pendekar kocak

pendekar kocak
kakek yang aneh


__ADS_3

tiaaaa.....!!! teriak goan cang yang berlari memeluk jasad ayah nya yang sudah rebah di tanah tanpa memperdulikan kawanan perampok yang beringas haus darah itu.


" hahaha. ini satu lagi anak kecil menghantar kan nyawa"


sambil tertawa menyeringai sang perampok itu mengayun kan goloknya ke kepala sang bocah itu, niscaya kalau kena akan terpenggal lah karena saking tajam golok perampok itu.. ketika hanya tinggal beberapa dim dari leher tiba tiba golok itu mental terlepas dari tangan sang perampok dan menancap di pohon sampai melesak dalam dan menimbulkan dengung karena getaran yang tersisa. terkejutlah sang perampok


" siapa main gila di depan ku! cepat tunjukan batang hidungmu!"


dengan gagah perampok tersebut berteriak. padahal terasa olehnya bahwa tangan yang tadi memegang golok itu masih terasa kesemutan, tapi untuk menutupi rasa kagetnya lah dia berteriak.


terdengar suara..


" dasar kerbau kerbau dungu minta di angon ke akherat".


suara itu terdengar jelas mengambang diudara padahal si pemilik suara belum sampai ditempat. ketika suara hampir hilang muncul sekelebatan bayangan jarak waktunya sekedipan mata saja. tiba tiba muncul seorang kakek dengan baju tambal tambalan memakai kopiah miring dengan sandal yang di ikat tali dan dikalungkan di leher. sedangkan kakinya malah bertelanjang tanpa alas kaki. sebuah guci arak yang selalu di pinggangm sedangkan tangan kiri membawa kipas butut. sambil duduk di sebuah batu besar hampir menyerupai punggung kerbau dia duduk bagaikan penggembala.


sambil meneguk arak dan mengipasi diri dia berkata sendiri ke batu yang dia duduki.


"ayo kerbau ayo jalan ke sungai ajak teman teman dungu mu itu yang sedang berkerumun disini agar cepat mandi agar tidak menyebarkan bau yang membuat aku mual"


ujar sang kakek tanpa memperdulikan kawanan perampok tersebut.


mendengar ocehan sang kakek itu para kawanan perampok itu marah. dengan emosi yang meluap luap mereka serentak dengan beringas tanpa di komando menyerang sang kakek. terlihat ayunan golok yang mengkilat saking tajamnya.


Craakkkk!!!!... hah??!!...


rupanya bacokan golok itu mengenai batu sehingga menimbulkan suara yang keras nyaring akibat benturan golok dan batu terlihat batu itu gompal gompal dalam. tapi sang kakek tidak berada di tempat, mereka semua kaget dan bingung.


" heiiii.. lihat apa? batu kok di cacah, dikira sayur sawi kale? kalian mau buat capcay ya? aku disini..


Terdengar suara dari arah belakang para perampok. seketika mereka berbalik. terlihat sang kakek sedang menenggak arak nya dan bersandar pada sebuah batang pohon yang doyong sehingga enak untuk tempat bersandar.


" siapa kau? kenapa ikut campur dengan urusan kami?"


Tanya sang pemimpin perampok itu. ada nada gentar dalam kalimat itu. jelas lah para perampok itu gentar. karena ginkang yg tinggi dari si kakek sehingga mudah mempermainkan mereka. belum lagi iwekang nya yang tinggi sehingga dapat membuat ayunan golok perampok itu terlepas dan menancap dibatang pohon. padahal mungkin hanya karena lemparan kerikil pikir sang perampok.


" heran... kerbau kerbau ini bukannya ke sungai malah membuat onar di sini. agaknya harus di gebah satu satu baru mengerti" kakek itu bicara sendiri seakan akan tidak ada orang di sana. marah lah si pemimpin perampok itu dengan loncat dia menyerang mengeluarkan jurus harimau menerkam monyet. golok di tangan kanan nya bergerak cepat menebas dari atas kanan ke samping dalam. sedangkan tangan kiri mementang dengan jurus elang melihat kelinci. dengan santai nya tanpa menoleh sang kakek memiringkan badannya kebelakang sambil menenggak arak. tebasan golok itu menghantam tempat kosong. setelah dekat tanpa di sangka oleh perampok itu menyembur arak dari mulut si kakek disertai iwekang yang tinggi ke muka perampok sehingga daya sembur itu bagai ribuan jarum yang melesat, jarak yang sangat dekat itu sangat susah untuk berkelit.


aaaarrrgggh!!!.... muka ku.. muka ku...!!!


teriak sang perampok.


golok sudah dia lempar entah kemana. sambil memegang mukanya dengan kedua tangannya sang perampok berteriak kesakitan dan berlarian kacau tanpa melihat arah. sehingga beberapa kali jatuh tersandung.

