
"Hero...." suara guru Ozan terdengar pelan.
"iya kakek...Hero disini," tanpa terasa airmata Hero mengalir melihat kondisi kakeknya yang tak berdaya.
"kakek senang bisa melihatmu lagi..."
"kalian...tidak usah drama seperti itu!!" Pluto, pimpinan pasukan vampir mengarahkan suaranya pada Hero.
"kau bocah kecil...kau harus ikut kami, jika dengan membunuh kakekmu bisa membuat kau ikut, maka akan kami lakukan.haa...haa..." Pluto tertawa penuh ejek kepada Hero.
"kek...biarkan aku selesaikan ini dulu," Hero kemudian melompat ke atas Penggung Naga Roku.
"Naga Roku...aku ingin mereka semua musnah malam ini."
"Kita lihat tuanku, apa mereka bisa lari...." Naga Roku kemudian menyemburkan api dari mulutnya.
"wraa....weaaar......api besar segera membakar hutan sekitar tempat tersebut, sebagian vampir yang tidak sempat menghindar terbakar dan musnah oleh naga Roku.
"boleh juga...tapi akulah Pluto, super vampir dari Aliansi Vampir Hitam tak kan mundur."
Pluto segera mengeluarkan serangan-serangan sambil terus menghindar dari semburan naga roku.
Pasukan vampir lain pun tidak tinggal diam, mereka ikut memberikan serangan pada naga roku. Namun begitu serangan mereka mengenai sisik naga, tiba-tiba serangan tersebut musnah.
Kulit naga roku memang begitu keras, hampir tidak ada senjata yang mampu melukainya. Di sisi lai pasuka vampir mulai kehilangan banyak anggotanya.
Pluto pun mengerahkan semua kekuatannya. Ia berusaha menjatuhkan naga tersebut. Namun setiap serangaan-serangannya seperti tidak berarti, hingga kemudian saat Pluto lengah, Naga Roku berhasil mendaratkan cakarnnya di dada Pluto.
Seketika darah hitam mengalir, namun tidak lama setelah itu luka cakaran tersebut telah pulih, namun tenaga dalam Pluto mulai terserap dan melemah
"aku tidak bisa mati disini..." Pluto berniat untuk kabur dari arena.
"pasukan...serang naga itu bersamaan, arahkan ke bocah kecil itu," Pluto berteriak memanggil pasukannya.
Ketika semua pasukan sedang menyerang Naga Roku, kesempatan itu digunakan oleh Pluto untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Naga api terbang....semburan api🔥," tiba-tiba Naga Roki mengeluarkan api yang berkali lipat besarnya dari mulutnya. Api tersebut terus membakar para vampir yang maju menyerang Naga Roki.
Benar seluruh pasukan vampir yang dibawa Pluto musnah terbakar.
"apaa.....ada yang melarikan diri ternyata?" Hero baru menyadari bahwa vampir yang telah melukai kakek gurunya telah lebih dulu melarikan diri.
"Naga Roku...bagaimana ini, pimpinan mereka kabur?"
"Apa kita harus mengejarnya...?" Naga roku menjawab. "Bukankah lebih baik mengantar orang yang kau panggil kakek guru itu pulang.."
"kau benar..."
Hero mendekati guru Ozan yang masih terduduk ditanah. Ia kelihatan lebih lemah.
"Kakek...aku akan membawa kakek pulang untuk di obati, kakek pasti sembuh." Hero menangis melihat kondisi kakek gurunya.
"Tidak Hero...mungkin umur kakek memang hanya sampai disini, kakek bahagia menemukanmu, masih bisa bertemu denganmu di ujung usia kakek."
"kakekk....." hero mulai menangis mendengar kata-kata guru Ozan.
"iya...akulah naga Roku," sang naga menjawab.
