pendekar kocak

pendekar kocak
goan cang turun gunung.


__ADS_3

Mereka saling berhadapan dengan pedang terhunus.


seorang anak muda dengan rambut panjang yang di ikat dengan ikat rambut biru muda. sesuai dengan wajah nya yang tampan dan tinggi semampai itu, memegang pedang panjang yang di silangkan di dada nya.


sedangkan lawan nya seorang kakek tua dengan kopiah miringnya tapi hanya memakai jubah tipis di atas puncak gunung bersalju itu.


"Hiaaaaattt!!" teriak Anak muda itu mengawali serangan..


"Traaang!!" terlihat bunga api berpijar tanda kerasnya senjata yang beradu.


"Bagusss!!" seru kakek tua itu.


tak cuma sampai di situ, kembali anak muda itu melancarkan serangan dengan menekuk kaki depan nya kemudian menghujam kan pedang panjangnya ke arah leher si kakek. dengan gerak tipu lutung memungut buah.


melihat serangan itu, sang kakek sambil tersenyum hanya memiringkan badannya sedikit saja sambil menyentil ujung pedang dengan tangan kiri nya. kemudian dia berputar, dengan tangan kanannya melancarkan serangan pedang membabat pinggang si anak muda itu.


"heh!" seru kaget anak muda itu.


tapi dengan sigap dia menjejakan kaki nya melambung tinggi ke udara, berpoksai satu kali. dan masih di udara dia segera melancarkan serangan menuju ke bawah.


dengan jurus Pat sian kiam hoat.


" Dewa turun dari kahyangan!" teriak nya.


dia menggetarkan pedangnya membentuk puluhan hawa pedang. kemudian dengan cepat meluncur ke sang kakek itu.


hawa pedang yang cepat bagaikan sinar itu melesat cepat bagaikam berkejar kejaran menuju sang kakek.


" Bagus!!" seru sang kakek dengan gembira nya. sambil mulai membentuk pertahanan diri dengan memutar pedangnya bagai kitiran angin itu.


hawa khikang yang kuat dari sang kakek, tak mampu di tembus oleh hawa pedang anak muda itu.


ketika turun dengan sepersekian detik menjejakan kaki nya di tanah. kemudian dia meluncur cepat menuju sang kakek sambil menggetarkan pedangnya.


"dewa memercikan air!" teriaknya.


kali ini serangan lebih rapat dengan puluhan hawa pedang yang mampu meninggalkan goresan sangat dalam pada batu karang yang keras sekalipun.


kali ini sang kakek berputar seperti gasing sambil membuat kitiran pedang.


kali ini serangan hawa pedang anak muda itu mampu di belokan dan di buang menuju ke atas.


melihat hal ini, anak muda yang tadi melancarkan seramgan pun berseru kagum akan kelihaian sang kakek.


kali ini dia pun mencoba merubah serangannya dengan cara mengarah kaki sang kakek dengan jurus " dewa mengambil guci arak".


dengan langkah patkwa kia dia bergerak melancarkan serangan ke lutut dan tumit sang kakek. pedangmya yang panjang dan badan setengah membungkuk. cepat sekali serangan itu. mengarah kebawah. di ujung serangan, tiba tiba mata pedang itu berubah arah mengarah ke bagian leher dengan seramgan dari bawah ke atas.


sang kakek yang melihat serangan itu dengan gerak tipu langkah dewa mabuk mundur setindak. kemudian dengan badan mendoyong ke samping seakan pemabuk hendak tidur. lolos lah serangan pedang itu menghujam tempat kosong.


tidak berhenti di situ.


sang kakek dengan keadaan hampir menyentuh tanah. berpijak dengan sebelah tangannya. tiba tiba melancarkan tendangan samping ke arah kepala tepatnya kuping sang anak muda itu. jika terkena. niscaya nyawa anak muda itu akan melayang.


tapi dengan tenang. serangan kaki sang kakek itu dia tangkis. kerasnya benturan itu membuat dia mundur selangkah.


kesempatan ini tidak di sia siakan samg kakek. dengan sigap dia melompat bangun.


