
Mengandalkan tombak, Lin Fan menggunakan kekuatan booster hingga prajurit tingkat 7 menengah.
Tombak Lin Fan langsung diliputi dengan aura merah darah. Dengan lambaian tangan, kekuatan spiritual yang telah dilapisi ke tombak langsung menembak ke serangan Natasha.
"Boom"
Fluktuasi spiritual yang besar pun terjadi disekitar serangan tersebut. Arena yang sebelumnya sudah diperbaiki kembali rusak. Lin Fan dan Natasha pun terbawa arus angin serangan mereka sendiri.
Setelah debu menghilang, Lin Fan dan Natasha terlihat tidak memiliki luka apapun pada tubuhnya.
Natasha kagum melihat Lin Fan, disekolah ini belum ada siswa yang bisa menangkap serangan nya apalagi melawannya.
"Lin Fan karena kau juga menggunakan senjata bagaimana kalau kita bermain seni beladiri senjata?"
Pedang Natasha kembali bersinar keemasan. Aura nya lebih tajam dari sebelumnya. Jika ia bisa menguasai sword intent mungkin Natasha bisa melawan 8 atau 9 tingkat prajurit.
Lin Fan berbinar mendengar saran lawannya. Ia yang merupakan dewa militer juga memiliki julukan lain yaitu dewa tombak.
"Baiklah kalau begitu. Aku juga sudah lama tidak menggunakan senjata"
Lin Fan pun menggunakan kekuatan spiritual nya untuk membentuk aura tombak. Aura merah darah yang tebal menyelimuti permukaan tombak.
Tanah lava yang belum jadi juga bersinar terang. Dengan penguasaan setengah level 2, elemen tanah juga meningkat sekeras berlian.
Kejadian ini menarik perhatian para penonton. Aura dari masing-masing senjata dari Lin Fan dan Natasha kembali mengakibatkan fluktuasi udara.
Senjata Natasha merupakan pedang militer tingkat 3 sehingga aura nya lebih ganas dari pada tombak Lin Fan yang hanya manipulasi dari elemen tanah.
Tim lain pun berhenti bertanding akibat aura dari Lin Fan dan Natasha. Mereka bahkan langsung menyerah dari pertandingan karena cukup sadar dengan kekuatan mereka.
Energi dari pertarungan Lin Fan saat ini telah mencapai prajurit tingkat 7 puncak. Jadi untuk mencegah kerusakan arena, pengawas memasang formasi pertahanan tingkat komandan beladiri.
"Yah pertarungan kita ini menarik banyak perhatian" Lin Fan berkata sambil melihat sekitar.
Natasha yang merupakan jelmaan dewa perang tidak gugup sama sekali.
"Haha...kalau begitu mari kita mulai permainan nya"
Natasha menghilang dari tempat dan muncul di samping Lin Fan. Dengan gerakan menebas, Natasha langsung mengincar kepala Lin Fan.
Lin Fan sudah merasakan gerakan Natasha disampingnya karena fluktuasi udara yang cukup besar. Dengan gerakan tajam, Lin Fan menangkis pedang Natasha dengan ujung tombaknya.
Kemudian Lin Fan memutar tombaknya sehingga pedang Natasha hampir terlepas dari genggaman tangan nya.
__ADS_1
Dengan sigap Natasha menarik pedangnya dan mundur beberapa langkah.
Lin Fan tak tinggal diam, dengan cepat menyusul kemudian menusuk tombaknya ke arah tubuh Natasha.
Natasha yang baru saja mundur, kembali menghindari dengan bergerak ke samping. Serangan Lin Fan tak berhenti disitu, dengan tombak yang cukup tajam, Lin Fan menebas tombaknya ke arah Natasha sehingga menghasilkan pisau angin.
Natasha belum mengambil pijakan yang pas, terpaksa menangkis serangan Lin Fan. Pisau angin yang banyak tak bisa ditangkis semua oleh Natasha.
Beberapa luka tercipta ditubuhnya. Tapi hanya beberapa saat luka tersebut kembali tertutup dengan sendirinya.
Lin Fan yang melihat tertegun kemudian bergumam,
"Huh jika begini pasti sangat merepotkan. Memang pantas menjadi tubuh dewa"
Walaupun telah sembuh, Natasha sangat marah karena lukanya. Belum pernah ada yang bisa melukai nya disekolah ini.
