
"Beginilah keadaan yang sebenarnya kungcu" kata lau kin perlahan.
" banyak pejabat korupsi dari atas sampai pejabat di bawah. menaikan pajak semena mena, memanfaatkan posisi jabatan untuk memperkaya diri, sedangkan laporan kepada baginda kaisar selalu yang bagus bagus, keadaan rakyat di tutupi". sambung lau kin.
"Lalu jika paman mengetahui hal ini, kenapa tidak melaporkan kepada ayahanda?" tanya Gao wei.
"apa lah arti paman ini, hanya seorang komandan regu pengawal, yang tugasnya menjaga keselamatan keluarga kaisar, paman tidak berhak untuk mencampuri urusan politik apalagi sesuatu yang bukan wewenangnya paman ini kungcu, bisa lepas kepala ini dari.leher" ujar lau kin.
"Hmmm.. ya memang peraturan istana sungguh berbelit, bahkan aku sendiri sebagai putra nya, tidak mudah untuk menghadap ayahanda baginda" guman Gao wei.
"Ada baiknya kungcu berpergian untuk melihat keadaan rakyat kungcu, sehingga tahu akan kebenarannya, semoga nanti jika kungcu di nobatkan sebagai kaisar,. dapat memimpim kerajaan dengan arif bijaksana" kata bibi nio nio.
Gao wei tidak menjawab, hanya mengangguk. "paman, sekali lagi ku mohon, diperjalanan ini panggil aku A sang, dan bahasakan dirimu sebagaii supek/paman"
"ah maafkan hamba.. baik Sang jie" lau kin memjura.
" Sang jie, menuju kota selanjutnya jarak tempuh 2 hari berkuda, kita akan menginap di hutan. tidak apa?"
" Tidak apa paman" tukas Sang jie.
Mereka pun bermalam di hutan, dengan mendirikan tenda kecil untuk putra mahkota. juga menyalakan api unggun untuk memasak. sedangkan bahan makanan bibi nio selalu membawa di kereta kuda nya. yangbdi tempatkan menjadi satu dengan rempah rempah karena mereka menyamar menjadi saudagar rempah rempah..
Dua hari perjalanan mereka memasuki kota anyang pada sore hari.
terlihat kota yang lbesar dan bangunan bangunan rapih. tapi banyak pengemis di sisi jalan. di lihat juga prajurit prajurit yang berjaga dengan bermalas malasan ada yang tertidur di poa penjagaan.
"Sungguh mengecewakan" pikir Gao wei.
bagaimana jika ada penyerbuan dari pihak luar?. Gao wei mengeluh melihat hal ini.
Mereka mampir ke sebuah restoran yang cukup besar dan ramai.
"silahkan masuk siansing" sambut pelayan dengan senyum ramah. ketika melihat saudagar kita turun dari kereta kuda
mereka melihat restoran yang ramai oleh pengunjung di lantai bawah, maka mereka naik ke lantai atas. disana ada beberapa meja yang masih kosong. rombongan saudagar ini mengambil meja di pojokan belakang yang menghadap ke taman halaman belakang. terlihat kolam ikan serta bangku bangku taman di kiri kanannya di tanami oleh pohon pohon bambu kecil sehingga asri dan memanjakan mata. lebih jauh lagi dikanan ada bangunan panjang dua tingkat yang berupa penginapan ternyata restoran ini menyediakan penginapan.
" Mau pesan apa siansing/tuan?" tanya seorang gadis sekitar berumur 14 - 15 tahunan. bermuka bulat telur dengan pipi montok dan bulu mata lentik, rambut di kuncir dua. ketika tersenyum sangat manis seperti bulan purnama.
"oow.. Apa menu yang terkenal di restoram ini?" tanya A sang.
"Siapa namamu adik kecil?" tanya lau kin. "namaku cen lin lin paman" jawab pelayan itu. "nama yang bagus" guman A sang.
pelayan itu tersenyum senang.
