
Seorang pemimpin militer berdiri didepan para siswa-siswi dari masing-masing sekolah. Aura ganas terpancar dari tubuh nya.
Dengan sigap gagah dan tegas ia berkata,
"Ahem...kalian semua merupakan perwakilan dari masing-masing sekolah untuk mewakili planet kita dalam pertandingan di pusat galaksi"
"Cih kenapa bisa dia," gerutu Lin Fan dalam hati nya, "padahal masih banyak petugas lainnya"
Melihat ke arah remaja yang kurang peduli dengan ucapannya, pemimpin militer tersebut langsung mengeluarkan tekanan yang tidak terlalu membahayakan bagi siswa ini.
"Ugh"
"Kenapa ini"
"Apakah kalian tidak mendengar kan?!!" ucap pemimpin militer tersebut "seharusnya kalian menanggapi dengan serius. Jangan kalian kira disekolah sudah hebat bukan berarti diluar kalian seperti itu"
Tanpa menghilangkan atau mengurangi tekanan, Ling Chen nama dari jenderal itu kembali berbicara.
"Mungkin karena jabatan orang tua, kalian berbangsa diri?" ucapnya kemudian melihat ke satu siswa yang tampaknya tidak berpengaruh pada tekanan nya.
Dia adalah Lin Fan. Melihat Lin Fan tidak peduli dengan ucapannya, Ling Chen hanya bisa menghela nafas dengan berat.
Dia hanya bisa melanjutkan pidato nya yang tak berarti bagi para siswa ini.
"Yah aku tidak akan melanjutkan pidato ini. Cukup kalian untuk mengerti posisi apa yang diberikan sekolah kepada kalian. Jadi lakukanlah yang terbaik. Terimakasih"
Menyudahi pembicaraan, ia mengirimkan pesan suara ke Lin Fan dan Lin Mei.
"Kalian berdua datang ke kantor ku"
Lin Fan dan Lin Mei saling memandang. Lin Mei dengan acuh tak acuh hanya berjalan melewati Lin Fan. Tetapi Lin Fan cukup berat untuk pergi.
"Yah ini sudah takdir," desah Lin Fan kemudian memikirkan beberapa keuntungan "Lagian aku juga bisa meminta hadiah pertemuan kepadanya hehehe"
"Apakah ini kantor jenderal Ling Chen?" tanya Lin Mei yang telah mendahului Lin Fan.
Petugas penjaga didepan kantor dengan sigap menanggapi Lin Mei. Karena ia tahu identitas gadis didepannya ini dapat memicu peperangan galaksi.
__ADS_1
"Silahkan nona, jenderal Ling Chen telah menunggu kedatangan anda" kata petugas. Setelah membuka untuk Lin Mei ia hormat kemudian menutup pintu lagi.
Tak lama kemudian Lin Fan juga datang. Dengan santai Lin Fan bertanya kepada petugas yang sama.
"Oh paman, apa ini ruangan Si tua Chen?"
"Eh," petugas itu kaget, kemudian dengan cepat menanggapi, "Ya tuan muda Lin Fan, jenderal Ling Chen telah menunggu kedatangan anda"
Mendengar kata jenderal keluar dari mulut petugas Lin Fan cukup kaget. Karena ia tahu kekuatan paman ini hanya rata-rata.
"Yah tidak buruk" kata Lin Fan, "setelah lama berpisah ia akhirnya bisa menjadi jenderal"
Memasuki ruangan, Lin Fan melihat Ling Chen sedang asik berbincang dengan Lin Mei. Hanya saja, terlihat seperti Ling Chen berbicara sendiri karena Lin Mei sangat dingin kepada orang-orang selain Lin Fan dan kedua orangtuanya.
Maka dari itu, keluarga besar lebih menyayangi Lin Fan daripada Lin Mei. Bahkan mereka tahu bahwa Lin Fan tidak murni keluarga kandung mereka.
"Hahaha oi sahabat ku, bagaimana kabarmu? sudah menjadi jenderal tapi tidak memberi kabar?" ucap Lin Fan.
Lin Mei dan Ling Chen memandang kearah Lin Fan. Melihat tampang sembrono kakaknya, Lin Mei hanya menggelengkan kepalanya.
