
Zenzen duduk di tepi air terjun sembari sesekali melemparkan batu kecil ke dalam air hingga menghasilkan gelombang. Entah sudah berapa lama ia berada di sana menunggu Yuri. Saking semangatnya bertemu dengan putri Grafin itu, Zenzen sampai datang sebelum fajar. Akan tetapi, hingga matahari telah terbit dengan sempurna, Yuri belum juga datang. Ia cukup kesal merasa telah dibohongi.
Memang, awalnya ia tak menyukai Yuri. Menurutnya kaum mixtus adalah kaum yang lebih hina daripada elf biasa. Mereka ada karena karma perbuatan orang tua yang menentang takdir. Melihat penampilan Yuri yang berubah, hatinya langsung luluh. Seumur-umur baru kali ini ia melihat elf biasa yang cantiknya di atas rata-rata seperti Yuri. Karena aura kecantikan lazimnya dimiliki oleh elf dari kaum bangsawan dan kerajaan.
Meskipun Yuri telah kehilangan auranya, sisa-sisa kecantikan bak dewi yang diturunkan dari ibunya begitu terpancar. Tidak heran banyak pemuda desa yang menyukainya, termasuk dirinya. Zenzen memiliki kekuasaan untuk membuat teman-temannya menyerah. Saat ia mengatakan tertarik pada Yuri, mereka langsung menyerah dan berjanji akan menjadi pendukung yang setia. Kemampuan bela diri Zenzen sebenarnya lumayan, hanya saja ia memang menghabiskan waktu untuk menjadi elf yang nakal, tidak pernah serius menggunakan kemampuan bela dirinya.
Zenzen mendengarkan sesuatu yang datang lewat gerakan angin. Ada yang datang semakin mendekat ke arahnya.
Srang!
Zenzen mengeluarkan pedangnya. Ternyata ia telah berhasil menahan serangan dari Yuri yang muncul dari arah semak-semak menggunakan pedangnya.
"Reflekmu bagus juga," ucap Yuri seraya menurunkan kembali pedangnya.
Zenzen kegirangan melihat kehadiran Yuri. Ia melompat turun dari atas batu. "Aku kira kamu membohongiku dan tak akan datang," ucapnya.
"Aku orang yang menepati janji. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?"
"Itulah alasanku datang ke tempat ini," ucap Zenzen.
Ada alasan tersendiri yang membuat Yuri ingin mengasah kemampuannya berperang. Ia menyadari, jalan hidup Yuri ke depannya akan lebih sulit dari pada sebelumnya. Meskipun sudah terlepas dari cengkraman Asteria, namun tidak menjamin kalau Yuri akan kembali dipertemukan dengan takdirnya, mendapat fitnah yang akhirnya menjadi jalan kematian baginya.
Ia akan membuat Yuri menjadi mixtus dalam versi yang terbaik. Jika Yuri yang dulu hanyalah seorang yang lemah, tertindas, dan tidak berdaya, maka ia akan mengubahnya menjadi sosok yang pemberani dan tegas menghadapi persoalan.
Zenzen mulai mengayunkan pedangnya memberikan garakan-gerakan ringan yang mudah diatasi oleh Yuri. Saat kemampuan wanita itu semakin bertambah, ia akan menambah intensitas kecepatan serangannya. Pagi yang sunyi itu berubah menjadi bising oleh gesekan kedua senjata mereka.
Kemampuan Yuri diakui Zenzen cukup lumayan. Ia kira wanita itu tidak bisa apa-apa selain bersembunyi di balik pagar rumahnya. Ayahnya memang terkenal sebagai penghasil pedang terbaik. Namun, Grafin sendiri tidak bisa berperang dengan benar.
__ADS_1
Yuri menjatuhkan tubuhnya ke tanah sembari berusaha mengatur napasnya. Berlatih perang sungguh sangat membuatnya kelelahan. Tapi, ia puas bisa mengimbangi serangan yang Zenzen berikan.
"Apa kita sudahi sekarang?" Zenzen tersenyum memperhatikan Yuri.
"Beri aku waktu bernapas sebentar," ucap Yuri sembari terus mengatur napasnya.
"Stamina tubuhmu masih payah. Kamu harus lebih sering berlatih supaya tidak lelah," saran Zenzen. Ia akan suka karena dengan begitu bisa lebih sering bertemu dengan Yuri.
"Hei! Anak kepala suku!" panggil Yuri.
Zenzen menoleh. "Panggil aku Zenzen. Kenapa kamu memanggilku begitu?" Ia kurang suka dengan panggilan seperti itu.
