
Pangeran Adrian sudah tak sadarkan diri saat Yuri membawanya bersembunyi di goa dekat air terjun. Menurutnya, itu tempat paling aman untuk sementara. Kuda Hercules ikut masuk ke dalam goa seakan mencemaskan kondisi tuannya.
Yuri membuat ramuan dari beberapa rumput obat yang didapatkannya dari hutan. Beruntung ilmu dasar farmasi serta pengetahuan dari ayahnya berguna di sana. Ia bisa meramu sendiri bahan-bahan alam yang ada di alam untuk mengobati luka.
Dibukanya pakaian bagian atas untuk melihat kondisi luka yang tepat berada pada dada kanan Pangeran. Luka itu telah berubah warna menggelap, pertanda racun yang mulai menyebar. Dengan hati-hati Yuri menempelkan ramuan yang dibuatnya di atas luka tersebut lalu membalutnya dengan kain yang dirobek dari pakaiannya.
Aura yang dipancarkan pangeran menghilang. Menurut kepercayaan, elf bangsawan memiliki kemampuan penyembuhan luka yang lebih cepat dari pada elf biasa. Energi suci yang biasanya bersinar akan menghilang sementara karena terserap untuk menyembuhkan luka. Adrian tampak seperti elf biasa yang tak berdaya.
Yuri memegang tangan pangeran. Tangan itu terasa dingin seperti beku. Hal yang sama ia rasakan pada bagian kakinya. Segera Yuri mengambilkan jubah miliknya lalu menyelimutkan pada tubuh pangeran.
"Hah ... hari sudah beranjak sore. Aku sudah lapar. Pangeran juga sepertinya baru akan sadar esok hari," keluh Yuri. Ia yang berniat pergi sebentar untuk mengambil benda yang ada dalam mimpinya malah harus bermalam di tengah hutan.
Ditolehnya ke arah kuda coklat miliknya.
"Hiirrr ...." kuda itu bersuara.
"Apa? Kamu tahu kalau aku sedang berniat ingin memakanmu? Aku lapar, jadi maafkan saja kalau memang kamu jadi korban." Yuri berbicara dengan kudanya. Kuda miliknya seakan tahu dengan niat jahatnya saat kelaparan.
Tidak mungkin Yuri memakan kudanya sendiri. Apalagi memakan kuda milik pangeran. Terpaksa ia kembali keluar dari gua untuk mencari makanan.
Yuri memutuskan untuk turun ke arah sungai. Di sana ada beberapa peralatan masak yang tertinggal. Ia baru ingat kalau dulu pernah membawanya saat latihan dengan Zenzen untuk membuat makanan sendiri.
"Akhirnya barang-barang ini bisa berguna lagi," gumamnya.
Setelah mendapatkan cukup ikan dan umbi-umbian, Yuri kembali ke dalam goa. Tak lupa ia mengambilkan seikat rumput untuk makan kudanya dan kuda milik pangeran.
__ADS_1
"Kalian juga harus makan ya, supaya tidak sekarat. Kalau sampai sekarat, nanti kalian aku makan," canda Yuri. Ia ingin tertawa sendiri melihat kuda rakyat jelata bisa akur dengan kuda bangsawan istana.
Fokus Yuri beralih pada pangeran. Lelaki itu masih juga belum siuman. Akan tetapi, suhu tubuhnya sudah lebih hangat dari sebelumnya. Apalagi ia membuat api unggun untuk merebus umbi-umbian serta membakar ikan.
"Hah ... tampan sekali Pangeran ini. Kalau bisa dibawa pulang, pasti akan aku bawa pulang ke duniaku," gumam Yuri sembari menikmati ikar bakar dan umbi rebusnya. Makan sambil melihat ketampanan elf bangsawan membuat rasa makanan terasa lebih enak.
Malam semakin larut. Di luar hujan turun semakin lebat. Udara terasa dingin sampai menusuk tulang. Bahkan, kuda-kuda tersebut meringkuk saking dinginnya.
Ada banyak hal yang mengisi pikiran Yuri. Ayahnya pasti akan sangat khawatir mengetahui dirinya tidak pulang. Belum lagi ia juga merasa sangat kedinginan sampai tulangnya terasa ngilu. Bibirnya sudah berubah memucat. Ia melirik jubah yang menyelimuti pangeran, ingin rasanya ia tarik untuk menghangatkan dirinya sendiri. Akan tetapi, ia tahu jika pangeran lebih membutuhkan dari pada dirinya.
