pendekar kocak

pendekar kocak
pertolongan tak terduga


__ADS_3

Yang ternyata peta itu hanya akal akalan para pemberontak untuk mengacaukan bulim.


Legenda dewa pedang memang nyata, tapi memang belum ada yang menemukan makam maupun kitab peninggalannya.


Setelah beberapa lama di markas kaypang, koai lojin pun melanjutkan perjalanannya.


Pangcu kaypang cabang kota lu'an berjanji bahwa informasi ini akan di teruskan pada pangcu utama secepatnya, mengingat pertemuan besar kaypang tidak lama lagi.


Guru.. dimana kah engkau?.."


Siau ba termenung duduk atas batang pohon kelapa yang telah rubuh dipinggir danau.


dia memandang jauh ke danau yang luas itu, terlihat dari kejauhan di sebelah kirinya pagoda yang menjulang tinggi demikian gagah.


pagoda yang menurut cerita rakyat disana adalah pagoda hukuman pai su cen oleh biksu pakhay. (legenda ular putih).


" pai su cen saja akhirnya bisa bertemu dengan sie han wen, masa aku tidak bisa menemukan guru ku?" pikir siau ba dalam hati.


sore itu memang sudah mulai sepi, para nelayan yang biasa mencari ikan di danau yang sangat luas itu sudah berlabuh. danau yang terhubung dengan anak sungai kuning ini merupakan salah satu mata pencaharian penduduk sekitarnya.


Siau ba bangkit dari duduknya, kemudian dia berjalan ke salah satu sampan milik nelayan.


" aku pinjam sebentar sampan ini, aku mau mencoba menyebrang, mungkin dapat menemukan jejak guruku" pikir siauba.


Saat ini hari sudah mulai gelap. langit tertutup banyaknya awan awan tebal. sehingga semakin menambah gelap nya suasana di tempat itu.


Siau ba perlahan mendayung sampan itu, awalnya dia sedikit kesulitan karena dia belum pernah mendayung sampan. akhirnya setelah beberapa lama, dia bisa juga mendayung. bemodalkan kenekatannya dia melaju ketengah padahal dia tidak bisa berenang.


ombak yang tenang memudahkan siauba mendayung. tidak terasa sudah 2 jam berlalu. semakin menuju ke tengah danau. semakin kuat terjangan ombak, angin pun semakin berhembus kencang karena tidak ada halangan apapun di tengah temgah itu untuk menahan laju angin.


Siau ba menaikan layar sehingga menambah cepat laju sampan itu. tapi karena angin berhembus dari sisi kiri pegunungan membuat sampan yang di kemudikan siau ba menuju sungai kuning tanpa dia sadari, bukan menuju sebrang danau. gelapnya malam membuat pandangan siau ba terbatas.


"kok belum sampai ke sebrang?" pikir sia ba


" tidak apa lah, toh aku tidak di buru waktu" lanjut dia dalam hati sambil mendayung mengemudikan sampan nya.


Sekonyong konyong nya terlihat kilatan petir. dan suara nya memekakan telinga


"Sreeetseett!!..Duaaarrrr!!!"


"Celaka..!, akan ada badai.., pantas saja para nelayan sore sore sudah kembali"


Panik lah siauba, segera dia cepat cepat mendayung agar sampai di tepian.


angin mulai kencang tak tentu arah, ombak mulai terlihat mengganas. tak lama kemudian turun hujan lebat. petir mulai bersahut sahutan.


dalam keadaan panik, siau ba terus mendayung, perahu mulai oleng ke kiri ke kanan. dia tidak mengerti harus menurunkan layar.


tak lama perahu itu mulai terombang ambing oleh ganasnya ombak.

__ADS_1


"kraaakkk!!" tiang sampan itu patah. untung tidak minimpa siauba yang saat itu sedang berpegangan pada sisi kiri kanan perahu.


angin mulai menggulung gulung beserta ombak yang meninggi.


perahu berputar putar terombang ambing di hempas ombak. siau ba mulai merasakan mual dan pusing. dengan iwekang nya dia bertahan agar jangan pingsan.


