Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Andez Masuk Istana


__ADS_3

Sebagai seorang putri mahkota, kehidupan yang Hilda jalani sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia jalani di kediaman keluarganya. Menghadiri pesta menjadi suatu kewajiban. Seperti juga pada hari ini, ia mendatangi acara pesta yang diselenggarakan oleh ratu untuk para penghuni istana, salah satunya dirinya.


Di tempat pesta, putra mahkota memilih berkumpul dengan sesama pangeran serta putra pejabat dan bangsawan. Entah apa yang mereka diskusikan, Hilda tak terlalu tahu tentang dunia mereka. Ia juga harus berusaha bisa berbaur dengan para wanita bangsawan lainnya yang sebelumnya jarang ditemuinya. Dia seperti orang asing di sana meskipun seorang putri. Tidak heran jika setiap hari ia merasa kesepian. Hanya Heiji yang membuatnya merasa berasa di rumah.


Sepertinya kehadiran dirinya di sana kurang mendapat sambutan. Dari sekian banyak wanita bangsawan yang hadir, tidak ada satupun yang mau menyapa atau mengajak Hilda duduk bersama mereka. Bahkan tatapan yang diberikan kepadanya seakan menyiratkan ketidaksukaan. Mungkin mereka masih kesal akibat tidak terpilih sebagai pendamping raja. Di balik kebahagiaan menjadi putri mahkota, ia bersiap untuk dibenci saingannya.


Hilda melirik ke arah Putra Mahkota. Lelaki itu tampak menonjol di antara yang lainnya. Beberapa elf wanita juga tampak mengerumuninya dengan binar mata penuh kekaguman. Wajah tampannya menjadi magnet bagi setiap wanita untuk jatuh cinta kepadanya, lelaki tertampan dari negeri elf. Sepertinya status pernikahan tidak menggoyahkan mereka untuk menggoda suami orang.


Kalau mereka tahu seberapa dingin sikap dia, Hilda yakin wanita-wanita itu tidak akan mau mengambil posisinya.


Merasa bosan, Hilda beralih ke area pinggiran dekat wilayah danau belakang istana. Dua ekor burung merak yang sedang bercengkrama menarik perhatiannya. Ia mengikuti kemana burung itu berjalan. Sampai pada sebuah danau yang indah, kedua merak itu berhenti untuk minum.


Pemandangan yang ia saksikan saat ini begitu indah seakan ia sedang berada di alam mimpi. Baru kali ini ia melihat keindahan sisi lain istana.


"Jangan mendekati mereka!"


Hilda terlonjak kaget mendengar suara seorang saat ia hendak melangkah lebih dekat pada kedua merak itu. Saat ia berbalik, ada seorang lelaki sedang duduk bersandar pada sebatang pohon. Dia mengenakan pakaian ala prajurit, namun warnanya berbeda dengan yang biasa dikenakan oleh penjaga istana. Biasanya penjaga istana mengenakan pakaian berwarna putih, namun lelaki itu mengenakan pakaian berwarna hitam.


'Apa dia juga pengawal pribadi putra mahkota seperti Ezra?' tanyanya dalam hati. Penampilan lelaki itu memang agak mirip dengan Ezra, pengawal yang selalu tampil beda dari lainnya.


"Mereka sedang kawin, jangan mengganggu mereka," ucap lelaki itu.


Hilda berjalan mundur menjauh dari kedua merak itu. Merak adalah binatang kesukaannya, sehingga ia sangat takjub ketika bisa melihat merak secara langsung di lingkungan istana kediaman Raja.


"Apa kamu tahu, bedanya merak jantan dan betina?" lelaki itu bangkit dari duduknya berjalan mendekati Hilda.


Bahasa yang lelaki itu gunakan sangat santai seperti berbicara dengan seorang teman. Hilda heran sendiri ingin tahu siapa lelaki itu. Kalau biasanya pengawal akan tunduk kepadanya, tetapi dia bersikap seperti seorang putra bangsawan. Padahal aura elf tidak dimiliki olehnya.

__ADS_1


Ia mengajak Hilda untuk melihat kembali pada dua merak yang sedang minum di pinggir sungai. Salah satunya mengembangkan ekornya sehingga menampilkan bentuk ekor indah seperti kipas. Hilda terkesima melihat pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.


"Burung merak yang ekornya mengembang cantik itu pasti seekor merak betina. Sedangkan yang satunya adalah merak jantan." tebak Hilda.


