
para pengeroyok itu bergelimpangan, ada yang gigi nya tanggal, ada yang mengaduh sakit akibat terkena tendangan.
"bagaimana? masih mau di lanjutkan?" kata siauba sambil menjepit jari jari seorang komandan.
"ampun taihiap" ujar para penjahat itu.
siauba pun mengangguk.
kemudian dia menanyakan asal usul para anak buah penyamun ini. Ternyata mereka adalah para pemuda pemuda dari beberapa desa yang di paksa untuk menjadi anak buah jai hwa sam siang di bawah bendera tiat ciang pang.
akhirnya dengan perintah siauba, hasil rampokan di bagi bagi ke seluruh anak buah dan mereka kembali ke desa masing masing. kemudian markas itu di bakar nya. sedangkan para wanita telah kembali ke desa nelayan itu. sejak itu tersiarlah dari mulut ke mulut.
seperti biasa, jika suatu cerita pasti di beri bumbu agar cerita itu menarik. tersiar kabar pendekar muda yang jenaka, gosipmya sakti mandraguna.
Tapi karena terlalu panjang, lama lama berubah julukan menjadi pendekar kocak.
siauba berencana untuk ke kota lokyang, menuju markas utama kaypang, tapi karena jalur biasa yang dilalui melalui kotaraja kaifeng, karena sekarang sudah di kuasai Qin, maka siauba memutuskan untuk memutar melalui kanglam.
dia melanjutkan perjalanan tidak terburu buru. sepanjang perjalanan melalui desa dan hutan. terkadang dia berburu kelinci atau ayam hutan untuk mengganjal perut.
tak lupa jika keadaan sepi di dlm hutan, sering siauba melatih semua kepandaiannya. termasuk bermeditasi meningkat kan iweekang nya.
jika melewati desa, tak jarang siauba menjual tenaga membantu panen di sawah untuk sekedar mengisi perut.
sifatnya yang bersahaja dan ramah suka bercanda itu yang membuatnya banyaj mendapatkan simpati dari para penduduk selama di perjalanan.
untuk menuju kota kanglam yang sekarang di kenal dengan nama jiang nan.
siauba menumpang perahu besar yang biasa mengangkut penumpang dan barang.
selama di pelayaran, siauba bekerja sebagai buruh angkut barang untuk pengganti ongkosnya.
pemilik kapal yang bernama aseng ini termasuk seorang yang ramah, dia menahkodai sendiri kapal kayu yang besar ini. melihat postur siauba yang besar. dia yakin akan kuat untuk bongkar muat barang, sehingga siauba diterima bekerja untuk pengganti ongkos nya.
"angkat sauh.. kita segera berlayar!" seru aseng pemilik kapal aekaligus nahkoda nya itu. kapal telah penuh oleh penumpang dan barang dari saudagar saudagar yang biasa berpergian.
para kelasi segera bekerja cepat menaikan jamgkar dan patok tali pengikat.
"tunggu sebentar!" teriak seseorang yang meloncat dari pinggir pelabuhan naik ke atas kapal.
jarak nya itu ada sekitar 2 tombak. dan dia mendarat dengan ringannya.
para kelasi berseru kagum melihat pemandangan itu.
terlihat yang berseru tadi adalah seorang anak muda berpakaian putih bersih, terlihat sangat terawat. dengan postur tubuh yang tinggi dan bentuk badan yang propsional. berwajah tampan walau agak pucat karena kurangnya sinar matahari.
dengan senyum mengembang, dia berkata kepada pemilik kapal,
"lopeh.. permisi saya ikut menunpang kapal ini menuju selatan" ujarnya.
"maaf tuan muda.. kapal kami telah penuh" ujar aseng si pemilik kapal.
" tidak apa, hanya 1 orang seperti aku. tidak perlu kau menyediakan kamar mewah. cukup tempat bersih saja untuk aku beristirahat: ujar anak muda itu seraya memberikan 1 keping uang emas.
melihat uang emas itu, yang nilai nya 10x lipat ongkos normal, mata aseng berbinar dan mulut berseri seri..
