Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Dimana Air Suci?


__ADS_3

Sejak acara perjodohan itu, rumah Yuri menjadi ramai. Alasannya ingin membeli minuman ramuan yang Grafin buat. Tapi, sebenarnya mereka hanya ingin bertemu dengan Yuri yang sekarang telah berubah menjadi seorang wanita cantik. Warung minum yang biasanya diramaikan oleh elf-elf tua kurang kerjaan, kini penuh oleh pemuda-pemuda desa yang penasaran dengan putri Grafin.


Yuri sedang berlatih mengayunkan pedang di samping rumah sembari melemparkan tatapan tajam ke arah pemuda-pemuda menyebalkan itu. Terutama Zenzen, anak kepala suku yang waktu itu sempat memukul ayahnya. Pemuda itu sungguh tidak tahu malu, sudah pernah menghinanya kini malah berusaha mendekatinya.


"Mereka semua pasti menyukaimu. Kira-kira siapa yang ingin kamu pilih?"


Sring!


Yuri mengacungkan ujung pedangnya ke atmrah leher Andez. Pemuda itu langsung terdiam. Tatapan Yuri terlihat menyeramkan. Padahal, ia hanya berniat menemaninya latihan pedang.


"Kamu yakin tidak akan kembali ke kediaman keluarga Jansen? Aku kira kamu sangat betah tinggal di sana sampai tidak mau pulang."


Yuri menyimpan kembali pedangnya. Ia duduk di sebelah Andez. "Kamu suka melihatku menjadi seorang pelayan?"


"Hahaha ... tidak juga. Kamu seperti orang yang berbeda. Dulu kamu sangat membenci desa ini." Sebagai teman kecil Yuri, Andez tahu banyak tentang masa lalu wanita itu. Yuri tidak punya teman. Dia satu-satunya teman yang mau bergaul dengannya. Mereka sama-sama terasingkan karena dianggap rendah oleh masyarakat sekitar.


"Sampai sekarang aku masih membenci desa ini. Namun, tempat ini lebih baik dari pada kediaman keluarga Jansen."


"Ngomong-ngomong ... kenapa kamu jadi rajin sekali datang ke rumahku?"


Andez tertegun sejenak menghentikan kunyahan batang tebu di mulutnya. "Memangnya kenapa? Sejak dulu aku sudah sering main ke rumahmu. Kamu lupa?"


Yuri sama sekali tidak ingat apapun karena dia memang tidak tahu. Ia kira Yuri tak memiliki satupun teman. "Apa kamu sudah lama tinggal di sini?" tanyanya.


"Hah! Jangan meragukanku, selama hidupku telah dihabiskan untuk menjelajahi tempat ini, bahkan sebagian wilayah kerajaan sudah pernah aku datangi." Andez berkata dengan gayanya yang membanggakan diri.


Yuri memperhatikan lekat wajah Andez. Ada sesuatu yang berbeda yang bisa Yuri lihat kalau lelaki itu sebenarnya bukan pemuda biasa. Meskipun tampilannya seperti gembel yang lusuh, dari kemahirannya bela diri bisa dilihat dia bukan elf biasa. Setidaknya seorang elf prajurit yang pernah terlatih.


"Apa kamu tahu tentang air suci?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Yuri membuat Andez tercengang. Pemuda itu seakan tak ingin memberitahukan informasi mengenai hal tersebut.


"Apa itu? Apakah air dari air terjun Ellof di belakang desa kita? Hahaha ...." Andez berusaha melucu dengan pertanyaan tersebut, namun leluconnya menjadi garing.


"Bisa kamu antarkan aku menemui petapa Yahzen ... elf tertua di negeri ini?"


"Dari mana kamu tahu tentang dia?" Andez lebih terkejut Yuri mengetahui tentang Yahzen. Hanya sedikit orang yang mengerti tentang air suci dan petapa tersebut, terutama lingkungan istana.


"Apa itu penting? Aku sedang meminta bantuanmu mengantarkanku ke sana. Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri."


"Lebih baik kamu tidak berusaha mencarinya." Raut wajah pemuda itu berubah muram. "Apa kamu begitu terobsesi mengembalikan aura elf dalam dirimu? Pentingkah hal itu?"