"Cukup.. cang jie" kata sang kakek seraya menarik nafas dalam. menghimpun menata kembali iweekang nya.


"baik suhu" ucap nya.


hal yang sama pun di lakukan oleh anak muda itu. yang ternyata adalah goan cang yang berlatih dengan guru nya. Koai lojin.


"kemajuan mu sungguh membahagiakan ku cang jie" ujar koai lojin yang menepuk nepuk bahu sang muridnya. goan cang.

__ADS_1


" semua berkat suhu" kata goan cang berseri senang sambil menjura menghaturkan hormat nya.


kemudian mereka berjalan turun menuju goa pertapaan koai lojin.


hamparan salju tebal di puncak gunung thian san dan awan tipis, sinar matahari yang bersinar lembut. menambah indah pemandangan bagaikan negeri di atas awan.


tak lama mereka berjalan turun, dengan pemandangan di bawah goa itu pohon pohon berwarna hijau sangat menyegarkan mata.


"Cang jie.." kata koai lojin yang sedang duduk menikmati teh hangat.


"Ya suhu" ujar goan cang sambil menjura.


" cang jie.. sudah tiba saat nya engkau untuk turun gunung. mengamalkan pelajaran yang telah kau kuasai" ujarnya sambil menyeruput teh hangat itu.


"sudah tidak ada lagi pelajaran yang akan suhumu turunkan. semua sudah aku warisi". sambungnya.


"tapi suhu.. bagaimana dengan suhu, siapa yang akan melayani suhu? jika tecu turun gunung?" kata goan cang yang terlihat merasa enggan untuk meninggalkan gurunya itu.


"hahaha.. kau kira suhumu ini anak bocah?" kata koai lojin sambil tertawa.


"Tapi suhu..."


"Sudahlah, suhumu ini tidak apa, asal kau dapat mengamalkan untuk orang banyak, dan selalu menjaga nama suhu, aku sudah senang" kata koai lojin.


"engkau hari ini bersiap lah, besok pagi kau turun gunung" katanya lagi.


"baik suhu" ujar goan cang.


"bagus bagus.. ". kata koai lojin sambil mengelus elus janggutnya.


hari itu. goan cang pergi berburu.


dia bermaksud untuk mencari perbekalan, kelak guru nya sudah tidak pusing lagiencari bahan makanan.


sore nya goancang kembali ke goa pertapaan gurunya dengan membawa beberapa kelinci dan ayam hutan.


"Suhu.. tecu sudah menyiapkan bekal yang di asinkan untuk suhu, sehingga tidak usah repot mencari makanan" ujar goan cang.


"hmmm terima kasih cang jie, kau beristirahat lah" ujar koai lojin yang tersenyum penuh kasih.


"Baik suhu".


kemudian goan cang undur diri untuk mbersihkan badan dan beristirahat.


"Anak ini sungguh berbakti, semoga ahlak budi pekerti nya tidak berubah menghadapi kerasnya dunia persilatan ini" guman koai lojin.


malam itu koai lojin. memberi wejangan wejangan kepada muridnya. sekaligus mengingatkan untuk mampir ke suhu terdahulu nya yok sian jika goan cang menuju selatan.


koai lojin masuk ke dalam ruangan pribadi nya. yakni sebuah ruangan dalam goa yang tanpa pintu. tak lama dia keluar sambil membawa dua bungkusan.


"Cang jie. ini untuk bekalmu selama turun gunung, bijak lah menggunakannya" seraya menyerahkan sebuah bungkusan tidak begitu besar. hanya sebesar genggaman tangan tapi lumayan berat. isi nya berupa koin emas perak.


"Terima kasih suhu" ujar goan cang seraya menerima pemberian suhu nya.


koai lojin lalu membuka bungkusan satu lagi.


ternyata isi nya pedang pusaka nya yang selama ini selalu menemani nya.