"bukankah seharusnya engkau sudah menghilang bersamaan dengan hilangnya Avatar, namun kini aku melihatmu disini. Sebelum aku pergi bisakah kau menjelaskan hal itu padaku...aku hanya mendengar cerita-cerita tentangmu dan kini aku memiliki kesempatan untuk bertanya langsung padamu.
"benar....entah berapa ratus tahun aku tertidur, namun setelah kematian tuanku yang dulu yakni avatarku, aku memutuskan untuk tidak keluar lagi dan menghilang dari dunia ini.
Aku tidak ingin terlibat lagi dengan urusan manusia, namun beberapa saat lalu bocah kecil bernama Hero ini membangunkanku."
"maka saat aku tahu, yang membangunkan ku adalah seorang bocah..kupikir ia tidak berbahaya, dan kemudian aku memilih untuk mengabdi padanya dengan memberikan darah murni ku untuk dirinya."
"kek...kakek jangan pergi, Hero sayang kakek." Hero memeluk tubuh kakek guru Ozan.
"Hero...Naga Roku akan menjadi penjaga mu, berjuanglah bersamanya, kakek akan mengawasimu dari sana."
"kek...maafkan Hero, Hero menyesal telah pergi-pergi hingga membuat kakek seperti ini."
__ADS_1
"Naga Roku...aku titipkan Hero padamu," suara guru Ozan terdengar makin pelan.
"aku akan menjaganya dengan baik...ia adalah tuanku sekarang," Naga Riku mengangguk pada guru Ozan.
"Hero...jaga dirimu baik-baik nak, kakek sayang padamu," sesaat setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya pada Hero, kakek Ozan tersenyum dan menghembuskan nafas yang terakhirnya.
"kakek...kakek......Ozan menangis sejadi-jadinya melihat kakek gurunya meninggal di pelukan. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Sampai beberapa saat ia menangis.
Naga Roku hanya bisa membiarkan tuan kecilnya menangis, ia bisa merasakan apa yang dia alami oleh tuannya.
Dulu waktu Avatar terakhir pemilik Naga Roku meninggal, Naga Roku pun merasa terpukul dan begitu bersedih. Itu yang menyebabkan ia mengurung diri dalam goa sampai Hero menemukannya sekarang.
"Naga Roku...kita harus membawa jasad kakek guru ke perguruan, kita harus menceritakan apa yang terjadi disini kepada perguruan."
"Apa kau sudah merasa lebih baik tuanku...?" Naga Roku menatap Hero.
"Setidaknya..aku tidak pernah melihat orangtuaku seperti apa, bagiku kakek guru Ozan adalah seperti ayahku, kehilangannya adalah pukulan yang begitu berat." Hero mulai meneteskan air matanya.
"beginilah dunia persilatan, akan selalu ada pertumpahan darah dan airmata...jadilah kuat, dengan begitu mungkin engkau akan bisa merubah takdir mu dan melindungi orang-orang yang kau sayangi." Naga Roku memberikan penjelasan kepada Hero.
"iya...aku harus kuat, haruss....!!"
Setelah selesai menangis, Hero meletakkan jasad kakek guru Ozan di punggung Naga Roku. Ia bergegas untuk kembali pulang ke perguruan Teratai putih.
"Naga Roku...ayok kita kembali," Hero memerintahkan Naga Roku untuk terbang kembali ke arah perguruan Teratai Putih.
"Kita ke arah mana tuanku...?"
"Kita akan terbang ke arah sana,,,tenggara, perguruan teratai putih tempatku berasal ada di arah sana."
Naga segera menggunakan kemampuannya untuk terbang menuju perguruan, Hero masih memikirkan apa yang akan dia katakan nanti di perguruan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti setelah sampai di perguruan.
Butuh waktu terbang hampir satu jam untuk sampai di perguruan teratai putih. Dari jauh kelihatan bangunan yang menyerupai bunga teratai berwarna putih.
"Naga Roku...lihat bangunan itu, kita hampir sampai," Hero menunjuk ke arah bangunan yang terlihat begitu kecil dari atas langit.
__ADS_1