"kami terkenal dengan masakan sop kaki naga dan tim burung hong menelan bulan" kata cen lin lin bangga.
"hah? masakan apa itu?" tanya A sang heran.
"pokoknya dijamin enak, tidak kalah dengan masakan istana" promosi cen lin lin sambil mengacungkan jempol nya.
"baik aku pesan itu" ujar A sang,
"tolong bawakan juga arak wangi" kata Lau kin.
cen lin lin menoleh kepada bibi nio nio,
__ADS_1
"bibi ada pesanan lain?" tanya cen linlin
"aku cukup ikut mereka berdua, bawakan aku teh hangat"
"baik pesanan nya di tunggu sebentar" kata cen linlin kemudian cepat dia bergegas ke dapur di lantai bawah.
tidak lama cen linlin telah kembali membawa seguci arak, dan sepoci teh hangat.
"silahkan siansing, sambil menunggu masakan dihidangkan" ujar cen lin lin.
" ya terima kasih adik kecil" jawan lau kin.
sambil menunggu masakan, Gao wei melihat sekeliling para tamu itu. di pojok depan yang menghadap ke jalan raya terlihat seorang lelaki berusia sepuh dengan dandanan aneh tidak memakai alas kaki, memakai kopiah yang miring, sedang makan dengan seorang anak kecil laki laki sebaya dengannya. terlihat dari gerak gerik nya mereka adalah bagian dari kangouw, para pendekar bulim yang senang berkelana.
berjarak 5 meja dari goa wei, terlihat rombongan beberapa pria memakai seragam piawsu sedang menikmati hidangan. rupanya mereka sedang mengawal barang dan sedang beristirahat untuk makan.
sedangkan di sebelah kiri ada 4 orang pria yang sedang minum arak. tampangnya sangar dan dua dari empat orang itu terlihat seperti suku luar tembok kerajaan, badannya tinggi besar dengan sorban kepala yang tebal. terlihat golok tersoren di pinggangnya. menikmati bebek panggang dan arak wangi. sesekali mereka melirik ke arah rombongan Gao wei ini.
bibi nio nio yang dari tadi diam. ternyata memperhatikan semua itu.
dengan ilmu menyampaikan suara dia berbisik kepada Gao wei.
"kungcu berhati hatilah, kelihatannya mereka bermaksud tidak baik"
Gao wei hanya mengangguk dan terlihat tersenyum tipis. memang ketenangannya sungguh diakui hebat, berbeda dengan anak biasanya yang seumuran dengannya.
Tidak lama hidangan datang.
Dengan uap yang masih mengepul panas, ternyata sop kaki naga itu terbuat dari kaki sapi yang di buat sedemikian rupa seperti kaki naga yang berpijak pada lautan. tercium wangi nya kaldu sapi menambah kencang rasa lapar di perut. Tim burung hongenelan bulan,. terbuat dari tim burung dara yang di padu dengan manisan buah leci dan telur puyuh ditambah potongan nanas sehingga indah dipandang. dan rasanya segar karena bercampur buah buahan.
"Bagaimana Siansing?" tanya cen lin lin yang berdiri tidak jauh dari samping meja.
"terima kasih siansing, jika ada keperluan lain nya beritahukan saja pada kami" ujar cen lin lin.
"maaf nona, apakah ada kamar kosong? beri kami 3 kamar yang terbaik, dan tolong kuda kami diberi makan" kata bibi nio nio. seraya memberikan satu keping uang emas.
melihat nilai uang itu mata cen lin lin berbinar.
"Baik Kouwnio" ujar cen lin lin semangat kemudian dia cepat bergegas.
beberapa pasang mata melirik kepada nya.