__ADS_1


"hehehe.. ternyata lebih tebal kulit kerbau daripada mukanya"


ujar sang kakek sambil tertawa sendiri. tiba2 dia berkelebat laksana bayangan tanpa terlihat jelas.


aaaaawww!!!... uuuhhhh!!!... haayaaaa!!!.. teriak para kawanan perampok. ternyata sekali bergerak sang kakek itu menghadapi para kawanan perampok. ada yang di tampar sampai giginya copot 2. ada yang ditarik kupingnya sampai terjerambat jatuh. ada yang hidungnya di sentil sampai bengkak. ada yang di tendang kakinya sampai terpelanting. ada yang kaki patah, tulang dengkul retak, macam macam aduan mengaduh sambil mengelus elusbtempat yang sakitnya. mereka sama sekali tidak dapat melakukan perlawanan karena cepatnya gerakan sang kakek sampai tak terlihat.


"sudah cukup kah kalian, jangan sampai aku hari ini melanggar sumpahku yang sudah puluhan tahun berpantangan membunuh" ujar sang kakek. sambil mengaduh kesakitan para perampok ini minta ampun belas kasihan dari sang kakek.


" ampun locianpwe, ampuni kami. siapa gerangan locianpwe?"


" orang memanggilku koai lojin".


tukas sang kakek.


Terkejut lah para perampok itu. mereka memang pernah mendengar bahwa puluhan tahun lalu ada seorang pendekar yang berkelakuan aneh walau bukan dari kalangan lurus, tapi juga bukan dari kalangan hek to ( kalangan hitam) yang sepak terjangnya pernah menggetarkan bulim dengan jurus pedang langitnya dan ginkang yang belum ada tandingan pada jamannya. entah kenapa tiba tiba tidak terdengar kabarmya lagi sampai sekarang. rupanya sang kakek itu sudah menyepi meninggalkan hiruk pikuknya bulim.


"baik aku ampuni, kalian tinggalkan tempat ini. ganti lah haluan jangan merampok lagi. jika aku masih melihat kalian merampok lagi, aku tidak segan untuk menghukum kalian" juga sebelum itu kuburkan dulu para korban kalian ini. baru kalian bubar".


" baik locianpwe".


kemudian para perampok itu bergegas.


Goan cang yang dari tadi terlihat memeluk jenasah ayahnya itu. ternyata pingsan karena saking sedih nya. tapi hebatnya dia tidak menangis. karena dia selalu teringat nasehat ayahnya. lelaki sejati boleh dia menderita, boleh dia mengalami kesedihan bertubi tubi tapi lelaki sejati tidak menangis. lelaki sejati harus bisa bangkit dari keterpurukan. itu yang selalu di ingat nya dri nasehat ayahnya. goan cang termasuk kutu buku. hobi nya membaca. terkadang jika dia tidak ada di rumah, pasti ayahnya pergi mencari nya di perpustakaan kota. yang tidak jauh dari rumahnya. dan memang dia anak yang pandai, menyenangkan. sehingga penjaga perpustakaan si mpek liu sangat sayang dengannya. jika ada buku-buku baru yang di datangkan dari kotaraja. pasti goan cang yang pertama baca. kegemarannya itu membaca cerita dan sajak kuno dari masa samkok. perbintangan juga senang dengan bahasa asing seperti bahasa persia atau thian tok ( india). padahal mpek liu nya saja jika dia ikut baca selalu menggeleng kepala karena menurut mpek liu sangat pusing bikin sakit kepala melihat rumus rumus perbintangan ataupun bahasa asing yang seperti ular melingkar di pagar katanya. sedangkan goancang karena sering ikut sang ayah berkelana mengawal barang ke beberapa negara tetangga maupun kota kota asing. jadi sedikit demi sedkit dia belajar baca dan tulisan seperti persia atau india apalagi anak buah ayahnya itu ada beberapa orang asing yang akrab dengan goan cang. sehingga makin cepat lah dia belajar karena di didik oleh paman-paman anak buah ayahnya itu. di samping membaca, goan cang juga sudah mulai di ajari bela diri, walau masih dasar. seperti bhesi ( kuda - kuda), atau ilmu pernapasan dasar. sehingga badannya tidak mudah lelah dan selalu sehat.


koai lojin menghela nafas.


kemudian di angkatnya anak itu di hempitnya di tangan kiri. lalu berkelebat.lah dari tempat itu dengan ginkang nya ke puncak hengsan.. "eh..heh.."


