pendekar kocak

pendekar kocak
penyergapan di luar kota


__ADS_3

Dengan lahapnya siauba menyantap makanan itu.


"astagaaa.. ba te, porsi untuk makan sehari, bisa kau habiskan dalam sekali makan?" tanya goan cang.


"Maklum cang ko, tampungan perut ku bertingkat, seperti rumah dua lantai" kata siauba yang menjawab dengan mulut berminyak penuh makanan, sambil menepuk perutnya.


"hihihi..." wanita cantik berdandan nikouw itu spontan tertawa pelan karena tak sengaja mencuri dengar pembicaraan siauba.


lalu entah apa yang mereka bicarakan diantara mereka berempat, yang pasti mereka saling tertawa kecil.


ketika sedang asik makan, tampak beberapa orang pria memasuki rumah makan itu. terhitung ada enam orang.


tampang nya yang sangar, juga tindak tanduknya yang kasar, menarik kursi dengan kerasnya. tampak gagang golok memyembul dari pinggangnya.


"pelayan..!!" teriaknya kasar


"ya siansing.." tergopoh gopoh seorang pelayan mendatangi meja mereka.


"Cepat bawakan kami arak!, juga makanan terbaik kalian". seraya melemparkan tiga keping uang perak.


"Ba..baik.. siansing". kata pelayan yang tampak ketakutan itu.


"suheng.. disini tampak ada empat ekor kambing muda" kata seorang dari para lelaki kasar itu dengan melotot memandangi para nikouw muda ini. seperti srigala yang hendak menerkam mangsa. sampai jakun nya turun naik.


"Hahaha.. biar saja, biar kambing itu mencari rumput, nanti baru kita giring ke kandang" kata seorang lain nya.


" bagusnya di pelihara ini,. akan aku jadikan kambing ke lima di rumah ku" kata yang lain nya.


mereka semua tertawa terbahak bahak.


sampai arak datang, mereka sambil minum arak tampak sekali bermaksud tidak baik.


para nikouw muda itu mempercepat makan mereka, kemudian mereka bergegas meninggalkan rumah makan itu.


Goan cang yang panas kuping mendengar ocehan para lelaki kasar itu, udah gatal tangannya hendak memberi pelajaran.


ketika angkat bangkit dari kursi nya, siauba menahan nya.


"Cang ko tidak baik makanan tidak di habis kan. sebaiknya habiskan makanannya dahulu, sebelum bau busuk karena di hinggapi para lalat" ujar siauba.


mendengar siauba yang berkata sambil menyindir tidak langsung, goan cang tersenyum,. dan menahan diri.


tak lama, goan cang dan siauba pun meninggalkan rumah makan itu.


mereka berjalan menikmati suasana kota sechuan, melewati ramai nya pasar di kota itu. yang tampak toko toko yang ramai di jejeli .pembeli. juga pedagang pedagang yang membuka lapak di sepanjang pasar.


goan cang sudah melupakan rasa kesal nya, dia tampak menikmati suasana.


siauba yang berjalan beriringan dengan goan cang, tampak berjalan sambil mengelus perutnya. agaknya kekenyangan dia.


goan cang menyempatkan diri untuk membeli 2 ekor kuda di salah satu penjual kuda terbaik di sechuan.


tak lama, mereka telah meninggalkan kota sechuan, dan mulai menempuh arah luar kota menuju kanglam.


"ba te.. apa kau dengar suara itu?" tanya goan cang.


"hah? suara apa cang ko?" tanya siauba yang sedang asik mengorek kuping memakai batang rumput sambil menguap diatas kuda nya.


melihat kelakuan sahabatnya ini, goan cang menggelengkan kepala nya.


"kelakuaann.." katanya dalam hati sambil tersenyum.


"Dengarkan.." kata goan cang yang memberhentikan laju kuda nya.


sayup sayup terdengar suara orang yang bertempur.


"arah selatan ba te, ayooo.." seru goan cang yang membedal kuda nya menuju arah suara.


Siauba segera mengikuti.


tak jauh terlihat ada sekerumunan orang sedang bertempur.


goan cang segera melompat dari kuda nya dab berlari cepat menuju ke area pertempuran.

