
""Aahhh... ahhh..sebelah kiri...punggungku gatal..." ocehan siau ba sambil berjingkat jingkat ketika dikeroyok oleh anak anak bangsawan itu, berbagai pukulan dan tendangan di lancarkan oleh mereka.
siau ba tidak sampai hati menurunkan tangan jahat kepada anak anak ini yang tidak mengerti silat.
dia hanya memberi pelajaran dengan cara melindungi dirinya dengan sedikit hawa khikang sehingga tubuhnya alot bagaikan karet, ketika di pukul selalu membalik pukulan itu.
akhirnya anak anak itu berhenti karena kecapekan. kepalan tangannya biru biru karena terlalu banyak memukul.
"aduuuhh.. kenapa berhentiii.. punggungku masih gatal gatal nih" kata siau ba sambil menggaruk garuk punggungnya.
"heeehh heeehh..ngoosss..ngoosss..." anak anak itu dengan nafas tidak teratur kecapaian sudah tidak berminat melanjutkan serangan itu.
"dasar setan kulit tebal!" kata seorang anak
"mana setan...mana setan?".. siau ba menoleh kiri kanan dengan mimik muka ketakutan.
"kau lah setan nya.."
"aku???" dengan memasang tampang bingung.
" kalau aku setan, maka akan mengganggu kalian semua.. huaaa..haaa..haaa...!!" sambil mengeluarkan suara yang menakutkan siau ba bergerak dengan ginkang nya.
"aaaduuuhhh...aaawww... gubraaakkk...aaahhh..." teriak anak anak kesakitan. ternyata dengan cepat siau ba menjahili anak anak itu.
Ada yang ditarik kupingnya, di colok idungnya, ditendang pantatmya, bahkan ada yang di kait kaki nya hingga jatuh. Semua itu dilakukan dengan cepat menggunakan ginkang berlari di atas rumput nya. walau masih cetek kepandaian ginkangnya, tapi untuk anak anak itu seolah olah siau ba menghilang hanya keliatan bayangan nya saja yang bergerak.
sudah pasti mereka ketakutan dan lari tunggal langgang meninggalkan teman wanita nya dan siau ba.
"terima kasih inkong (tuan penolong)" sang anak wanita itu menjura.
" aahh inkong apaan? tidak berani tidak berani. siaute hanya pengemis bau yang sekedar lewat. tidak menolong apa apa" jawab siau ba sambil membalas penghormatan itu.
"nama ku ho sin mei, aku tinggal di dekat pasar sana. siapa nama ingkong?" tanya ho sin mei sambil tersenyum manis sekali.
siau ba yang melongo dengan mulut terbuka melihat senyum manis anak wanita ini sampai lupa apa yang ditanyakan.
melihat sikap siau ba, ho si mei tanpa sadar meraba pipi nya sendiri dan menoleh ke kiri kanan dan melihat bajunya sendiri, apakah ada yang salah dengan aku? pikir sin mei
"apa ada yang salah denganku inkong?" tanya sin mei cemas.
"aaaeepppp... tidak tidak.." kata siau ba sambil memalingkan wajahnya karena malu.
melihat wajah siau ba memerah, sampai sin mei itu senyum senyum yang di tahan nya.
"inkong siapa nama mu?" ulang sin mei
"aahh aku.. aku... siau ba" jawab siau ba grogi.
aduuh kenapa aku seperti ini ya? pikir siauba
"siau ba?" tanya sin mei heran sambil tertawa kecil
"iyaa.. panggil saja aku siau ba" kata siau ba sambil tersenyum ramah. dia sudah mulai bisa mengendalikan diri lagi.
" baiklah, inkong siau ba umur berapa? aku berumur 9 tahun ini"
" ooohh..aku umur..umur 10 tahun ini" jawab siau ba.
"ah kalau begitu aku harus panggil koko ya. dan km harus panggil aku moimoi karena kau lebih tua setahun, setuju ba ko?"
siau ba hanya mengangguk tak berani menjawab. pikirnya tidak pantas seorang anak bangsawan yang rapih bersih ini berteman dengan pengemis hina seperti dirinya, ada perasaan minder.
" ba ko, tolong antar aku pulang ya"
tanpa menunggu persetujuan dari siau ba, sin mei menarik tangan siau ba. kemudia dia berjalan tanpa melepaskan tangannya.
siau ba terkejut tapi mandah saja dia ditarik oleh sin mei.
mereka terus jalan menuju pusat kota lokyang. setelah melewati beberapa ruas jalan sampailah mereka di depan gedung.
