
"Eugh ...."
Pangeran Adrian mulai membuka matanya perlahan. Napasnya terasa agak sesak seperti ada yang membebani dadanya. Saat ia menoleh ke samping, ada seorang wanita yang sedang tidur sembari memeluknya.
Sesaat ia ia terkejut. Memori dalam otaknya mengulang kejadian kemarin. Ia sedang berburu bersama Ezra dan beberapa anak buahnya. Saat berada di tengah hutan, tiba-tiba datang serangan dari pasukan tak dikenal yang berpenampilan seperti ninja. Mereka terus menghujani rombongan pangeran dengan anak panah beracun.
Ezra sudah berusaha menghalau pasukan penyerang agar tidak menyasar pangeran. Mereka akhirnya terpisah, namun ternyata masih ada beberapa orang yang mengikuti pangeran. Saat mereka melakukan adu memanah, pangeran terkena salah satu anak panah yang dilesatkan musuh. Dadanya terkena panah beracun itu.
Pangeran berusaha bersembunyi dari kejaran musuh. Akan tetapi, pengaruh racun begitu cepat bereaksi. Tubuhnya tak berdaya digerakkan hingga akhirnya ia jatuh pingsan. Sebelum tak sadarkan diri, pangeran sempat melihat seseorang menghampirinya. Ia yakin wanita yang saat ini masih memeluknya dengan erat merupakan penolongnya.
"Hemmm ...."
Wanita di sampingnya mulai menggeliatkan tubuhnya. Bukannya terbangun, sepertinya ia semakin nyenyak tidur. Pangeran melirik sedikit ke arah wanita yang sedang tersenyum dengan mata tertutup.
Yuri merasakan sangat nyaman dalam tidurnya. Selama di dunia elf, ia rasa baru kali ini bisa tidur dengan sangat nyaman. Ia merasa damai dan terlindungi. Tangannya meraba-raba permukaan benda yang digunakannya untuk bersandar selama tidur. Meskipun tak terlalu empuk, namun tetap terasa nyaman. Tangannya terus bergerak menyusuri benda hangat itu. Hingga akhirnya ia tak sengaja memegang sesuatu yang terasa keras tak seperti bagian lainnya. Merasa ada yang aneh, ia mulai membuka mata. Ia menoleh ke atas. Ada sepasang mata yang sedang menatapnya.
"Ah!" serunya.
Yuri segera beranjak dari tempatnya. Ia sampai lupa kalau semalaman telah lancang memeluk tubuh suci seorang pangeran elf. "Aku pasti akan digantung!" lirihnya. Ia meringkuk di tepi goa sembari menutupkan jubah pada tubuhnya.
Pangeran Adrian perlahan bangkit dari pembaringannya. Raut wajahnya seakan menahan rasa sakit saat menggerakkan tubuhnya.
"Hati-hati!" reflek Yuri berseru karena luka di dada pangeran belum sembuh. Melihat pangeran yang sepertinya bisa duduk dengan baik, ia kembali menunduk. "Maafkan saya, Yang Mulia," ucapnya.
"Semalam hujan sangat deras dan saya kedinginan. Saya hanya memiliki selembar jubah untuk menghangatkan tubuh Anda, jadi saya ikut masuk selimut supaya tidak kedinginan." Yuri memilih untuk mengatakan yang sebenarnya daripada pangeran marah.
"Apa kamu yang telah menolongku?" tanya pangeran.
Yuri terkejut karena mengira pangeran akan memarahinya. "Benar, Yang Mulia."
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu kalau aku adalah pangeran?"
Yuri mengangkat kepalanya. Ia memandangi pangeran yang ada di hadapannya, wajah pangeran masih terlihat pucat. Aura elf milik pangeran juga masih belum kembali. Jika elf biasa yang belum pernah bertemu keluarga kerajaan, pasti tidak akan mengenal siapa Pangeran Adrian. Makanya pangeran menanyakan hal tersebut kepada Yuri.
"Saya ... pernah bekerja di perkebunan anggur milik bangsawan Jansen, Yang Mulia. Saat itu Anda datang bersama rombongan untuk membawa anggur-anggur di sana ke istana."
Adrian kembali menatap ke arah wanita itu. Elf yang terlihat cukup cantik sebagai elf wanita biasa. Ia merasa belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Jika ada seorang pelayan secantik dia, seharusnya ia akan cepat terkenal di kalangan bangsawan.
"Yang Mulia, saya akan memasakkan sesuatu. Anda pasti kelaparan sejak semalam belum makan."
