
Sambil bermain catur, koai lojin bercerita kondisi terkini bulim (dunia persilatan) yang makin santer saja dalam perebutan peta wasiat dewa pedang. bahkan perguruan perguruan besar seperti shaoilin, butongpay, hua san pay telah mengutus murid muridnya untuk menyelidiki. sedangkan pergolakan pemberontakan diluar tembok besar semakin sering. desas desus yang tersiar di sekitar kotaraja bahwa terjadi pergolakan di istana kaisar. jendral jendral dan menteri menteri yang setia banyak yang di pensiunkan diganti oleh jendral jendral muda.
"hmmmm.. lohu sudah lama mengundurkan diri dari ramainya bulim. semoga saja kekacauan ini cepat teratasi" kata yoksian sambil menjalankan bidak caturnya.
" ya sungguh kacau sekarang ini, tapi kenapa kabar peta wasiat itu bertepatan dengan gejolak pemberontakan?, seperti sungguh kebetulan" tanya koai lojin
" itu yang mesti di selidiki dengan jelas, darimana sumber berita itu" kata yoksian.
" tapi lohu yakin, pendekar pendekar muda generasi sekarang banyak yang pintar, mereka pasti menyelidiki nya" sambung yoksian.
tak terasa sudah berjam jam mereka bermain catur. akhirnya koailojin tetap kalah
"nampaknya lohu harus sering berlatih dengan murid cang" kata koai lojin dengan wajah kecewa.
"bagaimana kemajuan murid cang?"" tanya koai lojin kepada yok sian.
"sangat luar biasa..".
kemudian yok sian bercerita apa yang di alami oleh goan cang.
" hebat sungguh Thian maha penyayang" kata koai lojin.
Dan yok sian menceritakan juga soal 1 buah yang tersisa jip thau sin liap untuk di rendam dalam guci wasiat koai lojin.
Yok sian menyanggupi nya karena melihat kedepan betapa penting obat anti racun untuk berjaga jaga jika terjadi konfontasi menghadapi tokoh tokoh sesat yang tidak segan menggunakan racun.
Hari telah sore, koai lojin menyuruh agar goan cang bersiap mengemasi barang barangnya, karena besok pagi sekali akan segera berangkat.
Pada pagi hari nya sebelum berangkat, yok sian menyerahkan sebungkus racikan obat nya guna nanti di campur dengan jitthau sin liap. yok sian juga membekali beberapa pil obat obatan yang biasa di bawa oleh para pendekar pengelana.
Yan cia sungguh merasa berat karena telah akrab dengan sute nya itu, tapi goan cang berjanji setelah pada waktunya, dia akan berkunjung kembali ke gunung heng san ini.
"Suhuuu terima kasih atas bimbingan suhu selama ini" yok sian sambil berlutut.
"ya baik baik lah kau menimba ilmu dengan guru mu koailojin". kata yok sian.
dia pun memberi wejangan wejangan kepada goan cang.
"Suheng terina kasih"
" Sama sama sute, sering sering lah menjenguk kami di sini"
mereka pun berpelukan.
Kemudian koai lojin dan goan cang pun pamit, mereka pun mulai meninggalkan hengsan.
"murid cang, mari kita berlari, lohu mau lihat kemajuan mu"
"baik suhu"
mereka pun melesat, dalam setarikan nafas sudah jauh mereka berlari. koai lojin memilih melewati perbukitan yang sukar di lalui oleh orang biasa, mereka berloncat loncatan di atas tebing tebing untuk turun gunung. melihat kemajuan untuk goan cang, walau tertinggal cukup jauh dari nya, koailojin cukup puas.
mereka pun berhenti berlari. dan memilih perjalanan santai sambil menikmati perjalanan.
__ADS_1
" suhu jauh kah ke thian san?"
" ke thian san membutuhkan 1 minggu perjalanan, jika kita terus berlari hanya 4 hari telah sampai" jawab koai lojin.
mereka melewati beberapa desa yang sebagian penduduknya bertani. kemudian mereka harus menyebrang sungai yang tze, karena jika mereka memutari sungai membutuh kan waktu 1 bulan untuk sampai di thian san.
mereka melihat sebuah perahu yang agak besar sedang memuat barang bersiap untuk berlayar.
koai lojin bertanya pada seseorang yang keliatannya pemilik perahu itu.
"lopeh.. mau kemana perahu ini?, apakah melewati ciang nan? kami hendak menumpang" tanya koailojin.
" ya kapal kami melewati ciang nan. tapi maaf kapal sudah penuh muatan, sudah di sewa oleh seorang saudagar"
" tolong lah lopeh.. kami hanya berdua, tidak kebagian kamar pun tidak apa" sambil memberikan beberapa keping perak
melihat kepingan perak itu " waduh bagaimana ini, kami mesti minta ijin dulu kepada penyewa" tutur pemilik perahu sambil mengantongi kepingan uang itu.
melihat ribut ribut di samping perahu, penyewa itu bertanya dari buritan perahu
" ada apa?"
"maaf siansing ini ada dua orang yang ingin ikut di perahu sampai ke ciang nan"
saudagar itu melihat kedua nya, lalu mengangguk mempersilahkan.
maka lega lah hati koailojin, mereka pun bergegas menaiki perahu itu.
"terima kasih atas kemurahan budi baik siansing" tutur koai lojin.
kelihatan saudagar itu bukan berasal dari bangsa han. seperti terlihat dari suku luar tembok besar.
koai lojin pun bertanya
" maaf lancang bertanya, kalau boleh tahu siansing mau kemana?"
saudagar yang aedang mengawasi muat barang nya itu pun menoleh.
