
tak terasa, mereka sampai di sebuah desa kecil. perjalanan masih memakan waktu 2 hari lagi. maka mereka memutuskan untuk beristirahat mencari penginapan atau menumpang pada rumah penduduk.
tampak beberapa.peronda yang mengelilingi desa itu. goan cang menghampiri mereka.
"maaf lopeh, apakah di desa ini ada penginapan?"
"siansing, di desa kami tidak ada penginapan, kalau mau siansing bisa menginap di rumah kepala desa" kata peronda itu.
"baik lah lopeh, tolong tunjukan dimana rumah kepala desa itu" kata goan cang.
peronda itu pun membawa goan cang dan siauba menuju kepala desa.
terlihat sebuah rumah yang tidak begitu besar.
kepala desa yang bermarga goh ini berumur hampir 70an. berpenampilan kurus dengan baju nya yang terlihat kelongggaran, tapi dia seorang kepala desa yang baik.
dengan tersenyum ramah tuan Goh ini persilahkan goan cang dan siauba untuk beristirahat di pondok nya.
"silahkan anak muda, kebetulan istriku memasak bubur". kata kepala desa Goh. sambil membawa bubur dan sepoci teh hangat.
"terima kasih lopeh.." kata goan cang berbarengan dengan siauba yang duduk di bale dan bersandar pada tiang pondok.
"maaf bertanya, dari sini ke lokyang berapa lama lagi lopeh?" tanya goan cang.
"sekitar satu hari perjalanan dengan berkuda". kata kepala desa Goh.
"Baik.. terima kasih lopeh". kata goan cang.
sepeninggal kepala desa, siauba mencoba untuk bermeditasi mencoba untuk menelisik luka dalam nya dengan iweekang nya.
bermulai dari tantian nya berputar putar ke seluruh organ tubuhnya kemudian kembali lagi ke tantian. sekitar setengah jam kemudian dia membuka mata nya.
siauba menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nafas nya. terasa lapang dada nya sekarang.
"Cang ko..obat luka dalam, mujarab sekali, engkau peroleh darimana?" tanya siauba.
"aku buat sendiri ba te." ujar goan cang.
"Hah?!.. hebat sekali cang ko, darimana keahlian mu meracik obat?". tanya siauba yang kagum akan salah satu keahlian sahabat nya ini.
goan cang kemudian bercerita kalau dia adalah salah satu murid dari si dewa tabib Yok sian.
dia mempunyai seorang suheng yang bernama Yan cia. anak dari jendral Yap yang sekarang menjaga kota lokyang. tapi sudah bertahun tahun goan cang belum bertemu lagi dengan suhengnya, sejak meninggalkan rumah dewa tabib itu.
siauba yang mendengar nya merasa kagum dengan goan cang.
goan cang pun melanjutkan ceritanya bahwa dia adalah seorang anak dari piawsu, yang kebetulan di selamatkan oleh si kakek aneh koai lojin ketika terjadi musibah pembantaian. sampai di situ, terlihat raut muka goan cang sedih sesaat ketika mengenang ayahanda nya.
"kalau kau bagaimana ba te? dimana keluarga mu?" tanya goan cang.
"hmmmm..." siauba terlihat menarik nafas. terbayang wajah ayah ibu serta kakak perempuannya.
siauba bercerita tentang perampokan di rumahnya., dan dia beserta ibu dan kakak perempuannya melarikan diri tapi terpisah. sampai sekarang dia tidak tahu kabar berita ibu dan kakak perempuannya apakah masih hidup atau telah tiada. bagai kan raib hilang tanpa petunjuk, sampai siauba di temukan oleh suhu nya itu kim liong sin kay.
mereka tertidur di bale dipan di teras pondok kepala desa itu.
Tiba tiba goan cang terbangun, dengan perlahan dia membangunkan siauba.
ketika siauba membuka mata, goancang memberi isyarat agar siauba tetap diam.
"Sreeettt..Tap!"
ternyata ada sebuah pisau pendek meluncur deras. menancap di dinding kayu pendopo hanya beberapa jengkal saja dari kepala goancang.
dia tidak mengejar si pelempar pisau, karena goancang tahu kalau pelempar pisau bermaksud jahat, maka dirinya lah yang jadi sasaran, bukan dinding.
