Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Yuri pergi pagi hari menuju hutan setelah berpamitan dengan ayahnya. Ia bilang ingin mencari bahan-bahan untuk dibuat ramuan yang baru. Padahal, ia ingin pergi ke tempat yang muncul dalam mimpinya.


Yuri tidak menceritakan tentang mimpinya kepada Grafin. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika ayahnya tahu, Yuri pasti akan dilarang masuk ke dalam istana. Menurut Grafin, istana merupakan tempat yang berbahaya untuk dirinya.


Ia sudah membulatkan tekad untuk mewujudkan mimpinya. Ia yakin yang mendatanginya benar-benar Aire, ibu kandung Yuri. Ia ingin kembali ke dunia asalnya. Satu-satunya cara dengan mengikuti apa yang Aire katakan.


Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemukan busur dan anak panah milik Aire yang disembunyikan di belakang air terjun. Saat ia tiba di tempat itu, suasanya sudah cukup terang. Air terjun mengalir dengan derasnya seperti biasa. Kejernihan dan kesegaran airnya mengundang orang untuk secenak menceburkan diri ke dalamnya.


Yuri belum pernah melihat lebih dekat air terjun tersebut. Ia sebatas berada di sana untuk berlatih pedang setiap hari. Tempat ng trnang diperlukan agar ia bisa fokus pada latihannya.


Yuri melompati satu per satu batu yang ada di pingiran sungai. Ia hendak mendekat ke arah belakang air terjun yang selalu berderu keras alirannya. Jalan yang harus dilalui cukup menyulitkan, namun rasa penasaran membuatnya nekad untuk tetap melewatinya. Ia sampai harus memanjat tebing dengan akar-akar timbuhan yang merambat.


Setelah berjuang dengan keras, akhirnya ia berhasil naik di atas. Ternyata, di sana ada jalan yang terbentang di balik derasnya air terjun. Tempat itu seperti semacam goa tersembunyi yang ada di balik air terjun.


Yuri menyalakan obor yang dibawanya dengan menggosokkan kayu kering. Ia gunakan obor tersebut untuk menerangi goa yang tampak sangat gelap. Tanpa rasa takut, ia menyusuri goa yang cukup luas itu.


Tanpa kesulitan yang berarti, Yuri berhasil menemukan busur panah beserta anak panahnya di sudut goa bagian dalam. Benda itu tergeletak dengan rapi di atas sebuah batu besar dengan bagian atas yang datar menyerupai meja. Kondisi busurnya masih sangat bagus. Yuri yakin benda itu memang benar-benar milik Aire.


Bentuk busur itu terlihat begitu indah dengan ukiran naga. Yuri mengangkat dan memcoba memegangnya. Hal yang pertama ia rasakan seolah benda itu telah menyatu dengan tubuhnya. Meski bentuknya agak besar, namun ringan di tangan. Yuri mengambil quiver dan membawanya dalam gendongan. Ia sudah tidak sabar untuk mencobanya.


Yuri keluar dari dalam goa membawa peralatan memanah tersebut. Ia membali menaiki tebing menuju tempat yang lebih atas sekalian menjangkau aliran sungai yang ada di atas air terjun.


Dari tempat tinggi tersebut, ia memandang ke arah bawah sembari tersenyum lebar. Pemandangan di sana terlihat sangat cantik. Bahkan, desa tempatnya tinggal terlihat sangat kecil.


Ia melanjutkan perjalananya menuju lebih ke dalam hutan. Percobaan pertamanya ia akan berburu rusa atau ayam hutan. Kalau beruntung bisa mendapatkannya, ia akan bawa pulang untuk ayahnya.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya tanpa sadar ia telah masuk ke dalam hutan. Ada banyak binatang buruan yang bisa dijadikan sebagai target. Mata Yuri yang jeli telah fokus memilih rusa jantan yang sedang meminum air pada kubangan yang ada di hutan.


Perlahan Yuri berjalan mendekat ke arah target tanpa suara. Ia siap dengan busurnya lalu mengambil salah satu anak panah dari quiver. Fokusnya tetap terarah pada target. Saat telah yakin dengan buruannya, ia lepaskan anak panah yang langsung melesat cepat ke arah target.