Sampan sekecil itu tidak kuat menahan amukan alam. akhirnya suatu ketika sampan itu terbalik pecah terkena hempasan ombak. siauba terpental masuk ke dalam air.


Gelagapan dia karena tidak bisa berenang. air sudah ada yang terminum.


"mungkin inilah akhir hidupku, maaf kan aku guru, ibu, cici yang belum sempat menemukan kalian" pikir siauba yang menitikan air mata tapi samar dengan air di dalam danau.


dia mulai tenggelam, tangan dan kaki nya bergerak menggapai gapai kiri kanan mencoba untuk berenang ke permukaan. tapi permukaan semakin jauh, dia semakin tenggelam. semakin dalam semakin gelap keadaannya.


ketika itu tangannya menggapai meraih sesuatu. terasa keras dan licin, tapi bergerak.


secepat itu tanpa dia sadar, dia memegang kuat kuat benda itu. ternyata benda itu bergerak menuju permukaan. siauba yang saat itu dalam keadaan antara sadar dan tidak. tetap saja memegang kuat kuat benda itu. akhirnya benda itu muncul di permukaan tapi tetap bergerak. siau ba akhirnya bisa bernafas karena muncul di permukaan. tapi badannya terasa sangat letih sekali. matanya pun terpejam. tapi cengkraman tangannya tak lepas dari benda itu. siauba sudah pasrah akan hidup mati nya. ombak yang mengganas silih berganti menerpa wajahnya. timbul tenggelam keadaannya. tapi benda itu bergerak maju. tak lama kemudian benda itu kembali memyelam. terus kedalam, kali ini menyelam memasuki sebuah lorong lorong gua di dalam air. siauba yang sudah pasrah akan hidupnya. tetap berpegangan dengan benda itu. siauba mulai pingsan setelah puluhan detik berlalu.


"Dimana aku?" "apakah ini yang di sebut hunkeng?" (alam baka)


Siauba mencoba membuka mata, kemudian mencoba untuk bangun duduk. seluruh tubuhnya terasa sakit sakit. terbatuk batuk dia terbangun sambil memuntahkan air yang banyak terminum.


dia memperhatikan sekelilingnya, ternyata dia berada di mulut sebuah gua. setengah kaki nya masih basah karena ternyata kakinya masih didalam air. keadaan remang remang tapi ada cahaya kekuningan dari dinding goa.


semacam fosfor yang mengeluarkan cahaya redup. tapi cukup membantu penglihatannya.


ketika dia menoleh kebelakang, sungguh terperanjat sekali dia.


kura kura inilah yang menolong siauba, karena tanpa di sengaja ketika siauba tenggelam, kura kura ini lewat. dan pangkal batoknya (cangkang) terpegang oleh siauba. memang karunia Tuhan tiada batas nya. siauba belum waktunya berpulang.


"Auuuwww....!!"


Siauba sampai mencubit paha nya sendiri, terasa bener bener sakit. ternyata ini bukan mimpi atau sorga.


"inkong kakek kura kura yang terhormat, apakah kakek kura kura yang mrnolong tecu?" siauba sambil menjura berkata.


"kriiaakk..kiiaakk..kaaakk.." jawab kura kura tua itu seperti mengerti akan pertanyaan siauba.


"ahhh.. terima kasih kakek kura kura" kata siauba.


tiba tiba kura kura tersebut bergerak masuk ke dalam air.


"tunggu kakek kurakura... !!?" teriak siauba


Telat.., kura kura itu sudah menyelam.


siauba memeriksa sekliling gua itu, tampak dinding dinding gua itu berlumut dan diatasnya muncul staglagtit fosfor yang berusia jutaan tahun. tapi memancarkan sinar kekuningan sehingga ruangan tidak gelap. di belakangnya ternyata ada lorong yang menjorok kedalam tidak begitu tinggi hanya sekitar leher orang dewasa tapi lebar nya sekitar 2 meter, hanya keliatan gua itu berbelok. sehingga dengan pandangan mata nya siauba tidak dapat melihat lebih dalam.


siauba dengan badan masih merasa sakit dan letih, dia beranjak perlahan lahan untuk mencoba masuk ke lebih dalam gua itu. sambil berpegangan dengan dinding gua yang terasa dingin dan di penuhi oleh lumut dia berjalan perlahan.