__ADS_1
goancang melihat panah itu. ada sepucuk surat.
dia menyimpan pisau itu dan membaca sepucuk suratnya.
"bahaya mengancam di depan, waspada jangan terlena"
"Apa isi surat itu cang ko?" tanya siauba.
"kau baca sendiri ba te" kata goan cang seraya memberikan surat itu.
"bahaya apa lagi ya cang ko?" tanya siauba sambil membaca surat pendek itu.
goan cang hanya menggelengkan kepala nya sambil berpikir.
"Ah sudahlah cang ko, daripada di pikir, lebih baik lanjut tidur" kata siauba yang telah mengambil posisi wueenak buat tidur kembali.
tak lama, telah terdengar dengkuran siauba.
"bisa bisanya adik siauba tertidur pulas" kata goancang menggelengkan kepala.
Pagi hari setelah sarapan bubur gandum yang di siapkan kepala desa, mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan, tak lupa goan cang menyelipkan beberapa tail uang perak untuk kepala desa.
mula nya kepala desa itu menolak, tapi akhirnya menerima juga uang perak itu.
goan cang serta siauba berkuda dengan cepat menuju kota lokyang.
sudah 4 jam perjalanan, mereka pun mengistirahatkan kuda nya. di sebuah pinggiran sungai kecil yang jernih airnya.
ketika mereka duduk di bawah pohon besar,
sayup sayup terdengar suara dawai di petik.
"cang ko.. siapakah yang memetik dawai di tempat seperti ini?"
"tidak tahu ba te, mari kita lihat" kata goan cang seraya bangkit dan berjalan ke arah suara dawai.
suara dawai berasal dari dalam tenda itu.
sungguh indah dan merdu petikan dawai. membuat siapapun yang mendengarnya akan memuji.
tanpa sadar, goan cang melangkah mendekati tenda.
Siauba yang tidak begitu mengerti akan indah nya musik. merasa heran kenapa goan cang kepala nya manggut manggut mendengar petikan dawai.
"cang ko apa ada yang aneh? kenapa kau manggut manggut seperti ayam mematuk ulat?" tanya siauba heran.
"aah.. ba te.. ini yang namanya menikmati alunan musik" kata goan cang tersenyum.
"ooowww..." kali ini siauba yang manggut mendengar ucapan goan cang.
siauba pun akhirnya manggut manggut tapi bukan karena mendengarkan alunan dawai, tapi dia manggut tapi mata nya memperhatikan anggukan goancang yang sedang terbuai alunan dawai.
setiao goan cang menganggukan kepala, siauba ikutan. yang pasti anggukannya itu kaku. karena meniru goan cang. hahaha..
"apa enak nya mengangguk angguk seperti ini? malah pegal leher" guman siauba dalam hati.
Goan cang terus memasuki tenda itu di ikuti oleh siauba.
tampak seorang wanita cantik bagai bidadari surga sedang memetik dawai.
di depan nya ada beberapa wanita yang melenggak lenggok menari dengan luwesnya. "Selamat datang kuncu" ucap seorang wanita yang memakai sehelai kain penutup wajah tembus pandang yang hanya menutupi mulut sampai ujung hidung. mungkin itu hanya aksesoris pakaian. terlihat hidungnya mancung, dengan mata berwarna kecoklatan, rambut panjang di ikat. memakai baju tipis dengan rompi dan celana panjang ketat berkain sutra. dengan ikat pinggang kain berwarna emas, tampak lekuk lekuk tubuhnya yang ramping padat berbayang pada baju nya. Dengan memberi hormat, dia mempersilahkan goan cang masuk dan mengantarkan pada sebuah meja pendek.
goan cang pun duduk bersila. sedangkan siauba yang bingung dengan sikap goancang. hanya berdiri di belakang goan cang.
alunan musik dan tari tarian terus mengalun.
__ADS_1
beberapa wanita dengan pakaian yang sama tampak membawa baki berisi arak di poci kecil lengkap dengan cawan nya, yang lain membawa buah buahan di baki nya.
