
Malam semakin larut, Yuri melanjutkan langkahnya menuju bagian paling belakang istana yang menjadi tempat tinggalnya sebagai pelayan. Ia terus memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Dengan pakaian basah kuyup, hawa dingin malam semakin menusuk sampai ke tulang-tulang. Tidak sabar ia ingin segera sampai di tempat untuk mengganti pakaian.
Saat melewati sebuah bangunan, tiba-tiba ada orang yang membekap mulutnya seraya menariknya. Yuri berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Dari kekuatan tenaganya, ia bisa memperkirakan jika orang tersebut adalah seorang lelaki.
Tubuhnya terus diseret paksa memasuki suatu ruangan. Ia tidak ingin semakin kalah dengan orang yang berusaha jahat kepadanya. Dengan segenap kekuatan yang dimiliki, Yuri berhasil melepaskan diri.
"Dasar kurang ajar! Berani-beraninya kamu melawan seorang wanita, hah!" Yuri melayangkan satu tendangan hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur.
Yuri kembali berpikir seandainya di dunianya ia bisa bersikap tegas dan tidak takut kehilangan karir, ia pasti tidak akan mudah dilecehkan oleh orang lain. Ia hanya perlu keberanian untuk mengatakan tidak kepada hal-hal yang tidak disukainya. Namun, hal itu sangat sulit dilakukan.
"Ah!" Lelaki itu memekik.
Yuri seakan mengenali suara familiar itu. Ia yang awalnya berniat kabur kembali berbalik memperhatikan secara seksama lelaki yang baru saja ditendangnya. Matanya langsung melotot mengetahui lelaki itu ternyata adalah pangeran.
"Yang Mulia!" Yuri bersujud seketika di hadapan putra mahkota. Bayangan kematian selalu saja menghantuinya setiap kali membuat masalah. Ia sudah sangat berusaha berhati-hati, namun musibah tetap saja terjadi.
Pangeran masih memegangi perutnya yang lumayan sakit. "Apa kamu berniat membunuhku?" tanya pangeran dengan nada bergurau.
"Tidak, Yang Mulia. Saya sungguh tidak sengaja." Yuri merasa sebentar lagi ia akan masuk penjara dan digantung.
"Benarkah? Tendanganmu sangat sakit tapi dibilang tidak sengaja?"
"Saya kita Yang Mulia seseorang yang berniat jahat kepada saya," ucap Yuri.
"Bagaimana mungkin aku berniat jahat kepada wanita yang sangat aku sayangi?" Pangeran menarik tangan Yuri. Ia membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Kenapa kamu berkeliaran dengan pakaian basah kuyup begini? Apa kamu ingin menggoda semua kaum lelaki di istana ini?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya baru saja menolong Putri Hilda yang tercebur ke dalam kolam teratai."
"Kamu bisa sakit kalau seperti ini terlalu lama. Kamu butuh mandi air hangat," ucap Pangeran seraya mengangkat tubuh Yuri dalam gendongannya.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda mau membawa saya kemana?" Yuri terkejut tiba-tiba pangeran menggendongnya.
"Aku akan memandikanmu agar tidak masuk angin," ucap pangeran.
"Yang Mulia, tolong hentikan! Ini tidak pantas dilakukan oleh seorang putra mahkota kepada pelayannya.,"
Pangeran tak mendengarkan ucapan Yuri. Ia terus membawa wanita itu berjalan masuk ke dalam. Ternyata, tempat yang Yuri datangi kali ini adalah tempat mandi milik putra mahkota.
"Yang Mulia ...." Yuri mencoba menolak kemauan pangeran, namun wanita itu terus membawanya masuk ke dalam kolam air hangat berisi taburan bunga sebagai aroma pewangi.
Pangeran mengajak Yuri berendam di dalam kolam air hangat tersebut. Tubuh terasa nyaman saat air menyentuh kulit.
Pangeran terus memeluk Yuri dengan erat. "Kenapa menemuimu menjadi sangat sulit setelah dirimu masuk istana?"
Yuri tak bisa menjawabnya. Ia berharap segera bisa menemukan kitab yang dicarinya dan pergi sejauh mungkin dari tempat ini.