__ADS_1


tampak beberapa orang yang bersimbah darah bersandar pada pepohonan.


sedangkan sekerumunan pria yang bersenjata kan golok sedang mengeroyok 2 orang gadis berpedang.


kelihatan sekali para wanita itu kewalahan mempertahankan diri dari keroyokan. goan cang melihat, jika wanita itu adalah yang mereka temui di rumah makan.


sekelebat mata dia melihat golok dari penyerang itu akan mendarat pada tengkuk wanita yang sibuk menangkis serangan dari depan.


"Triiiinng...!!" "Aaahh..!! teriak seorang penyerang itu.


goan cang menjentikan amgi yang berupa jarum ke arah pedang sehingga pedang itu terpental tidak menemukan sasarannya.


secepatnya goan cang terjun ke area pertempuran.


menyampok dan menyentil golok golok yang memyerang kedua pendekar wanita yang sudah terdesak itu.


dengan ginkang nya dewa petir menaiki awan. goan cang berkelebat.


"siapa kau?" seru seseorang yang kelihatannya adalah pemimpin para penyerang itu. berbadan gempal, dengan kepala botak.


"mengapa kau mencampuri urusan kami?" tegur nya lagi.


" hahaha.. dasar keledai gundul, apa kau tidak malu ngerubuti wanita?" kata siauba yang telah sampai menyusul goan cang.


siauba memandang ke arah wanita itu.


"Eh... ternyata mereka yang bertemu di rumah makan" pikir siauba.


dia melirik ke samping. ternyata 2 orang pendekar wanita telah berbaring di bawah pohon. terlihat baju nya basah berwarna merah. tampaknya luka nya tidak ringan.


segera siauba turun dari kuda nya dan menghampiri pendekar wanita yg terluka itu.siauba menotok beberapa titik hiat to, untuk memghentikan pendarahan. kemudian dia cepat berbalik ke belakang kedua wanita itu, segera dia menarik nafas dalam dalam, kemudian menyalurkan iweekang nya kepada kedua wanita itu.


"uhuuuukk....!!"


tak lama nona nona itu memuntahkan darah ke hitaman. tampaknya luka dalam.


siauba segera menarik kembali iweekang nya."Nona cepat mengatur nafas atur kembali hawa murni mu" kata siauba kemudian.


di lihat dari ilmu nya, sangat asing untuk goan cang. agaknya para penyerang ini bukan dari daratan tengah.


di tengah sibuknya goancang yang sedang melayani para penyerang ini, tiba tiba dari arah belakang berhamburan panah yang melesat ke arah mereka.


para pengeroyok yang melihat ini, segera menyingkir.


goancang segera mencabut pedang beserta dua pendekar wanita yang membentuk perlindungan diri.


"Traaang...traang..!!!"


"Aakkhh..!!"


tak ada satupun panah yang menembus pertahanan goan cang, tapi tidak dengan kedua pendekar wanita itu.


terlihat mereka terkapar. dengan dada tertembus panah.


melihat itu, gusar lah goan cang.


terlihat serangan panah kedua kali nya datang bagaikan hujan deras.


"Huppp..!" goan cang menjejakan kaki nya meloncat tinggi sehingga serangan itu lewat di bawah kaki nya, dan dia pun membuka serangan.


"dewa turun dari kahyangan"


dia menggetarkan pedangnya, dengan memyalurkan iweekangnya sampai tujuh bagian. tampak ratusan hawa pedang yang berpijar kehijauan bagai bunga mekar.


bunga kematian.


dengan cepat goan cang melontarkan hawa pedang itu ke arah para pemanah. jarak yang mencapai 8 tombak itu tak menjadi masalah buat goan cang.


hawa pedang yang meluncur secepat kilat yang menerjang para pemanah, cukup membuat barisan pemanah itu kacau balau sibuk menghindar dan mempertahan kan diri. mereka tidak sempat untuk menyiapkan serangan lanjutan.


ketika goancang mendarat, baru sampai satu kakinya, cepat dia menarik nafas kemudian segera menutul lagi menyerang dengan jurus kedua nya dewa memercikan air.


goan cang meluncur secepat kilat, bersamaan dengan membawa ratusan pedang laksana bianglala.

__ADS_1


kali ini terlihat beda, goan cang yang sudah gelap mata, menyerang dengan nafsu membunuh.