" ah kami hendak ke arah kotaraja kaifeng, kami dari timur luar tembok besar, namaku fakran, kami suku tajik"
"salam fakran siansing" kata koai lojin
"apa isi barang barang ini?" sambungnya.
" aahh.. ini adalah hasil bumi suku kami, seperti kulit kambing dan lain lain.
(Suku tajik adalah suku nomaden yang berdiam di luar tembok cina, keahlian mereka adalah berburu dan menggembala yang selalu berpindah tempat mengikuti musim, sekarang suku tajik dikenal sebagai bangsa uzbekistan)
Setelah melepas sauh, perahu itu pun berlayar. perlu sehari semalam untuk sampai di ciang nan.
goan cang senang sekali karena ini pertama kali nya dia berlayar. dia berdiri di depan buritan melihat ombak yang berhamburan seakan berlomba mengejar perahu itu. burung burung camar yang terkadang terjun ke dalam sungai lalu muncul lagi dengan ikan diparuh nya, ada pula perahu perahu kecil nelayan yang sedang menjala ikan. sungguh pemandangan yang baru untuk goan cang.
sang kakek koai lojin hanya tersenyum saja melihat tingkah goan cang.
__ADS_1
dia duduk diatas peti peti barang yang banyak bertumpuk disana. setelah sore hari mereka masuk ke ruangan yang merupakan bangsal tempat para kelasi beristirahat. walau tidak besar, tapi cukuplah untuk mengaso meluruskan badan. tidak menunggu lama, mereka pun tertidur setelah seharian mereka berjalan dari gunung hengsan.
Ditengah malam, mereka dikejutkan dengan suara ribut di depan
"bajak sungai.....bajak sungaiii...!" teriak beberapa awak perahu.
saudagar yang mendengar itu dari dalam kamarnya mengigil ketakutan. walaupun dia membawa beberapa pengawal. tapi membayangkan kejam nya para pembajak, tak urung dia gemetaran.
goan cang terbangun, ketika dia hendak membangunkan suhu nya. termyata suhu nya sudah memdusin daritadi. koai lojin memberikan isyarat agar goan cang tenang.
Terdengar pintu bangsal di gedor orang, dan di buka paksa.
begitu pintu itu terbuka,
"Aaaarrrgghhh.....!!!" jeritan keras terdengar berbarengan dengan terlemparnya seorang anak buah perompak itu sampai terbanting ke dinding perahu, diam tak bergerak untuk selama nya.
keluar lah koai lojin dengan tenang, diikuti goan cang di belakangnya. melihat rekan nya sudah terbujur kaku, serentak tanpa di komando para bajak sungai itu menyerang koailojin di lorong sempit antara ruangan perahu menuju ke buritan kapal.
"seraaannng..!!". belasan perompak bergerak maju membawa berbagai senjata tajam.
"hiaatt.. !!!...aaahkkh...desss...!!...braaakk..!!...aaaahhh...!!"
terdengar suara pukulan dan jeritan menjadi satu di lorong itu.
banyak perompak menjadi korban pukulan koailojin, meringis ada yang terkapar diam tak bergerakm golok dan pedang berserakan di lantai.
mereka jerih mulai mundur ke arah buritan.
"rupanya ada tikus mencoba menjadi pahlawan kesiangan disini" ucap kepala perompak yang berjulukan it pian hek peng (garuda hitam bercambuk satu) senjata andalannya berupa cambuk lemas yang terbuat dari tulang ekor ikan pari yang di beri ramuan ramuan khusus sehingga alot lentur ketika digunakan untuk senjata.
ketika melihat koai lojin, garuda hitam itu berkata,
" rupa nya tikus tua yang bosan hidup" seraya berkata tanpa ba bi bu lagi, dia ayunkan cambuk nya menuju kepala koailojin
"sreeeettt...cetaaarrrr.." terdengar bunyi memekak kan telinga.
serangan itu bukan biasa saja di sertai iweekang kuat bukan olah olah hebatnya, batu saja hancur di buat nya.
koai lojin memiringkan kepala nya, serangan itu lolos melewati nya, tapi ujung cambuk itu seperti mempunyai mata, berbalik menyerang punggung dari belakang. itu lah hebat nya jurus cambuk hek peng ini.
terpaksa koai lojin melangkah kesamping lalu dengan tenaga sakti nya dia malah mendorong ujung cambuk yang sedang pulang balik itu. sehingga makin cepat ujung cambuk itu berbalik. kaget hek peng ini jika tidak menghindar maka bisa jadi senjata makan tuan.
maka dengan berpoksai di udara dia menghindari serangan balik itu sambil menyerang menggunakan cakar nya demgan jurus eng jiauw kang dengan tangan kiri sedangkan kanan memutar cambuk itu
"hiaaatt...!!"
plak plak desss....!!"
terdengar benturan antara cakar hek peng dengan tangkisan koailojin dengan jurus gin sian cui ouw / dewa mengambil guci arak.
kemudian di teruskan dengan serangan dewi memetik bunga liu, tangan kiri setelah menangkis serangan kemudian tanpa kembali langsung mengarah kepada dada hek peng, sedang kan tangan kanan bergerak memyusul serangan dengan jurus monyet memain kan bola.
it pian hek peng terkejut dengan serangan beruntun itu yang tanpa di sangka nya. tidak ada jalan lain selain berguling di lantai.
__ADS_1
dengan berguling bagai trenggiling, dia memjauh seraya menggerakan cambuknya memyerang pertahanan bawah koailojin.