Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Mimpi


__ADS_3

Yuri terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya secara perlahan sembari melihat ke sekeliling. Ia menemukan dirinya berada di tengah hutan, di tepi air terjun yang biasa ia datangi.


Perlahan ia bangkit sembari memikirkan kenapa ia tiba-tiba berada di sana. Ingatan terakhirnya, ia tertidur di rumahnya sendiri sebelum terbangun di sana.


Saat ia membalikkan badan, tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang sampai ia harus menghalangi matanya dengan kedua tangannya. Suasana yang awalnya gelap perlahan menjadi terang seperti siang.


Yuri menurunkan tangannya. Ia terpana dengan sosok wanita cantik yang telah ada di hadapannya. Elf dengan pakaian anggun ala kerajaan dengan rambut kekuningannya yang berkilau. Senyumannya sangat manis dan terlihat ramah.


Wanita tersebut berjalan dengan anggun mendekat ke arah Yuri. Aura mulia yang dipancarkan begitu menghipnotis orang untuk menghormatinya. Yuri menjadi semakin penasaran dengan sosok elf cantik itu.


"Akhirnya kita bertemu, Yurika Esperanza," ucapnya dengan senyuman manis.


Yuri terkejut wanita itu mengetahui nama aslinya.


"Aku tahu kamu seorang artis terkenal di duniamu. Kamu tidak sengaja masuk ke dunia ini karena mencoba bunuh diri."


Yuri semakin terkejut wanita itu mengetahui detil kehidupannya. "Siapa kamu?" tanyanya.


Wanita itu kembali menyimpulkan senyum. "Namaku Aire Raseye, ibu dari elf yang jasadnya kamu tempati."


Yuri membulatkan mata. Ia sedang berhadapan dengan ibunya Yuri, elf pemberani yang telah lama meninggal di medan pertempuran. "Apa maumu? Apa kamu mau mengeluarkan aku dari tubuh putrimu?"


Aire menggeleng. "Aku hanya ingin bertemu dengan ruh yang kini menempati tubuh putriku. Sekalugus untuk mengucapkan terima kasih telah memperlakukan Yuri dengan sangat baik."


"Sebenarnya aku melakukan ini bukan sepenuhnya untuk kebaikan Yuri," ucapnya jujur. "Aku tidak mau bunuh diri dan berubah menjadi ogre. Aku juga tidak mau mati dengan cara Yuri mati."


"Sekalipun begitu, aku tetap menghaturkan rasa terima kasih kepadamu."

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah meninggal? Apakah elf yang mati bisa hidup kembali?"


Setiap pertanyaan yang Yuri berikan selalu bisa membuat Aire tersenyum. "Aku memang sudah mati dan tidak mungkin hidup kembali. Aku hanya bisa mendatangimu lewat mimpi agar kita bisa berbicara berdua."


Yuri baru paham apa yang dialaminya kali ini hanya sekedar mimpi. Sekalipun hanya mimpi, namun, rasanya seperti sesuatu yang sangat nyata. "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


Tatapan elf cantik itu berubah sendu. Meskipun ia tersenyum, namun sorot mata yang menyiratkan kesedihan tidak bisa ditutupi. "Seperti yang sudah kamu tahu, aku merupakan elf bangsawan yang melanggar aturan karena menikahi seorang midget. Memiliki seorang putri yang seharusnya menjadi anugerah justru dianggap musibah."


"Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku. Hanya saja, aku merasa sedih dengan takdir yang menimpa putriku."


"Kamu tidak perlu bersedih lagi. Putrimu tidak akan mati digantung. Aku sudah lari dari keluarga Jansen."


"Itu hanya awal!" timpal Aire. "Takdir perjalanan Yuri masih sangat panjang. Jika kamu tidak bersiap menghadapinya, maka putriku tetap akan mati di tiang gantungan."


Yuri kira dengan memutuskan hubungan kerja dengan keluarga Asteria bisa menghindarkan dirinya dari kematian. "Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menghindari takdir buruk itu?"