Ia semakin yakin, Lin Fan adalah anak haram ayahnya. Dari wajah dan perilaku tak ada bedanya dari Lin Zheng.
"Hehehe..jangan kaget paman. Mungkin beberapa bulan kemudian kekuatan ku sudah melewati mu" jawab Lin Fan dengan percaya diri.
"Yo sangat percaya diri. Jika kau bisa melewati dalam tahun ini, aku akan memberimu itu" kata Ling Chen dengan senyuman misterius tergantung di wajah tuanya.
Lin Fan bersemangat saat mendengar kata "itu". Karena menurut dalam ingatan, "itu" sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan.
"Hehehe oke paman, ingat janji mu"
"Yaya tenang saja" jawab Ling Chen, "Oh ya kakek mu akan dalam beberapa hari lagi"
"Hmm kakek ya?" kata Lin Fan, "Semoga saja dia membawa hadiah seperti tahun lalu"
Ling Chen menggelengkan kepalanya melihat keponakannya satu ini. Kemudian mengeluarkan sebuah chip.
"Nah ini hadiah dari paman. Aku dengar dari orang tua mu kau memiliki kekuatan tanah. Jadi aku memberi mu sebuah teknik untuk elemen tanah"
__ADS_1
"Hehe...paman tahu saja apa yang aku inginkan", kata Lin Fan, "Terimakasih paman"
Lin Fan mengambil chip itu kemudian memasukkan nya kedalam jam. Kemudian sebuah file terbuka dengan sendirinya.
Hologram muncul dari jam Lin Fan, yang penuh dengan kalimat. Kalimat tersebut perlahan berintegrasi ke dalam kepala Lin Fan.
Sebuah ingatan muncul dalam pikirannya. Ingatan mengenai latihan teknik elemen bumi. Dari tahap 1 hingga ke tahap 3 semuanya tercantum dalam ingatan ini.
"Yah memang menyenangkan memiliki chip ini" ucap Lin Fan, " sangat mudah digunakan"
"Kau kira itu chip biasa. Asal kau tau chip ini bisa membeli 1 negara di planet mu" jelas Lin Chen.
"Wow sangat mahal" kata Lin Fan, "Jadi, bukan kah ini menghabiskan gaji mu selama bertahun-tahun"
Ling Chen terkekeh geli mendengarnya, dengan santai ia menjawab,
"Hehehe..kau terlalu meremehkan paman mu nak. Jenderal ini hanya jabatan saja. Pekerjaan ku lebih baik daripada ini"
"Oh pekerjaan seperti apa paman?" tanya Lin Fan dan Lin Mei yang mendengar pun menjadi penasaran. Pekerjaan apa yang lebih baik daripada militer.
"Pekerjaan ku ialah perompak, Hahahaha" jawab Ling Chen yang tertawa puas.
"Benar kata kakek, paman ini memang tidak bisa diandalkan" desah Lin Fan.
Kemudian Lin Fan mengingat hadiah yang diberikan paman,
"Jangan-jangan hadiah ini..."
"Hahaha jangan teruskan kau sudah menyadari jawaban nya sendiri" jawab Ling Chen lagi dengan bahagia.
"Jadi paman apakah perompak itu menarik?" tanya Lin Fan, kemudian melanjutkan, "aku dengar dari kakek, katanya perompak ini perusak, penjelajah tidak jelas, pembunuh..."
Ling Chen dengan cepat menyela perkataan Lin Fan, " hey yang dikatakan kakek mu itu perompak dari ras lain yang merugikan ras kita. Sedangkan aku hanya mencuri dari ras lain bahkan sesekali membunuh perompak dari ras lain"
"Kalau begitu paman boleh kah aku bergabung?" tanya Lin Fan dengan semangat, "mengingat pakaian perompak yang digunakan oleh kru wanita, Lin Fan tanpa sadar meneteskan air liur nya.
"Boleh saja asal kan orang tua mu setuju. Tapi tunggu kekuatan mu mencapai jenderal bela diri. Aku pasti membawa mu" jawab Ling Chen.
__ADS_1
"Dasar hooligan, apakah kau tidak tahu paman apa yang dipikirkan laki-laki bajingan ini" sela Lin Mei yang sedang tidak dalam mood baik.
"Hehehe" Lin Fan dan Ling Chen terkekeh bersamaan.