"ah tuan paling kami hanya dapat menyediakan kamar di ruang kelasi" ujar aseng seraya cepat cepat menyimpan uang emas itu seolah olah takut di ambil kembali.
__ADS_1
" ya tidak apa" ujar penuda tampan itu sambil menganggukan kepala nya.
" baiklah, mari tuan.." kata aseng mempersilahkan tuan muda itu.
"Siauba..!.. cepat kau antar tuan muda ini menuju kamarnya, dan siapkan keperluannya" teriak aseng.
"baik laupan!" kata siauba sambil berseri dan segera memunjukan jalan nya untuk pemuda ini.
"tuan muda.. silahkan" ujar siauba.
mereka pun segera memasuki sebuah kamar. tidak besar tapi cukup untu beristirahat. ada sebuah pembaringan dan meja kecil. dengan penerangan lampu minyak yang menempel kuat pada dinding. serta sebuah jendela kayu berkisi kisi. jika di buka, maka pemandangan ke sungai dapat terlihat.
"tuan muda.. silahkan teh nya" kata siauba seraya menuangkan teh.
"kawan, jangan panggil aku tuan muda. melihat kita mungkin seumuran. panggi saja nama ku" ujar pemuda itu.
"ah tidak berani, tuan. saya siauba hanya seorang buruh kasar" ujar siauba sambil tersenyum.
"namaku Goancang. aku berumur 16 tahun sekarang, sedangkan kau umur berapa" kata goan cang dengan ramah seraya menyeruput teh hangat nya.
"tahun ini aku berumur 15 tahun tuan" ujar siauba.
" ah jika begitu, kau panggil saja aku cang ko. karena umur ku lebih tua setahun. jangan kau panggil aku dengan sebutan tuan" kata goan cang dengan ramah.
melihat siauba yang ramah, goan cang tertarik untuk berkenalan dan berbincang bincang. apalagi di kapal itu seperti nya hanya siauba yang terlihat sebaya dengannya. "baiklah cang ko" kata siauba seraya memberi hormat.
"cangko, jika siaute boleh tahu, hendak kemana kah?" tanya siauba.
"aku hendak ke kota lokyang" ujar goan cang.
'ah kali ini tujuan kita sama cang ko, siaute pun hendak ke kota.lokyang" kata siauba berseri seri.
" ya cang ko, kali ini siaute bekerja untuk mengganti ongkos perjalanan" ujar siauba.
goan cang pun mengangguk.
"cang ko silahkan beristirahat, jika memerlukan siaute, harap memanggil saja".
"baik ba te, terima kasih" kata goan cang.
siauba undur diri, dia kembali ke buritan. berkumpul dengan para kelasi kapal. sambil melihat pemandangan ke depan.
sungai yangtze yang lebar dan panjang ini dengan ombak yang menggulung gulung seperti lautan. terlihat indah pemandangan di kiri kanannya. terlihat dari jauh pegunungan kun lun san yang tampak megah menjulang tinggi. sungai yang di apit oleh pegunungan pegunungan ini seperti pegunungan shantung dan chiali san. memang salah satu jalur terpadat di dataran tengah. banyak saudagar saudagar asing pun terutama dari india dan tibet melalui jalur sungai yangtze ini. tapi sejak kerajaan Qi jatuh dan memggeser ke selatan, maka jalur ini mulai tidak aman. tak jarang bentrokan amtara tentara Qin dan tentara Qi terjadi di sungai ini.maka akibat kurangnya patroli penjagaan ini, banyak bajak sungai bermunculan. seperti kelompok begal buaya sakti yang terkenal kejam. biasanya para pemilik kapal selalu membayar iuran agar kapal mereka dapat dengan aman melewati jalur sungai ini.
perjalanan lewat sungai ini membutuhkan 4 hari perjalanan.
selama itu, siauba yang periang membuat perjalanan goan cang tak membosankan. tak henti henti nya dia tertawa melihat tingkah laku siauba yang kocak.
pada malam ke dua, sekitar 6 jam lagi mencapai teluk sichuan, ketika semua penumpang terlelap. tiba tiba di bunyikan oleh suara genderang tetabuhan yang hingar hingar.
ternyata ada sebuah kapal cepat yang memakai 3 layar yang berkibar yang mendekat.
nahkoda kapal yang melihat nya itu, berkeringat dingin.
setelah kapal itu mendekat, belasan para anak buah kapal melemparkan kait yang mengaitkan kapal penumpang ini dengan kapal mereka.
kelasi berlarian menuju ruang nahkoda.