Dengan amarah, Natasha tak lagi mundur. Dengan kejam mengejar Lin Fan. Dia tahu bahwa kelemahan pengguna tombak yaitu jarak dekat.
Natasha terus menghilang dari muncul sangat dekat dengan Lin Fan. Kemudian ia menebas pedangnya.
Lin Fan sadar dengan apa yang dilakukan oleh Natasha. Lin Fan pun dengan sengaja mengenai tombaknya ke pedang Natasha agar terbelah menjadi 2. Dengan 2 tombak yang telah patah Lin Fan kembali bebas untuk bergerak.
Gerakan baru pun secara alami dilakukan Lin Fan. Walaupun gerakannya tidak sebagus dan selembut tombak tapi cukup ganas untuk melawan pedang Natasha.
Natasha dengan sigap mundur kebelakang. Mengambil nafas untuk sesaat dan kembali melanjutkan perang.
Lin Fan menggunakan combo dari 2 tongkat ditangannya. Satu menahan serangan lawan, satu lagi menyerang pertahanan lawan.
Natasha kembali menghilang. Lin Fan juga penasaran apakah ia menggunakan teleportasi atau kecepatan Natasha melebihi responnya.
Merasakan fluktuasi udara di belakang, Lin Fan menyilangkan kedua tongkat tanah ke belakang tubuhnya.
Benturan kecil terjadi tetapi tidak mengakibatkan apapun. Natasha menarik kembali pedang nya dan mulai mengumpulkan aura spiritual disekitarnya.
Lin Fan melompat menjadi dari Natasha. Ia juga ikut mengumpulkan kekuatan spiritual yang menyebar disekitar nya.
Setelah beberapa saat, mereka kembali melanjutkan perlawanan.
Lin Fan muncul didepan Natasha. Dengan 2 tongkat, Lin Fan memukul kepala dan kaki lawannya.
Natasha menebaskan pedangnya dari bawah ke atas untuk menangkis serangan mendadak dari Lin Fan.
Melihat gerakan Natasha, Lin Fan tersenyum tipis. Setelah mengorbankan tongkat nya dibelah oleh Natasha, debu dari tongkat tanah Lin Fan menyebar mengenai mata Natasha.
__ADS_1
Kemudian Lin Fan menarik kakinya dan menendang ke tubuh Natasha.
"Whooos boooom"
Tubuh Natasha langsung keluar dari arena. Melihat dia telah dikeluarkan dari arena, Natasha dengan marah menunjuk-nunjuk ke arah Lin Fan.
"Hey dasar bajingan, bagaimana kau bertanding dengan licik seperti itu" Natasha kesal mengingat apa yang dilakukan Lin Fan sebelumnya.
Lin Fan tertawa terbahak-bahak diatas arena dengan bangga ia berkata,
"Hahaha.. itu adalah seni beladiri yang aku kembangkan sendiri jadi bagaimana bisa dibilang curang" jawab Lin Fan.
"Huh awas kau bajingan, jika aku melihat mu nanti aku akan membunuhmu"
Natasha yang kesal pun dibawa oleh tim nya untuk perawatan.
"Lin Fan"
"Lin Fan"
"Lin Fan"
Banyak sorakan semangat untuk Lin Fan. Tak terlepas dari gadis-gadis cantik yang selalu mengidamkan pria yang kuat.
Lin Fan pun melambaikan tangan nya ke arah penonton sebagai tanggapan. Melihat ke arah bangku ayahnya, ia menegakkan kepalanya ke atas seolah berkata ' hehehe lihat, aku lebih tampan darimu pak tua'
Ling Wei pun tertawa melihat tingkah laku anaknya. Dengan tersenyum geli ia menoleh ke arah suaminya dan berkata,
"Lihat putra kita persis seperti dirimu dulu waktu sekolah"
Lin Zheng berkeringat dingin mendengar kata sekolah dari istrinya. Dengan gagap menjawab,
"Ya-ya hahaha dia lebih baik dari ku istriku"
Ling Wei mencibir mendengar jawaban suaminya.
"Oh benarkah? menurutku kau lebih baik. Kau dulu memeluk dan mencium gadis-gadis yang mendukung mu dulu"
"Ahahah ap-apakah begitu?"
"Huh dasar bajingan"
Lin Zheng pun dengan sabar membujuk istrinya. Ia tak sabar menggulung Lin Fan nanti saat pulang. Karena nanti malam ia pasti tidak bisa tidur dikamar.
__ADS_1