
" kaypang sudah di beritahu. kemungkinan besar, mengingat kedekatan jarak kedua perguruan kaypang pun akan mengutus orangnya ke hoa san pay, lohu sendiri akan menuju ke thian san pay" tukas koai lojin.
"besok pagi lohu akan berangkat langsung menuju thian san" sambung koai lojin.
"kalau begitu, tecu akan menyiapkan keperluan supek untuk ke thian san" tutur uo sek totiang.
"tidak perlu repot tianglo" cegah koai lojin.
"baik lah, tecu undur diri dulu, supek silahkan beristirahat" kata tianglo ui sek totiang.
"terima kasih tianglo".
Pagi pagi sekali koailojin beserta goan cang mohon diri kepada ciangbujin untuk melanjutkan perjalanan menuju thian san.
lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur utara untuk mempersingkat waktu.
Ibukota kaifeng, seperti biasa selalu ramai oleh para pedagang dari berbagai suku bangsa. baik penduduk lokal maupun asing. pemandangan lalu lalang bangsa asing yang melakukan transaksi atau sekedar melancong bukan hal aneh disana.
Seperti pada hari itu, terlihat 2 orang pendeta asing yang berjalan di keramaian pusat kota dengan mulut komat kamit membaca doa. tapi yang menarik perhatian adalah di kawalnya mereka oleh beberapa prajurit dengan atribut berwarna hijau. (tanda prajurit pengawal pangeran) yang di bedakan dengan prajurit berartribut kuning (khusus pengawal kaisar).
Tapi walau hanya prajurit pangeran, tetap berbeda dengab prajurit biasa. mereka lebih di segani oleh rakyat jelata.
Terlihat ketika kedua orang pendeta itu memasuki sebuah gedung yang megah di komplek keluarga kerajaan, betapa prajurit prajurit penjaga istana pangeran begitu menghormatinya.
Rakyat biasa menganggap keluarga kerajaan yang mengundang pendeta pendeta untuk mendoakan kerajaan adalah wajar.
Tapi dibalik semua itu, mereka tidakbtahi apa yang dikerjakannya.
Hanya beberapa pasang mata yang memperhatikan dengan cermat. mereka adalah para anggota kaypang yang memang di tugaskan sebagai intel kaypang.
"Silahkan masuk jiwi locianpwe" sambut seseorang yang menyambut keluar dari dalam gedung mewah itu.
ternyata pangeran Gao tiong tek sendiri yang menyambut. Gao tiong tek adalah pangeran sepupu putra mahkota dari seorang selir terkasih kaisar, yakni selir Hae won. yaitu seorang gadis yang dipersembahkan dari kerajaan koleko (korea) sebagai dayang di kerajaan han ini. tapi karena kecantikannya maka diangkatlah sebagai selir oleh kaisar Gao dan.
"terima kasih kungcu (tuan muda)" sambut adhikara salah seorang pendeta itu.
kemudian mereka menuju suatu ruangan di dalam. mereka mengadakan pertemuan tertutup.
"bagaimana kesiapan para tentara boan yang sesuai dengan kesepakatan kita?" tanya pangeran gao tiong tek kepada pendeta itu.
"sesuai dengan titah kungcu, mereka mulai mengadakan pergerakan secara diam diam, banyak prajurit dari pangeran harminto yang sudah berdiam dan menyamar di ibukota ini kungcu". kata adhikara.
"mereka akan bergerak sesuai dengan perintah kami, pangeran harminto pun berencana dalam bulan ini akan mengunjungi kungcu". sambung gobin seorang pendeta lainnya yang daritadi berdiam diri.
"hmmm.. bagus bagus." kata pangeran gao tiong tek dengan wajah gembira.
"lalu bagaimana persiapan dari dalam sendiri kungcu?, pinceng harap semua berjalan sesuai rencana" tanya adhikara.
"tenang jiwi suhu berdua, kami sudah berupaya untuk membangun kekuatan dari dalam, beberapa menteri sudah bersedia membantu pergerakan kami, hanya koksu istana (penasehat kerajaan) yang kelihatannya tidak mudah untuk di pengaruhi" "dan juga ada beberapa jendral yang setia kepada ayahanda" sambung pangeran gao itu.
