
"semua bawa ke markas, ikat para kelasi nya" seru pemimpin itu
"siap ketua!" seru para anak buah perampok itu.
maka para penumpang di ikat dan dinpaksa menyerahkan barang berharga mereka. sedangkan para kelasi di paksa berkumpul.
tangan mereka semua diikat dan semua di jadikan satu jalur.
tak lama perahu yang telah di ambil alih oleh perompak ini mengikuti perahu di depannya memasuki sebuah celah kecil yang tertutup oleh tebalnya ilalang. sehingga menjadi jalan rahasia.
ternyata markas mereka ada di sebuah cerukan sungai yang tak terlihat.
kapal segera di sandarkan dan ditambatkan. semua tawanan di giring berjalan menuju sebuah bukit kecil melalui jalan setapak. tampak wajah wajah ketakutan pada tawanan yang sebagian besar adalah keluarga para saudagar.
para tawanan di bagi menjadi dua kelompok. goan cang ikut dalam tawanan para saudagar, sedangkan siauba dalam kelompok kelasi kapal.
dengan wajah pucat berkeringat dingin sang pemilik kapal terus berjalan tertunduk mengikuti perompak di depan nya.
sedangkan siauba sesekali melirik ke sekitar, mempelajari situasi di sekitar.
tak jauh dari sungai itu tampak cahaya terang di atas bukit.
rupanya satu perkampungan para perompak sungai itu.
ketika mereka sampai di gerbang, tampak sebuah buaya berukuran besar yang telah di awetkan dengan mulut terbuka tergantung di atas gapura.
mereka di sambut oleh puluhan perompak yang membawa obor dan bersenjata golok yang terrselip di pinggang.
"masukan mereka ke ruang tahanan!" ujar kepala perompak barusan.
"baik ketua!" seru salah seorang anak buah nya.
sedangkan ketua mereka, pergi menghadap pangcu buaya sakti. untuk melaporkan hasil rampasan dan para tawanan.
isak tangis dan penuh ketakutan tampak pada sebagian tawanan wanita.
mereka di kumpulkan dalam satu ruang tahanan.
siauba yang melihat dalam ruang tahanan itu terdapat jerami kering yang tebal, segera merebahkan diri dan tidur mendengkur walau tangan nya terikat, seakan tidak memperdulikan sekitarnya.
goan cang yang melihat kelakuan sahabat baru nya ini hanya menggelengkan kepala.
"heeyy bulet! bangunn!" seru seorang penjaga sambil menendang pantat siauba.
"Adaauuww..! teriak siauba yang bangun meringis sambil mengusap usap pantat nya.
para tawanan yang ketika itu sedang takut, malah ada yang tertawa kecil tertahan melihat tingkat siauba.
"siapa suruh tidur?" ucap penjaga dengan tampang galak di buat buat itu.
"Ampun pendekar besar, aku kira masuk ruangan di suruh tidur" seru siauba yang sambil menguap.
penjaga tahanan itu bangga di sebut pendekar besar. dengan dada busung dan hidung berkembang, layaknya bos besar, dia memarahi siauba.
"kau ini, sudah pakaian butut seperti jembel, badan bulat besar, pasti makannya banyak, walah tawanan kayak kau ini, bisa rugi bandar nanti!" seru penjaga itu.
sontak para tawanan tertawa mendengar gerutu sang penjaga.
__ADS_1
sedangkan siauba hanya cengar cengir saja mendengarnya.
"sana kau bantu ambilkan ransum untuk para tawanan!" seru penjaga itu. "Awas jangan kau curi makan!" katanya lagi.
Siauba segera bangkit dan berjalan mengikuti penjaga yang mengawal nya menuju tempat ransum.
sepanjang jalan yang melalui lorong lorong, siauba memperhatikan sekitarnya. agar dapat memastikan seberapa besar kekuatan para perompak ini.
dia melihat satu bangunan besar di tengah perkampungan itu yang terang benderang, tampaknya itu adalah bangunan pangcu mereka si buaya sakti. tampak beberapa penjaga yang berjaga di pintu masuk bangunan itu.
setelah tidak lama berjalan, sampai lah dia di satu ruangan yang lebih mirip sebuah dapur.