"kita beristirahat di mari, besok pagi baru melanjutkan perjalanan" kata bibi nio nio.
tamu yang berempat yang dua orang asing iti telah selesai bersantap dan sudah pergi dari restoran itu, tidak lama kemudian kakek dengan dandanan aneh dan cucu nya telah selesai dan pergi meninggalkan lantai dua restoran itu.
hanya para piauwsu yang terlihat tertidur setelah makan. mungkin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
bibi nio nio terlihat bernafas lega, yang dia kuatirkan tidak terbukti.
Setelah mereka makan, lalu mereka menuju kamar penginapan di gedung sebelah restoran yang sudah di persiapkan.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang tanpa gangguan yang di kuatirkan bibi nio nio. Ke Esokan pagi nya setelah membersihkan diri dan sarapan, mereka melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. melakukan perjalanan tidak terburu buru.
setelah 3 jam perjalanan keluar dari kota anyang, mereka akan memasuki hutan
__ADS_1
"tingkatkan pemgawasan" kata lau kin. memang pengalaman nya sebagai pengawal puluhan tahun yang mengasah naluri nya. dia melihat kedepan ini sebuah hutan dengan jalan menanjak dan di ujung jalan menanjak itu jalanannya di apit oleh dua batu karang besar. naluri nya yang tajam membuat dia harus berhati hati terhadap bokongan.
" berhati hati.. mohon kungcu berkuda di tengah" kata lau kin dengan wajah serius.
dengan perlahan dan penuh kewaspadaan lau kin mengendarai kuda nya.
"Sreett...sreett...!!!"..
terdengar jelas suara dan sesuatu tampak melesat cepat sekali ke arah lau kin dari balik bebatuan itu.
Lau kin yang memang bersiaga, segera miringkan tubuhmya ke samping. maka leeat lah serangan gelap itu.
menancap di pepohonan, terlihat amgi (senjata rahasia) ternyata berupa kalajengking hitam yang telah di awetkan sedemikian rupa.
"maaf.. kami pedagang kecil, jika telah melanggar wilayah tuan, mohon di maklum kan dan ijinkan kami melewati hutan ini" tutur lau kin lantang.
tak sampai lama, berloncatan lah keluar para penjahat menggunakan penutup muka, si hitung ada 10 orang.
"bagus.. kalian memasuki wilayah kami, kalian harus ikut kami untuk di periksa".
"maaf pendekar, jika kalian menginginkan harta, dagangan kami belum laku. kami hanya membawa sedikit perbekalan" ujar lau kin sambil melemparkan kantung berisi uang.
" hahaha.. kau kira kami bodoh, bukan hanya harta tapi kami menginginkan anak itu untuk kami jadikan budak" kata seorang penjahat tersebut, kelihatannya dia adalah pemimpin penjahat.
Tahu lah lau kin, jika ini bukan perampok biasa. tapi seperti nya rahasia perjalanan menyamar mereka telah bocor. entah siapa yang membocorkan.
"kalau begitu, maaf tidak dapat siawya mu (tuan muda) kabulkan" tukas laujin seraya meloncat dari kuda nya berbarengan dengan meloloskan sepasang pedang nya.
"Seraanng...!!!" teriak pemimpin penjahat itu.
ramai ramai mereka maju.
sepertinya mereka kawanan yang terlatih, tanpa di suruh mereka membagi tugas.
Empat orang mengepung lau kin, 6 orang mengepung bibi nio nio yang menjaga Gao wei.
"hiaaatt...!!! Traangg... !!" bunyi benturan pedang antara kepala penjahat itu dengan pedang lau kin.
angin dingin berseliqeran dari arah belakang menuju bahu, dengan sigap lau kin melompat tinggi berpoksai sambil membuka jurus burung bangau mencari ikan. pedang yang meluncur dari atas diarahkan ke kepala penjahat yang membokong dari belakang. tapi rupanya ini bukan penjahat kacangan. dengan jurus si kuntet membabat rumput dia agak berjongkok dan goloknya di baling balingkan seperti kitiran angin. belum sampai pedang menuju kepala; dari kanan lau kin, terlihat mata tombak menyodok. lau kin mengeluh, tapi dengan gaya ikan emas meletik. dia menyampok tombak itu dengan berputar di udara. meminjam tenaga luncuran tombak itu dia menotol kemudian bersalto dua kali turun agak jauh di tempat kosong di kiri. sungguh atraksi ginkang yang mengagumkan. jika saja bukan dalam pertarungan mungkin penonton akan bersorak.
