pendekar kocak

pendekar kocak
menyatroni sarang penyamun


__ADS_3

" Tak tok tak tok...kudaku lari kencang. pelanaku miring ke kiri miring ke kanan.." Siauba berjalan sambil menyanyi begitu riang nya dia.


setelah sejam berjalan, sampailah dia di perkampungan nelayan.


melihat para perahu yang banyak tertambat, serta perkampungan yang sepi. banyak rumah rumah penduduk yang menutup pintu.


"sepi sekali perkampungan ini, sepertinya ada yang gak beres" gumam siauba.


siauba terus berjalan memasuki perkampungan itu.


kebetulan ada sebuah rumah yang pintunya terbuka sedikit.


"permisi.." ujarnya.


taklama, keluar lah seorang lelaki paruh baya yang melongok keluar pintu dengan wajah terlihat takut penuh curiga.


"Anak muda.. sicu siapa?" tanya nya.


"Ah..lopeh.. numpang tanya, apakah disini ada kedai makan?". tanya siauba.


"kebetulan saya lewat perkampungan ini, tapi tak menemukan kedai makan" sambung nya.


"ooow...rupa nya sicu pengelana, di sini tidak ada kedai makan.. kalau sicu tidak keberatan sekedar roti kering saja, aku masih ada"


"mari masuk anak muda" ujar bapak bapak itu. sambil membuka pintu mempersilahkan siauba untuk masuk.


Dengan sopan siauba memasuki rumah itu. lebih tepatnya sebuah gubuk yang tidak begitu besar.


tapi di dalamnya sangat bersih, walau tidak banyak perabotan. tapi terlihat bapak tua ini senang akan kebersihan.


" silahkan sicu.." kata pak tua ini seraya menyodorkan sebuah roti kering dan secangkir teh.


"terima kasih lopeh" ucap siauba.


"lopeh.. numpang tanya, kenapa dusun ini terlihat sepi sekali. kemana kah para penghuni nya?" tanya siauba.


"hmmmm.. " pak tua itu menarik nafas tampak kesedihan di wajahnya.


"Kenapa lopeh?" tanya siauba


" keadaan sekarang, di kampung ini ada sekelompok perampok yang merajalela sicu, bukan saja harta benda, tapi juga para wanita di dusun ini di bawa paksa oleh gerombolan itu. jika tidak di beri, mereka tidak segan segan untuk membunuh". ujar pak tua itu.


" lalu, kenapa tidak di laporkan kepada pihak yang berwenang lopeh?" tanya siauba.


"hmmm.. sejak kerajaan qi runtuh dan mundur ke selatan, dan kerajaan Qin berkuasa di sini, keadaan sampai hari ini masih kacau sicu, belum ada patroli petugas seperti dulu". kata pak tua itu.


"Hah?? ada kejadian ini? sejak kapan kerajaan Qi runtuh?" tanya siauba heran.


"sicu belum tahu?" tanya pak tua itu yang sa heran nya karena siauba belum mengetahui.


lalu pak tua itu bercerita runtuhnya kerajaan Qi yang di sekarang daerah utara sebagian besar si kuasai oleh kerajaan Qin.


siauba berkali kali menggelengkan kepalanya mendengar tutur cerita pak tua itu.


"Nasi sudah menjadi bubur.. semua adalah kehendak ilahi" kata siauba.


"lopeh, dimana kah markas gerombolan perampok itu?" tanya nya kembali.


" di atas bukit sana sicu" kata pak tua sambil menunjuk ke arah suatu bukit yang lebat oleh pepohonan.


" di sana ada sebuah bangunan tua bekas kuil, disana lah para gerombolan itu berada" sambungnya.


" baik lah lopeh, saya mau mencoba melihat lihat kesana" ujar siauba.


"Aahh jangan sicu..sungguh berbahaya, mereka sangat kejam". kata pak tua itu dengan panik


" tenang lopeh.. andai mereka mau menangkapku, apa yang dapat mereka ambil. toh siaute tidak punya apa apa" kata siauba


"malah mereka yang akan rugi lopeh" sambung siauba


"hah? mereka rugi kenapa menangkap sicu?" tanya pak tua heran.


"karena makan ku banyak, tukang ngabisin beras, lopeh" kata siauba.


"hahahaha.. " mereka tertawa bersama.

__ADS_1


malam telah tiba, dengan di bantu oleh gelap nya malam, siauba pergi ke atas bukit itu untuk menyelidiki sarang penyamun.


