Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Menghadapi Ogre


__ADS_3

"Kenapa hanya ada makam ibuku di tempat ini? Bukankah kamu bilang ada banyak elf yang mati dalam peperangan?" Yuri masih memegangi nisan milik Aire.


"Karena dia wanita yang dicintai Yang Mulia Raja Emerson," ucap Zenzen.


Yuri hampir lupa. Ayahnya pernah menceritakan hal tersebut kepadanya. Jika saja Aire tidak mencintai Grafin, dia pasti sudah menjadi seorang ratu.


Dari nisan tersebut ia bisa menilai betapa besar cinta raja yang diberikan kepadanya. Bahkan, setelah wanita yang dicintainya meninggal, ia bangunkan makam untuk mengenangnya. Meskipun pada akhirnya cinta Aire diberikan untuk orang lain, cinta Emerson masih abadi bersama makam tersebut.


Yuri berjalan ke tepian jurang, memandangi jurang berkabut dengan jajaran pegunungan yang membentang jauh di depannya.


"Di bawah kita namanya Jurang Putus Asa. Katanya, setiap yang masuk ke dalamnya akan kesulitan untuk keluar. Saking kebingungannya mereka mencari jalan, hingga akhirnya putus asa dan mati di dalamnya."


Yuri menoleh ke arah Zenzen. Lelaki yang pernah memusuhinya itu kini menjadi pelatih sekaligus pemandunya untuk mengenal daerah yang belum ia ketahui sebelumnya. Ia jadi merasa pepatah yang berlaku di dunianya sepertinya memang benar: good looking mampu mengurangi 50% kesulitan seseorang.


"Apa kamu tahu tentang air suci dan petapa Yahzen?" Lagi-lagi Yuri menanyakannya. Andez tidak mau memberi tahu dirinya, ia berharap Zenzen berbeda.


"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya Zenzen penasaran.


"Kamu pasti tahu apa alasannya," ucap Yuri dengan tatapan mata serius.


Zenzen mengangguk-anggukkan kepala. "Aku sampai lupa kalau kamu mixtus. Kamu bisa mendapatkan kembali kemuliaan dan kehormatanmu sebagai seorang elf jika meminum air suci itu."


"Begitu cerita yang aku dengar."


"Sepertinya aku tidak setuju kamu mendapatkan air suci itu. Aku lebih menyukai kamu seperti ini."


"Kenapa?" Yuri mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Supaya aku bisa memilikimu. Hahaha ...."


Yuri memutar malas bola matanya. "Siapa yang mau denganmu!"


"Aku dengar tempat petapa Yahzen itu ada di tengah danau yanga da di dasar Lembah Putus Asa ini. Namun, banyak orang yang gagal mencapai tempat itu. Cerita tentang petapa Yahzen dianggap semacam mitos yang belum tentu kebenarannya."


"Cara menuju ke sana bisa dengan melewati hutan yang ada di Lembah Putus Asa. Sampai saat ini belum ada yang berhasil. Bisa juga lewat pegunungan sebelah sana." Zenzen menunjuk ke arah pegunungan dengan jarinya. "Tapi sangat beresiko. Pegunungan itu dihuni oleh banyak kaum ogre. Sangat cocok untuk orang yang mau cari mati. Makanya aku bilang, lupakan keinginanmu. Menjadi elf mulia juga belum tentu membuat hidupmu bahagia."


"Setidaknya kamu tidak bisa mengejekku lagi, kan?" sindir Yuri.


"Ternyata ada elf yang masuk wilayah ini."


Zenzen dan Yuri langsung berbalik sembari mengeluarkan pedangnya. Di hadapan mereka kini ada lima kaum ogre yang mengepung.


Ini pertama kalinya Yuri melihat bentuk fisik mereka. Seperti cerita yang pernah ia dengar, tubuh mereka sangat berlendir seperti orang yang baru keluar dari dalam got. Bau mereka tidak enak seperti bau bangkai. Mereka juga membawa pedang sama seperti Yuri dan Zenzen.


"Mereka hanya berdua ... bagaimana sebaiknya kita menangani mereka? Apakah harus membawa mereka hidup-hidup ke hadapan raja? Atau kita makan daging mereka di sini sampai menyisakan tulang-tulangnya saja? Hahaha ...." salah seorang ogre tampak kegirangan menemukan dua elf di wilayah yang rawan.