Siau ba terperangah melihat megah nya gedung itu. ho sin mei menarik siau ba masuk.
" mau kemana kita nona.? jangan masuk nanti di marahin penjaga rumah ini, itu lihat banyak penjaganya di depan gerbang". kata siau ba.
__ADS_1
sin mei agak merengut ketika dia di panggil nona.
"kita kan berteman ba ko, jangan panggil aku nona" tajuk sin mei dengan wajah cemberut.
"maaf maaf mei mei, aku mana berani memanggil adik kepadmu? sedangkan aku hanya seorang pengemis hina" kata siau ba.
" ba ko, kata ayahku kita harus selalu menghormati dan menghargai sesama nya. terlepas apapun status sosial orang itu"
"jadi buatku, berteman dengan siapa saja tidak masalah, apalagi dirimu koko, karena walau kau pengemis tapi pengemis yang baik hati menolongku" sambung sin mei
siau ba tidak dapat berkata apa apa lagi.
salah tingkah dia.
" tapi kita mau masuk ke dalam? hati hati nanti di usir mereka" sambil menunjuk para penjaga yang berwajah sangar.
" tenang ba ko, serahkan padaku" kata sin mei yang kemudian melangkah untuk masuk melalui pintu gerbang yang mentereng itu, siau ba dengan perasaan kuatir akan sin mei cepat cepat dia berlari mengikuti sin mei
"nona darimana? ayahhanda mencari mu" kata seorang penjaga sambil memberi hormat.
siau ba yang mendengar itu terkejut juga. rupa nya gedung megah ini tempat tinggal nya.
" hai pengemis cilik, ayo pergi! disini bukan tempatmu!" bentak penjaga dengan tampang dibuat sangar untuk menakuti siau ba.
"biarkan dia masuk, dia bersamaku" cegah sin mei
"tapi nona..tapi...". perkataan penjaga itu tidak di lanjutkan melihat sin mei memelototinya.
"mari ba ko, kita menghadap ayah" kata sin mei sambil menarik tangan siau ba
siau ba dengan jantung dagdigdug duarrr..hhdc harap harap dengan cemas.. takut juga dia bertemu ayah nona ini. "siapa tau bapaknya galak nih. bisa kena marah aku". pikir siau ba.
"ba ko, kenapa tangan mu dingin sekali dan basah keringet? apa kau sakit?" tanya sin mei heran
"aa...akuuu. tidak aaapa apa.." jawab siau ba gugup.
"waduuh dia gak tau klo jantung ku dagdigdug" kata siau ba dalam hati.
" tiaaa.... kau dimana?"
"baik bi, aku ke sana . terima kasih"
tutur sin mei dengan sopan
"tiaaaa... tiaaa.."
"apa anak bandel? kau sudah pulang?" jawab seseorang dengan nada yang berat.
siau ba yang belum melihat, baru denger suaranya aja sudah keder hatinya..
"lebih baik aku berkelahi di keroyok orang dewasa deh daripada menghadapi hal semacam ini lagi" bikin dagbdigdug nggak karuan" pikir siau ba
setelah sampai di teras belakang, tampak seorang pria paruh baya yang bertubuh gagah dengan kumis tipis, memakai baju sederhana tapi keliatan dari bahan kualitas yang baik.
ternyata dia yang di kenal orang sebagai hartawan ho. dia menatap anaknya kesejukan matanya dan senyuman hangat.
"kau darimana saja bocah bandel?" tanya nya
"dan siapa ini?"
" tiaaa.. kenalkan ini ada lah siau ba koko"
lalu ho sin mei menceritakan awal kejadian bagaimana dia di tolong oleh siau ba,
ho wan gwe mengangguk ngangguk mendengar cerita sin mei ini. kemudian dia menatap siau ba.
"salam ho wan gwe, siawte lim yu hao, biasa di panggil siau ba oleh teman teman siawte". tutur siau ba sambil menunduk dan berdebar hati nya. dia pun bingung kenapa dirinya seperti ini, padahal di marah orang, dinusir dihina sudah biasa buatnya sebagai pengemis cilik ini.
tanpa siau ba sadar, jauh di dalam hati nya dia merasa sayang berteman dengan nona cilik ini, takut jika pertemanan nya ini di tentang oleh keluarga nona ini.
"ho wan gwe mengangguk ramah
"terima kasih atas pertolongan inkong cilik" katamya
__ADS_1
" tidak berani tidak berani.. siawte hanya kebetulan sedang lewat saja". kata siau ba.
" apakah kau anggota kaypang?" tanya ho wan gwe lebih lanjut.
