
Yuri datang ke lapangan desa tempat dilakukan acara perjodohan. Ada banyak elf berkumpul di sana dari mulai anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Mereka tampak bergembira mengelilingi api unggun besar yang dinyalakan. Beberapa orang tampak minum-minum sampai setengah mabuk.
"Hei, lihat ... itu Grafin datang. Bisa-bisanya ia membawa putrinya, Hahaha ...." Tuan Edbar menunjuk ke arah mereka hingga banyak pasang mata yang memandang.
Grafin dan Yuri tetap berjalan tenang menunggangi kuda masing-masing. Mereka menaruh kuda di tempat yang telah disediakan. Yuri masih memakai penutup kepalanya hingga belum ada orang yang mengetahui parasnya. Mereka kira Yuri masih sejelek bayangan mereka.
"Hei, Grafin! Kamu hanya ingin mempermalukan dirimu sendiri," tukas Hobbo. Ia menyayangkan midget itu tak mau mendengarkan sarannya.
"Kalian tenang saja, putriku datang hanya untuk melihat keramaian, tidak bermaksud mencari pasangan." Grafin menggandeng tangan Yuri. Ia mengajaknya duduk pada salah satu bangku kayu untuk melihat pemuda pemudi desa yang saling menari bersama di depan api unggun. Mereka sambil melirik-lirik satu sama lain sembari menentukan siapa yang kira-kira berjodoh dengannya.
Pesta di dunia elf cukup menyenangkan bagi Yuri. Hidupnya kini lebih leluasa, lebih bebas dan bisa menikmati apa yang ingin ia lakukan. Berbeda saat di dunianya menjadi artis, kehidupannya sangat terjadwal. Tidak ada waktu bersantai sedikitpun untuknya. Bahkan, hanya sekedar pergi ke mini market ia harus menutupi wajahnya agar tidak ada yang melihat.
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan orang jelek berada di pesta ini?" seorang elf pemuda datang bersama beberapa temannya menghampiri Yuri.
"Memangnya kenapa? Putriku juga penduduk desa ini. Apa kami tidak boleh datang?" Grafin merasa kesal kepada pemuda tersebut. Namanya Zenzen, putra kepala suku di desa.
"Tentu saja tidak boleh. Midget sepertimu saja sudah merusak suasana apalagi putrimu yang terkutuk ini! Hahaha ...." Lelaki itu begitu tidak sopan kepada orang tua.
"Apa kamu bilang?" Grafin tidak terima putrinya dihina. Ia maju untuk menghajar anak kepala suku yang kurang ajar itu.
"Ayah!" teriak Yuri. Suasana sedikit memanas karena Zenzen melayangkan pukulan kepada Grafin.
Yuri berlari membantu sang ayah yang jatuh tersungkur akibat didorong oleh Zenzen. Ketika Yuri ingin menolong ayahnya, Zenzen mendorongnya. Pemuda itu kembali menghajar Grafin. "Midget busuk! Mati saja kamu bersama putrimu!" Ia tak hentinya menghajar Grafin. Yuri yang ingin membela sang ayah ditahan oleh beberapa anak buah Zenzen.
__ADS_1
Plak!
"Aduh!" Zenzen memegangi kepalanya. Seseorang telah berani memukulnya dari belakang. Ia semakin murka. Ditengoknya siapa orang yang berani memukulnya dengan tongkat kayu. Ternyata, lelaki itu adalah Andez, pemuda sebatangkara yang susah diatur.
"Kalau berani, jangan memukuli orang tua. Lawab aku," ucapnya dengan santai. Penampilan Andez seperti gembel sedang mengemut batang rumput di mulutnya.
Amarah Zenzen kian tersulut. Ia seperti menemukan musuh yang memang sedang ia cari. Zenzen suka berkelahi, cocok saat bertemu dengan Andez. "Kamu datang di waktu yang tepat. Kebetulan aku juga ingin menghajar orang habis-habisan."
Zenzen mengambil sebilah kayu sebagai senjata. Sudah menjadi tradisi, jika ada pemuda yang ingin adu kekuatan, maka mereka harus bertarung dengan kayu sebagai pengganti pedang. Para pemuda elf yang semula memadati area acara, memilih untuk minggir memberikan tempat bagi mereka ribut. Acara yang semula diharapkan sebagai ajang pencarian jodoh malah berubah menjadi tontonan pertarungan antar pemuda. Yuri menuntun agar ayahnya minggir ke tepi.