"Silahkan kuncu.." ujar seorang wanita berkerudung itu sambil mengerling ke arah goan cang seraya menuangkan arak pada cawan kosong.
alunan musik yang mendayu dayu laksana membetot sukma itu sungguh indah terdengar oleh goan cang.
dia tampak tersenyum dengan mata terpejam memdengar alunan dawai.
membuka mata nya hanya untuk minum arak lalubterpejam lagi seraya mengangguk kan kepala nya.
siauba merasa heran dengan kelakuan sahabatnya ini, apa enaknya mendengar musik dan melihat tari tarian. tapi siauba tetap menemami goan cang sambil sesekali ikutan mengangguk.
tiba tiba suara alunan musik berubah dari lembut menjadi nada tinggi bersemangat, lalu tiba tiba pula nadanya turun bagai perasaan sedih tak terkira. terus berkali kali nada seperti itu. reaksi itu berdampak langsung pada goan cang.
terlihat muka nya kadang mengeras bagai orang marah, kadang melembut seperti orang mau menangis.
siauba yang merasa heran itu, sedikit terasa hati nya bergetar setiap perubahan nada.
"celaka...!! ada apa ini?" guman nya dalam hati.
siauba dan goan cang yang miskin pengalaman bertempur dan menghadapi perangai dan ilmu ilmu aneh di dunia persilatan, tidak menyadari bahwa mereka sedang di serang oleh ilmu sihir pembetot sukma.
alunan musik yang berisi getaran getaran iweekang tingkat tinggi itu di susupi oleh getaran sihir. sehingga yang mendengar nya akan takluk tunduk mengikuti kemauan yang melancarkan ajian sihir itu.
tampaknya goan cang sudah terpengaruhi.
sedangkan siauba saja yang tidak mengerti tentang musik itu pun terpengaruh. hanya dia terganggu dengan serangan iweekang yang menggunakan suara itu. membuat tubuhnya bergetar kadang ke kiri kadang ke kanan bagai pohon bambu tertiup angin.
siauba pun mengerahkan khikang nya menutup indra pendengarannya dan melindungi jantungnya dari getaran getaran. tetap saja tembus, membuat dadanya bergetar bagai di gedor palu dari dalam.
alunan dawai terasa semakin hebat.
tiba tiba ada suara mendengung pelan.
ternyata suara pedang siauba.
kelihatannya getaran getaran suara berkekuatan iweekang itu sampai menyelusup ke dalam pori pori pedang kayu siauba, dan membuatnya berdengung.
dengungan itu lah yang membuat siauba terhenyak. sadar seketika.
"Bahaya....!!" teriak siauba.
"Cang koo...! sadar lah cang ko..!" teriak siauba.
tapi goan cang tak bergeming seakan tak mendengar teriakan siauba. raganya tetap di tempat, seakan roh nya pergi entah kemana.
para penari yang bergerak lemah gemulai itu pun tiba tiba berubah gerakannya dari lemah gemulai, sekarang cepat dan mereka menarik sabuk pengikat pinggangnya.
tak disangka, mereka berbalik menerjang ke arah goan cang yang tak sadar sedang dalam pengaruh hipnotis itu.
goan cang membuka matanya, tapi dia hanya duduk diam melihat serangan datang dengan pandangannya kosong.
"Cang ko..!!" seru siauba kaget melihat sahabatnya di serang tapi mandah saja.
untung siauba berdiri di belakang goan cang.
secepat kilat siauba merapal jurus saktinya 18 telapak naga jurus ke 15. yakni, bhi tun put yi / mendung tetapi tidak hujan.
kedua telapak tangannya bergerak searah jarum jam. tampak uap putih halus yang keluar dari telapak tangannya. seketika udara di sekitar siauba seperti tersedot kemudian terlontar balik dengan deras nya.
angin bergulung gulung bercuitan laksana angin ribut menghantarkan dashyatnya pukulan jurus ke 15 ini.
"Desss..blaaarr...!!" pukulan siauba bertemu dengan selendang yang berubah kaku karena dialiri iweekang.
tampak para penari itu terdorong mundur beberapa langkah. sedangkan selendang hancur bagai kertas yang di sobek sobek.
__ADS_1
tapi tidak membuat mereka jerih, kembali mereka menyerang saling bergantian mengelilingi siauba yang berdiri di depan goan cang.
dengan langkah kaki 7 rasi bintang dan ginkang berlari di atas rumputnya, siauba meladeni keroyokan para penari itu.