Lau kin belum sempat menarik nafas, sudah meluncur gelombang serangan bertubi tubi, pola serangan yang rapi teratur dari penjahat bertopeng itu menandakan mereka bukan sembarang penjahat.
Serangan golok menyasar leher dan tombak menyasar perut nya, lau kin berguling kemudian melompat balik menyerang dengan sepsang pedang nya, membuka jurus siang kiam siau houw. (sepasang pedang harimau gila)
Pedangnya yang bergerak dengan pola tidak beraturan terkadang menusuk ke bawah terkadang membabat ke samping kadang kedua pedang saling menyerang dengan langkah kaki tidak beraturan juga maju mundur ke samping dan berputar.
Sungguh membuat bingung para penyerang yang memakai pola serangan rapih bagai gelombang air bah. tapi dengan jurus harimau gila itu yang susah di prediksi cukup membuat para penjahat bertopeng itu kerepotan. Sementara lau kin mencemaskan keadaan putra mahkota, tapi dia tidak bisa membagi perhatiannya, salah salah bisa dia yang termakqn senjata lawan.
Bibi nio nio yang di serang 6 orang bersama sama sungguh sangat kepayahan. memjaga agar jangan sampai seorang dari mereka lolos dari penjagaannya dan mencelakai putra mahkota.
Triing..tringg.. !!! terdengar suara benturan antara golok dan kipas pusaka nya. bergetar tangan bibi nio nio.
terhenyak dia, rupanya iweekang penjahat bertopeng ini tidak berada dibawahnya. nyaris setingkat kekuatannya. celakanya bukan hanya seorang tapi ber enam yang menyerang. sungguh kerepotan sekali bibi nio nio. walaupun dia termasuk salah satu harimau penjaga di kekaisaran Qi ini tapi menghadapi 6 musuh yang kekuatannya tidak berada sebelah bawahnya, lambat laun bisa diipastikan mereka akan terbunuh atau setidaknya terluka parah.
ketika serangan golok datang arah depan, bibi nio nio memiringkan badannya tangan kanannya yang memegang kipas menangkis serangan golok dari samping sedangkan berbarengan dengan itu tangan kiri nya melempar amgi di sertai tenaga iweekang berupa jarum pengisi kipasnya ke arah kiri yang kala itu ada musuh sedang mengayunkan goloknya, jarak sedekat itu musuh tak menyangka, dia terkesiap dan cepat membuang diri dengan cara berguling, walau begitu tak luput beberapa jarum menancap pada tubuh musuhnya itu. tapi celakanya seorang musuh yang sempat melompat ke atas dan menyerang dari atas bagai rajawali menerkam itu, sempat mengayunkan goloknya, bibi nio nio terlambat menghindar, bahu kanannya terbabat golok itu. untung tidak dalam. tapi darah mengucur deras membasahi baju nya. melihat keadaan yang longgat itu, seorang penjahat melompat dengan gaya harimau menerkam kelinci, dia memburu bibi nio nio, goloknya dengan cepat menusuk lurus ke arah dada, bibi nio yang kala itu baru sempat menghindar terpaksa menangkis dengan kipas pusaka nya dan berguling menjauh bak trenggiling.
__ADS_1
Seorang penjahat lainnya dengan cepat melompat melancarkan totokan ke arah Gao wei.
Gao wei terhenyak melihat serangan itu, rasanya tak mungkin terhindar dari totokan cepat itu. jari tangan penjahat meluncur ke arah tengkuk Gao wei...