"Kamu salah."


Hilda menoleh kepada lelaki itu. Pandangan mata mereka bertemu.


"Merak yang bulunya indah dan bisa mengembang seperti kipas itu adalah merak jantan, bukan betina."


Hilda memperhatikan lagi ke arah merak itu. Rasanya masih tidak terima karena tebakannya salah.


"Merak jantan memiliki bulu indah memiliki fungsi untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Sedangkan warna bulu pada merak betina cenderung lebih kusam."


"Sama seperti rusa, antara jantan dan betina juga memiliki perbedaan."


"Rusa jantan memiliki tanduk sedangkan rusa betina tidak bertanduk. Tanduk jantan biasanya pendek dan terdiri dari tiga cabang. Jika patah, tanduknya bisa tumbuh kembali."


Hilda terkesima mendengar penjelasan darinya. "Sepertinya kamu seorang pakar hewan."


Lelaki itu tertawa kecil, "Hobiku berburu, jadi sedikit banyak tahu tentang mereka. Aku juga menghabiskan waktuku hidup di dalam hutan."


"Ngomong-ngomong, kenapa wanita cantik sepertimu ada di sini? Bukankah seharusnya kamu bergabung dengan yang lain di pesta?"


"Aku .... "


"Putri Hilda!" panggil salah seorang pelayan yang biasa melayaninya.

__ADS_1


Lelaki itu membelalakkan mata terkejut. Reflek ia langsung berlutut di hadapan Hilda. "Yang Mulia Putri Mahkota, tolong ampuni saya!" ucapnya.


Hilda tertawa kecil. Sejak tadi ia kira lelaki itu putra bangsawan yang sok terhadapnya. Bisa-bisanya ia tidak mengenali dirinya sebagai putri mahkota.


"Siapa namamu?" tanya Hilda.


"Andez, Tuan Putri," ucapnya.


"Dimana kamu bertugas?"


"Saya ditugaskan menjaga Pangeran Evander, Tuan Putri." Andez merasa kesal kepada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia berbicara lancang kepada seorang putri mahkota.


Baru kemarin ia lolos seleksi sebagai calon pengawal anggota kerajaan. Ia terpilih menjadi pengawal Pangeran Ivander, sepupu putra mahkota. Ia memang mengetahui kabar pernikahan tentang putra mahkota dan Putri Hilda, namun belum pernah tahu seperti apa wajah Putri Hilda.


"Tuan Putri, tolong ampuni kelancangan saya yang sudah bersikap tidak sopan terhadap Tuan Putri. Saya benar-benar tidak tahu jika Anda adalah Putri Mahkota."


Andez benar-benar menyesal. Ia sangat takut kesalahan fatalnya kali ini akan membuat dirinya digugurkan dari seleksi. Jika ia gagal masuk istana, maka rencananya akan terhambat. Ia harus mempelajari kasus-kasus keluarganya yang ada di penyimpanan arsip istana. Ia yakin keluarganya hanya korban fitnah. Mana mungkin keluarganya berencana ingin melakukan kudeta menyingkirkan penguasa sah.


"Sudahlah, kamu melakukannya karena tidak tahu. Aku memaafkanmu. Berdirilah," pinta Hilda.


Seperti yang pernah Andez dengar dari orang-orang, Hilda seorang putri yang baik hati. Hari ini ia telah membuktikannya sendiri. Elf cantik itu sama sekali tidak ingin membahas tentang kesalahannya.


"Terima kasih atas kemurahan hati Tuan Putri," ucap Andez.


"Tuan Putri, waktu jamuan makan segers tiba. Anda harus segera pergi ke sana," ucap pelayan istana.


"Iya, Sillu. Kita ke sana sekarang!" Hilda berjalan mendekati pelayannya. Saat melewati Andez, ia tersenyum.

__ADS_1


Andez menghela napas lega. Setidaknya hari ini ia lolos untuk membuat kesalahan di istana. "Dimana Kira-kira Yuri?" tanyanya pada diri sendiri.


Yuri juga lolos menjadi pelayan istana. Sementara, Zenzen gagal menjadi prajurit padahal mendaftar bersamanya. Zenzen memutuskan untuk meneruskan usaha kedai minuman yang mereka rintis. Sekaligus menjaga tempat tinggal untuk sewaktu-waktu mereka ingin kembali.


__ADS_2