Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Pangeran Penolong


__ADS_3

"Yuri, ayah memiliki cukup banyak uang hari ini. Apa yang ingin kamu beli?" tanya Grafin.


"Ayah, antar aku mencari beberapa barang," ucap Yuri dengan semangat.


Tekad Yuri untuk membuat alat make up sendiri sudah bulat. Ia punya pengetahuan yang cukup di bidang farmasi untuk mencampurkan beberapa bahan yang menjadi dasar pembuatan kosmetik. Grafin tidak terlalu paham dengan apa yang sedang putrinya cari. Tapi, karena rasa bahagianya yang besar bisa bersama dengan putrinya lagi, ia akan menuruti apapun yang Yuri minta. Yuri membeli lilin lebah, minyak almond, mentega shea, bibit pewangi, tepung jagung, bubuk coklat, minyak esensi, dan beberapa bahan lainnya.


"Sebenarnya kamu ingin membuat masakan apa dengan semua ini?" tanya Grafin. Belanjaan milik Yuri cukup banyak dan berat.


Yuri tertawa kecil. "Ayah, aku bukan ingin membuat masakan. Tapi ini bisa membuatku jadi lebih cantik," ucap Yuri.


Grafin mengernyitkan dahinya. Meskipun terdengar aneh, ia tetap akan mendukung anaknya. Melihat Yuri begitu ceria dengan barang-barangnya membuat Grafin sangat bahagia. Ia berharap ejekan masyarakat yang mengatakan Yuri buruk rupa tidak akan membuat putrinya terpuruk lagi.


"Belilah yang banyak kalau itu membuatmu senang," ucap Grafin.


Yuri kembali menarik tangan ayahnya, mengajak berkeliling melihat-lihat seisi pasar. Rasanya ia kembali menjadi seorang anak kecil yang bahagia hanya dengan jalan-jalan keliling pasar. Ia membeli cukup banyak barang dengan uang yang diperoleh ayahnya dari hasil menjual pedang. Tidak lupa mereka juga membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan selama dua minggu ke depan.


"Apa kamu sudah cukup membeli barang-barang yang diperlukan?" tanya Grafin seraya memasukkan belanjaannya ke dalam kereta kuda miliknya.


Yuri menepuk kepalanya sendiri. "Ayah, masoh ada sesuatu yang harus aku beli. Aku akan mencarinya di pedagang aksesoris, ayah tunggu di sini saja!" ucapnya.


Ia segera berlari kembali memasuki pasar meninggalkan ayahnya yang sudah bersiap di atas kereta kuda yang terparkir di lapangan khusus kendaraan. Yuri sempat melihat cermin yang indah di sana dan lupa membeli saat sibuk belanja barang-barang. Ia ingin kembali dan membelinya.


Saat memasuki area pertigaan pasar, terlihat kerumunan orang-orang yang menarik perhatian Yuri untuk mendekat. Suara sorak sorai penonton begitu keras terdengar memberi semangat pada elf yang berada di tengah arena. Ternyata, mereka sedang melakukan pertarungan pedang. Sepertinya kompetisi itu berhadiah uang sehingga ada banyak yang mendaftarkan diri untuk bertarung. Yuri melihat sejenak kelihaian mereka bermain pedang.

__ADS_1


"Babi hutan ... babi hutan ... lari ... selamatkan diri kalian ...."


Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dan teriakan memperingatkan. Yuri tidak paham dengan apa yang terjadi. Dilihatnya orang-orang lari berhamburan ke sana ke mari. Ia jadi bingung harus ikut berlari kemana dan kenapa mereka harus lari.


Suasanya pasar yang semula ramai dan menyenangkan berubah kacau. Dari arah barat, muncul tiga ekor babi hutan raksasa yang berlari mengejar para elf yang berada di pasar. Yuri syok melihat pertama kali babi hutan berukuran tiga kali lipat babi di dunianya. Babi-babi tersebut berlarian membuat kekacauan sepanjang jalan. Bahkan, sampai ada elf yang tergabrak atau terinjak.


