Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Buah Batu


__ADS_3

"Wah, sepertinya pernikahannya telah dilangsungkan," gumam Zenzen.


"Semua orang bergembira menyambut putra mahkota, calon raja baru kita," sahut Andez.


"Seharusnya pungutan dan pajak dibebaskan selamanya. Aku yakin rakyat akan bahagia."


Yuri, Andez, dan Zenzen datang bertiga ke pasar kota. Mereka berniat membuka kedai minuman di sana sekaligus mengantar Yuri yang berminat menjadi seorang pelayan di istana. Tidak disangka hubungan mereka bertiga yang semula kurang baik kini justru bisa menjadi teman baik. Meskipun terkadang masih sering berbeda pendapat dan terjadi keributan kecil, ketiganya punya tujuan yang sama untuk sukses bersama di pusat ibu kota.


Mereka duduk di tepi danau memperhatikan keindahan cahaya yang terpancar dari istana. Malam itu telah berlangsung pernikahan antara Pangeran Adrian dengan Hilda.


Yuri tersenyum mendengar kabar gembira itu. Seperti jalannya cerita dalam novel, pangeran memang sudah seharusnya menikah dengan Hilda. Namun, ia belum bisa bernapas lega. Takdir Hilda akan diracun oleh Asteria. Sementara, ia mau tidak mau harus masuk ke dalam istana untuk mendapatkan kitab yang pernah disebutkan Aire dalam mimpinya. Itu jalan satu-satunya agar ia bisa kembali ke dunia nyata atau selamanya ia bisa terjebak di sana sebagai Yuri.


Nasib Yuri dalam cerita akan mati dipenggal oleh pangeran karena dituduh meracuni Hilda. Meskipun ia sudah terlepas dari Asteria, ia masih was-was jika nasib Yuri akan berakhir tragis seperti yang terjadi di dalam cerita.


Yurika dihadapkan pada dua pilihan. Memilih hidup tenang sebagai Yuri dan menjauhi istana, atau menantang takdirnya dengan masuk ke dalam istana demi kembali ke dunia nyata. Kitab yang harus ia dapatkan untuk diserahkan kepada Yahzen agar ia bisa dibantu untuk dipulangkan.


"Apakah kita harus kembali sekarang?" tanya Andez.


"Kenapa buru-buru? Jarang sekali kita bisa melihat indahnya langit di atas istana seperti ini." Zenzen tampak masih betah berada di sana.


"Kita besok harus jualan, apa kamu lupa?" ucap Andez dengan sinis. Hidup di wilayah ibu kota harus banting tulang agar bisa makan. Kebutuhan di sana harganya lebih tinggi dari pada di desa. Semua bahan juga harus dibeli, tidak seperti di desa yang hanya perlu masuk hutan sudah bisa makan.


"Orang ini tidak bisa diajak santai, Yuri. Seharusnya kamu tidak mengajaknya!" protes Zenzen.

__ADS_1


"Kamu yang seharusnya tidak diajak! Anak manja kepala suku mana tahu yang namanya kerja keras?"


"Apa kamu bilang? Mau cari ribut?" Zenzen sudah berdiri bersiap adu kekuatan dengap Andez.


"Apa? Kamu pikir aku takut?" Andez tak mau kalah.


Yuri berperan sebagai penengah, menahan kedua orang yang emosinya sudah hampir memuncak. "Bisa damai tidak? Sepertinya aku seharusnya tidak mengajak kalian berdua. Pulang saja sana ke desa dari pada membuatku pusing!" gerutu Yuri. Ia memilih berjalan pergi meninggalkan kedua lelaki itu.


Andez dan Zenzen mengikuti Yuri di belakang. Terpaksa mereka berhenti bertengkar agar Yuri tidak marah. Sejak awal memang mereka yang memaksa untuk ikut pergi. Yuri berniat masuk istana sebagai pelayan, sementara Andez dan Zenzen juga ingin masuk sebagai prajurit.


Untuk bertahan hidup di sana sebelum pemilihan pelayan dan prajurit baru dilakukan, mereka memilih berjualan minuman. Yuri yang memiliki ide membuat minuman segar dari buah batu yang banyak terdapat di hutan.


