
pelan pelan lau kin keluar dari gudang beras dan menyisir penginapan itu.
keadaan penginapan itu sangat lengang di malam hari, apalagi karena gerbang kotaraja di tutup, maka penginapan seribu pintu pun kamar yang terisi bisa di hitung dengan jari.
lau kin cepat menuju kamar pengurus penginapan.
Dengan perlahan dia mengetuk pintu kamar memakai ketukan sandi rahasia.
Tidak menunggu lama, pintu di buka dari dalam, dengan cepat lau kin masuk.
"komandan, apa yang terjadi?" tanya ji lay, si pengurus hotel setengah berbisik.
" Phoenix terluka, naga emas keluar sarang" jawab lau kin.
Ji lay terkejut setengah mati mendengar hal itu. tanpa banyak tanya, segera dia mematikan lampu kamar, meraih pedangnya yang tergantung di dinding kemudian dengan cepat berlari mengikuti lau kin menuju gudang beras.
Segera mereka menolong putra mahkota untuk mengeluarkan dari lorong rahasia itu. kemudian memapahnya menuju kamar pengurus penginapan yang tidak jauh dari gudang itu.
setelah meletakan gao wei di pembaringan, ji lay keluar dari kamar untuk menghubungi para anak buah nya.
tidak menunggu lama, mereka semua berkumpul di dalam ruangan kamar ji lay yang memang cukup besar. mereka melakukan rapat darurat. di karenakan istana telah jatuh. dan keadaan putra mahkota yang terluka, serta baginda yang tidak diketahui kabarnya.
mereka memutuskan untuk melarikan putra mahkota keluar dari kotaraja dengan cara menyamar.
"untuk saat ini, tidak memungkin kan untuk memyusup keluar kotaraja, di karenakan penjagaan sangat ketat, juga melihat keadaan putra mahkota yang sedang terluka" kata seorang anak buahnya.
" lalu apa yang harus kita lakukan komandan?" tamya salah seorang anak buah ji lay yang bernama a huat, seorang perwira yang ahli dalam ilmu menyamar dan memguasai lima bahasa asing. karena sehari hari tugasnya adalah menjadi pelayan dan menguping pembicaraan bila tamu penginapan adalah bangsa asing.
"kita tidak bisa mengambil resiko terlalu lama tinggal didalam kotaraja, kita tetap harus menerobos untuk keluar dari kotaraja malam ini juga" kata ji lay.
"lau goanswe, apa yang harus kita lakukan? tanya jilay kepada lau kin.
" kau bantu pangeran untuk menyamar menjadi seorang pesakitan yang menular" kata lau kin kepada a huat,. "
Dan aku akan menyamar menjadi seorang kakek kakek yang mengantarkan cucu nya pergi mencari tabib, kalian berdua menyamar sebagai pengusung tandu" sambil menunjuk Ahuat dan A nyuk
"Siap komandan" jawab mereka serempak.
" komandan ji lay, kau tetap menjalankan penginapan seperti biasa, kumpulkan informasi, nanti akan aku utus ahuat atau a nyuk yang menghubungi mu" perintah lau kin. " siap jendral!" kata ji lay,
"lalu kemana putra mahkota akan di ungsikan?" tanya jilay.
"kemungkinan akan ku bawa ke tempat yap goanswe, karena aku yakin jendral yap srtia kepada raja Gao" ungkap lau kin.
Dengan sopan, prajurit Ahuat memohon ijin untuk mendandani Putra mahkota yang tangannya masih di dibalut perban itu.
Putra mahkota dengan anggukannya dia mempersilahkan..
Tak lama kemudian putra mahkota telah berubah menjadi seorang pesakitan yang di muka, tangan dan kaki nya seperti orang terkena penyakit kulit yang menular. pakaian nya pun terpaksa di ganti dengan pakaian seorang petani. rambut yang biasa rapih dnegan kunciran, dibuat acak acakan. di tambah lagi di tandu yang akan di gunakan, bawahnya di taruh ikan busuk. sehingga aroma busuk menyengat seolah olah tersiar dari tubuh sang putra mahkota itu.
Ji lay yanh melihat keadaan junjungannya merasakan pahitnya kehidupan putra mahkota, dari seseorang yang selalu di hormati oleh rakyatnya, sampai harus diperlakukan seperti ini dengan dandanan pesakitan dan harus bertahan di tandu yang bau busuk nya tersiar. Ji lay sampai menitik kan air mata nya.