Terdengar nafas goan cang tersengal. saking cepatnya sang kakek berlari.. nafas goan cang pun sesak. karena kesulitan bernafas.. koai lojin sadar maka berhentilah ia berlari cepat.


" aku lupa kalau anak ini tidak punya beladiri" gumannya. maka berhenti lah dia untuk mengaso sebentar di bawah pohon yang rindang. memang cukup sejuk udara di pegunungan hengsan ini. di perhatikan anak ini di raba punggungnya, kaki, kepala nya. seperti pembeli lagi menaksir kerbau di pelelangan.


" anak ini mempunyai tulang bersih sangat cocok untuk belajar ilmu tingkat tinggi. apa memang jodoh anak ini untuk jadi muridku?" pikir sang kakek.


tapi tidak serta merta kakek ini langsung menginginkan seorang murid.


'harus ku lihat watak nya bagaimana. jika lurus bagus lah, jika sesat maka bisa menjadi bencana bagi bulim"


guman sang kakek.


kemudian dia tekan diantara hidung dan mulut si anak. tidak lama goan can siuman dari pingsan nya.


"Tiaaaa...!!!.".. teriaknya ketika dia membuka mata seketika dia terbangun duduk sambil menoleh ke kanan kiri.

__ADS_1


" tenang lah nak".


ujar sang kakek.


" maaf aku terlambat datang, sehingga tidak terlambat menolong ayahmu dan para piawsu".


sambil menghela dan terlihat sang kakek berwajah murung menyesal. goan cang bangkit dengan tulus penuh rasa berterima kasih ia menjura


" locianpwe terima kasih telah menolong jiwa siaute".


Ucap goan cang.


"Tapi kemana para penjahat itu locianpwe?"


" Sudah cayhe gebah semua meminggalkan tempat ini, ku biarkan mereka tetap hidup" tukas sang kakek.


" balas membalas, dendam mendendam tak akan pernah ada habisnya" , " jikalau nanti mereka masih melakukan kejahatan, adalah tugasmu yang menghukum mereka, masih panjang waktuu nak. sekarang belum saatnya".


walau goan cang merasa sedih sekali karena kehilangan ayahanda nya yang dia cintai tapi dengan tabah dan tidak melupakan budi yang selalu ayahanda nya ajarkan, dia menjura berterima kasih.


" sudahlah nak tidak apa. setelah ini kau mau kemana?, apa kau ada sanak keluarga di sekitar sini?" tanya koai lojin. goan cang menggeleng pelan " tidak ada locianpwe, hanya siaute dan ayahanda. ibu telah meninggal dulu sekali sewaktu melahirkan siaute, ada bibi siaute tinggal di kotaraja kaifeng. sambil berkaca kaca mata nya menahan kesedihan. tapi tidak ada isak tangis. " siaute mau memakamkan mendiang ayahanda untuk memberi penghormatan juga memberi papan nama nya locianpwe" ujar goan cang.


kakek koai lojin ini manggut-manggut sambil berkata


"jarak dari sini ke kotaraja memerlukan waktu sebulan perjalanan. sungguh perjalanan yang berbahaya untuk anak sekecilmu. jikalau kamu mau, mari ikut bersama ku. siapa nama mu dan nama mendiang ayahmu?"


"siaute bernama tan goan cang. ayahanda siaute bernama tan hok cing dari kota ling an".


" baiklah,. cang jie berjalan lah kearah timur nanti kau akan menemukan makam ayahmu di bawah pohon siong, aku beri tanda dengan kain putih. karena aku tidak tahu nama nya siapa. setelah urusanmu selesai, kau naik lah ke puncak hengsan ini mengambil arah selatan. aku tunggu km di atas sana."