Giok liong kiam.


pedang pusaka naga hijau.


pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan sehingga mirip dengan giok hijau.


"Suhu.. tecu tak berani menerima nya. ini merupakan pusaka guru" ujar goan cang seraya menunduk memberi hormat.

__ADS_1


"Cang jie.. kepandaian mu tak akan maksimal jika hanya bersenjatakan pedang biasa. tak ada pedang biasa yang sanggup menerima iweekang perguruan ku ini kecuali pedang pedang pusaka" tutur koai lojin.


sudahlah tak apa. aku berikan pusaka ini. agar kau selalu mengingat wejangan wejangan ku cang jie" kata koai lojin.


"Baiklah suhu, budi baik suhu, tak akan pernah tecu lupakan seumur hidup tecu" kata goan cang seraya menerima giok liong kiam dengan hikmah nya.


lalu dengan hati hati, dia taruh di meja di sisi nya.


malam itu, guru dan murid asik sekali mengobrol sampai goan cang ketiduran di depan perapian.


Keesokannya, pagi pagi sekali seperti biasa. goan cang memasak air untuk menyeduh teh suhu nya. pekerjaan yang sudah dia jalani bertahun tahun. kemudian dia ke mata air untuk membersihkan diri.


ketika kembali ke goa, koai lojin sedang menikmati teh hangatnya.


"kau sarapan lah dulu cang jie"


"baik suhu.."


mereka pun sarapan seadanya.


"Nah cang jie.. sudah waktu nya kau berangkat"


goan cang yang ketika itu selesai sarapan. sambil menggenggam sendok, dia menjura menghaturkan hormatnya.


""Baik suhu, tecu mohon diri..". ujar goan cang seraya menunduk.


kemudian goan cang pun dengan hati yang masih setengah tak rela untuk meninggalkan suhu nya. mulai melangkah pergi turun gunung.


sepanjang jalan dia melihat pemandangan, sesekali dia terkenang, tak terasa 5 tahun berlalu.


mengingat budi gurunya, yang sabar mengajar semua kepandaiannya. bercanda dengan gurunya. melakukan perjalanan dari mulai bertemu dengan suhu nya itu sampai sekarang dia turun gunung.


tak terasa sudah sekitar sepuluh menit dia berjalan gontai menuruni pegunungan thian san.


sayup sayup dia mendengar teriakan gurunya memanggilnya.


"seperti suara suhu?" pikir goan cang


"Cang jie..! tungguu...!"


"Aahh benar rupanya.. " guman goan cang yang melihat gurunya dari jauh berlari menghampiri nya.


"Ya suhu? ada apa?" tutur goan cang seraya memberi hormat.


"Dasaaarr kaauu murid sembrono". tukas koai lojin.


goan cang tertegun.


'Hah?? kenapa guru?" tanya nya.


"kau ini pergi pergi saja.. ini pedang mu, buntalan bekalmu ketinggalan, lalu untuk apa kau pergi bawa bawa sendok?" tegur koai lojin sambil melongo melihat sendok di tangan goan cang.


"heh?? ah iya suhu, tecu kan bermaksud untuk ke mata air dulu mencuci peralatan bekas makan sebelum pergi".


"jiaaaahh... ku kira kau langsung pergi" koai lojin pun tepuk jidat.


"hahahaha.." goan cang tertawa mentertawakan suhu nya ini.


Tak lama kemudian, kali ini goan cang benar2 melangkah kan kaki nya untuk turun gunung memasuki dunia persilatan yang ramai dan penuh intrik.


dengan membawa buntalan bekal nya. dan pedang yang tersoren dipinggang tertutup jubah. terlihat gagah sekali dia.


berjalan santai menuruni puncak thian sambil menikmati indah nya pemandangan di sana.


dia berencana untuk mengunjungi Yok sian, seorang suhu nya juga yang mengajarkan ilmu pengobatan pada nya.

__ADS_1


memerlukan kurang lebih sebulan perjalanan.


__ADS_2