" Mari berangkat!" ujar lau kin yang berubah menjadi seorang kakek yang bungkuk.
"Yang mulia..." ji lay segera bersujud diikuti oleh para prajuritnya.
"Semoga yang mulia putra mahkota sehat terus beribu ribu tahun lamanya" ujar meereka sambil bersujud mencium bumi.
"Kalian bangun lah, terimakasih untuk doa nya, tapi aku bukan putra mahkota lagi sekarang". ucap putra mahkota Gao wei dengan tenang sekali. seakan rentetan kejadian yang bertubi tubi terhadap dirinya membuat dia terlihat jauh lebih tua dan lebih pendiam. walau di dandanin sedemikian rupa, tetap saja wibawa nya terpancar.
__ADS_1
Sebelum mereka keluar dari persembunyian nya, Ji lay memyuruh dua.oramg anak buahnya menyusur keadaan sampai di gerbang kota. tak lama kemudian mereka kembali.
"bagaimana?" tanya ji lay kepada dua anak buahnya.
" keadaan lengang, banyak prajurit Qin berjaga di gerbang kota. tapi ada prajurit jendral lee goanswe pula berjaga, tampaknya mereka belum mengetahui kejadian dalam istana" jawab kedua anak buah ji lay itu.
" kalau begitu sekarang saatnya bergerak" kata.lau kin.
"baik.. mari bergerak' mereka menjawab serentak.
Putra mahkota segera naik ke atas tandu.
abhuat dan a nyuk mengangkat tandu tersebut, semjata senjata mereka yang berupa golok dan pedang segeraereka sembunyikan di bawah tandu dengan rapih, tak terkecuali dua buah bom asap yang besarnya hanya sebesar kelereng.
" selamat jalan yang mulia putra mahkota" jawab para prajutit sambil bersujud.
"terima kasih, baik baiklah kalian. kelak kita akan berjumpa lagi, terus berjuang!" kata putra mahkota.
Maka di pagi buta di saat hari masih gelap, keluar lah mereka berempat. kemudian jinglay dan dua anak buah nya mengambil jalan berbeda. rombongan lau kin berjalan sangat cepat sampai beberapa belokan menuju gerbang kota.
"Berhenti!!!..." kata seorang penjaga yang saat itu menjaga gerbang kota bersama rekan rekan nya.
"Mau kemana? apa yang kalian bawa?" dengan tampang yang di buat galak.
"ampun pendekar besar, ini cucu ku mau ku bawa ke tabib di kampung di depan sana. sakitmya bertambah parah, pendekar besar" jawab lau kin yang suaranya di ubah menjadi kakek renta.
"biar aku periksa!" jawab penjaga satu nya.
lau kin dan kedua prajurit sudah dalam keadaan siap tempur bilamana penyamaran nya terbongkar.
sedangkan putra mahkota mengerang perlahan.
pemjaga gerbang perlahan mendekat, dengan bantuan cahaya obor dia memeriksa siapa orang yang di tandu itu. bekas kain penutup di singkap kan, terlihat seorang lelaki yang meringkuk sambil mengerang, sekujur tubuhnya di penuhi seperti borok. para prajurit menutup hidung karena bau amis yang tersiar ketika kain selimut di singkapkan.
ketika komandam jaga datang menhampiri, terlihat dari jauh seseorang berlari memdekat ke arah para penjaga gerbang.
"kebakaran...kebakaraaann.." teriak oramg itu dengan panik. sambil menunjuk nunjuk suatu gudang.
para penjaga yang melihat itu segera berlari kearah gudang yang di tunjuk.
yang ternyata gudang yang di bakar oleh anak buah ji lay sebagai pengalih perhatian.
para penjaga gerbang berlarian ke arah gudang yang terbakar. kesempatan ini tidak di sia siakan. dalam kekacauan, rombongan laukin dengan cepat berlari keluar dari gerbang kotaraja menuju ke hutan.
mereka mengambil arah selatan bermaksud menuju ke kota pertahanan jendral liu.
setelah tampak aman mereka berlari tanpa ada prajurit yang mengejar, mereka berhenti berlari, tapi tetap berjalan.
tidak lama, di depan mereka melihat segerombol orang yang berjalan menuju mereka dengan beberapa obor peneramgan.