__ADS_1


Semakin ke dalam terasa semakin melebar gua itu juga semakin tinggi. terdengar suara gemerocik air yang mengalir dari dinding gua.


Siauba terus berjalan ke dalam. suhu di dalam gua itu terasa semakin hangat. dan cahaya di dalam gua semakin terang.


siauba terheran dengan perubahan ini.


"cahaya semakin terang, apakah gua ini ada penghuni nya kah?" tanya nya dalam hati.


ketika sampai di ujung gua kelihatan gua itu berbelok tajam ke kanan. seperti sekat sebuah ruangan yang terbentuk alami.


Siauba melongok ke dalam gua.


sangat terkejut siauba, rupanya ada seseorang yang sedang duduk bermeditasi di atas batu di pojok ruangan itu. dan cahaya yang cukup terang di dalam ruangan ternyata berasal dari kristal yang bulat sebesar kepalan tangan yangenempel lekat di langit langit gua.


"permisi locianpwe, maafkan siawte yang telah lancang memasuki gua pertapaan tanpa izin" siauba menjura.


Tapi tidak ada jawaban dari pertapa yang sedang duduk diam bermeditasi itu.


siauba perlahan lahan masuk dan mendekati pertapa itu.


setelah di dekati, siauba memperhatikan ternyata bukan kakek pertapa sedang bermeditasi. tapi diam tidak bergerak. pertapa itu sudah meninggal lama. tapi jenasahnya terlihat utuh,bahkan pakaiannya pun terlihat utuh hanya kering, tapi tidak di temukan sarang laba laba atau binatang lain yang bersarang di tubuh jenasah itu.


hawa hangat yang siauba rasakan berasal dari jenasah pertapa itu.


mungkin berasal dari batu yang di tempati pertapa pikir siauba.


ruangan sangat luas, sehingga terasa tidak pengap. lantai nya terlihat bersih seperti selalu di sapu hanya pasir halus yang menjadi dasar gua itu. tapi terlihat garis garis halus dilantai. siauba takjub dengan kondisi itu.


"bagaimana bisa lantai ini selalu bersih?, tapi ada guratan guratan halus dilantai yang mengarah ke luar gua?"


dia memperhatikan jenasah pertapa itu, kemudian siauba bersujud dan mendoakan jenasah itu.


"locianpwe, walau kita tidak saling mengenal, tecu doakan semoga tenang di alam sana. tecu siauba jika diijinkan, akan mengebumikan jenasah locianpwe". kemudian siauba bersujud sampai dahi nya menyentuh lantai. dia bersujud sebanyak 3 kali.


"eh apa ini?"


siauba melihat di bawah batu ada tonjolan sebesar ruas jari yang mencuat keluar dari batu itu, dengan penasaran dia coba tekan. tapi tidak berubah, maka dia mencoba menariknya.


ketika ditarik, sekonyong konyongnya terdengar suara menderit di sampingnya di dekat dinding.


terlihat ada sebuah lobang rahasia terbuka yang cukup lebar. dilantai dekat dinding yang tadi nya rata. mungkin sang kakek almarhum ini seorang arsitek pada jaman nya, sehingga dapat membuat alat alat rahasia.


siauba terkagum dengan hal itu.


kemudian dia mendekati lobang dan melihat kedalam nya, ternyata dinding di dalam lobang itu terkikis rapih dan kering. terlihat ada sebuah peti jenasah.


perlahan lahan peti itu dibuka oleh siauba.


ternyata peti kosong, hanya ada satu buah surat yang terbuat dari kulit kayu, terlihat dari goresan tulisannya itu menggunakan iwekang yang sempurna.

__ADS_1


"hebat..locianpwe ini, telah mempersiapkan semua nya" guman siauba dalam hati.


"kepada siapapun cucu yang menemukan jasadku, berarti berjodoh denganku. jika tidak keberatan, sudilah mengebumikan jasad ku di peti ini"


__ADS_2