Tanpa menunggu jawaban dari goan cang seketika kakek itu berkelebat menghilang dari tempat itu. terhenyak goan cang melihatnya. " apa kakek itu dewa gunung yang datang menolong ku?" pikir goan cang. cepat cepat dia bersujud memberi hormat terima kasih dewa gunung terima kasih. kemudian dia bergegas menuju timur arah yang kakek itu katakan menuju makam ayahanda nya. tanpa goan cang sadari, si kakek itu berkelebat menuju makam ayahanda goan cang. di sana dia mencari sepotong kayu yang banyak terdapat di hutan itu. dengan tenaga iwekang nya dia menulis memakai jari nya menggores dalam nama tan hok cing untuk papan na di makam itu. mudah saja seperti memotong tahu baginya karena kesempurnaan iwekangnya itu. kemudian ditancapkan potongan kayu itu lalu dia berkelabat dari tempat itu. loncat ke atas pohon yang tinggi dan lebat. sehingga tidak nampakndari bawah. dan berdiam disana sampai goan cang datang. sang kakek melihat begitu goan cang sangat menghormati ayahandanya. duduk bersimpuh berdoa dengan khusyuknya sambil sesekali menyeka mata nya yang basah airmata walau tidak terlihat dia berisak tangis.


"tiaaa (ayah)... yang tenang beristirahat disana, acang akan selalu mengingat nasehat tiaaa.. untuk menjadi anak yang baik mengutamakan kejujuran dan keadilan". kemudian dia memberi penghormatan terakhir. setelah itu dia bangkit kemudian berjalan menuju selatan ke arah sang kakek tunjukan itu. walaupun terasa berat dia melangkah meninggalkan tempat itu, tapi harus. karena dia tidak tau dan bingung arah mana lagi yang dia tempuh. sedangkan ke kotaraja perlu 1 bulan perjalanan dengan berkuda. mudah mudahan sang kakek mau menerima aku sementara. biarlah aku akan bantu cuci atau merapikan rumah nya sang kakek. pikir goan cang. dia tidak tau kalau sang kakek itu tinggal nya di goa bukan di rumah. lagipula tempat pertapaan nya itu di gunung thaysan bukan digunung hengsan ini. koai lojin ini kebetulan lewat karena bermaksud menuju ke kediaman si tabib sakti she loa. yang memang berada di puncak hengsan. memang rutin 3 bulan sekali pasti mereka berkunjung, tidak lain karena mereka ini bertanding catur. tahun ini saja sudah 3 kali koai lojin ke kediaman tabib sakti dan 3 kali pula koai lojin ini berturut turut kalah. dan sore itu..


"heiii tabib bangkrut sedang apa kau? apa kau ada di rumah? teriak koailojin.


"hahaha... untuk apa si pedang rongsok ini datang lagi? apa kau belum terima kalah dan belum puas kena hukuman muka mu coreng moreng ku semir hitam seperti pantat kuali?" jawaban dari dalam rumah. terdengar langkah kaki yang ringan sekali membuka kan pintu. keluarlah seorang kakek yang sudah tua tapi tetap gagah, raut mukanya malah tidak ada keriput walau rambut sudah memutih semua. seperti berumur 40 thnan padahal umur aslinya tidak beda jauh dengan koai lojin di umur 80 thnan ini.Yok Sian atau tabib dewa julukannya. nama aslinya ada lah loa cin kim. tapi sedikit orang yang tau nama asli sang dewa tabib ini. perangainya pun aneh. dia tidak akan mengobati pasien nya walau pasien yang datang kepadanya itu nafasnya sudah satu satu. kecuali atas rekomendasi temannya ini koai lojin. atau pasien yang dapat mengalahkan nya bermain catur, atau setidaknya seri. baru dia bersedia mengobati. " hahaha.. kau semakin muda saja tabib bangkrut". ujar koai tojin. " sini temani aku bermain catur"


sambil berkata lalu menenggak arak wangi nya itu.


"yan cia... segera bawakan papan catur ke depan". teriak sang tabib.


" baik suhu"

__ADS_1


terdengar jawaban dari ruangan dapur obat. ternyata yan cia itu adalah seorang murid dari dewa obat ini. berumur 14 tahun dengan perawakan tinggi berkulit putih memakai ikat kepala dan jubah biru ala pelajar. serasa pas pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu selain wajahnya yang tampan, memang cekatan dan selalu riang.


__ADS_2