
"Itu rumahnya!" anak-anak itu menunjuk pada sebuah rumah yang di depannya terdapat beberapa elf yang sedang duduk-duduk di sana.
Seperti yang wanita itu katakan, ternyata ayahnya memang seorang penjual minuman. "Terima kasih," ucap Yuri seraya memberikan anak-anak itu satu keping uang yang ia miliki. Mereka tampak kegirangan dan langsung berlari meninggalkan Yuri.
Perlahan Yuri berjalan mendekat ke arah kumpulan elf yang sedang berbincang di sana. Warung itu mengingatkan ia pada lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan.
"Loh, bukankah itu Yuri?" salah seorang pelanggan menyadari keberadaannya. Pandangan yang lain langsung ikut tertuju padanya.
"Oh, Yuri akhirnya pulang?"
"Kenapa dia semakin lam semakin jelek saja," guman salah satu di antara mereka. Meakipun nada bicaranya pelan, namun Yuri masih bisa mendengarnya.
"Heh! Jangan berkata seperti itu. Nanti dia bisa pergi lagi dan tidak mau pulang!"
"Grafin ... putrimu Yuri sudah kembali!" seru salah seorang di antara mereka.
"Benarkah?" terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Ya, putrimu sudah kembali. Apa dia akan memberikan kabar gembira seperti pernikahan?"
"Siapa kira-kira yang mau menikah dengan Yuri? Hahaha ...."
"Siapa tahu ada orang yang berbaik hati mau menikahinya."
"Grafin, Grafin ... kasihan putrimu harus mewarisi kejelekanmu."
"Kalau kalian mau menghina putriku, cepat peegi dari sini!"
Yuri mendengar seruan kemarahan yang sepertinya berasal dari ayahnya. Ia tidak mengerti kenapa mereka mengolok-oloknya, sampai membahas tentang pernikahan dan rupa jeleknya. Sang ayah terus beradu mulut dengan mereka yang mencoba menghina putrinya yang baru pulang.
Yuri memberanikan diri melangkah mendekat ke rumah setelah orang-orang itu pergi. Ia sangat terkejut saat melihat sosok lelaki yang merupakan ayahnya. Fisiknya tampak pendek seperti anak-anak dengan rambut ikalnya. Telinganya tidak runcing, tubuhnya persis seperti anak usia SD yang kecil, lebih pendek darinya.
__ADS_1
Yurika baru tahu ternyata ayah Yuri adalah seorang Midget atau manusia kerdil. Ternyata, asal muasal Yuri dari perkawinan seorang elf bangsawan dengan kaum midget. Sesuatu yang tidak pernah ia tebak sebelumnya. Yuri mixtus yang berbesa dengan Ezra.
Grafin tampak menunduk. Ia seakan tahu bahwa putrinya sebenarnya tidak ingin bertemu dengannya. Yuri sangat membenci ayahnya. Yuri selalu menyalahkan ayahnya yang seorang midget tapi nekad mencintai seorang elf sehingga nasibnya menjadi sangat menderita.
"Ayah," panggil Yuri.
Ia berjalan mendekat ke arah ayahnya, berlutut di hadapannya agar bisa memberikan pelukan kepada sang ayah. Grafin merasa aneh. Putrinya tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Namun, ia tetap merasa bahagia bisa melihat putrinya kembali.
Grafin menatap wajah Yuri dengan senyuman. Putri yang beberapa tahun terakhir tidak ditemuinya, kini telah semakin tumbuh besar.
"Perjalananmu pasti sangat melelahkan. Masuklah dan beristirahat. Ayah akan membuatkanmu makanan dan minuman."
Yuri mengikuti sang ayah masuk ke dalam rumah yang terdiri dari satu ruangan luas itu. Seperti tempat tinggalnya di kediaman bangsawan Jansen, di sana ada pula tumpukan jerami yang ia yakini sebagai tempat tidur. Ayahnya berkutat di area dapur.
"Minumlah, ini akan membuat kondisimu cepat menjadi bugar." sang ayah membawakan segelas minuman untuknya.
Yuri memperhatikan minuman yang diterimanya serta mencium aromanya. "Apa ini ramuan dari bungan orcis?" tanyanya.
Yuri mengangguk. Ia menutup hidungnya lalu meneguk minuman yang ayahnya berikan sampai habis.