"aku mau mencoba ginkangku. sampai dimana kemajuan diriku?" pikir siauba.


maka dia menarik nafas dalam dalam. kemudian dia melesat dengan ginkang nya menuju perbukitan itu.


"waaahhh... luar biasaaaa!" serunya dalam hati. terasa benar kemajuan nya yang pesat karena latihan nya selama di dalam goa itu. ginkang siauba benar benar memperoleh kemajuan yang jauh berbeda dari sebelum nya. karena iweekangnya jauh meningkat, otomatis ginkangnya pun meningkat.


senang sekali siauba.


"Bagaimana dengan iweekang dan ilmu silat ku ya?, apakah cukup untuk menghadapi musuh?" tanya siauba dalam hati.


siauba memang masih meragukan kemampuannya, itu wajar karena dia belum pernah latih tanding dengan siapapun semenjak keluar dari goa dewa pedang.


dari jauh siauba melihat suatu bangunan berwarna kuning. dengan pintu gerbang berwarna merah. tapi tampak tidak terurus. hanya terlihat terang yang menandakan berpenghuni.


dengan langkah ringan tanpa suara siauba meloncat ke sebuah pohon besar. dan mengawasi dari atas pohon.


tampak olehnya beberapa penjaga di depan gerbang nya.


mereka berjaga dengan duduk duduk di dekat api unggun sambil meminum arak.


terlihat jika mereka ini adalah pesilat pesilat yang mengandalkan tenaga kasar, yang hanya bisa menggertak pedagang kecil atau buruh tani.


tembok kuil itu lumayan tinggi sekitar 2 tombak. siauba bergerak perlahan dengan menggunakan ginkang nya sehingga tidak menimbulkan suara dia mengelilingi kuil itu.


"hmmm.. lumayan besar kuil ini"


dia melihat sebuah pintu kecil di belakang kuil. dia mencoba membuka nya. ternyata terkunci dari dalam.


kemudian dia menyusuri tembok dengan perlahan.


"aku akan mencoba meloncat. mudah mudahan loncatanku sampai" pikir siauba.


setelah memastikan aman, dengan menarik nafas siauba merapal ginkangmya berlari di atas rumput. segera dia melompat.


ternyata dengan sekali lompat, dia bisa hinggap di atas tembok itu tanpa menimbulkan suara..


sungguh girang hati siauba melihat kemajuan yang tak dia sangka.


"Rupanya mereka sedang berpesta" guman siauba dalam hati.


siauba melihat para penjaga yang sedang meronda.


Ada seorang penjaga yang sedang buang air kecil di balik pohon. melihat kesempatan ini. siauba segera meloncat turun dan secepatnya dia menotok penjaga itu dari belakang.


tak hanya itu, siauba pun menotok urat gagu penjaga itu. sehingga tak mampu untuk bersuara apalagi berteriak.


kemudian dengan menempelkan telunjuk nya kepada titik darah di pinggang penjaga itu siabua mengancam


"jika aku tekan urat mu ini. maka kau akan mati!" ujar siauba berbisik dari belakang. sambil mengerahkan sedikit iweekang nya. terlihat dari muka penjaga ronda itu meringis kesakitan yang hebat tapi tanpa suara.


penjaga itu panik. mau berteriak tidak bisa, mau lari tapi kaki lemas.


gemetaran lah dia. sampai dia lupa kalau sedang buang air kecil. sampai dia kencing di celana.


"aiiihh kau ini sudah besar tapi masih mengompol! bau pesing tauk!" ujar siauba sambil menutup hidungnya.


"cepat tunjukan dimana kau sekap para penduduk desa!". kata siauba.


dengan gemetaran sang penjaga menunjuk satu bangunan kecil yang gelap di belakang bangunan utama yang di jaga oleh 2 penjaga yang memegang golok besar.


"baik terimakasih, sekarang kau tidur lah" ucap siauba seraya menotok titik tidur penjaga itu. dengan perlahan siauba membaringkan penjaga itu di balik pepohonan.


kemudian perlahan siauba mengendap endap mendekati bangunan yang di tunjuk tadi. dia mengambil sepotong batu kecil kemudian dia lempar kan ke sebuah pohon di samping bangunan.


"Tukkk!!.."


" Heh?! suara apa itu?" ujar seorang penjaga. keduanya segera memeriksa.


kesempatan ini tidak di siasiakan oleh siauba. dengan sekali loncat bagai walet terbang dia melancarkan dua buah totokan ke punggung kedua penjaga itu.


"tap!. tap!"..