"itu kau bawa ransum itu" kemudian kau bagikan!" seru penjaga itu.
ternyata ransum ransum itu sudah tersedia pada 2 buah kotak kayu. sehingga memudahkan untuk di bawa.
sambil membawa ransum itu, siauba bertanya kepada penjaga itu.
"taihap (pendekar besar), ternyata kalian walau perompak sadis, tapi tetap memperhatikan tawanan" katanya.
"hmmm.. itu perintah pangcu kami, yang kami inginkan hanya harta benda, bukan nyawa" ujar nya.
"lagi pula, hasil rampasan kami itu tidak semua untuk kami"
"Oh?.. lalu untuk siapa hasil rampasan itu?" tanya siauba penasaran.
"Sudah..! kauu jangan banyak tanya, cepat bawa ransum itu!" seru penjaga tersebut.
siauba semakin penasaran mendemgar penjelasan penjaga itu.
"Harus aku selidiki lebih dalam" pikir nya lagi.
setelah sampai di ruang tahanan itu, siaub segera membagi bagikan ransum itu,
tqpi dia tidak melihat si pemilik kapal.
lalu dia bertanya para kelasi.
ternyata, pemilik kapal itu di bawa menuju pangcu mereka. entah apa gerangan.
siauba yang mendekat kepada goan cang, lalu menceritakan pembicaraan antara dia dan penjaga lalu.
"kira kira siapa gerangan pangcu mereka ini cang ko?"
goan cang yang mendengar penjelasan siauba itu hanya menggelengkan kepala nya.
"aku sendiri belum jelas siapa kah pangcu.mereka ini ba te, minim nya informasi" kata goan cang.
"nanti malam, aku akan mencoba menyelidiki" bisik goan cang.
"Aku ikut.." seru siauba.
goancang mengangguk, walau dia tampak kuatir.
dalam pikirannya, apakah adik siauba ini bisa ilmu silat, bagaimana dengan ginkangmya? dari tampang dan postur tubuhnya siauba ini layaknya seseorang yang tidak bisa silat. pikir goancang.
"tenang cangko, aku tidak akan merepotkan" kata siauba dengan mulut penuh ransum roti kering itu sehingga pipinya yang bulat makin semakin bulat dan hidung tampak mengecil efek mulut penuh makanan. sedangkan di tangan kiri kanannya masih memegang ransum.
__ADS_1
melihat muka siauba yang sedang makan itu, sehingga nampak lucu. goancang tertawa.
"Sreeett...seeettt....!" Ketika malam tiba.
para tawanan yang hanya di jaga oleh 4 orang penjaga saja. dengan mudahnya di lumpukan oleh goan cang yang memakai salah satu jurus keahlian goancang. yaitu seni melempar amgi (senjata rahasia)
senjata rahasia dia yang berupa jarum jarum akupuntur itu melesat cepat memgenai hiatnto titik tidur pada tengkuk para penjaga.
seketika mereka menggelosor berjatuhan tanpa sadar siapa yang memyerang mereka.
setelah dirasa aman, goancang mengeluarkan pedang dari balik jubah nya,. kemudian memotong rantai pengikat pintu tahanan seperti memotong tahu karena saking tajam nya pedang pusaka itu.
"woooww.. indah sekali pedangmu cang ko" ujar siauba berbisik.
goan cang hanya tersenyum saja sambil memberi isyarat agar siauba bergerak, dan menyuruh para tawanana untuk menunggu mereka.
segera goan cang berkelebat menuju bangunan di tengah perkampungan itu.
sedangkan siauba menyisir perkampungan untuk melumpuhkan para penjaga.
dengan ginkang nya berlari di atas rumput, siauba berkelebat bagaikan hantu malam. satu persatu dia melumpuhkan dengan menotok hiat to tidurnya di tengkuk para penjaga. tanpa kesulitan siauba telah melumpuhkan belasan penjaga di sekeliling perkampungan itu.
