Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Pertengkaran Dua Elf


__ADS_3

Andez mengacungkan pedangnya ke arah Zenzen. Ia menyembunyikan Yuri di balik badannya. Tatapannya sangat tajam seolah ingin menghabisi lelaki yang dianggapnya telah mrmbahayakan nyawa Yuri.


Entah bagaimana ceritanya Andez bisa bertemu dengan Yuri di tempat berbahaya semacam itu. Hutan mati tersebut termasuk wilayah terlarang yang untuk dimasuki oleh warga desa. Yuri juga sama. Seharusnya ia tidak mudah percaya kepada lelaki yang jelas-jelas pernah merendahkan keluarganya.


"Apa maumu? Hadapi aku sekarang!" Suara Andez terdengar penuh emosi.


Bukan hanya Andez yang emosi, Zenzen juga merasakan hal yang sama. Ia tidak suka Andez mencampuri urusannya dengan Yuri.


"Yuri, apa kamu sudah gila mengikuti lelaki itu sampai di tempat ini?"


"Turunkan pedangmu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Zenzen hanya menuruti keinginanku untuk pergi ke tempat ini," ucap Yuri. Ia berusaha membela Zenzen yang dalam hal ini memang tidak bersalah. "Aku memintanya untuk menunjukkan makam ibuku. Kalau aku meminta bantuanmu, kamu pasti akan menolak mengantarku."


Andez menurunkan pedangnya. Ia kecewa melihat Yuri bisa dekat dengan lelaki yang sejak dulu menjadi musuh mereka. Sementara, Zenzen tampak tersenyum lebar. Ia senang merasa Yuri sedang memihak padanya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Zenzen. Sebagai anak kepala suku seharusnya kamu tahu apa konsekuensi memasuki tempat ini. Jika aku tidak datang membantu, memangnya kalian bisa mengatasi lima ogre itu sendiri?"


Zenzen menyeringai. "Tentu saja bisa. Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu untuk melawan mereka. Bagiku, menumbangkan kaum ogre itu mudah." Zenzen begitu jumawa menganggap dirinya hebat di hadapan Andez.


"Oh, iya?" Andez ingin tertawa mendengar perkataan Zenzen. "Lalu, kenapa kamu tidak bisa membunuh satupun dari mereka?"


"Membunuh salah satu dari mereka adalah kebodohan yang telah kamu lakukan, Andez. Kamu kira mereka akan tinggal diam melihat salah seorang temannya mati? Kalau mau membunuh, kamu harus menghabisi semuanya. Mereka makhluk yang pendendam. Saat mereka kembali kepada pemimpinnya, aku yakin mereka akan kembali mengincar desa kita untuk dihancurkan. Kamu memang benar-benar bodoh!" ejek Zenzen.


Tawa Andez terhenti. Apa yang dikatakan Zenzen ada benarnya. Dulu, desa mereka sudah pernah kaum ogre hancurkan hingga porak poranda dan memakan banyak korban. Ia twk punya pilihan untuk membvnuh salah satu dari mereka yang berusaha melukai Yuri.

__ADS_1


"Yuri! Pulang denganku sekarang sebelum hari gelap." Andez menggenggam tangan Yuri berniat mengajaknya pulang. Namun, Zenzen melakukan hal yang sama pada tangan Yuri yang lain. Wanita itu serasa sedang diperebutkan oleh dua lelaki.


"Yuri datang denganku. Dia juga akan pulang denganku!" tegas Zenzen. Ia merasa lebih berhak untuk membawa Yuri pulang tak mau kalah dengan Andez.


"Aku tidak akan membiarkan lelaki yang tidak bisa melindungi Yuri untuk menemaninya pulang. Bisa saja kamu membawanya ke tempat lain yang sama bahayanya dengan tempat ini."


Zenzen tertawa. Ia merasa Andez sedang meragukan kemampuannya. "Bagaimana kalau kita buktikan sekarang juga? Mari bertempur sampai mati untuk menentukan siapa yang lebih hebat di antara kita," tantang Zenzen. Ia yang merupakan preman kampung tak pernah gentar dengan apapun yang menantangnya.


"Ayo! Kamu kira aku takut?" Andez melotot ke arah Zenzen. Ia juga tidak takut jika harus bertarung sampai mati untuk membuktikan siapa yang lebih hebat di antara mereka.


