
Yuri merasa tersudut. Ia tak mungkin bisa menghadapi orang-orang itu sekaligus. Seharusnya ia tak gegabah memgejar mereka tanpa bantuan Zenzen dan Andez. Kini, mau tidak mau ia harus menghadapi mereka seorang diri.
Yuri mengeluarkan kemampuannya semaksimal mungkin. Ia fokus melakukan pertahanan agar terhindar dari serangan lawan. Saat posisinya semakin terpojok, seseorang menariknya ke atas kuda. Ia tak tahu siapa yang telah menyelamatkannya. Orang itu wajahnya terhalang oleh penutul jubah.
Kuda yang membawa Yuri terus berjalan dengan cepatnya menghindari para penjahat itu. Setibanya di tempat sepi jauh dari mereka, kuda tersebut berhenti. Orang tersebut turun dari atas kuda lalu membantu Yuri turun.
Orang yang telah menyelamatkannya perlahan membuka penutup kepalanya. Yuri membelalakkan mata ternyata dia adalah Pangeran Adrian yang saat ini telah menjadi seorang Putra Mahkota.
"Ya ... Yang Mulia!" Yuri sampai tergagap menyebutkan namanya. Ia berlutut di hadapan elf yang mulia itu.
Pangeran menarik tubuh Yuri agar berdiri. Dibawanya tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Pangeran memeluk Yuri dengan erat. Yuri membeku. Ia sangat terkejut menyadari kini seorang putra mahkota sedang memeluk dirinya. Tanpa sebab yang jelas, entah mengapa Pangeran Adrian memeluknya.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu," gumam Pangeran Adrian.
Yuri semakin bingung. "Yang Mulia Putra Mahkota, tolong lepaskan saya sebentar," pinta Yuri.
Pangeran melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah wanita yang selama ini dicarinya. Setiap malam hatinya resah memikirkan sosok wanita yang pernah menolongnya. Meskipun ia telah menikah dengan Hilda, elf tercantik di seluruh negeri, namun pikirannya terus dipenuhi oleh sosok wanita penolongnya.
Kehidupannya terasa hampa, menjalani pernikahan hanya karena untuk menuruti perintah raja serta para bangsawan yang ada di istana. Jika boleh jujur, hatinya telah tertawan oleh seorang elf biasa yang telah menyelamatkan nyawanya.
Ketika ia melakukan penyamaran untuk mengetahui kondisi rakyat, ia justru bertemu dengan wanita yang lama dicarinya. Wanita itu masih tampak membuatnya terkesima saat melihat Yuri berani melawan sekelompok penjahat sendiri. Wanita seperti itu memang sosok yang tangguh seperti yang ia bayangkan.
"Apa Yang Mulia salah mengenali saya sebagai orang lain?" tanya Yuri penasaran.
__ADS_1
Yuri tak pernah tahu betapa bahagianya perasaan pangeran saat ini. Seandainya bisa, ia ingin membawa wanita itu lari bersamanya. Ia ingin hidup berdua saja dengannya.
Tanpa mengucap satu katapun, Pangeran meraih tengkuk Yuri. Mata wanita itu melebar saat Pangeran memberikannya ciuman. Bukan sekedar ciuman ringan, namun sebuah ciuman menggebu seolah lelaki itu sedang berhasrat besar kepadanya.
Pikiran Yuri serasa kosong. Tiba-tiba ia tidak ingat dengan jalan cerita novel yang pernah dibacanya. Alur cerita benar-benar telah berubah. Tak ada kisah cinta antara pangeran dan Yuri. Yang terjadi kini, pangeran justru tengah menciumnya sembari memeluknya dengan erat.
Yuri tak kuasa menahan ciuman yang pangeran berikan kepadanya. Ia terhanyut untuk ikut membuka mulutnya, membiarkan lelaki itu menciumnya lebih dalam. Ia seakan telah kehilangan akal.
Saat ia kembali teringat bahwa pangeran telah menikah dengan Putri Hilda, ia langsung mendorong tubuh pangeran menjauh darinya. Ia kembali berlutut seakan telah membuat suatu kesalahan besar.
"Ampuni hamba, Yang Mulia ...." tubuhnya seakan gemetar. Ia merasa sangat bersalah kepada Hilda. Ia bagaikan seorang wanita penggoda yang baru saja mencuri ciuman dari seorang lelaki beristri.
__ADS_1
'Kok jadi seperti ini sih ceritanya?' tanya Yuri kepada dirinya sendiri.