Yuri bergegas bangkit dari tempatnya. Ia mengambil bahan makanan yang kemarin sempat dikumpulkannya. Yuri bahkan masih menyimpan dua ekor ikan tangkapannya dalam kendi berisi air agar tetap segar saat dimasak. Apalagi makanan itu untuk pangeran.
"Yang Mulia, saya akan pergi ke sungai sebentar," pamitnya.
Sembari menunggu umbi yang direbusnya matang, ia pergi ke sungai untuk membersihkan diri secara kilat. Ia memandangi bayangan dirinya sendiri di dalam air. Menurutnya, wajahnya kini sudah lebih terlihat cerah dan terawat berkat rajin menggunakan bahan-bahan alam untuk mempercantik wajahnya secara alami. Ia mengambil satu kendi air untuk di bawa kembali ke dalam goa.
"Yang Mulia, saya akan membersihkan tubuh Anda dan mengganti obatnya."
Kondisi lukanya sudah membaik, tidak sehitam sebelumnya. Ia membersihkan tubuh pangeran dengan air yang diambilnya dari sungai secara perlahan dan hati-hati. Sesekali ia melihat pangeran menahan rintihan saat tangannya tak sengaja menyenggol area luka.
"Maafkan saya, Yang Mulia," ucapnya. Seakan tak ada lagi kata-kata selain maaf.
"Siapa namamu?" tanya Pangeran.
Yuri menghentikan sejenak kegiatannya. "Kenapa Anda menanyakan nama saya? Apa setelah ini saya akan digantung?" tanyanya polos.
Pangeran tertawa kecil. Respon Yuri sangat lucu menurutnya. "Kalau aku bilang akan menggantungmu, pasti kamu akan langsung membunuhku."
"Mana berani saya berkata seperti itu, Yang Mulia." Yuri menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu nama penolongku," ucapnya.
Yuri mangguk-mangguk. "Nama saya Yuri," ucapnya. Ia menggantikan ramuan yang semalam ditempelkan dengan ramuan baru. Ia kembali mengikat ramuan tersebut dengan merobek pakaian bawahnya.
Pangeran tercengang dengan apa yang Yuri lakukan. Wanita itu rela merusak pakaiannya sendiri untuk mengobatinya. Pandangannya terpaku pada hiasan rambut yang dikenakan Yuri. Hiasan rambut bercorak burung merak yang biasanya dipakai oleh elf wanita bangsawan itu juga tampak cocok dipakai seorwng elf wanita biasa.
"Saya akan menyiapkan makanan Anda, Yang Mulia."
Yuri kembali menghampiri tungku masaknya. Umbi yang direbusnya telah matang. Ia membakar ikan segar sebagai lauknya. Setelah semua matang, ia hidangkan di hadapan pangeran.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Hanya ini yang bisa saya hidangkan."
"Kenapa sejak tadi kamu terus meminta maaf? Bukankah seharusnya aku yang berterima kasih berkali-kali karena telah menyelamatkan nyawaku?"
"Saya hanya kebetulan lewat dan menemukan Anda di hutan sana."
"Mungkin pertemuan kita adalah takdir," ucap Pangeran.
Keduanya menikmati makanan yang tersedia dengan lahap. Menu sederhana itu terasa sangat enak di kala perut sangat lapar.
"Apa luka Anda masih terasa sakit?" tanya Yuri.
"Kalau aku gerakkan tubuh rasanya sakit."
"Berarti Anda harus banyak istirahat supaya cepat sembuh."
Racun yang digunakan kelompok musuh cukup mematikan. Pangeran takjub wanita itu bisa membuatkan ramuan yang jarang diketahui oleh orang biasa. Perawatan yang dilakukan juga sangat baik dan hati-hati. Terbersit keinginan di hatinya untuk menjadikan wanita itu sebagai pelayan yang akan merawatnya.
"Yang Mulia, saya akan pergi sebentar mencari obat dan makanan. Anda tetaplah menunggu di sini sampai kondisi aman."
__ADS_1
Yuri bersiap membawa busur panah dan anak panah yang tergantung di punggungnya. Ia mengambil kuda kesayangannya, lalu menungganginya.
Yuri berencana akan pulang ke rumah sebentar. Ayahnya pasti sangat khawatir karena ia tak kunjung pulang semalaman. Selain untuk menenangkan perasaan sang ayah, ia akan mengambil obat-obatan yang lebih baik. Pangeran perlu ia rawat selama beberapa hari agar cepat pulih dan bisa kembali ke istana.