
Malam ini Yuri kesulitan untuk tidur. Ia masih terbayang pertemuannya dengan pangeran. Rasanya masih tidak percaya jika ia telah dicium dan dipeluk oleh seorang pangeran tampan negeri elf. Meskipun bukan pertama kali ciuman, namun tetap saja itu adalah ciuman pertamanya di dunia itu. Sebuah dunia yang ia kenal dari novel, namun membuatnya hidup dan merasakan sebagai tokoh Yuri di dalamnya.
Yuri seharusnya tak pernah berkaitan dengan pangeran apalagi sampai terlibat asmara dengannya. Yuri hanya bertemu pangeran saat akan mendapatkan hukuman gantungnya. Yurika masih ingat momen-momen sedih membaca bagian Yuri dieksekusi akibat kelicikan seorang Asteria. Berulang kali ia berusaha memejamkan mata, namun tetap saja rasa kantuk tak segera menghampirinya.
Yuri memutuskan untuk keluar secara diam-diam dari kamarnya. Di ruang tengah, Amdez dan Zenzen telah terlelap. Mereka juga pasti kelelahan setelah seharian bekerja. Apalagi kedai milik mereka kian ramai berkat minuman buah batu atau dikenal dengan bahasa teh lemonia.
Yuri membawa pedang yang disembunyikan di balik jubahnya. Berjalan sendirian di tengah malam mungkin akan menarik orang jahat untuk beraksi. Ia menutupkan kerudung jubahnya ke kepala agar tak ada yang mengenalinya.
Tujuan perjalanan Yuri ke tepi danau. Ia rasa tempat itu sangat cocok untuk menenangkan diri. Selain sepi, aura suci yang terpancar dari istana bisa menimbulkan ketenangan jiwa bagi yang berada di dekatnya.
Seperti biasa, istana yang berada di tengah danau itu tampak berkilau. Malam itu ia kebetulan melihat seekor singa terbang yang mengelilingi istana. Menurut kaum elf yang sering bercerita di pasar, hewan tersebut merupakan kendaraan yang digunakan oleh kerajaan untuk melakukan patroli. Hewan semacam itu hanya ada tiga ekor yang tinggal di istana. Sisanya hidup liar di hutan antah berantah yang tidak jelas asal-usulnya.
Jarang ada yang melihat momen tersebut. Meskipun Yuri sudah sering naik pesawat, namun melihat benda terbang semacam itu ia tetap takjub. Singa di dunianya tak memiliki sayap. Burung garuda yang gagah dan bersayap juga memiliki ukuran yang kecil sehingga tidak bisa dinaiki. Baru kali ini ia benar-benar melihat singa terbang ditunggangi seorang elf.
"Kalau di dunia perfilman biasanya pakai efek CGI supaya kelihatan bisa terbang menaiki hewan. Tapi, yang ini mereka sungguh-sungguh bisa terbang." Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
"Seandainya aku bisa ikut naik ...," gumamnya.
Baru saja menggumamkan satu hal itu, ia merasa singa terbang tersebut bergerak semakin mendekat ke arahnya. Yuri sampai mengucek-ucek matanya memastikan apakah benar benda tersebut menuju ke arahnya. Sosok singa terbang itu semakin jelas terlihat. Wajahnya yang menyeramkan serta raungannya yang menakutkan, membuat Yuri beringsut mundur perlahan.
__ADS_1
Singa terbang itu menapakkan kakinya di tanah memandangi wanita yang kelihatan ketakutan dengan singa itu. Pengendara singa tersebut turun, ia melepaskan jubah penutupnya. Lagi-lagi Yuri harus terkejut melihat putra mahkota yang ada di hadapannya. Ia langsung berlutut dan menunduk.
"Berdirilah! Kita hanya berdua, tidak perlu seformal itu kepadaku," ucap pangeran.
Yuri tak mau menurut. Baginya, aturan untuk menghormati pasangan dan keluarga kerajaan memang sebuah kewajiban. Ia terus memundukkan kepalanya.
"Apa kamu juga susah tidur?" tanya pangeran.
Yuri terkejut sang pangeran bisa menebak isi hatinya.
"Aku juga mengalami hal yang sama," ucapnya jujur.
"Apa kamu mau ikut naik Griphos? Mungkin kamu ingin tahu seperti apa negeri elf ini," ucap Pangeran.
Keinginan Yuri seakan terkabul. Bahkan, pangeran menawarkan sendiri kepadanya jika ingin naik bersamanya. Sebenarnya ia sangat ingin mencobanya, namun ia sadar diri bahwa pangeran memiliki sebuah hati yang harus dijaga, yaitu Putri Hilda.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya ingin duduk-duduk saja di sini."
Pangeran menghela napas. "Baru kali ini ada rakyat yang tidak ingin membantu putra mahkota yang sedang resah dan tidak bisa tidur. Bahkan oleh pelaku yang menjadi penyebab utama, tapi tidak mau mengaku dan bertanggung jawab," sindir pangeran.
__ADS_1
"Yang Mulia, tolong jangan memberatkan saya." Yuri masih memohon-mohon untum ditinggalkan.
"Apakah aku harus memberimu hukuman gantung atas penolakan ini?"
Yuri mendongakkan wajahnya menatap pangeran. Ia kesal dengan seseorang yang pemaksa dan suka mengancam.
"Apa kamu sudah bosan hidup? Akan aku tentukan hukumanmu nanti," ancam pangeran.
Yuri membelalakkan mata. Ia tak mau mati. Hidupnya harus bahagia dan sukses.
"Baiklah, mungkin jika kamu mati keresahanku akan ikut hilang bersamamu."
Pangeran kesal. Ia kembali naik ke atas Griphos.
"Yang Mulia! Ampuni saya!" Yuri bangkit dari sujudnya mengejar pangeran. "Saya bersedia ikut Yang Mulia menaiki Griphos," ucap Yuri.
Pangeran mengembangkan senyum, seakan ia baru saja memenangkan sebuah sayembara. Ia mempersilahkan Yuri terlebih dulu naik ke atas hewan milik istana yang telah dijinakkan. Setelah Yuri naik, barulah Pangeran mengikuti naik di belakangnya.
Bagi Yuri, rasanya ia akan naik permainan di wahana yang biasa ada di pasar malam. Hanya saja, menaiki hewan asli ini tidak memakai pengaman. Saat singa tersebut mulai berjalan dan bersiap terbang, Yuri sempat terjengkang ke belakang. Untung saja ada pangeran yang menahan tubuhnya. Ternyata, ja cukup gemetar saat melihat me bawah.
__ADS_1