Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Putri Hilda Tenggelam


__ADS_3

Yuri berdiri cukup lama di depan bangunan perpustakaan utama kerajaan. Menurut Aire yang pernah hadir dalam mimpinya, kitab yang harus ia dapatkan ada di dalam sana. Kitab yang dapat mengantarkannya kembali ke dunia nyata dengan bantuan petapa Yahzen.


"Kitab warna kuning bergambar bunga lotus," gumamnya. Ia sedang mengingat-ingat mimpinya.


Yuri masih memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam sana. Tempat itu dijaga oleh banyak pengawal istana. Ia tidak bisa sembarangan bertindak jika tidak mau mati sia-sia.


Yuri hanya bisa menghela napas. Sepertinya malam ini ia hanya bisa memandangi tempat itu saja. Malam telah larut dan ia harus segera kembali ke kamarnya. Jika kepala pelayan tahu, ia pasti akan diberi hukuman.


Bulan malam itu bersinar terang sangat indah. Langit juga terlihat centik bertabur bintang. Istana begitu bercahaya. Yuri merasa beruntung bisa tinggal dalam istana semegah itu. Setidaknya hal itu bisa menjadi kenangannya sebelum kembali ke dunia nyata.


"Kalau aku berhasil kembali ke dunia nyata, mungkin aku akan menjadi penulis novel saja. Akan aku kisahkan kehidupanku yang sangat tidak nyata ini kepada orang-orang."


Yuri berjalan menelusuri area belakang perpustakaan. Pandangannya terus menelisik seolah sedang mencari-cari siapa tahu ada jalan rahasia. Hanya elf tertentu yang boleh masuk ke dalam perpustakaan, seperti keluarga dan kerabat raja serta bangsawan istana. Sayangnya, tidak ada jalan mencurigakan yang mereka temukan.


Merasa gagal malam ini, ia jadi lemas dan tak bersemangat. Saat melewati kolam teratai, langkahnya terhenti. Setelah satu minggu berada di istana akhirnya ia bisa melihat Putri Hilda kembali.


Seperti biasa, wanita itu selalu terlihat cantik. Wajar jika kecantikannya akan membuat setiap wanita iri. Apalagi Putri Hilda merupakan wanita yang akhirnya dipilih oleh Pangeran sendiri sebagai pendampingnya.


Mengingat tentang pangeran, ia jadi merasa bersalah kepada Hilda. Pangeran memberikan cinta kepadanya, perasaan yang seharusnya diterima oleh Hilda, bukan dirinya.


Diambilnya sesuatu dari dalam saku bajunya. Yuri masih menyimpan ornamen rambut pemberian Hilda untuknya. Ornamen merak yang konon dipercaya sebagai pembawa keberuntungan. Hilda memiliki dua ornamen merak, itu artinya keberuntungan telah dibagi menjadi dua.


Byur!


"Putri Hilda ...."


"Tuan Putri .... "

__ADS_1


"Tolong ... tolong ...."


Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Dua orang pelayan yang membersamai Putri Hilda berteriak histeris memecah keheningan malam. Yuri terkejut dengan apa yang terjadi. Putri Hilda sepertinya tercebur ke dalam kolam di saat situasi cukup sepi. Buru-buru ia berlari ke tempat Putri Hilda tercebur.


Yuri ikut menceburkan diri ke dalam kolam sementara dua orang pelayan itu terus menjerit dan berteriak. Ia menyelam ke dalam kolam mengejar Putri Hilda yang semakin tenggelam ke dasar. Sembari menahan napas, ia menyrlam lebih dalam, meraih tangan Putri Hilda. Wanita itu sepertinya sengaja menceburkan dirinya sendiri.


'Apa kamu mau mati? Jangan bilang kamu mau bunuh diri, Hilda bodoh!'


Yuri menarik tubuh Putri Hilda ke atas dengan cepat. Wanita itu sudah terlalu banyak meminum air kolam. Akhirnya, dengan usaha keras, Yuri berhasil membawa Putri Hilda keluar dari dalam air.


Dua orang pelayan ikut membantu menarik Putri Hilda ke tepi. Wanita itu tergolek lemas tak sadarkan diri membuat kedua dayangnya semakin panik dan hanya bisa menangis.