Stab!


Anak panah yang dilesatkannya berhasil mengenai sasaran. Rusa yang dipanahnya berlari membawa anak panah yang menancap di tubuh. Yuri yakin buruannya tidak akan berlari terlalu jauh darinya. Ia segers berlari mengejar rusa tersebut.


"Kamu tidak akan lari jauh dariku, rusaku sayang," ucapnya.


Ini pertama kalinya Yuri memegang alat panah. Ia heran mengapa tangannya terasa ringan bergerak sesuai target yang diincarnya. Ia seakan merupakan seorang pemanah profesional.


"Uuhh ... Ahhh ...."


"Uuhh ... Aahhh ...."


Yuri keheranan. Ia kembali mendengarkan suars rintihan seperti manusia. "Apakah rusa itu berubah menjadi manusia atau elf? Bukankah itu tidak mungkin?" Yuri ingin menertawakan isi pikirannya sendiri. Mungkin karena terlalu banyak menonton drama-drama romantis. maka otomatis pikirannya dipenuhi oleh mereka.


"Astaga!" Yuri berjongkrak kaget saat mendapati seorang elf lelaki sedang bersandar pada sebuah batang pohon dalam kondisi sekarat. Tubuhnya terlihat lemas, darah terus mengalir dari arah dadanya yang seperti terkena luka bekas panah. Melihat kondisi luka dan darahnya yang berubah pekat, Yuri pastikan anak panah itu sempat diberi racun sebelum mengenai targetnya.


Saat mengecek kondisi lelaki itu yang hampir mati, Yuri kembali terkejut. "Yang Mulia Pangeran!" serunya tak percaya. Ia tidak mengira akan dipertemukan dengan pangeran di tempat seperti itu.


Pangeran Adrian sudsh tidak bisa merespon. Kondisinya setengah sekarat. Yuri bingung sendiri bagaimana cara membawa pangeran. Lukanya harus segera diobati agar tidak menjalar.


Hiirr .... Brem!

__ADS_1


Saat tengah memikirkan kondisi pangeran, seekor kuda putih bertanduk unicorn datang menghampiri mereka. Hercules, kuda milik pangeran ternyata juga datang mencemaskan tuannya. Tanpa pikir panjang lagi, Yuri mengangkat tubuh Adrian ke atas kuda unicorn.


***


"Tuan, jejak darahnya ada di sekitar sini!" lapor salah seorang prajurit kepada pimpinannya.


"Cari dia sampai ketemu!"


"Baik, Tuan."


Seorang bangsawan bernama Tremp ditemani puluhan prajurit tampak sedang kebingungan mencari sesuatu di hutan. Mereka membabat semak-semak yang menghalangi jalan mereka.


"Tuan! Kemarilah sebentar!" seru salah seorang prajurit.


Bangsawan bergegas mengahampiri anak buahnya yang meneriakkan sesuatu. Betapa tercengangnya mereka saat melihat seekor rusa yang mati terkena panah. Lelaki itu tampak geram mengetahuinya.


"Ah! Sialan!" teriaknya. Ia mengamuk sampai memukuli batang kayu yang tidak bersalah.


Ini adalah kesempatn terakhirnya untuk menyingkirkan pangeran jika ingin mendapatkan posisi yang baik dalam istana. Jika ia berhasil menghabisi pangeran, ia akan diberikan uang yang sangat banyak dan kedudukan tinggi. Siapapun pasti akan memilih menjadi kaya.


Tremp sengaja mengikuti acara berburu yang biasa dilakukan kerajaan supaya ada alasan untuk membuvuh sang pangeran yang menjadi kandidat terkuat sebagai calon raja atau putra mahkota.


Ia yakin telah berhasil melukai pangeran dengan panah beracunnya. Seharusnya pangeran masih berada di area sekitar sana dan tidak bisa pergi jauh-jauh dengan lukanya. Akan tetapi, pada kenyataannya ia hanya menemukan seekor rusa yang terpanah. Jejak darah yang sedari tadi mereka telusuri ternyata hanya sebatas darah binatang.


"Sialan!" Tremp kembali menyalurkan kemarahannya dengan cara memukul pohon

__ADS_1


__ADS_2