__ADS_1
"ya seperti jendral yap yang sangat setia pada kerajaan, tapi tidak jadi kendala karena jendral yap ditugaskan menjaga perbatasan, jauh dari ibukota jika pergerakan kita serentak, maka sulitlah dia membantu tentara ibukota" kata adhikara.
"betul losuhu" tukas pangeran gao.
sewaktu mereka bercengkrama, terlihat dua bayangan bergerak cepat memasuki istana itu dan langsung masuk ke dalam ruangan rapat tersebut.
"salam pangeran, semoga sehat selalu" kata seseorang yang telah hadir cepat itu.
"rupanya be bin lomo locianpwe telah hadir" kata pangeran gao.
"mari silahkan" sambung nya.
"terima kasih kungcu, hamba bersama adik hamba. perkenalkan ini, Lau chu bin lomo ( iblis tua muka tikus
"Salam pangeran..." lau chu bin lomo menjura.
"Ahh salam locianpwe.. orang sendiri jangan sungkam. mari silahkan"
"Pelayan..! siapkan hidangan" teriak pangeran. "Baik pangeran.." ujar salah satu pelayan rumah tangga yang muncul dari balik pintu.
tak lama kemudian muncul beberapa pelayan yang membawakan hidangan dan juga arak.
"silahkan di cicipi sambil kita mengobrol" kata pangeran gao.
"terima kasih kungcu" kata mereka.
Sambil mengunyah paha ayam goreng, be bin lomo memperkenalkan lebih dalam adik seperguruan nya itu.
markas ngo tok kauw di bukit sui ling.
semakin bergembira pangeran gao ini, karena mendapatkan dukungan dari kaum bulim, yang ternyata adalah seorang kauwcu berpengikut ribuan. merupakan suatu bantuan yang besar.
maka dia tidak segan bersikap royal, menghadiahi banyak keping emas kepada kedua iblis tua bersaudara itu.
lau chu bin lomo yang berperawakan kurus kecil dengan raut mata lebar, hidung lancip dan gigi tonggos persis seperti tikus mencari makan. muka nya sungguh lucu, tapi jangan di kira. sangat kejam, sudah berpuluh nyawa melayang di bawah kuku kukunya yang beracun sangat mematikan itu. yang terkenal dengan pukulan lima jenis racun atau ngo tok ciang, sungguh bergidik membayangkan akibat dari cakar cakar yang berwarna warni itu jika tergores kepada kulit.
Pangeran Gao tiong tek ini bermaksud mengambil alih kekuasaan kekaisaran dengan membunuh putra mahkota dan memaksa ayahandanya turun tahta.
putra mahkota yang saat itu berumur 12 tahun dianggap nya tidak cocok. seharusnya kaisar memilih dia sebagai pengganti nya. karena usianya yang sudah cukup umur untuk memerintah kerajaan.
Dibantu oleh beberapa menteri yang silau akan harta dan kedudukan, juga para thaikam yang pandai menjilat. akan mudah rencana penggulingan kekaisaran Gao Dan.
Putra mahkota Gao wei ini putra tunggal permaisuri Hu. walau putra tunggal dan menjadi putra mahkota, tapi permaisuri Hu tidak memanjakannya. dari kecil sudah di didik untuk selalu arif bijaksana, setiap hari di ajarkan ilmu surat maupun ilmu silat dari para pandai cendekiawan di lingkungan kerajaan.
Permaisuri Hu sendiripun bukan orang sembarangan. dia adalah putri seorang jendral besar liu goanswe. yang sekarang menjabat sebagai kepala pasukan kim i wi ( pasukan khusus pengawal kaisar) yang bercirikan memakai seragam dan jirah berwarna kuning emas.
Sore itu putra mahkota menghadap permaisuri.
"Semoga Ibunda permaisuri panjang umur senantiasa sehat selalu" ujar putra mahkota gao wei sambil berlutut.
__ADS_1
"Bangkitlah putra mahkota" sambut permaisuri Hu.
setelah melaksanakan tatacara kerajaan, maka putra mahkota mendekat.
"niang (ibu).. ijinkan aku untuk pergi keluar istana. untuj melihat lihat keadaan di luar". rajuk putra mahkota gao wei.