"Masuklah ke istana."


"Setiap periode akan diadakan perekrutan pelayan dan pengawal istana yang baru. Kamu harus mengikutinya dan berusaha sebaik mungkin agar bisa terpilih."


"Aku rasa tidak akan bisa menembus seleksinya."


"Mereka sangat menyukai elf wanita yang pandai memanah dan bermain pedang."


"Aku tidak bisa memanah!" Yuri rasanya ingin menyerah duluan.


"Kamu pasti bisa!" Aire memberikan semangatnya. "Ambillah busur dan anak panah milikku yang tersembunyi di balik air terjun itu." Aire menunjuk ke arah air terjun.

__ADS_1


"Kenapa aku harus melakukan kemauanmu?" tanya Yuri.


"Karena kamu tidak memiliki pilihan lain," jawab Aire singkat. Meskipun singkat, namun kata-katanya memang benar.


Yuri tidak mengerti bagaimana kelanjutan hidupnya di sana. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi. Selain dari sesama elf yang tidam menyukainya, juga kaum ogre yang senantiasa mengincar kaum elf demi hidup yang abadi.


Aire sangat pintar memilih orang. Ia sudah tahu bahwa jiwa yang berada di dalam tubuh putrinya adalah seseorang yang berasal dari dunia lain.


"Apa yang harus aku lalukan di dalam istana?"


"Carilah sebuah kitab berwarna kuning dengan gambar tiga bunga lotus di depannya. Bawa buku tersebut ke tempat Yahzen berada."


Yuri terkekeh. "Itu sama saja menyuruhku untuk mati konyol," protesnya. "Aku tidak bodoh. Aku tahu tempat petapa Yahzen sangat sulit ditemukan. Menuju ke sana harus melewati wilayah kerajaan kaum ogre atau Jurang Putus Asa. Rute manapun yang akan dipilih, belum tentu aku berhasil mencampai tempat itu."


"Apa kamu tidak ingin kembali ke duniamu?" Aire memotong perkataan Yuri.


"Apa aku bisa kembali ke duniaku sebelumnya?" Yuri memiliki harapan untuk kembali. Ia tidak ingin selamanya hidup di dunia elf yang menurutnya lebih sulit dari kehidupannya di dunia nyata. Ia bersumpah akan lebih kuat menghadapi cobaan yang diterimanya nanti. Ia tidak ingin putus asa dan bunuh diri hanya karena merasa tidak ada orang yang memihaknya. Ia bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan orang lain.


"Petapa Yahzen bisa membantumu kembali pada kehidupanmu sebelumnya. Kamu bisa memakai peta yang aku simpan di sela-sela atap rumah. Peta itu akan membimbingmu agar sampai ke tempatnya."


Ada banyak rahasia yang ternyata belum Yuri ketahui tentang dunia itu. Ia harus semakin banyak berlatih agar bisa bertahan hidup lebih lama di sana. "Aku dengar air suci bisa mengembalikan aura seoramg mixtus."


"Itu benar. Jika kami ingin berumur panjang, awet muda, serta memiliki aura keagungan seorang elf, mintalah air suci kepadanya."


"Kalau begitu, aku akan melakukannya!" Yuri menyanggupi permintaan Aire. Wanita itu tampak tersenyum lebar.


"Terima kasih. Setelah ini, aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik."

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, tubuh Aire seakan semakin bersinar memancarkan pendaran cahaya yang lambat laun semakin terang sampai Yuri tak mampu melihat apapun. Ia kembali menghalangi pandangan matanya dengan tangan. Lambat laun cahaya itu menghilang.


Yuri kembali membuka matanya. Pemandangan berbeda tertangkap oleh matanya. Kini, ia kembali berada di dalam rumahnya, masih terbaring di atas tempat tidur. Sepertinya hari masih terlalu pagi untuk ia bangun. Pertemuannya dengan Aire benar-benar hanya sebatas mimpi. Akan tetapi, setiap ucapannya seakan nyata terngiang-ngiang dalam ingatannya.


__ADS_2