Kaum ogre tahu bahwa memakan daging elf bisa menambah kekebalan dan memperpanjang kehidupan mereka. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk memanipulasi agar bisa berbaur dengan elf. Jika ada kesempatan, mereka akan melawan balik dan melakukan pembunuhan.


"Wanita itu sangat cantik. Bisa saja kalau Raja menyukainya. Dia bisa dijadikan tawanan seumur hidup."


'Amit-amit,' batin Yuri.


"Menyerah saja kalian, melawan juga tidak ada gunanya!"


"Enak saja! Kalian yang seharusnya pulang dan mandi dulu di rumah! Dasar makhluk bau!" teriak Yuri. Dengan berani ia bergerak maju dan langsung menyerang mereka. Zenzen sampai terkejut dengan keberanian Yuri. Ia sendiri ragu bisa mengalahkan mereka atau tidak.

__ADS_1


Pertarungan akhirnya terjadi antara Yuri, Zenzen, melawan lima ogre. Kaum itu tidak bisa disepelekan. Berkali-kali Yuri mencoba menggoreskan pedang, tubuh mereka baik -baik saja. Sejenis pedang yang ayah tempa tidak mampu melukai mereka.


Serangan yang diberikan kaum ogre terasa sangat bertenaga. Bertempur dengan mereka seperti bertempur dengan batu berlumut. Serangan demi serangan yang diberikan sangat mantap sampai membuat Yuri dan Zenzen kewalahan.


Yuri jatuh tersungkur ke tanah. Pedang telah terlepas dari tempatnya. Dua orang ogre mendekat ke arahnya dengan tawa riang dan senyuman lebar.


"Yuri! Menghindar!" seru Zenzen yang tidak bisa menolong. Ia sendiri sedang krwalahan menghadapi tiga ogre lainnya.


"Kenapa jadi seperti ini, sih! Niatku kan hanya ingin berduaan dengan Yuri. Kalian benar-benar sialan! Mengganggu rencanaku saja!" gerutu Zenzen. Ia semakin menambah kekuatan serangannya, mengamuk terhadap ogre-ogre yang sudah berani mengganggu dia dan Yuri.


Yuri terpojok. Ia tak bisa mengelak kemanapun. Kedua ogre itu semakin dekat dengan mereka. "Elf cantik, kamu ingin melayani raja kami atau menjadi santapan kami? Hahaha ...."


Baru kali ini Yuri menyesal telah berusaha mengubah penampilannya menjadi cantik. Niatnya agar tidak dihujat oleh masyarakat di desanya lagi. Namun, saat bertemu dengan ogre, ia malah disukai kaum mereka. Ia jadi menyesal.


"Dasar makhluk bau!" seru Yuri. Ia semakin mengolok-olok kedua ogre itu hingga membhat keduanya marah dan tidak sabaran.


Srang!


Saat mereka hendak menyerang Yuri, ada sebilah pedang yang menghalangi mereka. Yuri terkejut mengetahui elf yang menolongan adalah Andez sendiri. 'Bagaimana bisa dia ada di sana?' gumamnya dalam hati.


Andez menyerang kedua ogre itu, memukulnya mundur agar menjauh dari Yuri yang hampir jatuh ke jurang. Gerakannya sangat cepat dan lincah sampai Yuri pusing sendiri memperhatikannya.


Jeb!


Andez berhasil membunuh seorang ogre dengan menusukkan pedangnya tepat pada leher ogre tersebut. Bahkan darah yang keluar dari makhluk itu bukan darah berwarna merah, melainkan berwarna hitam. Keempat ogre lainnya langsung berhenti menyerang.


Zenzen dan Andez merapat dengan memasang sikap waspada takut empat ogre lainnya akan mengamuk dan menyasar pada Yuri.

__ADS_1


Akan tetapi, tebakan mereka salah. Keempat ogre itu justru mengehentikan penyerangan dan menggotong mayat temannya yang telah mati. Mereka meninggalkan area pertempura begitu saja seakan bukan mereka yang memulai penyerangan. Secepat kilat para ogre berjalan memasuki kabut dan akhirnya menghilang.


__ADS_2