Yuri masih berusaha mengatur napasnya. Ia kelelahan. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia merangkak mendekat ke arah Putri Hilda, berharap wanita itu bisa selamat.


"Tuan Putri ... bernapaslah!" Yuri berusaha menekan dada Putri Hilda agar air yang terminum bisa keluar. Rasanya ia tidak rela Putri Hilda yang baik itu berakhir hidupnya dengan cara seperti itu.


'Hilda ... aku akan membantumu bahagia, tapi bangunlah dulu! Kamu tidak boleh mati!' ucapnya dalam hati.


Lelaki itu menyerobot ke depan, bahkan menyingkirkan Yuri yang berusaha menolong. Lelaki itu menggantikan Yuri memberikan pertolongan pertama. Lelaki itu bahkan memberikan pernapasan bantuan kepada Putri Hilda tanpa pikir panjang.


Yuri bisa melihat kekhawatiran mendalam yang dirasakan lelaki di hadapannya. Bukan putra mahkota, melainkan lelaki lain yang hanya bisa mengungkapkan perasaannya melalui tindakan. Ia jadi kembali teringat pada isi novel yang dibacanya. Lelaki yang tulus mencintai Hilda tanpa bisa memilikinya, Heiji, putra Azof.


Jika mengikuti perjalanan cinta Heiji kepada Hilda, setiap orang akan terbawa pada sebuah kisah pengorbanan atas nama cinta. Heiji akan mati demi menyelamatkan Hilda saat terjadi perang besar di kerajaan elf.


"Uhuk! Uhuk!"


Yuri bernapas lega melihat Putri Hilda akhirnya tersadar setelah memuntahkan air yang terminum olehnya. Dengan mata sayunya, ia menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


Heiji masih memangku Hilda dengan khawatir. Sementara, para pelayan menangis melihat putri yang mereka layani.


"Kamu ini sedang apa? Kenapa bisa terjatuh?" tanya Heiji cemas."


"Tuan Putri ingin memetik bunga teratai, Tuan. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga Tuan Putri dengan baik." Salah seorang pelayan menangis sembari mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


Hilda mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Yuri mendekat.


Yuri mengikuti kemauan sang putri. Ia beringsut maju mendekat ke arah Hilda. "Tuan Putri, saya senang Anda selamat," ucapnya.


Putri Hilda menggenggam tangan Yuri. Ia tersenyum kepadanya. "Namamu Yuri, kan?" tanya Hilda.


"Benar, Tuan Putri. Apakah Anda masih menygingat saya?" Yuri begitu terkejut mendengar Hilda menyebutkan namanya.


"Bagaimana bisa aku melupakanmu. Dulu kamu juga pernah menolongku," ucapnya.


Padahal, mereka pernah bertemu beberapa tahun lalu saat Yuri masih bekerja di kediamannKeluarga Jansen. Saat itu, wajah Yuri juga masih jelek, namun Hilda masih tetap mengenalinya.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini," ucap Hilda dengan nada masih lemas.


"Tuan Putri, kamu harus beristirahat dan memulihkan kondisimu. Kalau terlalu lama dinluar Anda bisa sakit." Heiji mengangkat tubuh Hilda dalam gendongannya.


"Kalian berdua, tolong rahasiakan kejadian ini. Jangan sampai ada siapapun yang mengetahuinya, terutama Putra Mahkota," kata Hilda kepada kedua pelayannya.


"Baik, Tuan Putri," ucap kedua pelayan kompak.


Heiji membawa Hilda kembali ke dalam bangunan istana untuk putri diiringi oleh kedua pelayannya. Sekilas Yuri melihat Hilda tersenyum kepadanya. Ia bisa merasakan sendiri betapa baiknya hati seorang Hilda. Setelah Hilda pergi, tubuh Yuri langsung limbung. Rasanya ia tak memiliki daya lagi.

__ADS_1


Perasaannya seakan kacau. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Keterlibatannya dalam cerita itu begitu banyak mengubah jalannya cerita. Ia telah merusak kisah cinta antara pangeran dan Hilda. Sejenak ia berpikir mungkin takdirnya untuk mati adalah yang terbaik. Karena, setelah dirinya mati, kisah cinta pangeran dan Hilda berjalan dengan mulus.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.


__ADS_2