Yuri semakin panik ketika mengetahui babi-babi itu terus berlari ke arahnya. Ia langsung menjerit dan berlari sekuat tenaga menghindari kenaran babi tersebut. Sesekali ia menoleh ke belakang mengecek jarak babi darinya. Mereka semakin dekat dan membuatnya semakin panik.


"Mati aku! Kali ini aku akan mati ... tidak ...." Yuri tidak tahu lagi selain terus berlari menghindar.


Saat babi-babi itu hampir menyeruduknya, seseorang menarik tubuhnya dengan cepat dan menaikkannya ke atas kuda.Yuri dibawa pergi menghindar dari serangan babi hutan dengan kencang.


Jantung Yuri rasanya mau copot menyadari posisinya berada di ujung tanduk kematian. Babi hutan liar itu sangat menakutkan. Napasnya masih terdengar terengah-engah saking syoknya.


"Kita sudah aman." Terdengar suara seorang lelaki. Ternyata, orang yang menyelamatkan Yuri adalah laki-laki.


Yuri menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat wajah penolongnya. Matanya langsung membulat saat melihat ternyata yang telah menolongnya adalah Pangeran Adrian. Ia sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya seakan beku. Tidak disangka ia bisa satu kuda dengan seorang pangeran yang wajahnya begitu bersinar seperti malaikat.


"Oh, ternyata kamu seorang mixtus. Aku salah mengenalimu karena warna rambutmu," ucap Pangeran Adrian yang seakan menyesal telah menyelamatkan Yuri.


Baru kali ini Adrian melihat mixtus dengan warna rambut begitu mencolok seperti miliknya. Bahkan, Ezra pengawal pribadinya juga seorang mixtus namun warna rambutnya gelap. Ia kebetulan sedang jalan-jalan sendiri di pasar.


Yuri memasang penutup kepalanya. Rambut anehnya memang sering membuatnya dalam masalah. "Terima kasih Yang Mulia telah menolong saya." Ia yang sadar diri kemudian memilih turun dari kuda milik pangeran. Kuda putih bercula yang tampak gagah itu dinamakan Hercules.

__ADS_1


Yuri masih berusaha untuk bersikap tenang, padahal dirinya setegang itu bertemu dengan seorang pangeran.


"Berhati-hatilah! Ini semua ulah kaum ogre yang suka mengusik kehidupan para hewan yang tinggal di sekitaran gunung. Sering terjadi bewan liar keluar hutan dan masuk ke dalam pemukiman."


"Baik, Yang Mulia."


"Aku akan melanjutkan perjalananku. Kamu kembalilah ke tempatmu," pamit sang pangeran. Dalam hitungan detik Adrian dan kudanya telah pergi meninggalkan Yuri.


Meskipun Adrian merasa salah orang telah menyelamatkannya, Yuri tetap merasa bahagia. Bisa bertemu pangeran Adrian seperti mendapat kesempatan bertemu idola. Ketampanan Adrian sampai hampir membuatnya pingsan.


"Kudanya saja gagah dan tampan, apalagi pemiliknya ...." Yuri serasa masih bermimpi bisa menaiki kuda Hercules kesayangan pangeran. Ia kembali berjalan ke arah pasar. Bahkan ia hampir lupa kalau tujuannya masuk pasar untuk membeli cermin.


Saat kembali lagi ke pasar, kondisinya sudah sangat berantakan. Sudah banyak elf yang terluka serta barang-barang dagangan yang tusak. Beruntung pedagang aksesoris yang Yuri incar ternyaya masih aman. Cermin yang ia inginkan juga masih utuh.


"Yuri! Yuri!" Grafin berteriak histeris memanggil anaknya. Ia sangat khawatir Yuri akan terluka. Melihat putrinya dalam kondisi paling baik, ia langsung memeluknya. Betapa ia sangat takut untuk kehilangan Yuri lagi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tany Grafin khawatir."


Irene mengangguk. Ia tidak menyangka sang ayah akan sangat mengkhawatirkannya.


***


Catatan: Kaum Ogre dalam cerita ini merupakan perwujudan kaum yang jahat dan suka mengganggu elf. Ia bisa hidup dari seorang elf yang mati bunuh diri. Mereka tinggal di daerah pegunungan dalam goa-goa yang mereka bangun. .

__ADS_1


.


__ADS_2