"benar ho wan gwe, siawte anggota kaypang, paman guru siawte supek ang bin sin kay" jawabnya.
"hemmm.. ya aku mengenal pangcu kalian"
ho wan gwe seorang hartawan yang budiman, dikarenakan kedermawannya itu dia banyak dikenal dan mengenal pendekar pendekar bulim baik golongan pekto maupun hekto.
"siawte permisi ho wan gwe, nona sin mei telah selamat sampai di rumah, maka siawte mohon pamit"
"tunggu dulu hao jie, sebaiknya kau makan lah dulu" cegah ho wan gwe
"Tidak usah ho wan gwe, siaute sudah makan" siau ba menolak halus ajakan hartawan ho tersebut.
"kalau begitu, kau tunggu sebentar"
keemudian ho wan gwe masuk kedalam, tak lama berselang dia keluar diikuti pelayan yang membawa bingkisan.
"karena kau menolak untuk makan bersama kami, maka kau bawalah bekal ini untuk sekedar pengganjal perut" tukas ho wan gwe.
siau ba tak kuasa menolak, maka di terimalah bingkisan tersebut dan dia pamit.
siauba di antar oleh sin mei sampai pintu depan
"ba koko, sering seringlah kau main kemari temani aku, sehingga aku punya teman bermain" rajuk sin mei
siauba menundukan kepala tak kuasa melihat mata sin mei yanb berkaca kaca.
"baik mei mei jika kau tak malu berteman dengan pengemis hina sepertu diriku, aku akan sering mampir menjenguk" jawab siau ba
" kau janji koko?"
"ya aku berjanji meimei" tukas siau ba
kemudian mereka berpisah, sin mei masih berdiri terpaku melihat siauba pergi sampai bayangannya menghilang di balik belokan jalan.
" mei jie.. kau kemari" kata ayahnya
"ya tiaaa ada apa?"
"tia tidak melarangmu untuk berteman dengan nya, tia lihat anaknya baik, dari tutur katanya sepertinya dia berpendidikan, walau dia memakai baju pengemis yang penuh tambalan, tapi badan dan kukunya bersih terpelihara, agaknya bukan sembarang pengemis, atau terpaksa menjadi pengemis" kata ho wan gwe.
lim sin mei termenung mendengar perkataan ayahnya.
"Murid Cang....!" terdengar panggilan suara yang mengambang diudara dan terdengar jelas di telinga goan cang. tanda pemilik suara itu mempunyai iwekang tinggi yang sempurna padahal si pemilik suara tidak berada di situ.
goan cang menoleh kearah sumber suara itu. terlihat dari jauh sebuah titik bayangan berlari cepat ke arahnya, hanya hitungan detik bayangan itu telah sampai.
"Suhu...!" sambil menjura goan cang memberi hormat.
ternyata koai lojin yang datang.
" bagaimana kemajuan mu ilmu silatmu" tanya koai lojin
" berkat suhu yok sian dan suheng yan cia yang selalu membimbing, tecu telah banyak memiliki pengetahuan" ujar goan cang
" hahaha.. bagus bagus.. tak percuma tabib rudin ini membimbing kau" jawab koai lojin bergembira
" rupanya si pedang rongsok telah datang, sambut arak penghormatan ini" kata yoksian dari dalam gubuk, belum habis suara yoksian terdengar benda melesat dengan kecepatan tinggi keluar dari dalam gubuk itu.
Srreee...ttt!!... ternyata secawan arak yang terisi penuh. hebatnya isi nya itu luber juga tidak tumpah ketika melesat.
koai lojin bukan pendekar kacangan, dia adalah salah satu dedengkot ilmu silat yang menggetarkan bulim.
dengan langkah thai kek kun dia berputar menyambut laju nya cawan arak itu. sungguh indah gerakannya halus seperti mengalir bagai air gerakannya. dia terima cawan itu tanpa tumpah sedikit pun.
"hahaha... terimakasih tabib rudin, lohu terima arak penghormatan ini" sambil menenggak arak itu.
yok sian telah keluar ruangan, " ada kabar apa di bulim?"
"hmmmm.." koai lojin menghela nafas
__ADS_1
" sebaiknya kita kongkouw (obrol) sambil bermain catur saja tabib rudin, lohu yakin akan mengalahkan mu kali ini" sambung koai.lojin.
"Oooww.. baiklah.. mariii.." sambil tersenyum yok sian melihat tingkah laku koai lojin sahabatnya ini yang memang kukoai (aneh) terkadang serius terkadang angin anginan.