Sayup sayup terdengar benturan senjata dari bangunan besar di tengah perkampungan. maka siauba secepatnya bergerak menuju ke sana. dengan berpoksai satu kali, melompati tembok siauba hinggap di atap bangunan itu tanpa menimbulkan suara. sungguh demonstrasi ginkang yang sempurna.
tampak oleh nya goan cang sedang bertempur melawan dua orang setengah tua berdandan tosu. siauba melihat kedua orang itu ilmu silatnya cukup tinggi, tapi tak melihat tanda tanda goan cang terdesak.
kemudian dia melihat seseorang memakai topeng yang duduk di kursi pimpinan. agaknya dialah si buaya sakti ini. di sebelahnya berdiri laupan Aweng sang pemilik kapal, mereka memperhatikan jalannya pertempuran.
"Hiaaattt.. !! seru kedua orang. mereka mengayunkan pedangnya dari kiri dan kanan goan cang.
melihat serangan yang deras itu menuju dirinya, goan cang cepat memainkan jurus pedangnya pat sian kiam hoat.
dia menangkis serangan dengan jurus dewa mengambil guci arak. pedang di tangan kanannya berputar menahan serangan dari kanan, sedangkan badannya dalam keadaan setengah membungkuk, dengan perhitungan tepat nya dia menyentil ujung pedang yang meluncur deras dari sebelah kiri menggunakan iweekang yang dia salurkan ke jari tangan kiri nya menggunakan tenaga sakti dari jurus it chi chan. sehingga arah pedang itu melenceng. tidak hanya sampai di sana.
tangan kiri goan cang tidak di tarik pulang, dengan menggeser kedudukan kaki nya, jari jari goan cang menyosor pada leher tosu itu.
"Uuuhh..!!" sang tosu berseru kaget, cepat dia berkelit kemudian dengan jurus lian hoat, pedang berputar 360 derajat sambil melancarkan serangan pedang ke mata kaki goancang. sedangkan tosu di kanan yang kala itu serangan pedangnya dapat ditahan, segera mengubah serangan dari menusuk menjadi membabat pinggang goan cang.
"Huuupp..!!" Goancang melenting ke udara, berpoksai dengan kepala menuju kebawah, dia membuka serangan jurus 8 dewa nya.
"Dewa turun dari kahyangan!" teriak nya keras mengguntur.
pedang hijau nya bergetar, membentuk ratusan hawa pedang. laksana sinar rembulan hijau, hawa pedang itu meluncur deras dengan cepat nya kepada dua tosu itu.
hawa pedang yang bersinar kehijauan, lembut tapi mematikan.
tiada celah utnuk menghindar dari serangan itu, para tosu segera membentuk pertahanan diri dengan memutar pedangnya membentuk perisai kitiran. hawa pedang yang bagaikan ratusan panah itu meluncur deras membentur perisai kitiran. lantai tempat para tosu berpijak itu tampak garis garis tipis sedalam dua cun akibat serangan hawa pedang. sebagian menembus perisai kitiran, terlihat beberapa tempat pada baju para tosu terkoyak. karena hawa khikang nya lah mereka tak mengalami luka serius.
goancang yang telah menjejakan kaki nya langsung menutul lagi membuka serangan kedua nya,
"Dewa memercikan air!" seru nya dengan sekali tarikan nafas, dia membuka serangan.
membuat ratusan hawa pedang kemudian melesat lurus ke depan.
bagaikan naga hijau yang berkejaran hawa pedang itu meluncur deras.
"Aaahh..!!" pemimpin bertopeng yang sejak tadi memperhatikan jalan nya pertempuran itu berseru kaget sampai dia tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1