"Cukup!" Yuri menghempaskan tangan kedua lelaki itu. Telinganya sudh cukup bising mendengatkan mereka bertengkar. "Apa kalian sadar dengan yang baru saja kalian lakukan?" Yuri memarahi mereka berdua. "Jika kalian sibuk bertengkar, kaum ogre yang akan menertawakan kalian. Dasar kalian elf bodoh!" umpat Yuri dengan penuh nada kekesalan.


"Kita berada di tempat yang pernah terjadi pertempuran besar. Banyak kaum elf meninggal demi mempertahankan wilayah dari serangan ogre. Kalau sesama elf saling bermusuhan apalagi saling membunuh, lantas, siapa yang akan menumpas mereka?"


Perkataan Yuri membuat keduanya terdiam. Saat wanita yang mereka cintai memaki-maki, rasanya tidak tega untuk membantahnya. Wanita itu seperti memiliki sihir yang mampu meluluhkan hati keduanya.


Yuri berjalan menuju tempat kudanya. Kedua lelaki itu membuntutinya di belakang dengan patuh. Mereka akhirnya bisa melakukan perjalanan pulang dengan suasana yang tenang.


Yuri berada di tengah diapit oleh kedua lelaki gagah yang siap melindunginya. Ia merasa seperti seorang putri yang sedang mendapat pengawalan.


"Zenzen, kalau waktunya telah tiba, bisakah kamu mrngantarku ke tempat petapa Yahzen?" tanya Yuri.


"Yuri ...." Andez menoleh ke arah wanita itu. Susah payah ia telah mengingatkannya agar tidak pergi ke sana tapi ternyata Yuri masih ingin pergi.

__ADS_1


"Aku tidak sedang meminta pendapatmu, Andez. Ini keputusanku sendiri, jadi kamu jangan khawatir. Aku tahu resikonya."


Zenzen sebenarnya senang diajak langsung oleh Yuri. Akan tetapi, jika membayangkan tentang rute yang dihadapi, ia jadi ketar-ketir. "Kalau itu kemauanmu, aku akan membawamu ke sana," ucap Zenzen. Ia merasa keren menjawab seperti itu di hadapan wanita yang disukainya.


Andez memijit keningnya. Yuri yang dulu sepertinya sudah mati. Ia tidak menyangka kalau Yuri yang sekarang bisa keras kepala seperti itu. "Lima ogre saja sudah kewalahan, bagaimana cara menghadapi mereka satu kerajaan?" sindir Andez.


"Kalau penakut, tidak perlu menyahut!" timpal Zenzen. "Ini urusanku dengan Yuri. Kami pasti bisa menemukan petapa Yazen."


"Memangnya setelah berhasil menemui petapa Yahzen kalian akan dengan mudah mendapatkan air suci itu? Sungguh konyol."


Situasi kembali memanas. Padahal Yuri sudah berusaha menjadi penengah, agar mereka tidak lagi berdebat. Nyatanya mereka kembali saling ejek dan hampir berkelahi. Kalau tidak ada Yuri, sudah dipastikan jika mereka akan saling membunuh.


"Apa kalian tidak bisa tenang? Aku jengah mendengarman pertengkaran kalian!"


"Ini semua gara-gara kamu!" umpat Zenzen.


"Apa kamu bilang? Berani-beraninya memyalahkan aku?"


Yuri memacu kencang kudanya meninggalkan kedua lelaki itu. Zenzen dan Andez ikut memacu kudanya agar bisa mengejar Yuri.


"Yuri, pelankan kudanya! Kita harus bersama-sama. Bisa bahaya kalau kamu nekad pergi sendiri," ucap Andez yang akhirnya mampu mengimbangi kecepatan kuda Yuri.


"Benar, Yuri. Aku tidak akan bertengkar lagi dengannya," sahut Zenzen.

__ADS_1


Ketiganya kembali menaiki kuda dalam kondisi saling berdampingan. Sepanjang perjalanan kedua lelaki itu berusaha untuk menjaga perasaan dengan tidak bertengkar.


Perjalanan pulang yang dilalui terasa lebih singkat dari pada waktu saat berangkat. Hutan mati yag kemnali Sebelum malam akhirnya mereka sampai di desa. Grafin sampai khawatir Yuri tidak ada di rumah sepanjang waktu. ternyata, putri kesayangannya itu pulang diantarkan dua elf laki-laki.


__ADS_2