
Mata pangeran tak bisa lepas dari sosok pelayan yang sedang sibuk melayani para tamu di acara pesta. Meskipun banyak wanita yang berkerumun, pangeran sama sekali tak tertarik kepadanya. Ia lebih suka memandangi Yuri yang akhirnya bisa masuk istana. Rasa bahagian di hatinya begitu membuncah sampai ingin berjingkrak jika tidak ingat bahwa ia seorang putra mahkota.
Bahkan obrolan dengan para pangeran yang ada di dekatnya tidak ia dengarkan dengan baik. Matanya terus bergerak mengikuti arah peegerakan wanita itu. Ia sangat ingin menghampiri dan memeluknya. Namun, wanita itu pasti akan sangat marah. Satu-satunya wanita yang berani menolak cintanya adalah Yuri. Ia juga satu-satunya wanita yang bisa menarik perhatiannya.
"Putra Mahkota?"
Panggilan dari Pangeran Evander membuyarkan lamunan Putra Mahkota. "Ada apa, Evander?" tanyanya.
"Sejak tadi Anda melihat apa?" Evander mengarahkan pandangan ke sisi yang mungkin dilirik oleh pangeran.
"Mungkin Putra Mahkota sedang mencari istri cantiknya," goda Ebes, salah seorang putra bangsawan di istana.
"Memiliki istri seperti Putri Hilda memang membuat seluruh lelaki akan merasa iri," gumam Evander.
Pangeran Adrian hanya tersenyum. Ia bahkan tidak ingat jika sudah memiliki seorang istri. Hatinya telah penuh dengan bayangan Yuri.
"Bukankah perjamuan makan akan segera dimulai? Bagaimana kalau kita juga ikut bergabung di meja Yang Mulia Ratu," ajak Evander.
__ADS_1
Mereka segera berpindah ke tempat perjamuan berupa tempat makan memanjang untuk keluarga dekat raja. Pangeran duduk di sebelah Hilda yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Apa kamu menikmati acaranya?" tanya pangeran kepada Putri Hilda. Mereka terhitung sedikit bicara. Namun, setiap ada kesempatan pangeran akan mengajaknya berbicara meskipun hanya sepatah dua patah kata.
"Iya, Yang Mulia. Saya sangat menikmati acaranya." Hilda mengembangkan senyuman palsu. Sebenarnya ia ingin menangis karena tidak ada yang mau mengajaknya berteman. Sekua wanita seolah benci kepadanya karena berhasil menjadi istri pangeran. Ia hanya berpura-pura kuat di hadapan pangeran dan seluruh penghuni kerajaan. Jika ia terlihat lemah, mereka hanya akan semakin menindasnya.
***
"Hah! Capek sekali!" Yuri langsung menyandarkan punggungnya di batang pohon dekat danau. Ia tahu Andez sedang menunggunya di sana.
"Hah! Kamu pikir mudah jadi pelayan? Aku baru saja mendapat waktu istirahat. Enak ya, jadi pengawal pribadi. Banyak santainya," gerutu Yuri. Sejak pagi ia sudah berkutat di dapur lalu ikut melayani para tamu. Rasanya ia mau pingsan saja. Bekerja di istana lebih melelahkan daripada bekerja di kedai miliknya sendiri.
"Walaupun santai, taruhannya nyawa. Ini pangeran yang aku layani sedang berada di tempat pesta. Aku akan kembali bertugas saat ia kembali."
Keduanya sama-sama terdiam sejenak menikmati suara-suara kicauan burung yang merdu. Akhirnya impian mereka masuk istana terwujud juga.
"Apa perasaanmu sekarang? Apa mamu senang?" tanya Andez dengan tatapan kosong mengarah ke langit.
__ADS_1
"Entahlah! Aku tidak tahu apakah aku senang atau sedih," jawab Yuri.
Ia senang masuk istana karena berarti tujuannya untuk pulang akan semakin dekat. Namun, ia juga merasa bahwa istana sebenarnya bukan tujuannya. Hidupnya lebih menyenangkan di luar istana. Sementara, jika ia memilih kenyamanan, maka ia tidak akan meraih mimpinya yang lebih besar.
"Bagaimana denganmu?" Yuri membalikkan pertanyaannya.
"Sama denganmu. Aku juga tidak tahu harus apa berada di sini." Andez merasa lebih bodoh lagi. Ia sudah diberi anugerah kehidupan yang baik oleh orang tuanya, namun ia memilih kembali ke tempat di mana keluarganya dibantai. Jika ia gagal membuktikan kebenaran keluarganya, maka ia sendiri yang akan mati di sana.
"Apakah nanti kita akan sering bertemu? Aku masih asing dengan tempat ini," gumam Yuri.
"Aoa kamu menyesal? Bagaimana kalau kita kabur dari sini?" usul Andez.
"Apa kamu sudah gila? Kamu ingin mati? Kita akan dituduh mempermainkan proses seleksi, bodoh!"
"Tiba-tiba aku jadi rindu bertengkar dengan Zenzen."
"Hahaha .... aku juga rindu mendengar kalian bertengkar. Padahal ini baru hari pertama tapi sudah seberat ini menjalani kehidupan di istana sebagai elf biasa."
__ADS_1