ini menikah dengan pangeran.


Haiji berlutut di depan Hilda, menatap mata wanita yang sendu itu. "Tuan Putri, apa Anda tidak bahagia tinggal di sini?" tanyanya.


Hilda mencoba tertawa meskipun air matanya terua menetes mendengar pertanyaan Heiji. "Kamu ini bicara apa, Heiji? Sudah aku bilang ini hanya kelilipan." Hilda masih berkilah.


"Kita sudah lama berteman dan aku baru melihatmu seburuk ini. Apa Yang Mulia Putra Mahkota memperlakukan Anda secara kasar?" tanya Heiji lagi.


"Tidak, Heiji. Yang Mulia memperlakanku dengan sangat baik." Putri Hilda masih berkilah.


"Lantas, kenapa Tuan Putri selalu kelihatan bersedih hati? Dulu, Anda pernah bilang sangat ingin tinggal di istana."


Heiji memendam perasaan cintanya kepada Hilda. Ia menghormati keputusan wanita itu untuk menjadi calon pendamping pangeran. Hatinya terasa sakit bahkan sampai sekarang. Ia memendam perasaannya yang belum tersampaikan sampai wanita yang dicintainya akhirnya mendapat gelar Putri Mahkota karena menikahi pangeran.


Heiji pernah berharap jika Hilda bisa menjadi pendampingnya. Ia pernah berharap perjuangan Hilds menjadi calon putri gagal. Heiji lebih mendukung adiknya, Ivone, agar bisa menikah dengan pangeran. Adiknya sampai sekarang juga masih bersedih hati tidak terpilih oleh pangeran. Anak-anak panglima itu patah hati karena cintanya tak berlabuh.


"Saya hanya ingin mengatakan bahwa Anda tidak sendiri di istana ini. Anda bisa menganggap saya sebagai keluarga Tuan Putri. Jika ada masalah, saya akan membantu Anda. Tolong, jangan sungkan untuk meraih tangan saya, Tuan Putri." Heiji memberanikan diri menggenggam tangan Hilda yang terasa dingin. Ia ingin memberikan penguatan kepada wanita yang masih dicintainya.


"Terima kasih, Heiji. Keberadaanmu malam ini sangat berarti untukku. Bisakah kamu menemaniku lebih lama? Aku belum bisa tertidur lagi." Entah mengapa Hilda merasa tidak sendiri saat tangan Heiji menggenggamnya.

__ADS_1


Grroarr ....


Mereka sama-sama menatap ke langit saat Griphos mengaum di atas sana. Hewan itu masih setia terbang mengelilingi area danau.


"Itu Griphos milik Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Heiji sembari mendongak ke atas.


"Iya, aku tahu. Apa kamu pernah menaikinya?" tanya Hilda, melakukan hal yang sama, mendongak ke atas.


"Pernah," ucap Heiji.


"Benarkah?" tanya Hilda ingin tahu.


"Tentu saja. Griphos di istana ini ada tiga ekor, yang biasa dinaiki raja, putra mahkota, dan ayahku. Terkadang ayah menyuruhku untuk menggantikannya patroli dengan Griphos."


Hilda takjub mendengar cerita dari Heiji. "Lalu, bagaimana rasanya terbang bersama makhluk itu?" Ia menjadi semakin ingin tahu.


"Rasanya tentu saja seperti terbang melayang-layang di angkasa. Itu sangat menyenangkan. Apakah Tuan Putri juga ingin merasakan terbang bersama Griphos?"


"Apakah orang sepertiku boleh menaikinya?" tanya Hilda. "Yang Mulia tidak pernah mengajakku pergi menaiki hewan itu. Aku kira hanya lelaki yang boleh menaikinya."


Heiji kembali menatap Hilda dengan tatapan kasihan. "Mungkin Yang Mulia terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengajak Anda terbang menaiki Griphos."


"Cobalah Anda sampaikan keinginan kepada Yang Mulia agar diizinkan ikut menaiki Griphos. Jika Anda tidak diperkenankan menaiki Griphos, saya yang akan mengajak Anda menaiki Griphos milik saya."

__ADS_1


Hilda tersenyum dengan biat baik Heiji. Ia tersentuh oleh kebaikannya. "Terima kasih, Heiji. sejak dulu kamu selalu menjadi teman yang baik untukku."


Heiji agak sedih disebut sebagai seorang teman oleh Hilda. Akan tetapi, ia tetap mengulaskan senyum untuk menjaga perasaan Hilda. Ia tahu kehidupan yang Hilda jalani juga tidak mudah, ia tidak boleh membebaninya. Makanya Heiji memilih untuk tetap memendam perasaannya. Baginya, bisa dekat dengan Hilda sudah merupakan kebahagiaan yang besar. Ia tak ingin serakah lagi untuk berambisi memilikinya.


__ADS_2