"Tentu saja. Karena alasan itu aku ingin mencarinya."


Andez tampak menyembunyikan sesuatu. Ia seakan sedang berusaha menghalangi niatan Yuri mencari Yahzen dan air suci. "Menjadi elf yang mulia tidak semudah dan seindah yang kamu bayangkan. Aku harap kamu melupakan niatanmu itu."


Yuri merasa jika Andez mengetahui tentang hal itu, hanya saja dia menyembunyikannya karena suatu alasan yang belum ia tahu. Meskipun pemuda itu tak mau memberitahunya, ia akan mencari tahu sendiri. Atau ia akan berusaha menemukan Ezra agar menunjukkan jalan menuju tempat yang sangat ingin dicapainya.


"Itu hanya alasanmu saja. Sebenarnya kamu tak mau membantuku," ucap Yuri seraya bangkit dari duduknya. Ia berniat kembali ke rumah.


"Tempat itu sulit ditemukan!"


Ucapan Andez menghentikan langkah Yuri.


"Untuk menuju ke sana ada banyak bahaya yang harus dilalui. Termasuk kemungkinan bertemu kaum ogre. Apa kamu siap menghadapinya?" tanya Andez.


"Aku bertanya karena aku sudah tahu resikonya." Setelah mengucapkan itu, Yuri berjalan meninggalkan Andez di sana.


Para pemuda yang sedang duduk di depan warung minuman Grafin terlihat bahagia ketika melihat Yuri berjalan ke arah mereka. Kedatangan wanita itu sangat ditunggu-tunggu seperti seorang penggemar yang menantikan idolanya. Mereka rela meminum minuman yang rasanya aneh itu demi bertemu Yuri.

__ADS_1


Yuri berusaha mengabaikan tatapan mata kekaguman para pemuda desa. Matanya fokus tertuju pada Zenzen yang bisa duduk tenang di sana sambil tersenyum padanya. Sungguh, Yuri sangat membenci lelaki itu.


"Latihan pedangmu cukup lumayan. Aku bisa mengajarimu agar lebih mahir," ucapnya.


Rasanya ia ingin tertawa. Untuk menghadapi Andez saja ia perlu memanggil teman-temannya agar ikut mengeroyok, apalagi kalau dia hanya sendirian.


"Aku tidak selemah itu memainkan pedang. Kamu akan tahu kalau menerima tawaranku." lelaki itu berbicara dengan percaya diri seolah bisa menebak isi pikiran Yuri yang sedang meremehkannya.


"Benarkah? Aku jadi penasaran," ucap Yuri.


"Kapan kamu mau aku ajari? Aku akan menunjukkannya padamu."


Yuri menyunggingkan senyum seringainya. "Temui aku di dalam hutan dekat air terjun besok pagi."


"Dengan senang hati," Zenzen tersenyum puas.


Yuri masuk ke dalam rumah mengabaikan sapaan yang diberikan oleh mereka. Sementara, para pemuda itu begitu iri melihat Zenzen direspon oleh Yuri dengan sangat mudah. Padahal Zenzen yang sudah mengganggu wanita itu dan ayahnya.


"Ayah, kenapa sudah bersantai di sini?" tanya Yuri melihat ayahnya sedang tiduran di dalam rumah padahal di luar ada banyak pelanggannya.


"Ayah harus apa kalau semua minuman sudah habis mereka beli," ucap Grafin sampai.


Yuri agak tercengang mendengarnya. Ia mengakui bahwa minuman ayahnya sama sekali tidak enak. Rasanya sangat buruk sampai ia ingin muntah. Ramuan bunga Orcis yang paling lumayan menurutnya. Itupun rasanya begitu buruk sampai ia harus memencet hidung sebelum meminumnya.


"Kenapa Ayah tidak membuatnya lagi? Bukankah bagus kalau semakin banyak uang yang masuk?"


"Proses pembuatannya butuh waktu semalaman untuk membuat sari-sarinya keluar."


Padahal Grafin sendiri kesal rumahnya tiba-tiba rame oleh pemuda. Ia tidak rela putri kesayangannya digoda oleh mereka. Grafin masih merasa sakit hati mendengar ucapan seseorang yang menganggap Yuri tidak pantas dengan satupun di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2