Melihat serangan hebat di sertai hawa pembunuh yang besar, membuat para pemanah itu tercekat sejenak. sepersekian detik kelengahan para pemanah itu suduh cukup untuk membuat kepala mereka terpisah.


Dengan jurus ketiga nya, dewa menjatuhkan hukuman, goan cang bergerak cepat membabat pedang nya. hanya sekelebat bayangan saja, 12 pemanah berjatuhan tak bernyawa.


para pengeroyok yang tadi nya menyingkir, melihat rekan rekan mereka hanya dalam segebrak saja sudah kehilangan nyawa. segera melarikan diri.


goan cang tak mengejar. dia hanya berdiri terpekur melihat apa yang telah diperbuat.


pedangnya terlepas dari genggaman. badannya bergetar.


siauba yang melihat perubahan pada goan cang. segera menghampiri. dengan perlahan dia menyapa goan cang.


"cang ko.. kuasai dirimu. cepat tarik nafas untuk meredam goncangan jiwa mu"


goan cang bagai tersiram air dingin, dia tersadar akan goncangan jiwa nya. secepatnya dia bersila bermeditasi sebentar meredakan gejolak batin dan menata kembali iweekangnya menuruti nasehat sahabatnya itu.


setelah beberapa saat, goan cang pun bangun berdiri menghampiri dua dari empat pendekar wanita yang masih bersandar pada sebatang pohon. kedua nya terluka cukup parah.


goancang yang merupakan murid yok sian segera memeriksa luka pada pendekar wanita itu.


"maaf lihiap, boleh aku memeriksa luka kalian?" tanya goancang.


pendekar wanita yang tampaknya pemimpin dri mereka, mengangguk lemah tanda mengijinkan.


goan cang cepat memeriksa nadi kedua pendekar itu.


tak lama, tampak wajah goancang berubah terkejut. kemudian cepat dia mengeluarkan sebotol obat dari saku nya, dan memberikan beberapa pil kepada kedua lihiap itu. segera kalian telan pil ini katanya.


"terimakasih inkong" kata lihiap itu. dan segera mereka menelan pil pemberian goancang dan segera bermeditasi.


"Bagaimana keadaan mereka cang ko?" tanya siauba setengah berbisik.


"hmmm.." goan cang tampak mengeluh.


"nyawa mereka sulit di pertahankan ba te, mereka terluka oleh senjata beracun. dan racun telah menyerang organ penting, racun yang sangat ganas. obat ku pun percuma, sudah terlanjur telat" ucap goan cang.


"Uhuukk..!"


tampak pendekar wanita itu menyemburkan darah kehitaman.


goancang cepat menotok beberapa jalan darah.


"terimakasih inkong" kata lihiap itu lemah.


"suthay, siapakah kalian?" tanya goan cang.


"nama pinni, li hwa, pinni beserta adik adik pinni berasal dari perguruan enmei, Uhuukk.."


kembali darah tersembur.


"inkong, pinni mendapat tugas perguruan mengantarkan sepucuk surat kepada jendral yap di lokyang".


"Tampaknya tugas yang pinni emban ini, harus berakhir disini, inkong jika tak keberatan, sudikah membantu pinni untuk menghantarkan surat ini kepada jendral Yap"


seraya mengambil sepucuk surat dan sebuah kimpay (tanda pengenal perguruan) dari balik baju nya dan memberikan kepada goan cang.


"tenang lihiap, boanpwe pastikan surat ini akan sampai pada yap goansgwe" kata goan cang.


" lalu siapa kah mereka para penyerang kalian itu?" tanya nya.


"pinni tidak mengetahui jati diri mereka, tapi mereka mengincar surat ini inkong".


" tolong sampaikan kepada subo kami, bahwa ka...."


tak sempat nikouw itu menyelesaikan perkataannya, telah putus nyawa.


"pergilah dengan damai suthay, boanpwe akan mengantarkan surat ini kepada yap goansgwe" guman goancang.


setelah mereka memguburkan para jenasah, mereka pun melanjutkan perjalanan.


tapi kali ini goancang tampak lebih banyak berdiam, di sepanjang perjalanan dia tampak berpikir.

__ADS_1


__ADS_2