
Suasana di kedai milik tiga sekawan tampak ramai. Baik Yuri, Andez, dan Zenzen tampak kerepotan melayani pengunjung yang datang. Dari mulai anak-anak hingga orang tua berdatangan saking penasaran ingin mencicipi varian minuman baru yang menurut orang memiliki rasa yang enak. Tiga serangkai itu sampai mempekerjakan beberapa orang tambahan untuk mengurangi kerepotan mereka.
"Silakan pesanan Anda, Tuan!" ucap Yuri seraya meletakkan dua gelas minuman di meja bangsawan elf yang memesannya.
"Apa ini minuman yang sedang terkenal itu?" tanya seorang bangsawan elf yang memiliki rambut berwarna putih itu.
"Benar, Tuan." Yuri merasa tersanjung kedai sederhananya mendapat kunjungan dari seorang bangsawan. Ia tidak menyangka minuman yang dibuatnya dengan coba-coba memanfaatkan buah yang tidak pernah diampil para elf untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
Awalnya sang ayah sendiri meragukan kegiatannya berkutat dengan buah batu. Grafin mengira putrinya gila mau membuat minuman dari buah sekeras batu. Tapi, bukan Yuri namanya kalau mudah menyerah. Wanita itu selalu membuat sesuatu yang baru dan membuat ayahnya sampai tercengang.
"Apa nama minuman ini?" tanya bangsawan aatunya yang berambut panjang dan ikal. Ia tampak tertarik dengan rasa minuman tersebut.
__ADS_1
"Kami biasa menyebutnya minuman buah batu. Tapi, para pemuda memberikan nama tersendiri untuk minuman ini, teh limonia."
Kedai milik Yuri memang populer di kalangan anak muda. Selain karena pemiliknya anak-anak muda, konsep kedai yang ditawarkan di sana berbeda dari kebiasaan yang biasany hanya sebagai tempat nongrong bapak-bapak. Tempat itu kini juga dipadati para pemuda.
"Hm, teh limonia ... namanya bagus juga," ucap bangsawan tersebut sambil mangguk-mangguk. Ia kembali menyeruput minunan di dalam gelasnya. Ada rasa asam yang dinetralisir dengan gula. Perpaduan kedua bahan menghasilkan cita rasa yang sempurna, apalagi dengan penambahan bunga melati yang membuat aromanya lebih menguar.
Yuri yang sekarang telah jauh berbeda dari Yuri yang dulu. Orang tak lagi memandang rendah dirinya. Selain parasnya yang kian menjadi cantik, juga kecerdasannya yang patut diakui jempol. Andez dan Zenzen sebagai saksi perjalanan mereka sampai sesukses sekarang.
"Pencuri ... pencuri ...." teriak seorang kakek-kakek tua.
"Berhenti!" teriak Yuri.
__ADS_1
Pencuri yang sepertinya seorang elf laki-laki yang masih muda sangat lincah dalam berlari. Ia melewati lorong-lorong sempit sembari berusaha mengecoh Yuri. Sayangnya, Yuri sudah sangat terlatih mencari jejak seseorang. Semua berkat kerja kerasnya berlatih dengan Zenzen dan Andez.
Setelah pengejaran yang cukup lama dan melelahkan, akhirnya Yuri berhasil menarik pakaian pencuri itu sampai pemuda itu jatuh ke tanah. Yuri segera mengunci pergerakan pemuda itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" pemuda itu berusaha memberontak.
"Kembalikan barang curiannya!" pinta Yuri.
Pemuda itu hanya tertawa. Ia tak mau menyerahkan hasil rampasan yang disimpannya di dalam pakaian bagian dada.
"Itu dia!"
__ADS_1
Yuri dikejutkan dengan beberapa orang membawa senjata bambu di tangan hendak menyerang dirinya. Sepertinya mereka adalah komplotan dari pencuri itu. Mau tidak mau Yuri melepaskan pemuda yang baru ditangkapnya dan beralih menghadapi empat orang teman pencuri itu.
Pertarungan tidak terelakkan. Mereka menggunakan alat pukul secara serampangan. Dwri segi teknik berkelahi, mereka hanya sekelompok pemuda yang hobi membuat rusuh. Mereka tak menguasai dasar bela diri sama sekali.