Andez dan Zenzen sendiri yang sudah lama mengetahui buah batu, mereka tidak tahu kalau buah itu bisa dimakan. Bentuknya bulat, kulitnya sekeras batu. Isinya banyak bijinya yang bercampur dengan daging buah berwarna coklat dan rasanya sangat masam.


"Zenzen, kamu bagian memecahkan buahnya! Aku bagian mengeluarkan isinya!" seru Andez.


"Main perintah, memangnya kamu siapa?"


Andez langsung mendelik. Satu orang itu membuatnya selalu ingin emosi dan memukulnya.


Zenzen tampak menghela napas. Daripada kembali ribut dengan Andez, ia memilih mengerjakan bagiannya. Satu keranjang penuh buah tersebut harus ia buka satu per satu. Dia yang awalnya tak pernah melakukan kerja apapun, kini menjadi anak rajin sejak bersama Yuri.


Plak!

__ADS_1


Zenzen memukulkan buah batu tersebut pada batu. Kalau beruntung, satu kali pukulan buah telah terbuka. Sering kali butuh beberapa kali pukulan agar biaa terbuka. Setelah buah terbuka, giliran Andez yang telaten mengeluarkan isi buah tersebut dan menampungnya dalam sebuah wadah.


Sementara itu, Yuri berkutat di dekat perapian memanaskan satu kuali besar air yang akan digunakan untuk merebut isi buah tersebut. Di dunianya, buah yang akan diolah disebut sebagai buah kawis. Sementara di sana, buah tersebut belum bisa dimanfaatkan padahal rasanya enak dan menyegarkan. Terbukti saat kedai pertama kali dibuka, orang yang awalnya heran dengan minuman tersebut, kini sudah menjadi ketagihan bahkan lebih memilih minuman dari buah batu dari pada minuman lainnya. Apalagi cocok dipadukan dengan roti saat sarapan pagi.


"Heh! Andez! Apa kamu tahu apa sebenarnya keinginan Yuri untuk bisa lolos sebagai pelayan istana?" tanya Zenzen.


"Kenapa kamu tidak tanyakan kepadanya langsung? Memangnya siapa aku sampai bisa tahu apa isi kepalanya." Andez berusaha cuek dengan pertanyaan Zenzen. Ia masih fokus dengan pekerjaannya.


"Kalau dia mau menjawabnya, aku tidak mungkin bertanya padamu. Sepertinya kamu juga tidak tahu kalau Yuri juga sangat ingin pergi ke tempat petapa Yahzen untuk meminta air suci."


Andez terdiam sebentar. "Jangan pernah kamu berani mengantarnya ke sana! Aku akan menghajarmu!" ucap Andez.


"Memangnya siapa yang berniat mengantarnya ke sana? Aku juga tidak mau melihatnya kembali mendapatkan aura elf. Dia harus tetap sama dengan kita sebagai elf biasa."


"Apa yang kalian bicarakan dari tadi? Apa kalian sudah bosan bekerja? Kalian menggerutu di belakangku?" sahut Yuri dari arah belakang. Ia mendengar samar-samar keduanya terus mengoceh tanpa henti. "Selesaiakan pekerjaan kalian malam ini!"


"Iya, iya ... dasar cerewet!" gerutu Zenzen.


"Berani protes, aku pulangkan kamu ke kampung, Zenzen!" ancam Yuri.


"Ya, pulangkan saja dia. Aku juga pusing harus bekerja sembari mendengarkan keluhannya."


Zenzen berdecih. Andez sangat bisa mengambil kesempatan untuk menjelek-jelekkan dirinya. "Tidak, Yuri ... aku tidak akan protes kepadamu," ucapnya dengan senyuman manis.

__ADS_1


Entah mengapa jika berhadapan dengan Yuri, Zenzen tidak bisa melawan. Dia sangat mengagumi wanita itu, baik parasnya, semangatnya, dan kerja kerasnya. Ia tahu betapa Yuri sangat mantap meraih cita-citanya, termasuk untuk masuk istana.


__ADS_2