"Ayah senang kamu pulang." Grafin tampak menghela napas mengingat masa lalu. "Terakhir kali kita bertemu, kamu bilang tidak akan kembali lagi ke desa ini," ucapnya dengan nada sendu.
"Yuri, dengarkan ayah! Apapun yang warga desa katakan tentangmu, kamu tetap merupakan anak kesayangan ayah."
"Ayah tidak pernah menyesal mencintai ibumu dan memilikimu sebagai seorang anak."
Yurika bisa melihat binar ketulusan yang dipancarkan oleh mata Grafin. Ia jadi teringat sosok neneknya yang dulu bersusah payah membesarkan anak yatim piatu sepertinya. Apapun alasannya, sudah seharusnya Yuri menghormati ayahnya. Ia miris dengan keputusan Yuri yang tega meninggalkan keluarga satu-satunya dan berakhir mati di tiang gantungan karena fitnah Asteria.
Grafin meraih tangan Yuri. "Meskipun sekarang belum ada lelaki yang ingin menikahimu, ayah yakin suatu saat kamu akan mendapatkan lelaki yang baik untukmu."
Yuri tersenyum. Dari perkataan Grafin, sepertinya ia bisa mulai memahami kehidupan yang dialami Yuri. Ia hidup dalam tekanan di masyarakat karena orang-orang di sekitar yang suka memandang dia rendah. Apalagi Yuri bukan mixtus biasa, ia memiliki keturunan seorang midget yang biasanya menjadi bahan lelucon di masyarakat. Kaum elf merasa bangsanya lebih unggul dari pada kaum midget dan kaum ogre. Padahal, kesombongan itu yang sering kali membuat kehancuran.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keluarga Jansen di sana? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"
Yuri tersenyum sambil menggeleng. "Tidak ada yang memperlakukanku lebih baik dari keluarga sendiri, Ayah," ucapnya. Ia tak mau berpura-pura bahagia tinggal di tempat yang butuh perjuangan keras di sana.
Grafin tampak kecewa. "Ayah kira kamu akan lebih baik hidup di sana. Mendapatkan makanan yang cukup dan jauh dari cemoohan mereka," ucap Grafin.
Alasan utama Grafin menjual Yuri saat masih kecil, karena ia tahu akan sulit hidup sebagai mixtus. Apalagi ayahnya seorang midget. Selain itu, dulu kondisi perekonomiannya sangat buruk. Bahkan untuk makan sendiri ia kesulitan. Yuri bisa tinggal di kediaman bangsawan, makannya pasti lebih terjamin.
"Bolehkah aku memilih hidup dengan Ayah? Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu," pinta Yuri.
"Kamu yakin?" Grafin agak kaget mendengar permintaan putrinya. Rasanya ia masih tidak percaya Yuri menginginkan tinggal bersamanya. "Kalau kamu tinggal bersama ayah, mungkin kamu tidak bisa lagi makan roti atau daging. Ayahmu hanya seorang penjual minuman."
"Aku bisa makan apapun, Ayah. Jangan khawatir," ucap Yuri menenangkan sang ayah.
Yurika sudah bertekad ingin mengubah takdir hidup Yuri. Jika ia berhasil pergi dari Asteria, maka Yuri tidak perlu berakhir hidupnya di tiang gantungan. Hubungan Yuri dan sang ayah yang renggang akan ia perbaiki. Yuri harus tetap menyayangi ayahnya meskipun hanya seorang mixtus.
"Rasanya ayah belum yakin kalau ini adalah Yuri, putri kesayangan ayah. Biasanya kita selalu berbeda pendapat mengenai segala hal."
Yuri menyunggingkan senyum. "Mulai sekarang, aku adalah putri ayah yang sangat menyayangi ayah. Kita akan hidup bersama seperti sebuah keluarga. Bersama lebih baik dari pada kita hidup sendiri-sendiri, ayah."
Perkataan Yuri terdengar sangat bijaksana. Mungkin terbawa pengalaman masa lalu seorang Yurika yang juga pernah hidup susah tidak punya siapa-siapa. Prinsip Yurika, selagi keluarga masih ada, kita harus menjaganya. Penyesalan akan selalu datang di akhir.
*****
Sambil menunggu update berikutnya, bisa mampir ke karya teman author, ya 😘
Judul: Terjerat Gairah Sang Pakor
Author: R. Angela
__ADS_1