"hepp.." tak sampai rubuh, kedua penjaga itu sempat di sanggah oleh siauba. secepatnya diaa seret kedua penjaga itu ke samping bangunan.

__ADS_1


"tidur lah kalian yang nyenyak" ujar siauba sambil menepuk nepuk pipi penjaga itu.


setelah dia rasa aman. pelan pelan siauba membuka pintu bangunan itu yang ternyata adalah sebuah gudang.


kedengeran suara riuh para wanita yang ketakutan.


segera siauba memberi isyarat dengan tangannya agar jangan ribut.


"tenang semua.. aku datang menolong kalian" kata siauba.


Dengan tenaga iweekangnya dia memutuskan tali pengikat para tawanan. sambil melepas ikatan para sandera siauba memberi isyarat agar semua nya mengikuti dia.


kemudian siauba melongok ke depan gudang itu. setelah merasa aman, dia memberi isyarat agar para tawanan berjalan mengikuti dia.


"Sssstt.. tunggu disini sebentar" ujar siauba berbisik setelah dia melihat dari samping bangunan, ada empat orang peronda yang berjalan menuju ke arah nya.


siauba segera melompat ke atas atap. dan dengan lincahnya setengah membungkuk dia berkelebat cepat menuju belakang penjaga itu. kemudian dia melompat dari atas atap,


secepatnya siauba melompat turun melumpuhkan ke empat penjaga itu.


mendapatkan serangan mendadak itu, keempat peronda tidak sempat memberi perlawanan maupun berteriak.


setelah merasa aman. segera siauba menghampiri para sandera yang kebanyakan adalah wanita berjumlah puluhan orang itu.


"mariii.." ujar siauba berbisik.


siauba yang telah memastikan di belakang kuil itu ada pintu kecil segera berlari menuju kesana. dengan sekali tarik, rantai yang mengunci pintu itu lepas.


"Ayoo cepat!" ujar siauba sambil melambaikan tangan memberi kode.


berbondong bondong para tawanan itu berlari secepatnya menuju arah pintu kecil.


sayang mereka hanya lah rakyat biasa. sehingga suara langkah kaki terdengar oleh penjaga.


"Tawanan kabuurrrr!!!" teriak seorang penjaga yang memergoki aksi para tawanan ini.


sambil membunyikan kentongan, penjaga itu berteriak teriak.


siauba yang melihat ini segera melesat melumpuhkan penjaga itu.


tapi memang telat,. teriakan dan kentongan terdengar ke seluruh area itu.


maka berhamburan lah gerombolan penyamun itu mengurung siauba yang telah kembali ke dekat pintu kecil menjaga jalan keluar para tawanan.


"Ringkus tikus kecil ini!, jangam biarkan semua nya lolos!" ujar seseorang yang tampaknya komandan peronda.


"seraaang!"...


maka puluhan penyamun bersenjatakan golok itu menyerang siauba.


siauba masih bertangan kosong, dengan ginkangnya dia berkelebat kesana kemari menghindari bacokan seraya menghadiahi tamparan dan tendangan kepada para penyamun pengeroyoknya..


"Buuugg!..Aaauuuhh!"..


"Deesss!!..Heeegghhh!"..


"Bletaaakk!!.. wadaauuw..!!".


"praaanggg groompraanng!!"..


pukulan, tendangan, tamparan serta. golok yang beterbangan terpental ada yang jatuh di lantai, ada yang terbang menancap di pohon maupun di pintu kayu bangunan. akibat sampokan dari siauba.


beberapa orang yang terduduk mengaduh akibat tamparan siauba yang mengakibatkan gigi mereka copot.


"Dasarrrr kalian gentong nasi!" ujar seseorang dengan teriakan keras nya yang berisikan iweekangm sehingga membuat hati para penyamun itu bergetar..


"meringkus bocah ingusan saja tidak mampu!.. minggir kalian semua!".


Terimakasih untuk para pembaca yang setia. maaf jika siaute tidak selalu update setiap hari nya. tapi di sela sela kesibukan siaute tetap berusaha untuk update memberikan yang terbaik untuk para pembaca.


tapi mohon untuk para pembaca nan budiman memberikan vote nya untuk menaikan ranking cersil ini.


juga sudi kiranya untuk memberikan like nya di setiap episode untuk menambah semangat siaute untuk terus menulis cersil ini dengan penuh sukacita.


akhir kata, terima kasih untuk para pembaca setia. semoga selalu sehat untuk para pembaca dan keluarga nya.

__ADS_1


NB: jangan lupa vote nya ya.


__ADS_2