
Ketika akhirnya Hero dan Naga Roku turun ke depan pintu masuk perguruan sontak membuat kaget semua orang.
"Naga...ada naga...," penjaga pintu berteriak keras hingga terdengar sampai ke dalam perguruan.
Hero kemudian turun dari Naga Roku, penjaga gerbang yang satu mengenali Hero.
"Heii..bukankah kau Hero?"
Hero hanya diam, sementara naga Roku menunggu di luar gerbang.
"aku ingin memberi tau sesuatu, dimana ketua Fiona ?" ketika Hero bersuara ia mencari keberadaan ketua Fiona.
Tidak lama setelah Hero bertanya, ketua Fiona muncul dari dalam. Ia segera keluar begitu terdengar ribut ada yang bilang tentang naga.
"kamu nak...Hero." ketua Fiona segera mendekati Hero.
"ada apa nak...?" apa yang terjadi ?'' ketua Fiona bingung karena Hero hanya diam.
"bibi...kakek guru, ia telah tiada...," Hero tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Air matanya mulai kembali menetes.
"kakek guru...kenapa dia ?"
__ADS_1
Naga Roku yang dari tadi memandangi Hero mulai angkat suara.
"Ia tewas terkena serangan dari salah seorang vampir ketika beradu serangan.."Naga Roku menceritakan kejadian yang menimpa kakek guru Ozan.
Kemudian Naga Riku menurunkan jasad kakek guru Ozan.
"Pasukan bawa masuk jasad guru..besok kita akan mengadakan upacara pemakaman untuknya," ketua Fiona berseru kepada anggota perguruan.
"Hero.. masuklah, bibi ingin bicara sebentar dengan naga itu."
"iya bibi..."Hero menurut saja apa yang diperintahkan guru Fiona padanya.
"Roku...tunggulah diluar, mungkin untuk beberapa saat aku akan istirahat didalam."
Begitu Hero masuk, ketua Fiona mendekati Naga Roku. Tak sedikitpun ketua Fiona takut dengan ular naga yang besar itu.
"terima kasih telah mengantar Hero dan membawa jasad guru Ozan kesini..," Ketua fiona menganggukkan kepala.
"tidak perlu sungkan,,sudah seharusnya aku menolong tuanku, Hero adalah tuanku, meskipun ia masih kecil dan kemampuannya belum seberapa..tapi ia lah yang membangunkan ku."
"Andai aku keluar lebih awal mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya..." Naga Riku menjelaskan situasi yang terjadi pada ketua Fiona.
__ADS_1
"jadi..kau tidak dari awal ikut pertempuran itu ?" ketua Fiona menyangka awalnya Naga Riku terlibat langsung tapi ternyata Naga Roku dan Hero datang ketika Ketua Ozan sudah kritis.
"Namun aku berhasil menghabisi semua pasukan aliansi vampir hitam itu, kecuali pimpinan pasukan itu...ia berhasil meloloskan diri."
"Aliansi Vampir Hitam....aku pernah mendengarnya. Mereka sekelompok vampir yang cukup kuat di daratan benua barat ini. Aku harus membalaskan kematian kakek guru ozan," Fiona makin tidak sabar untuk menghabisi Aliansi vampir hitam setelah mendengar penjelasan Naga Roku.
"aku tidak bisa terima....kematian guru Ozan harus dibalas kan."
"Tidak semudah itu... melihat apa yang menimpa guru Ozan, kekuatan vampir itu jelas dia atas rata-rata. Engkau sendirian tidak akan mampu."
"kau benar naga roku...lantas bagaimana?"
"Hero...aku melihat anak itu sangatlah berbakat, ajari ia semua ilmu dari perguruan ini, mungkin bersama nya dalam beberapa tahun lagi, saat kita bertemu dengan aliansi vampir hitam, kita bisa mengalahkannya."
"Dia memang bukan anak biasa, kami menemukannya enam tahun silam di sungai Tigris. Ia merupakan keturunan vampir dan werewolf."
"sudah aku duga...," Naga Roku menjelaskan bahwa saat bertemu Hero, ia melihat mata Hero bercahaya, seorang anak manusia dalam usia hero tidak mungkin menguasai jurus perubahan itu. Naga Roku juga bisa merasakan darah di tubuh Hero berbeda dengan kebanyakan manusia.
"Aku akan melatihnya lebih keras lagi...demi untuk bisa membalaskan kematian guru ozan," Fiona hanya mengatakan itu kepada Naga Roku di akhir pembicaraan mereka.
Malam itu mereka membicarakan banyak hal tentang Hero. Di sisi lain Hero tertidur pulas di perguruan dengan di selimuti perasaan sedih kehilangan kakek gurunya.
__ADS_1
Menjelang pagi hujan gerimis turun membasahi tanah di sekitar perguruan, menambah hawa disekitarnya semakin dingin. Alam seolah tau kehilangan orang yang begitu baik dan berpengaruh.