"Memangnya kenapa? Kamu memang anak kepala suku, kan? Orang-orang juga suka memanggilku dengan sebutan putrinya Grafin."
"Kalau orang lain tidak apa-apa. Asalkan bukan kamu. Panggil saja aku Zenzen." Ia kembali duduk di atas batu melempari air dengan batu-batuan kecil.
Zenzen tak mau menjawab pertanyaan itu. Ia lebih memilih melanjutkan kegiatannya melemparkan batu ke dalam air.
Yuri tertawa kecil. "Kami tidak mau menjawabnya?"
"Terkadang orang bisa membenci atau menyukai seseorang tanpa sebab. Ada rumor yang menyebutkan bahwa kehadiran mixtus di suatu desa bisa mendatangkan mala petaka untuk desa tersebut," jawab Zenzen.
"Apa rumor itu pada akhirnya terbukti."
"Iya. Dulu desa ini menjadi salah satu sasaran pengrusakan oleh kaum ogre. Banyak penduduk yang meninggal. Sampai kerajaan turun tangan untuk berperang untuk mengusir mereka kembali ke wilayah pegunungan. Ibumu juga meninggal karena kejadian itu."
Zenzen bangkit dari duduknya menghampiri kuda miliknya. Ia memijakkan kaki naik ke atasnya. "Apa kamu mau aku tunjukkan makam ibumu?" tanyanya.
__ADS_1
Yuri langsung bangun.
"Ayahmu pasti belum pernah mengajakmu ke sana, kan? Aku tahu tempatnya."
Tanpa berpikir lebih lama, Yuri ikut menaiki kudanya dan mengikuti kemana arah Zenzen pergi. Selama di desa, Yuri sampai lupa menanyakan tempat peristirahatan terakhir ibunya.
Perjalanan yang ditempuh terasa cukup panjang. Yuri hanya mengikuti arah pergerakan kuda Zenzen yang sepertinya belum mau berhenti. Mereka harus melewati hutan yang lebat dan lembab dipenuhi oleh lumut yang mrnemprl pada batang pohon. Tempatnya lumayan seram meskipun matahari masih tinggi.
Semakin lama mereka semakin memasuki area seperti hutan mati. Pepohonan di sana tidak memiliki daun, hanya batang kayu dan ranting-rantingnya. Sesekali terlihat hewan-hewan liar yang lewat namun kembali bersembunyi saat melihat kedatangan mereka.
Zenzen memperlambat laju kudanya. Yuri bisa menyusul dan menyandingkan kuda di sampingnya.
"Kita berada di kawasan hutan Necros, tempat terjadinya peperangan besar yang pernah terjadi antara kaum elf dan kaum ogre. Banyak elf yang mati di sini."
Yuri memandangi sekelilingnya. Tempat itu seperti terbakar habis sampai masih ada asap-asap yang keluar dari dalam tanah. Bahkan asap yang muncul sampai menutupi langit di atasnya, menjadi penghalang sinar matahari yang ingin masuk. Jika didengarkan secara seksama, terdengat suara-suara jeritan yang samar. Ia sendiri sampai merinding membayangkan yang tidak-tidak.
'Di sini tidak mungkin ada hantu, kan? Kayaknya novel yang aku baca genre-nya bukan horror,' batin Yuri. Ia membayangkan ada semacam zombie yang muncul dari arah kegelapan atau kuntilanak yang terbang di langit.
Zenzen terus membawa Yuri melewati hutan tersebut, hingga akhirnya mereka bisa keluar dari sana. Setelah melewati pepohonan lebat, mereka sampai di tepi jurang yang sangat curam. Kedalamannya tak bisa diukur karena di bawah sana tertutup awan tebal.
"Di sana!" Zenzen menunjuk ke arah sudut tugu yang tertutup oleh semak-semak dan tumbuhan menjalar. Letaknya di sebelah kanan persis di tepi jurang.
Yuri mendekat dengan kudanya. Ia turun untuk melihat tempat peristirahatan terakhir ibunya. Disingkirkannya semak belukar yang menutupi tugu peringatan tersebut hingga ia menemukan tulisan di sana. Tulisan yang menggunakan huruf-huruf aneh kaum elf, namun anehnya Yuri bisa membaca tulisan tersebut dengan lancar.
Di sini bersemayam jasad elf ksatria wanita yang gagah berani menumpas kaum ogre dalam pertempuran besar di hutan Necros
Semoga jiwamu beristirahat dalam kedamaian
__ADS_1
Aire Raseye