Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Terpisah


__ADS_3

Pangeran Adrian menunggu dengan gusar kepulangan Hercules dan Yuri. Ia tetap bertahan di dalam goa karena belum bisa terlalu leluasa bergerak akibat lukanya.


Yuri pergi terlalu lama. Adrian khawatir wanita itu bertemu dengan penjahat yang sempat ingin membunuhnya. Ia memerintahkan Hercules untuk pergi mencari Yuri. Hercules kuda yang cerdas, Adrian yakin kudanya bisa menemukan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya itu.


Pandangannya tertuju pada benda berkilau yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. Ia mengambilnya. Sebuah ornamen hiasan rambut berbentuk burung merak yang cantik milik Yuri. Ia memperhatikannya secara seksama. Benda itu setahu dirinya memiliki harga yang tinggi.


Tuk tuk tuk


Terdengar suara langkah kaki Hercules semakin mendekat ke arahnya. Adrian menyimpulkan senyuman.


"Yang Mulia!"


Senyuman Adrian memudar saat melihat kehadiran Ezra dan beberapa pengawalnya. Ia kira Yuri telah kembali, tapi Hercules malah justru menemukan pengawalnya.


Ezra terlihat cemas melihat kondisi pangeran. "Anda terluka? Kita harus segera membawa Anda pulang ke istana, Yang Mulia."


"Aku tidak apa-apa. Seseorang telah mengobatiku dan mungkin sebentar lagi dia akan kembali membawakan obat untukku."


Ezra mengecek kondisi luka yang dialami pangeran. Luka itu telah dibalut dengan rapi dan ditempeli ramuan yang memang sangat cocok untuk menangani racun yang digunakan pada alat panah musuh. Ia penasaran dengan orang yang telah menyelamatkan pangeran.


"Yang Mulia, kondisi istana sedang gempar karena Anda menghilang. Beredar pula isu bahwa Anda telah meninggal. Lebih baik kita segera kembali sebelum hari semakin larut untuk menghindari bahaya di perjalanan."


Adrian tersenyum seringai membayangkan kondisi istana saat ia tidak berada di sana. Sebagian keluarga kerajaan pasti sangat senang ia menghilang. Apalagi kalau ia mati. Ada pihak-pihak yang tidak menginginkan dirinya sebagai penerus raja karena dianggap terlalu berani dan revolusioner pemikirannya.


"Kita tunggu sebentar orang yang telah menyelamatkanku. Setidaknya aku perlu mengucapkan terima kasih padanya."


"Yang Mulia, apa dia tahu kalau Anda seorang pangeran?"

__ADS_1


Adrian merasa aneh dengan pertanyaan Ezra. "Tentu saja. Dia bilang ia tahu kalau aku pangeran. Memangnya kenapa?"


"Kalau begitu, kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, Yang Mulia. Bisa jadi orang yang telah menolong Anda berniat membawa pasukan musuh yang lain untuk mengepung kita. Ada banyak pihak yang akan berusaha menyingkirkan Anda dalam kondisi seperti ini."


Ucapan Ezra ada benarnya. Ia sudah terlalu lama menunggu Yuri kembali. Wanita itu hanya berniat sekedar mencarikan obat dan makanan di hutan tapi sangat lama. Kemungkinannya ada dua, wanita itu telah mati di tangan musuh, atau wanita itu memang mata-mata pihak musuh.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang!" Setelah menimbang beberapa kemungkinan, Adrian akhirnya memilih untuk mengalah.


Ezra membantu pangeran berjalan. Di depan goa sudah terdapat kereta kuda yang siap mengantarkan dirinya kembali ke istana. Ia duduk di dalam, sementara Ezra menunggangi kuda bersama prajurit yang lain untuk mengiring kereta pangeran. Kuda Hercules turut berjalan membuntuti Ezra.


Di dalam kereta, Adrian terus memandangi ornamen rambut yang Yuri tinggalkan. Ia berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan wanita yang telah menyelamatkannya itu.


***


Di bagian lain, Yuri mengendarai kuda diiringi oleh Zenzen dan Andez. Mereka sengaja melakukan adu balap kuda agar lebih semangat dan cepat sampai ke tempat yang dituju.