Awalnya Zenzen menghadapi sendiri Andez dengan senjatanyan. Namun, kelihaian Andez dalam mengayunkan tongkatnya membuat Zenzen menjadi kewalahan. Dengan liciknya ia menyuruh teman-temannya ikut maju mengeroyok Andez. Pertarungannya menjadi tidak seimbang, Andez harus menghadapi tujuh orang sekaligus. Entah mengapa tidak ada orang yang mencoba menghentikannya. Jelas-jelas itu pertarungan yang tidak adil.
Yuri mengepalkan tangannya geram. Melihat hal itu ia tidak bisa diam. Apalagi lelaki yang sedang bertarung sendirian sebelumnya berusaha membela ayahnya. Dengan keputusan yang matang, akhirnya ia ikut maju membawa sebilah tongkat.
"Kenapa kamu ijut-ikutan, bodoh!" bentak Andez memarahi Yuri yang ikut maju bersamanya. Ia heran ada wanita semacam itu.
Yuri tidak gentar. Ia tetap ikut bertarung bersama Andez melawan Zenzen dan anak buahnya. Pertempuran menjadi semakin seru dan seimbang. Dua pemuda itu bisa berkolaborasi menghadapi musuh dengan baik. Andez tidak menyangka jika Yuri bisa memainkan tongkatnya dengan lihai. Mereka berhasil memberikan beberapa pukulan menyakitkan kepada pemuda-pemuda nakal itu.
"Dasar wanita jelek!" Zenzen yang kesal dan merasa dipermalukan menarik jubah penutup kepala Yuri. Ia ingin mempermalukannya di hadapan para elf dengan memperlihatkan wajah jeleknya.
Saat penutup kepala itu terbuka, bukannya mereka tertawa melainkan tercengang melihat betapa cantiknya putri Grafin itu. Seolah ia mendapat anugerah mengubah wajah buruk rupa menjadi cantik jelita. Bahkan, Zenzen sendiri ikut terpesona dengan keanggunan wanita yang hendak diganggunya.
"Apa benar kamu Yuri?" tanya Zenzen dengan nada tergagap.
__ADS_1
Yuri tak mengindahkan pertanyaan Zenzen. Ia menjatuhkan tongkat kayunya lalu kembali menghampiri sang ayah. "Ayah tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Wajah sang ayah mendapatkan beberapa luka karena Zenzen. Ia belum puas sebelum pemuda itu pincang dibuatnya.
"Seharusnya ayah yang bertanya, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya. Grafin tak habis pikir bagaimana bisa putrinya mahir berkelahi seperti seorang lelaki padahal ia tak mengajarkan apapun dari kecil. Yuri semakin mirip dengan Aire, begitu tangguh dan berani. Seakan tak memiliki rasa takut sedikitpun.
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Mungkin lain kali aku tidak perlu diam. Jika ada yang mengganggu kita, aku akan langsung hajar." Yuri melotot ke arah Zenzen yang masih memandanginya. Lelaki itu malah tersenyum padanya, membuat Yuri semakin kesal. Bisa-bisanya ia baru berbuat onar langsung bersikap seolah ramah kepadanya.
Andez berjalan mendekat ke arah Yuri, memandanginya dengan seksama. "Kamu memakai topeng?" tanyanya.
Yuri melotot ke arah Andes.
"Andez ...."
"Hehehe ... aku hanya bertanya, Paman Grafin. Kenapa putrimu jadi berubah?" tanyanya.
"Dia tidak berubah. Hanya penilaianmu saja yang berubah," kata Grafin.
Andez masih penasaran dengan teman masa kecilnya. Sudah lama mereka tidak bertemu, saat dipertemukan kembali ternyata Yuri sudsh sangat berubah. Ia sampai memegangi wajah Yuri untuk mengecek langsung ada tidaknya topeng.
Plak!
Yuri menepis tangan Andez dengan kasar.
"Dia tidak memakai topeng ternyata. Tapi aneh, seperti bukan Yuri yang aku kenal."
__ADS_1
'Jelas bukan Yuri yang kamu kenal, dasar bodoh!' batin Yuri. Ia juga tidak tahu kalau Yuri memiliki teman saat kecil.