"Yang Mulia, tolong ... jangan lakukan!" Yuri menghentikan tangan pangeran yang hendak melepaskan pakaiannya. Bagian lengannya bahkan sudah melorot ke bawah.
"Maksud saya bukan seperti itu, Yang Mulia. Saya hanya sebatas ingin melayani Anda seperti para pelayan lainnya," kilah Yuri.
Pangeran tertawa kecil. "Aku tidak akan memasukkanmu ke istana jika hanya menjadi seorang pelayan biasa, Yuri."
"Melayani Anda di tempat tidur bukan tugas saya, Yang Mulia. Itu tugas Tuan Putri." Yuri menundukkan pandangannya. Ia kembali teringat kepada Hilda yang wajahnya terlihat sedih saat ia tolong.
"Bagaimana kalau aku menginginkanmu? Apa kamu berani untuk menolaknya?"
"Yang Mulia ...." Yuri tidak suka mendengar pangeran berkata seperti itu.
"Bukankah kamu sendiri yang menawarkan persyaratan ini?"
__ADS_1
Pangeran tipe yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan orang lain. Ia tak peduli dengan kemauan Yuri yang berubah dari sebelumnya. Dengan perlahan ia singkirkan lengan pakaian yang menutupi hingga bahu Yuri terbuka. Ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sana.
"Yang Mulia, tolong hentikan. Ini tidak pantas dilakukan oleh seorang putra mahkota." Yuri berharap pangeran bisa menyadari posisinya.
"Kita sudah sepakat menyembunyikan ini dari siapapun. Kamu milikku saat kita berdua dan aku akan berpura-pura tidak mengenalmu saat kita berada di luar."
"Putri Hilda baru saja terkena musibah. Seharusnya Yang Mulia berada di sisinya, bukan malah menghabiskan waktu dengan pelayan seperti saya."
Pangeran menghentikan perbuatannya. Kata-kata Yuri membuat perasaannya menjadi sakit. Sejak ia hidup, tidak pernah bisa sekalipun ia benar-benar melakukan apa yang diinginkannya.
"Aku sungguh tidak peduli kepadanya. Apapun yang akan terjadi padanya, aku tidak peduli."
Yuri membulatkan mata. Perkataan pangeran sangat mengejutkan. Bisa-bisanya pangeran menyia-nyiakan wanita setulus Hilda. Ia semakin merasa bersalah, pangeran telah kehilangan rasa cintanya terhadap Hilda.
Ia telah bertekad untuk mempersatukan kembali pangeran dan Hilda. Nanum, jika pangeran sudah tak memiliki rasa kepadanya, akan sulit untuk mempersatukan kedunya. Jika hal itu terjadi, Hilda bisa tersingkir. Kemungkinan Asteria yang akan masuk mengisi kekosongan tersebut.
Yuri membalikkan tubuhnya menghadap pangeran. Dengan tatapan mata yang serius, ia memandangi wajah calon raja tersebut. "Yang Mulia, saya ingin mengajukan satu permohonan lagi," ucapnya.
"Apa?" Pangeran menatap heran ke arah Yuri.
"Perlakukan Putri Hilda dengan baik, berikan dia kasih sayang dan cinta dengan tulus dari Yang Mulia."
Pangeran membuang wajahnya. Ia tak menyukai ucapan Yuri. "Permintaanmu sudah sangat berlebihan," ucapnya.
"Jika Yang Mulia bersedia memperlakukan Putri Hilda dengan baik, saya rela melakukan apa saja yang diinginkan Yang Mulia. Termasuk menyerahkan diri saya malam ini."
Pangeran kembali menatap Yuri. Wanita itu selalu memiliki jalan pikiran yang aneh. Tidak ada wanita yang ingin diduakan, juga berbagi cinta dengan wanita lain. Berbeda dengan Yuri, ia justru berharap pangeran juga bisa mencintai Hilda seperti pangeran mencintai dirinya.
"Cintai Tuan Putri di depan semua orang, lalu Yang Mulia boleh mencintai saya di belakang mereka."
__ADS_1
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu?" tanya Pangeran.
Yuri mengangguk. "Yang Mulia, temuilah Tuan Putri, berikan dia perhatian agar tidak sedih karena peristiwa yang baru menimpanya," pinta Hilda. "Saya akan menunggu Yang Mulia di kamar ini sampai Yang Mulia kembali."