Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Ezra Marah


__ADS_3

Pangeran memenuhi kemauan Yuri. Ia mengunjungi kediaman Putri Hilda untuk melihat kondisi istrinya.


"Yang Mulia!" Hilda berusaha turun dari ranjangnya saat pangeran tiba. Ia ingin memberikan salamnya.


Pangeran mencegahnya. Ia menghampiri Hilda dan menahannya agar tetap berbaring di sana.


"Aku dengar kamu jatuh ke kolam, bagaimana kondisimu?" tanya pangeran.


Hilda menyungingkan senyum. Perhatian yang pangeran berikan padanya sangat berarti. Hatinya terasa hangat dengan kehadiran pangeran di sisinya. Sudah lama pangeran tak mengunjunginya dan malam ini ia merasa bahagia dipedulikan oleh putra mahkota.


"Saya baik-baik saja, Yang Mulia," jawabnya.


Pangeran menarik Hilda ke dalam pelukannya. Terkadang lelaki itu merasa bersalah telah membawa Hilda ke dalam kehidupannya yang sulit. Ia tidak memiliki rasa cinta terhadap wanita itu, namun pernikahan tetap harus terlaksana sebagai suatu formalitas.


"Maafkan aku yang kurang bisa memberikan perhatian kepadamu. Lain kali, berhati-hatilah agar kamu tidak terluka."

__ADS_1


Ucapan pangeran terdengar sangat bijaksana. Meskipun hanya sekedar kata-kata, hal itu sudah membuat Hilda merasa bahagia. Bisa menyandarkan diri di dada sang pangeran merupakan suatu anugerah yang diterimanya.


"Saya akan mengingat pesan Yang Mulia. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk mengunjungi saya."


Pangeran kembali membaringkan tubuh Hilda diatas ranjang. Ia membelai-belai rambut panjangnya yang halus. Wajah Hilda masih sangat pucat meskipun kecantikannya tidak memudar sama sekali dari wajahnya.


"Beristirahatlah kembali. Aku akan menemanimu di sini." Pangeran menggenggam tangan Hilda, berharap wanita itu bisa tidur dengan ia berada di sampingnya.


"Yang Mulia tidak perlu melakukannya. Saya akan merasa bersalah jika Pangeran kelelahan karena saya."


Hilda menuruti perlataab pangeran. Ia memejamkan matanya dengan mengulaskan senyuman saat menyadari tangan pangeran masih menggenggam miliknya.


Sementara, di luar dinding istana Putri Hilda masih ada Heiji yang setia menunggui sang putri dari luar. Ia merasa sedih saat pangeran dan beberapa pengawal masuk ke dalam. Hatinya terasa sakit menyadari cintanya yang tak terbalaskan. Apalagi Hilda sangat terlihat bahwa ia menyukai pangeran. Sementara, ia hanya bisa memendam perasaannya. Merasa sudah selesai menjalankan tugasnya, Heiji berniat kembali ke rumah. Ia lega memastikan Hilda dalam kondisi baik.


"Kak!"

__ADS_1


Langkah kaki Heiji terhenti saat mendengar adiknya sendiri yang memanggil namanya. Dia adalah Ezra, anak angkat panglima Azof. Ezra tinggal di sana sebagai pengawal pribadi putra mahkota.


"Aku mohon jangan diteruskan! Kamu akan kesusahan sendiri dengan perasaanmu," ucap Ezra seakan tahu masalah apa yang sedang dihadapinya.


"Kamu ini bicara apa!" Heiji berusaha meninggalkan Ezra tanpa merespon pertanyaannya.


"Kak!" teriak Ezra.


Heiji kembali berhenti melangkah.


"Jangan ikut campur dengan permasalahanku, Ezra!" Heiji mengatakannya dengan lantang dan tegas.


"Sadar, Kak! Putri Hilda bukan wanita biasa, dia adalah pendamping Putra Mahkota!" bentaknya. Ia kesal sekali dengan kelakuan Yuti mepadanya


Ezra selalu kesal kepada kakaknya. Lelaki itu memang cinta mati kepada Silvia. Ia hanya khawatir sang kakak akan dihukum pancung karena mencintai calon ratu di kerajaan. Sudah lama ia menyadari tentang perasaan sang kakak terhadap Hilda. Ia sengaja diam karena belum ada pergerakan dari Heiji kepada diri wanita itu. Namun, akhir-akhir ini ia terlihat lebih sering muncul tak jauh dari Hilda.

__ADS_1


***


__ADS_2