"Berhenti"; ucap seseorang yang menjadi pemimpin gerombolan itu.
" sicu berempat hendak kemana?" tanya nya kembali.
"kami hendak ke kota nanyang. siapa kah kalian?"
" ah maaf, kohu hanya seorang tua pengemis rudin. nama lohu ang bin sin kay" jura nya.
"ah ternyata ketua kaypang yang tersohor" lau kin menjura memberi hormat.
__ADS_1
"lohu bernama kin. she lau" kata lau kin. dan ini yang bersama kami adalah putra mahkota.
sambil memberi hormat kepada gao wei.
gao wei yang di perkenalkan, segera mengeluarkan lengki nya.
Ang bin sinkay terkejut. segera dia menjatuhkan diri berlutut. diikuti semua barisannya.
"hormat kami kepada yang mulia putra mahkota. semoga yang mulia panjang usia sehat berpuluh puluh ribu berkah" ujarnya..
"Bangunlah" ujar gao wei.
"taihap hendak kemana?: tanya gao wei.
"boanpwe, hendak menghadiri undangan pertemuan di sekte thian san pay. guna membahas situasi negeri dan dunia persilatan sekarang ini. bersama sama dengan partai besar lainmya" tutur angbin sinkay.
"hmmm... sayang pertemuan itu terlambat" kata Gao wei sambil termenung.
kemudian gao wei menceritakan kejadian di dalam istana, dan baginda serta permaisuri sampai saat ini tidak ada kabarnya.
Ang bin sinkay terkejut mendengar hal itu.
"Yang mulia, hal ini tidak dapat di tunggu tunggu, kita harus bergerak secepatnya.
apa rencana yang mulia?" tanya ang bin sinkay. selagi mereka berbicara di pinggir hutan. terlihat dari jauh beberapa orang yang bergerak dalam rombongan. rupanya para tosu dari hoa san pay. mereka berlima ada nya.
"salam sejahtera pangcu kaypang" kata seorang pimpinan rombongan itu.
"rupanya pek hong tojin beserta adik adik seperguruan yang datang" jawab ang bin sinkay sambil membalas menjura.
juga memperkenalkan rombingan lau kin.
pek hong tojin beserta rombongan berlima pun berlutut memberi hormat pada gao wei.
rupa nya sama, mereka bermaksud menghadiri pertemuan di gunung thian san.
Ang bin sinkay menceritakan kejadian yang di alami oleh keluarga raja. pek hong tojin oun merasa terkejut.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya pek hong tojin.
"lohu rasa kita harus berbagi tugas" kata ang bin sinkay.
"kami para kaypang akan mencari informasi dalam kotaraja, kemudian dalam 3 hari akan berkumpul di kota nanyang, totiang jika tidak keberatan, segera ke thian san mengabarkan para petinggi perguruan akan hal ini, dan berkumpul di nanyang" sedangkan putra mahkota langsung menuju nanyang untuk mengabarkan jendral liu" kata kaypang pangcu ang bin sinkay.
"baiklah jika begitu, pinto sekalian mohon diri. kita bertemu 3 hari nanti di nanyang" ucap pek hong tojin.
maka mereka pun berlalu. para hoa san tosu bergegas secepatnya menuju thian san pay.
sedangkan ang bin sin kay, mengutus tianglo dan beberapa anak buahnya pergi menyelidiki kotaraja, dengan menghubungi kaypang cabang kotaraja.
sedangkan kelompok lau kin cs, segera bergegas menuju kota nanyang.
Kemana kah kaisar?
ternyata Kaisar bersama permaisuri berhasil diamankan oleh para pengawal dari kesatuan kim i kwi, dan melalui.lorong rahasia berhasil keluar di pinggir pesisir sungai sebelah barat gerbang kota. dibantu prajurit yang selalu menyamar menjadi nelayan, mereka melarikan diri menuju kota lokyang yang saat itu di jaga oleh jendral yap.
selama di perjalanan, mereka berhasil menghindari pengejaran. dan sampai di kediamaan jendral yap.
jendral Yap yang sangat marah mendengar kudeta ini, bersiap untuk menyerang kotaraja dengan seluruh kekuatan yang ada.
__ADS_1
Sedangkan di istana timbul kegaduhan karena pangeran gao tiong tek tidak menemukan stempel kerajaan. tanpa cap resmi dari stempel itu, dia tidak bisa naik tahta.