"Kamu benar. Aku menemukan sebuah goa besar di belakang air terjun."


"Benarkah? Apa kamu tidak bercanda?" Andez menyangsikan ucapan Yuri.


"Aku serius. Bahkan aku telah menyelamatkan Pangeran dan menyuruhnya bersembunyi di goa itu."


"Pangeran? Apa maksudmu pangeran kodok?" ledek Zenzen.


Kedua lelaki itu tertawa mendengar cerita Yuri. Menurutnya, apa yang mereka dengar itu hal mustahil. Zenzen dan Andez merupakan orang lama yang sejak kecil sudah hidup di desa dan telah menjelajahi seisi hutan yang ada di sekitarnya. Tidak pernah mereka tahu ada goa atau bertemu keluarga kerajaan yang masuk ke wilayah hutan itu.


Yuri merasa sedikit kesal. Ia memacu kudanya lebih cepat dari pada kedua lelaki tersebut. Ia ingin segera membuktikan bahwa ucapannya itu memang benar.

__ADS_1


"Yuri! Jangan marah! Kami hanya bercanda!" seru Andez. Ia dan Zenzen turut memacu kudanya lebih cepat agar bisa menyusul wanita itu.


Setibanya di area air terjun, mereka sama-sama turun dari atas kuda, mengikat kuda-kuda itu pada batang pohon agar tidak kabur. Yuri mengajak kedua lelaki itu untuk memanjat tebing menuju ke atas.


Betapa terkejutnya kedua lelaki itu saat menyadari bahwa apa yang diucapkan Yuri memang benar, bukan sekedar omong kosong. Di belakang air terjun memang terdapat sebuah goa yang cukup besar. Tetapi sayangnya, saat mereka masuk ke dalam, tidak ada seorangpun di dalam sana. Pangeran Adrian menghilang. Hanya tersisa sampah-sampah bekas makanannya dan juga kain berlumur darah dari luka pangeran.


"Aku sungguh telah merawat Pangeran Adrian kemarin. Ia termena panah beracun saat di hutan sebelah atas." Yuri sedikit kecewa. Padahal ia ingin membuktikan kalau ucapannya benar.


"Kami percaya kamu telah menolong seseorang, Yuri. Tapi, belum tentu yang kamu tolong adalah orang lain. Tidak ada penduduk desa yang mengetahui seperti apa paras Pangeran Adrian." Andez menepuk pundak Yuri.


Apa ya Andez katakan masuk akal. Di antara mereka bertiga, hanya Yuri yang pernah melihat pangeran secara langsung. Ia mencoba untuk tidak terlihat emosi.


"Mungkin orang yang kamu tolong telah dijemput keluarganya. Aku melihat ada jejak roda kereta yang melintas di depan sana," sahut Zenzen yang berada di depan pintu masuk goa.


Entah mengapa kedua lelaki itu tiba-tiba menjadi kompak. Mereka tidak ingin Yuri merasa sedih hanya karena kehilangan rasa kepercayaannya.


"Bagaimana kalau kita makan bekal yang kamu bawa mumpung kita di sini?" usul Andez. Kebetulan ia merasa sangat lapar karena sejak pagi belum sempat sarapan. Zenzen mendobrak paksa rumahnya dan mencari ribut dengannya hanya karena Yuri menghilang.


"Ya sudahlah! Mari kita makan!" Yuri mencoba menghilangkan rasa kecewanya karena ditinggal pangeran. Ia mengeluarkan semua makanan yang dibawanya, menyuruh Zenzen dan Andez untuk memakan bersama.


Yuri merasa bodoh. Seharusnya ia tidak perlu bersusah payah berdandan dari rumah hanya untuk terlihat cantik di hadapan pangeran. Sejenak ia lupa diri bahwa nasibnya sebagai elf biasa tidak akan mungkin berjodoh dengan orang semulia pangeran. Ia ingin menertawakan diri sendiri yang bisa tertarik berkhayal setinggi itu.


'Kamu itu sedang mikir apa, Yurika ... Yurika ... memangnya kamu ingin selamanya terjebak di dunia ini?' ia berbicara kepada dirinya sendiri.


❤❤❤


Terima kasih atas dukungannya 😘

__ADS_1


__ADS_2