Suara air terjun di luar bergemuruh menandakan volume alirannya bertambah deras akibat hujan lebat. Sesekali terdengar petir menyambar-nyambar. Baru kali ini ia mengalami cuaca begitu buruk di negeri elf tersebut.
Yuri sudah tak kuat lagi menahan rasa dingin. Kalau ia tetap seperti itu, sudah jelas ia yang akan mati membeku.
"Yang Mulia, maafkan saya!" ucap Yuri seraya ikut masuk ke dalam selimut jubah miliknya. Ia merapatkan pelukan kepada pangeran dengan tubuhnya yang menggigil. Tubuh pangeran terasa sangat nyaman, membuatnya merasa semakin hangat dan dingin yang dirasakan berangsur-angsur menghilang.
"Zenzen ... keluar kamu!" teriak Grafin di depan rumah kepala suku.
Semalam hujan deras. Yuri yang berpamitan ingin pergi ke hutan mencari bahan-bahan tak kunjung pulang hingga fajar tiba. Salah satu orang yang diincarnya untuk menjadi tempat bertanya adalah Zenzen yang akhir-akhir ini selalu menghabiskan waktu bersama putrinya.
Teriakan Grafin mengusik penghuni rumah kepala suku dan beberapa rumah di sekitarnya. Mereka keluar untuk mencari tahu sumber dari kebisingan yang mengganggu waktu istirahat mereka.
"Grafin, ada apa pagi-pagi buta membuat keributan di rumahku?" Yolo, kepala suku keluar rumah dengan raut kesalnya.
"Suruh putramu keluar, Yolo! Gara-gara dia putriku semalaman tidak pulang!" Grafin berbicara dengan nada penuh emosi.
__ADS_1
"Apa hubungannya putrimu tidak pulang dengan putraku? Zenzen seharian kemarin tidak pergi kemana-mana karena aku suruh memperbaiki cerobong asap rumah yang rusak. Semalam juga dia hanya tidur di rumah karena cuaca buruk." Yolo tidak terima putranya disalahkan.
"Suruh putramu keluar!" teriak Grafin lagi.
"Pergi saja dari sini kalau mau memfitnah putraku! Mungkin putrimu yang pergi dengan lelaki lain. Mentang-mentang sekarang cantik, bisa saja dia jadi wanita murahan."
"Apa kamu bilang?" Grafin murka putrinya dihina. Ia maju dan hampir memukul Yolo. Untung saja Zenzen segera keluar dan menghentikan pertengkaran di antara keduanya.
"Apa-apaan ini!" Zenzen menyuruh ayahnya menjauh, sementara ia menghadapi Grafin dengan berani.
"Dimana putriku?" tanya Grafin.
"Maaf, Tuan Grafin. Tapi kemarin memang saya tidak bertemu dengan Yuri."
"Jangan mencoba membohongiku! Pasti ada sesuatu yang sudah kamu lakukan pada Yuri." Grafin menatap tajam kepad Zenzen.
"Putraku tidak mungkin melakukan hal itu!" sahut Yolo.
"Saya berbicara sebenarnya. Memang biasanya kami berlatih pedang dan berkuda. Selain bersama saya juga ada Andez, kami bertiga sering berlatih bersama. Tapi, kemarin kami benar-benar tidak bertemu. Mungkin Andez tahu sesuatu."
Penjelasan yang Zenzen berikan masuk akal. Kepala suku juga pasti tidak akan berbohong. Memang mungkin saja Andez yang tahu di mana keberadaan putrinya.
"Apa Yuri benar-benar tidak pulang semalam?" tanya Zenzen.
Grafin mengangguk. "Saat siang ia berpamitan ingin ke hutan mencari bahan-bahan. Sampai saat ini ia belum kembali ke rumah. Apalagi semalam cuaca sangat buruk. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Grafin tampak sangat mengkhawatirkan putrinya.
__ADS_1
Zenzen juga sama, ia mengkhawatirkan Yuri. "Saya akan membantu mencari Yuri. Mungkin dia bersama Andez," ucapnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf telah membuat keributan." Grafin undur diri. Ia akan mencari Yuri di tempat lain.