"Wei ji, keadaan sekarang sedang panas, desas desus nya ada pergerakan secara diam diam dengan maksud tidak baik" kata permaisuri. " ibunda mengkhawatirkan keselamatan mu" sambung permaisuri Hu.
"tidak apa niang, boanpwe akan memyamar menjadi rakyat biasa" ujar putra mahkota Gao wei.
karena putra mahkota terus memaksa, maka sang permaisuri pun meloloskan permintaan itu tapi dengan syarat harus ditemani para pengawal dan perjalanan tidak lebih dari 2 bulan harus kembali ke ibukota.
Pagi itu, keluar seorang bocah anak saudagar dengan dua paman dan bibi nya, dari pintu gerbang samping istana yang menuju ke pinggiran ibukota. dengan berkuda santai tidak terburu buru, pakaian nya tidak mewah, tapi jelas dari bahan mahal. sebut saja anak ini bernama Asang, beserta paman nya lau kin dan bibinya nio nio.
terlihat wajah Asang di liputi ke gembiraan melihat lihat jalanan ibukota, tampak senyum nya selalu mengembang menambah wajahnya semakin rupawan. paman nya lau kin yaitu seorang komandan regu kim i kwi yang bertugas menjaga putra mahkota, bersalin rupa menjadi saudagar pedagang rempah rempah. walau begitu, tak lupa sepasang pedang nya tersembunyi di balik jubahnya. dan bibi nio nio yang merupakan pendekar wanita pasukan penjaga pribadi permaisuri bersalin rupa menjadi bibi nio nio. tak lupa kipas yang terbuat dari besi dan semacam kain khusus yang tidak mempan di tembus senjata tajam selalu di tangannya.
Mereka berencana akan berpergian menuju lokyang melalui jalur utara dari ibukota. melewati kota kota kecil dan perkampungan kemudian kembali ke ibukota kaifeng melalui jalur selatan. perkiraan perjalanan waktu cukup 2 bulan untuk pergi pulang.
Tidak lama kemudian mereka telah melewati gerbang benteng pertahanan kota.
kontras sekali pemandangan di dalam benteng ibukota dan diluar ibukota. antara ramainya ibukota, sekarang hanya terlihat jalananan yang lebar, juga sepi penduduk. hanya ada beberapa kereta kuda lalu lalang keluar masuk benteng kota.
"kungcu perjalanan menuju kampung terdekat sekitar tiga jam perjalanan berkuda" kata pengawal itu sambil menjura.
"hmmm.. paman, kita sedang menyamar, jangan memperlihatkan tatacara istana, jangan panggil kungcu, panggil aku Asang" kata Gao wei tegas.
"baik kung..eh Sang ji" tukas lau kin sedikit kaku.
"Ya begitu lebih bagus" ujar putra mahkota Gao wei eh Asang.
Mereka memacu kuda nya tidak terburu buru.
mengambil arah menyusuri jalan yang bersebelahan dengan sungai kuning.
dimana hamparan persawahaan yang mulai menguning memasuki masa pasca panen.
Sepanjang jalan Gao wei banyak bertanya tentang keadaan para petani dan hasil panen nya kepada kedua pengawal itu.
memang kerajaan Qi utara ini termasuk yang paling kuat ketahanan pangannya di banding kerajaan lain nya di daratan tengah ini dibanding Qi selatan yang mendomasi perekonomian dari hasil sungai, laut maupun tambang. sayangnya banyak pejabat korup tanpa diketahui oleh kaisar Gao Dan. yang semena mena menaikan pajak. sehingga rakyat banyak menderita.
"sang jie, kita mulai memasuki desa pertama yang paling dekat dengan kotaraja" kata bibi nio nio.
Asang mengangguk seraya memperhatikan keadaan desa tersebut.
terlihat raut wajahnya berkerut melihat keadaan desa itu, berbeda 180 derajat dengan kotaraja kaifeng.
terlihat bangunan rumah rumah yang terbuat dari atap kelapa, dan banyak juga yang terkesan menyedihkan. para penduduknya sedikit tidak banyak tapi terlihat begitu kurus nya.
"bagaimana bisa seperti ini, berbeda sekali dengan keadaan ibukota?" tanya nya kepada lau kin.
__ADS_1
"hmmm.." laukin terlihat menghela nafas.