__ADS_1
"laupan, ada perompak!" seru mereka panik.
pemilik kapal tak menjawab tapi terlihat berkeringat dingin.
"para penumpang, jika ingin selamat' serahkan barang berharga kalian!"
seru seorang pemimpin perompak itu. tampangnya bengis dengan muka codet. berkulit kehitaman karena sering terjemur, membawa sebilah golok gergaji yang berkilauan tertimpa sinar bulan. dari mulutnya tercium bau arak yang menyengat.
inilah gerombolan bajak sungai yang di takuti. berbenderakan buaya sakti.
Dengan gemetar si pemilik kapal itu mendekat.
"taihiap, ini aku aweng. kan setoran bulan ini sudah aku berikan, kepada anak buah taihiap. harap memberi aku muka" ujarnya seraya memberikan sekantung uang.
"Piih... setoran apa itu hanya cukup untuk beli arak saja!. setoran untuk pangcu kami sangat kurang. kali ini aku ingin semua barang berharga di kapal ini pindah ke kapalku!, atau kalian semua tak akan kubiarkan hidup!" seru nya dengan jumawa.
"jangan taihiap.. nanti bisa gulung tikar hamba, tidak ada lagi yang berani menyewa kapal hamba" ujar aweng sambil memohon.
"pergi sana!..buggghh!.."
"Uuuhhh.."
ternyata kepala perompak itu menendang nahkoda, sehingga jatuh terguling sambil meringis kesakitan.
"Geledah seluruh perahu ini!" seru pemimpin bajak laut itu. maka anak buah perompak itu berloncatan menyerbu masuk ke dalam perahu.
tak lama kemudian mereka membawa para penumpang dengan todongan golok.
Goan cang yang mendengar ribut ribut itu segera keluar.
dia melihat siauba pun diantara kerumunan para penumpang dengan leher tertodong golok.
goan cang yang melihat itu bersiap untuk memporak porandakan kepungan para perampok. tapi sekilas dia melihat siauba mengedipkan mata nya.
goan cang yang tak tahu maksud siauba, segera mengurungkan niatmya untuk menempur para perompak itu.
segera dia mendekati siauba.
"ba te, apa maksudmu?" tanya goan cang berbisik.
"cang ko.. para perompak ini hanyalah anak buah. siaute hanya ingin tahu dimana markas mereka" ujar siauba berbisik.
goan cang setelah di jelaskan, baru mengerti maksud sahabatnya ini. tapi dia sedikit ragu, apakah siauba bermaksud untuk menyatroni markas para perompak ini, bagaimana dengan ilmu silatnya? pikir goancang.
"ba te, apakah kau berkepandaian?" tanya goan cang.
"siaute bisa sedikit cang ko" ujar siauba berbisik.
"baiklah ba te, aku ikut denganmu" ujar goan cang yang memang mengkuatirkan sahabat baru nya ini. olah olah menyatroni markas perompak nanti malah sahabatnya yang celaka.
"aku harus menemani adik siauba ini" pikir goan cang.
maka mereka berdiam dan menurut saja ketika tangan mereka di ikat oleh para perampok itu dan si satukan dengan tawanan lain nya.
"kali ini dapat ikan besar" ujar seroang perompak kepada pimpinannya ini.
"hahaha.. bagus bagus.. bawa semua hasil buruan ini ke markas, pisahkan para wanita"
__ADS_1
seru pemimpin itu dengan tertawa gembira.